Tarian Cinta J-Hope Untuk Gadis Mafia

Tarian Cinta J-Hope Untuk Gadis Mafia
Episode 59.


__ADS_3

"Dan aku beri waktu empat hari."Ujar J-hope tegas.


"Wah...wah...kau benar-benar sudah tidak waras."Lian menggelengkan kepalanya, permintaan pria itu kali ini benar-benar di luar nalar.Bahkan profesor sekalipun tidak akan sanggup melakukannya dalam waktu empat hari."Kenapa tidak kau saja yang melakukan tes DNA itu sendiri agar kau bisa menyelesaikan dalam waktu yang kau inginkan."Sentak Lian geram.


Ya, J-hope ingin melakukan tes DNA dengan putrinya Irene yaitu Eunsang secara rahasia.Dan paling gilanya hasilnya harus keluar dalam waktu empat hari sebelum masa liburannya berakhir enam hari lagi.Sedangkan waktu yang diperlukan untuk melakukan tes itu satu sampai dua Minggu.


Jelas Lian dibuat pusing dan frustasi dengan permintaan J-hope yang diluar wewenangnya.


"Aku tidak mau dengar alasan apapun."


"Lagian untuk apa kau melakukannya?,apa karena aku mengatakan kalau ibu satu anak itu tidak pernah dekat dengan pria lain sehingga kau langsung mengambil kesimpulan kalau gadis kecil itu hasil dari malam panas yang sudah kalian lewati?."Kewarasan Lian di uji kali ini."Mungkin dia pernah melewati satu malam dengan pria lain setelah dirimu dan menghasilkan anak!."Ucap Lian memberi pendapat.


"Maka dari itu aku ingin tau?."Sahut J-hope seolah tidak berubah meski Lian sang asistennya sudah menjelaskan segala kemungkinan hadirnya Eunsang,dan yang pasti gadis kecil itu bukanlah hasil dari pembibitannya.


"Terserah kau saja, jangan memaksaku kalau hasilnya tidak sesuai dengan keinginan mu."Ucap Lian frustasi mengusap kasar wajahnya lalu mennyugar rambutnya kebelakang dan pergi meninggalkan J-hope.


Bicara berlama-lama dengan sang superstar itu membuatnya hilang akal ,jadi lebih baik ia berjalan-jalan di tepi pantai untuk menghirup udara sekaligus mencari cara menyelesaikan permintaan tak masuk akal pria itu dalam waktu empat hari.


*


*


Irene sibuk menyiapkan pesanan makanan bersama timnya didapur resto, dengan banyaknya permintaan dari pengunjung membuat Irene dan karyawan lainya kewalahan.Beruntung Eunsang sudah mau ditinggal bermain di temani kakek dan nenek Paul.


Karena kejadian tadi malam,diman Irene tidak pulang kerumah membuat gadis kecil itu tidak mau berjauhan dari Momnya.Dengan terpaksa Irene membawanya ke resto dan mau tidak mau kakek dan nenek Paul juga harus turut keresto untuk menjaga Eunsang disana.


Hingga lewat jam makan siang barulah pengunjung berkurang.Irene mengambil waktu senggangnya untuk menemui putrinya yang tengah asik bermain diruangan pribadinya bersama nenek dan kakek.

__ADS_1


"Hai...my princess."Seru Eunsang duduk didekat putrinya dan mencium pucuk kepala Eunsang.Rasa lelahnya tadi hilang begitu saja begitu melihat senyum tulus nan indah dari putri kecilnya itu.


"Mom."Eunsang menoleh pada Irene sembari tersenyum lalu tertawa geli kala Momnya menghujani pipinya dengan ciuman gemas.


Gadis kecil itu tertawa terpingkal-pingkal karena kegelian.Nenek dan kakek juga ikut terhipnotis dengan suara tawa anak kecil itu.


"Pipi Mom basah!."Ucap Eunsang, mengangkat tangannya lalu mengusap keringat di pipi Momnya.


"Mom kepanasan,jadi keringatan."Jawab Irene tersenyum lalu mengambil ikat rambut dari pergelangan tangannya dan mengikat rambutnya.


"Kenapa lehermu memar seperti itu?."Tunjuk nenek.


"A...anu..ini hanya masuk angin nek,jadi aku tidak sadar menggosoknya terlalu kuat waktu mandi tadi pagi."Jawab Irene terbata sambil menaikan kerah bajunya untuk menutupi bekas bibir di lehernya.


