
Starla tidak menyangka kalau Ariana bisa menghadiri pernikahannya, tetapi tahu dari mana sahabatnya itu tentang pernikahannya. Atau dia kenalan Skylar? Atau ini hanya sebuah kebetulan?
Sebuah ide seketika terlintas dalam pikirannya. Ini adalah kabar baik, mungkin dia bisa meminta bantuan kepada sahabatnya itu untuk membawanya pergi dari tempat ini. Dia akan membeberkan segalanya dan mengatakan kalau dia terpaksa di sini—dengan kata lain dia diculik. Ya, itu adalah ide cemerlang. Begitulah yang ada dalam pikiran Starla saat ini saat melihat kehadiran Ariana di tempat ini.
Dengan gugup, Starla menunggu wanita itu untuk menghampirinya. Dia sudah tidak sabar menunjukkan dirinya pada wanita itu, bahwa dia selama ini menghilang karena telah diculik oleh Skylar dan malah dipaksa menikahinya.
Oh Tuhan, semoga ini adalah hari keberuntungan untuknya.
"Kau kenapa?" tanya Skylar tiba-tiba di sampingnya. Sepertinya pria itu menyadari kegugupannya.
Starla menoleh dengan cepat, lalu menggeleng. "T—tidak, aku tidak apa-apa, Sky."
Skylar tersenyum menyeringai. "Jangan menunjukkan wajah seperti itu. Karena aku sama sekali tidak menyukainya, tunjukkan senyummu kepada semua tamu di sini, Sayang."
Starla sama sekali tidak menanggapi kalimat pria itu dan membuang wajah ke samping. Dia tidak bisa berlama-lama menatap wajah pria brengsek tersebut.
Selang beberapa menit, Starla mendapati Ariana kini melangkah ke arah mereka. Tampilannya benar-benar berbeda, jauh berbeda yang selalu ditampilkannya saat di kantor. Kini wanita itu seakan menjelma menjadi wanita dewasa yang begitu menggoda. Dandanannya begitu memukau dengan gaun belahan dada rendah yang sangat pas melekat di tubuhnya. Starla sampai pangling dan sedikit tidak mengenalinya. Wanita itu benar-benar berbeda malam ini.
Dan perubahannya semakin terlihat setelah wanita itu seolah-olah tidak mengenalinya. Wanita itu bahkan menunjukkan sifat sombongnya dan bukannya menghampirinya, wanita itu malah menghampiri Skylar.
Ada apa ini?
"Hai, Baby! Selamat atas pernikahanmu!"
Deg! Apa mereka saling mengenal?
Dan yang semakin membuat Starla terperangah adalah di saat Ariana maju dan membubuhkan kecupan ringan di pipi Skylar. Ah … jangan lupakan, Skylar pun membalas kecupan itu. Seakan mereka berdua memang sudah terbiasa melakukan hal seintim itu.
Apa-apa ini? Apa yang mereka lakukan di hadapannya? Apa ada yang Starla lewatkan?
"A— Ariana, kau mengenal Skylar?" tanya Starla tergagap.
Ariana menoleh ke arahnya. "Oh, Starla si gadis polos. Bagaimana? Apa kabarmu? Kaget melihatku di sini?"
Starla semakin dibuat kebingungan. Wanita di depannya ini jelas bukan Ariana yang dikenalnya, Ariana yang dikenalnya itu memiliki hati yang lembut dan begitu penyayang. Tetapi yang ada di hadapannya sekarang adalah seorang wanita sombong yang terlihat jahat.
__ADS_1
"K—kau, Ari 'kan?" tanya Starla memastikan.
"Kau ternyata masih bodoh, Star!" Ariana tertawa terbahak. "Apa setelah banyaknya kejadian kau belum mengerti? Asal kau tahu Star, aku mendekatimu itu atas permintaan Skylar, semua yang terjadi kepadamu itu juga campur tanganku. Kasihan sekali!"
Starla masih benar-benar tidak mengerti dengan semua yang terjadi. Atau katakanlah dia tidak mau mempercayai semua perkataan sahabat yang sangat dipercayainya itu.
“Ariana itu bawahanku, Star. Dan dia mendekatimu itu atas perintahku. Ariana tidak memiliki ibu yang sakit, dengan kata lain dia berbohong dan kau telah tertipu malam itu."
Oh Tuhan! Kebenaran yang Skylar lontar kan benar-benar mengguncang hati dan perasaan Starla saat ini. Dia benar-benar dibuat syok dengan pengakuan itu.
"K—kalian menipuku? Kau berbohong padaku, Ari?"
Ariana kembali tertawa terbahak, disusul dengan Skylar. "Kau sangat-sangat bodoh, Star! Memangnya siapa yang mau berteman denganmu. Aku itu mau berteman denganmu hanya untuk bisa membawamu pada Skylar."
Starla menggeleng-geleng tidak percaya. "Aku mempercayaimu, Ari! Tetapi kenapa kau melakukan ini padaku?"
