
Di suatu sudut ruangan yang gelap sebuah telepon terangkat, Gavino Alejandro sedang duduk di kursi kebesarannya sambil merokok. Segelas brandy dengan botolnya yang setengah penuh tampak berada di sampingnya, wajah tampangnya tampak berbeda dengan hidung memerah karena mabuk dan tampak waspada.
Dia kemudian meraih ponselnya dari atas nakas untuk menghubungi seseorang dan setelah mereka tersambung, Gavino langsung melontarkan tanya tanpa berbasa-basi terlebih dahulu.
"Sudah berhasil?" Lelaki itu bertanya cepat.
Jeda sejenak, lalu suara dalam di sana menjawab dengan tenang. "Mereka masih berada di dalam restoran dan rencana akan dijalankan ketika mereka pulang."
"Bagus, kabari aku kalau semuanya sudah beres."
"Baiklah. Anda tidak akan kecewa karena telah menyewa saya untuk membunuh Skylar Aleandro Wolves "
Telepon ditutup, dan Gavino terkekeh dalam kegelapan. Menenggak minumannya, untuk perayaan awal.
Skylar Aleandro Wolves, musuh terbesarnya dalam dunia bisnis. Pria itu terlalu sombong dan sangat sering mempermalukannya. Sehingga hal itu mendorongnya melakukan hal selicik ini, menjebak pria itu dan membunuhnya. Tidak akan lama lagi dia pasti akan mendapat kabar baik.
Skylar Aleandro Wolves harus dienyahkan, lelaki seperti itu tidak pantas hidup di dunia ini. Dan malam ini mungkin adalah malam terakhir lelaki itu untuk hidup.
****
Skylar memesan anggur Chardonnai sebagai teman makan mereka, sambil berharap malam ini Starla sedikit mabuk sehingga menggedorkan pertahanannya. Tetapi pikiran bercinta dengan Starla dalam kondisi perempuan itu mabuk sama sekali tidak menyenangkan. Dia ingin perempuan itu sukarela, melingkarkan pahanya di tubuhnya, ketika mereka bersatu. Saat itu akan datang pada akhirnya, kalau Skylar berhasil menundukkan perempuan keras itu.
Hidangan utama datang, yakni Parmentier de canard et son bouquet de verdure, hidangan daging bebek yang dipanggang hingga coklat muda berminyak bersama dengan kentang lembut yang dihancurkan dan disajikan bersama semangkuk salad. Rasanya luar biasa dan khas, membuat Starla terpesona akan cita rasa masakan khas Perancis itu. Pantas saja restoran ini dianugerahi lima bintang.
__ADS_1
"Kau menyukainya?" tanya Skylar dalam cahaya lampu temaram. Pria itu tampak lebih lembut dari biasanya. Garis kejam di bibirnya tampak memudar dan itu membuatnya tampak lebih santai.
Sebenarnya bukan tanpa alasan Skylar melakukan hal ini dan terkesan berubah, dia hanya merasa sedikit kasihan kepada istrinya itu yang sekarang terlihat seperti mayat hidup. Wanita itu sangat malas makan kalau tidak dipaksa oleh Skylar, dan paksaannya akan berujung pada kekerasan. Melihat keadaannya yang tampak lemah itu, membuat Skylar tanpa sadar menawarkan hal ini, makan malam romantis di restoran berbintang lima.
Ah, bukankah Skylar terlihat munafik sekarang? Angela-nya pasti marah kalau mengetahui hal ini. Tetapi ini yang terakhir, ke depannya dia tidak akan luluh lagi dan mengikuti kata hatinya.
Starla sebenarnya ingin membantah pertanyaan pria itu, untuk memperlihatkan perlawanan, tetapi dia mengabaikannya. Alasannya karena tidak ingin merusak suasana indah ini. Terkurung selama berminggu-minggu di dalam rumah terkutuk itu dan sekarang entah kenapa Skylar berbaik hati membawanya keluar—meskipun dengan pengawalan yang ketat— Starla sempat melirik ke arah pengawal-pengawal Skylar yang berdiri seperti biasa di akses pintu keluar. Pria itu benar-benar membatasi pergerakannya, seakan sedikit saja ia bisa kehilangan wanita itu.
Starla menganggukkan kepalanya. Dia memang sangat menikmati semua ini, bukan hanya makanan—meskipun makanan di rumah Skylar tidak kalah nikmatnya—tetapi bisa makan dengan pemandangan bebas, bukan pintu kamar dan ruangan yang selalu terkunci sangat menyenangkannya.
