
Pagi itu suasana tepi pantai sangat ramai,
dengan berbagai aktivitas.Ada yang hanya
sekedar berjalan-jalan menikmati udara
pantai di pagi hari,ada yang berolahraga lari
dan masih banyak kegiatan lainya.
Anak kecil yang usianya berkisar satu tahun
lebih menyita perhatian sebagian besar
pengunjung pantai.Kecantikan yang
dimilikinya dikala usia yang masih balita
membuat banyak orang yang secara
terang-terangan mengambil beberapa
fotonya.
"Maaf semuanya, saya rasa sudah
cukup."seru Brayan menggendong
chaensang.
"ensang momy sudah menunggu kita
sayang."ucap Brayan lagi dan membawa
gadis kecil itu pergi dari kerumunan para
pengunjung pantai.
"Deddy... mommy....".celoteh gadis kecil itu
mengulangi ucapan Brayan dengan gaya bicaranya masih celat.
Mendengar bicara lucu ensang Brayan langsung
mencium pipi gadis kecil itu dengan gemas.
☘️☘️☘️☘️
"Mommy".Teriak chaensang begitu melihat
Irene dari jarak beberapa meter.
"Ensang putri mom yang paling cantik."balas
Irene yang sudah merentangkan kedua
tangannya menyambut ensang yang sudah
berlari dengan langkah kecil ke
arahnya.Memeluk dan menciumi gadis
kecilnya yang selalu membuatnya merasa
bahagia.
"Kenapa lama sekali?."tanya Irene pada
Brayan yang sudah dari tadi menunggu di
resto.
__ADS_1
"Apa kau lupa seperti apa putri kecilmu
itu."Tunjuk Brayan pada chaensang yang
sudah fokus pada DOT susu yang
menyumpal mulut kecilnya."Aura bintangnya
sudah terlihat sama seperti dedynya walau
dia masih sangat kecil."tutur Brayan
tersenyum simpul melihat chaensang yang
sudah mengantuk setelah menandaskan
susunya.
"Apa kau tidak ingin mempertemukan
mereka?."Tanya Brayan lalu mengangkat
gadis kecil itu ke stroller tempat biasanya dia
tidur jika sedang berada diresto.
"Apa kau lupa Brayan____."
"Setidaknya kau mencoba".potong Brayan
yang sudah paham arah pembicaraan
Irene."Dia juga membutuhkan seorang
Deddy."tambah Brayan lalu duduk dihadapan
Irene.
"Kau sudah menjadi dedynya." jawab Irene,
memanggilnya dengan sebutan Deddy uncle
dan itu semua atas permintaan Brayan
sendiri.
"Kalau begitu menikahlah denganku?."balas
Brayan asal.
"Kau ini."kekeh Irene menanggapi ucapan
Brayan."Aku tidak bisa membayangkan
menikah dengan mu".Memutar bola matanya
malas.
"kau ini."Balas Brayan dengan
kesal.sebenarnya dia juga berfikiran yang
sama seperti Irene, karena baginya Irene
sudah seperti adik kandungnya sendiri.lalu
bagaimana mungkin dia menikahi adiknya
sendiri.
"Kembalilah ke milan keluargamu pasti
__ADS_1
menunggu mu."Suruh Irene yang memang
mengetahui semua tentang identitas masalah di keluarga Brayan.
"Kau mengusirku?."Kilah Brayan dengan muka
memalas.
"Tidak,tapi kau sudah terlalu lama disi dan
sudah terlalu banyak berkorban untukku dan
juga ensang.sudah waktunya kau juga harus
memikirkan dirimu sendiri."Tutur Irene yang
selalu merasa bersalah karena selalu
menyusahkan Brayan.
"Ada Namjoo yang mengurus semuanya
disana.Aku tidak merasa terbebani,aku juga
menyayangi ensang dan aku akan
melindungi kalian berdua sampai kau
benar-benar sudah mendapat pria yang akan
menggantikan ku untuk menjaga kalian
berdua,ingat itu."Tegas Brayan panjang lebar
mengulangi sumpah yang dibuatnya sendiri
beberapa tahun yang lalu saat mengetahui
Irene sedang mengandung.
Irene terharu setiap kali Brayan mengulangi
sumpah yang dibuatnya sendiri,dan jangan
tanyakan kenapa Irene selalu meneteskan air
mata setiap kali Brayan menyinggung
tentang pria yang akan menjaganya kelak,
karena Irene tidak akan pernah bisa
menggantikan J-hope sosok pria yang telah
memberikannya chaensang walau tanpa
sengaja.
"Trimakasih kak.. keberadaan mu membuatku
tidak merasakan tidak punya keluarga."ucap
Irene dengan menggenggam tangan Brayan
penuh haru.
Selalunya akan berakhir dengan tangis pilu
jika Irene dan Brayan sudah membahas
masa lalu Mereka dan mengurai kembali
__ADS_1
masa lalu dimana keduanya dipertemukan.
😀😀😀😀hai...hai... para reader jangan lupa like,komen, subscribe, vote dan banyak lagi buat karya amatir author ya....❤️❤️❤️