"Karena sangat seru melihatmu ditipu habis-habisan, Star!"
"Kau wanita biadab! Kau sama saja dengan Skylar, sama-sama brengsek yang tak memiliki hati!"
"Sebaiknya kau pergi dari sini, Baby! Besok aku akan mengunjungimu!"
Sialan!
Setelah wanita tak punya hati itu pergi, kini Skylar kembali berbisik ke arahnya. "Jangan menangis, sialan. Mulai sekarang kau harus mempersiapkan diri dengan kejutan-kejutan tak terduga yang akan membuatmu tercengang dan tidak percaya."
Oh God! Cabut saja nyawaku!
****
Sepanjang acara, Starla mencoba tersenyum di hadapan para tamu undangan yang menyapa mereka, ia tidak bisa banyak bertingkah karena rengkuhan Skylar di pinggangnya tak pernah lepas.
Tidak lama kemudian rengkuhan di pinggangnya semakin keras bahkan terkesan menyakitinya. Starla sampai meringis dan mendongak menemukan pria itu yang tampak tegang, sorot matanya tajam ke depan.
Starla mengikuti arah pandangan Skylar, di sana seorang pria berjalan ke arah mereka. Semakin orang itu mendekat, Skylar semakin menegang dan rengkuhannya semakin menyakitinya. Siapa sebenarnya pria itu, sampai bisa mempengaruhi Skylar?
__ADS_1
"Selamat atas pernikahan kalian!" Pria itu mengulurkan tangannya ke arah Skylar.
Skylar menepis tangan pria itu dengan kasar. "Seingatku aku tidak pernah mengundangmu ke sini," desis Skylar dengan kasar.
Pria itu tersenyum tidak perduli dengan perkataan kasar Skylar. "Aku tidak perlu mendapat undangan untuk menghadiri pesta pernikahan orang yang begitu berpengaruh di kota ini."
"Baiklah kalau begitu Gavino, kalau sudah selesai cepat pergi dari sini. Aku masih banyak tamu yang mengantri." Skylar tidak ingin beramah-tamah terhadap musuhnya sendiri.
Ya, Gavino. Salah satu dari musuhnya, pria itu sangat ingin menyaingi Skylar, tetapi sampai sekarang tidak bisa. Sehingga dari dulu pria itu selalu mengusik ketenangannya.
"Kau sangat beruntung, Skylar. Wanita yang menjadi istrimu ini sangat cantik." Gavino lalu mendekati Starla. "Siapa namamu, cantik?" tanyanya, tak lupa mencolek dagu Starla.
Starla yang diperlakukan seperti itu berjengit mundur, ia sangat jijik kepada pria itu.
Darah Skylar mendidih melihat pria lain menggoda istrinya, ia maju dan mencengkeram kerah kemeja Gavino tanpa peduli banyak orang yang kini melihatnya.
"Jangan menyentuh istriku, sialan. Atau kau akan mati di tanganku," ancamnya dengan kejam.
"Skylar, apa yang kau lakukan?" Starla mencoba melepaskan cekalan tangan Skylar, yang sepertinya tidak menyadari kalau cengkeramannya sudah membuat pria itu tampak tersiksa.
Gavino mencoba melepas tangan Skylar dari lehernya, karena ia sudah sesak. Tapi sia-sia karena Skylar sudah dipenuhi emosi.
"Sky, please ... aku tidak apa-apa." Starla memeluk tubuh besar Skylar, berharap emosi pria itu akan reda.
Skylar tercekat, entah kenapa pelukan itu membuatnya tenang. Ia menatap ke arah Starla yang tengah memeluknya dengan berurai air mata. Ada perasaan lain yang menyusup ke hatinya dan sialnya ia tidak menyukai perasaan itu.
Gavino menghirup udara sebanyak-banyaknya setelah cengkeraman di lehernya terlepas. Pria itu tetap mempertahankan harga dirinya di depan banyak orang, tanpa mengatakan satu kata pun ia meninggalkan tempat itu. Brengsek, ia tampak lemah dan seperti laki-laki pecundang di depan musuhnya dan di hadapan banyak orang.
"Aku akan membalasmu setelah ini, Skylar!" Gavino masih sempat melayangkan ancaman sebelum berlalu pergi. Ancaman yang terdengar seperti lelucon di telinganya Skylar.
"Aku akan menunggunya, Gavin!" balas Skylar, tak lupa dengan smirk kejamnya.
Setelah kepergian Gavino, dengan kasar Skylar melepas tubuhnya dari pelukan Starla. Ia tidak mau terlalu larut dalam euforia yang ia sendiri tidak mengerti akan perasaan yang baru saja menghinggapi hatinya.
Sepeninggal Skylar, Starla berusaha meminta maaf kepada para tamu dan bergegas mengikuti arah menghilangnya pria itu. Ia yakin Andreas bisa mengatasi kekacauan yang dilakukan bosnya.
__ADS_1