"Bagus." Skylar bergumam puas, lalu memanggil pelayan untuk menghidangkan hidangan penutup, dan kopi untuknya. "Aku ingin bernegosiasi denganmu."
Starla mengalihkan pandangan tertariknya pada hidangan penutup yang baru datang itu. Itu adalah creme brulee hidangan cantik dari krim yang dibakar di permukaan atasnya sehingga membentuk lapisan karamel renyah tetapi lembut di bagian bawahnya.
"Aku akan membiarkanmu bebas keluar kamar dan berkeliling di area penthouse, bahkan kau bisa mengunjungi taman yang sangat ingin kau datangi itu. Asal kau menjadi istri penurut dan tidak membangkang."
Starla tergoda. Bukan, bukan tergoda untuk menjadi istri yang baik. Tetapi tergoda akan janji itu, bahwa Skylar tidak akan memperlakukannya sebagai tawanan, yang berarti akan melonggarkan keamanan ketat yang selama ini menjaganya.
Itu berarti kesempatan untuk melarikan diri akan ....
Skylar sepertinya bisa membaca pikiran Starla dari raut wajahnya, bibirnya mengetat marah dan lelaki itu menggeram, "Lupakan saja!" Dengan marah Skylar melemparkan serbetnya. Lalu berdiri dengan kasar. "Andreas!"
Dengan cepat Andreas yang sudah berjaga tidak jauh darinya segera menyiapkan mobil Skylar, dan Starla mendapati dirinya ditarik paksa pergi meninggalkan restoran mewah itu.
__ADS_1
****
Dalam kegelapan sosok itu tengah mengawasi, kabel rem mobil itu sudah berhasil dipotongnya. Susah memang, mengingat pengawal-pengawal Skylar selalu siaga. Tetapi jangan panggil dia pembunuh bayaran terhebat kalau hal ini tidak mampu dilakukannya, dia cukup terkenal di dunia gelap yang cukup populer sebagai pembunuh bayaran paling ahli.
Potongannya sudah diatur dengan rapi, ketika diperiksa sekarang pun tidak akan ada yang menyadarinya. Tetapi seiring berjalannya mobil, kira-kira sepuluh kilometer dari sini, tepat ketika mereka memasuki area pinggiran kota dengan jalan berliku dan pohon besar di kiri dan kanannya menuju penthouse Skylar ... kabel itu akan putus.
Pria itu tersenyum dalam kegelapan, dia terus mengawasi sampai mobil itu berjalan dan menghilang di tikungan, lalu menyeringai dengan jahat, sekarang saatnya menagih bayarannya kepada Gavino yang menyedihkan itu.
****
Ketika mereka dalam perjalanan pulang, suasana hati Skylar tampaknya lebih buruk dari sebelumnya. Kejadian tadi membuat amarahnya kembali membuncah, bagaimana mungkin dia menawarkan sesuatu kepada musuh terbesarnya itu. Sesuatu yang membuat wanita sialan itu mempunyai pemikiran untuk menggunakan kesempatan baik yang diberikan itu untuk kabur darinya.
Sialan! Wanita itu memang tidak bisa dibaiki, wanita sialan itu memang pantasnya untuk disiksa dan dibuat menderita.
Starla mengernyit saat menoleh ke arah Skylar yang memancarkan aura kemarahan yang begitu menggebu-gebu. Apakah Skylar selalu memulai hari-harinya dengan marah-marah seperti ini? Bukankah marah memang menjadi sifat utama dari Skylar? Ah, lelaki brengsek itu pasti akan mati muda, pikir Starla dalam hati dengan puas.
Perjalanan itu berlangsung sedikit lama dan Starla mulai mengantuk, mungkin pengaruh anggur dan kekenyangan karena makanan enak tadi. Perlahan-lahan Starla mulai memejamkan mata dan godaan untuk tidur terasa sangat nikmat.
"Starla!" teriakan itu mengejutkan Starla membuatnya terperanjat kaget, perasaan dia baru saja berkelana dalam mimpi dan ketika sadar dia merasakan dirinya ada dalam dekapan Skylar, didekap dengan begitu kuat hingga merasa sakit. Seluruh tubuh Skylar melingkupinya, seolah melindunginya. Tetapi, melindungi dari apa?
Sekejap kemudian, mereka berguling dan benturan keras mengenai kepalanya, membuat semuanya gelap dan Starla tidak ingat apa-apa lagi.
Oh Tuhan! Apakah dia sudah mati?
__ADS_1