"Apa itu tidak sakit?."Timpal kakek yang juga melihat bekas dileher Irene.


"Tidak...tidak...sakit kok kek."Jawab Irene tertawa hampa."Mana mungkin sakit."Batin Irene sambil memejamkan matanya."Pria itu benar-benar bajingan ."Umpat Irene mengetatkan giginya.Semalaman mengurung dan menyentuhnya hingga meninggalkan begitu banyak bekas tanda kepemilikan dileher dan ditubuh Irene tapi seenak jidatnya mengatai Irene wanita tidak benar."Aku bersumpah tidak akan mau bertemu dengannya."


"Benar kata kakek."Sambung nenek Paul."Biarkan yang lain menyelesaikan sisa pekerjaan hari ini,sebaiknya kita pulang."


Irene mengangguk setuju dengan ucapan nenek dan kakek.Tubuhnya juga butuh tidur yang cukup, sangat lelah karena perbuatan J-hope.


akhirnya mereka berempat pulang kerumah dan menyerahkan pekerjaan pada karyawan lainya.Namun saat bersamaan sebuah mobil mewah berwarna putih terparkir di garasi rumah dan Irene sudah bisa menebak siapa pemilik mobil tersebut.


"Brayan."Gumam Irene sambil menuntun Eunsang berjalan memasuki halaman rumah.


"Hello my little princess."Seru Brayan yang tiba-tiba muncul dari balik mobil mewah putih merentangkan kedua tangannya dengan senyum mengembang.

__ADS_1


"Dedy uncle."Teriak Eunsang berlari kegirangan mendapatkan Brayan.


"Sayang be careful."Seru Irene mengingatkan putri kecilnya itu.


Keduanya berpelukan bahkan berputar-putar sambil mengendong eunsang."I Miss you little princess."Ucap Brayan menghujani gadis kecil itu dengan ciuman bertubi-tubi membuat Eunsang tertawa kegirangan.


"Kenapa tidak mengabari ku,kalau kau datang hari ini?."Tanya Irene lalu berpelukan dengan posisi Eunsang yang berada ditengah-tengah mereka.


"Karena ini kejutan."jawab Brayan, lagi-lagi melabuhkan ciumannya di pipi gadis kecil itu dan itu selalu berhasil membuat Eunsang menekuk kepalanya karena geli dengan janggut Brayan."Kek,nek.Apa kabar?."Brayan beralih menyalami kakek dan nenek Paul.


"Baik."Jawab keduanya bersamaan."Baguslah kau datang, Eunsang sudah sangat merindukan mu."Ucap nenek kembali.


Mereka masuk kedalam rumah dan seperti biasa akan selalu ada terselip tawa canda dalam perbincangan hangat mereka diruang tamu.


Saking asiknya bertukar cerita tak terasa hari sudah hampir gelap.Nenek membawa Eunsang masuk kedalam kamar,sementara kakek keluar membeli sesuatu kesuper market.


"Apa semua urusan mu sudah beres?."Tanya Irene membuka suara setelah mereka berdua saja di rumah tamu.


"Hmmm..."Jawab Brayan mengangguk.


"Hyung mu sudah bisa menerima kebenarannya?apa kalian sudah saling bicara?."Tanya Irene lagi.


Irene tau betul kalau kedua kakak-beradik itu tidak pernah akur, bahkan setelah kebenaran terungkap pun kakak Brayan yang sering dipanggilnya Hyung itu tetap tidak bisa menerimanya sebagai adik.


"Hyung sudah bisa menerima kenyataan begitu membaca surat Yang ditulis ibunya sendiri."Jawab Brayan sembari menghela napas panjang."Hubungan ku dengan Hyung juga sudah lebih baik walau kami jarang bicara.Tapi setidaknya Hyung Namjoo tidak lagi mau memulai pertengkaran."Jawab Brayan menceritakan keadaan keluarganya dengan jujur.


"Baguslah,aku berharap suatu hari nanti kalian bisa berkomunikasi layaknya seperti kakak-beradik pada umumnya."Ucap Irene bernapas lega.

__ADS_1


"Tunggu."Ucap Brayan menatap Irene penuh telisik."Apa yang sedang kau rahasiakan?." Tanya Brayan menatap Irene dengan cermat."Sebaiknya kau jujur sebelum aku bertindak."


Deg..


__ADS_2