
"Ini tempat tinggal-ku."Tunjuk Brayan begitu sampai disebuah gudang tua dan tertutup oleh pohon yang tumbuh menjulang tinggi di sekitarnya."Ayo masuk."Ajak Brayan yang sudah berjalan terlebih dulu.
Irene nampak takjub dengan isi rumah milik Brayan.Sangat berbanding terbalik dengan tampak bagian luar dari bangunan itu.
Bila dari luar bangunan itu adalah bangunan tua,kumuh dan bisa di bilang tidak layak.Namun berbeda dengan isi bagian dalamnya yang nampak mewah dan serba wow.
"Ini kamar-mu."Brayan membawa Irene kesebuah ruangan kecil yang terletak di lantai dua bangunan tua itu, tapi sangat nyaman untuk tidur."Bersihkan dirimu dan turun kebawah untuk makan malam."Ucap Brayan,lalu meninggalkan Irene sendiri.
"Siapa pria itu, mengapa dia tinggal di bangunan tua seperti ini."Gumam Irene,memasuki kamar yang sangat nyaman dan bersih yang kini menjadi kamarnya.
Tidak mau berlama-lama karena perutnya sudah keroncongan, Irene Segera membersihkan tubuhnya yang memang sangat bau busuk dan segera turun sesuai perintah Brayan.
"Ini semua___."
"Makanlah sepuasnya,habis itu aku ingin berbicara dengan-mu."Potong Brayan yang sudah tau kalau gadis kecil itu sedang kelaparan dan itu terlihat jelas dari tatapan Irene pada hidangan yang berjejer dengan berbagai macam menu yang sangat menggugah selera.
__ADS_1
Segera Irene mengisi piringnya hingga menggunung lalu mengambil semua jenis lauk yang ada dimeja tanpa rasa malu.
Brayan hanya tersenyum kecil melihat gadis bertubuh kecil itu makan sebanyak itu dengan lahapnya.
"Ahhh...kenyang."Seru Irene dengan lega,menepuk perutnya yang sudah terisi penuh makanan dengan tangan."Kau pintar memasak juga?."Tanya Irene menatap Brayan penuh kagum.
Selain miliki wajah yang tampan, ternyata pria dihadapannya ini memiliki bakat memasak yang luar biasa,itulah yang ada dipikiran Irene.
"Bukan aku yang memasaknya tapi koki pribadi-ku yang menyiapkan semuanya."Jawab Brayan dengan jujur, karena dia memang tidak bisa bahkan tidak pernah sekalipun masuk kedapur apalagi untuk memasak.
"Ikut aku,ada yang ingin ku-bicarakan dengan -mu ."Brayan mengajak Irene kesebuah ruangan yang bisa ditebak kalau itu ruang kerja brayan.Terlihat ada meja dan tempat duduk layaknya seperti dikantor pribadi dan juga layar komputer lengkap dengan peralatan lainnya.
"Duduk."Ujar Brayan yang terlebih dulu duduk di sofa yang ada diruang kerjanya.
Irene bahkan tidak mengindahkan ucapan Brayan yang menyuruhnya untuk duduk.kini fokus pandangannya beralih pada peralatan yang serba mewah yang ada diruang kerja Brayan.
__ADS_1
"Hei..gadis kecil duduklah."Brayan mengulangi ucapannya.
"Ceritakan pada-ku ada masalah apa kau Dengan geng mafia the Tiger itu?."Tanya Brayan penuh selidik.Bukan apa nyawa gadis yang ada dihadapannya itu akan terus terancam,the Tiger tidak serta-merta melepaskan buruannya begitu saja.
"Aku tinggal di panti asuhan Glory___".
"what?kau berasal dari panti asuhan Glory?,kau mengenalku?."Tanya Brayan beruntun,namun detik berikutnya Brayan tersadar dengan pertanyaan konyolnya.Bagaimana mungkin Irene mengenal dirinya sementara dia tinggal di panti asuhan Glory secara rahasia dan tersembunyi dari siapapun,maka dari itu walau kedua tinggal di panti asuhan yang sama wajar kalau Irene tidak mengenalinya sama sekali.
Mendengar pertanyaan beruntun dari Brayan membuat Irene menggeleng dengan bingung dengan semua pertanyaan yang di ajukan Brayan.
"Tidak usah kau pikirkan pertanyaan-ku barusan,lanjutkan saja cerita-mu."Melihat kebingungan di wajah Irene.Brayan mengangkat telapak tangannya sebagai isyarat agar Irene melanjutkan ceritanya.
"Sore tadi aku baru pulang sekolah dan melihat keributan di panti,ibu panti menghalangi anak buah the Tiger yang akan membawa salah satu kakak panti untuk dibawa kerumah bordir."Irene terdiam, air mata Irene sudah mengalir deras seolah tidak mampu untuk melajutkan ceritanya.
"Jangan takut."Brayan mencoba menguatkan Irene agar menyelesaikan ceritanya.
__ADS_1