
Starla kembali menyandarkan pipinya ke tempat tidur sembari memejamkan matanya pasrah. Membiarkan tubuhnya bergerak hebat. Namun, kepasrahan itu membuat Skylar semakin bergerak tidak manusiawi bak binatang buas yang hanya ingin memenuhi kepuasannya. Dan pada saat itu juga, cengkeraman Starla semakin kuat. Erangannya bahkan semakin keras.
"S—sakit, Skylar ...."
Ini bukan hal yang baru bagi wanita itu untuk melayani nafsu bejat Skylar, hanya saja ia masih belum terbiasa dengan gerakan serta ukuran tubuh pria itu.
"Sky, please .... oh Tuhan!"
Wanita itu kembali merintih ketika Skylar sesekali menarik tubuhnya, dan kembali menghujamnya dalam-dalam.
Gerungan keras itu terdengar dari mulut Skylar. Ia lalu melepas kasar tautan tubuh mereka, membuat sang wanita mengerang lega. Namun, kelegaan yang baru saja dirasakan Starla sepertinya belum bisa ia nikmati lebih lama ketika Skylar kembali membalikkan tubuhnya dengan kasar.
"Skylar ..." ucapan lemahnya terpotong saat Skylar kembali menerobos. Pria itu mengangkat dan meletakkan salah satu kaki Starla ke pundaknya, lalu kembali bergerak kasar seraya memijat kuat dada milik wanita itu.
"Kenapa? Kau menikmatinya, bukan?"
Starla melenguh, mendesah yang membuat Skylar menatapnya dengan tatapan jijik. Tetapi, Starla sudah berusaha keras untuk menahan mengeluarkan suara-suara anehnya, tetapi itu tidak bisa ditahannya.
"How ***** you are!"
Skylar tersenyum melecehkan setelah melihat Starla yang kewalahan di bawahnya dengan ******* yang terus mengalun lemah, kian membakar gairahnya.
"Bagaimana jika Arlan melihatmu seperti ini?" Skylar menyelesaikan kalimatnya tersebut di setiap kali ia menginvasi tubuh Starla.
__ADS_1
Mendengar kalimat kejam itu, Starla mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Buliran air mata tersebut kembali jatuh membasahi kedua pelipisnya.
Dia tahu bahwa apa yang mereka lakukan kali ini ataupun malam-malam yang telah mereka lewati, itu tidak akan pernah mempengaruhi keteguhan Skylar yang akan menghancurkannya. Sekalipun dirinya sudah benar-benar rusak, lelaki itu masih belum merasa puas.
Keintiman mereka tidak akan mampu mengembalikan sisi lembut pria itu. Bagaimana pun juga, Skylar tetap menganggap bahwa itu hanya kepuasan nafsu semata, tidak lebih. Wanita itu tetap akan menjadi pelacur baginya. Dan Starla hanya bisa menyimpan rasa sakit itu diam-diam saat ia tidak pernah sekalipun melihat Skylar menatap dan memperlakukannya layaknya seorang istri pada umumnya.
Wanita itu kembali melenguh kecil sembari menggigit bibir bagian dalamnya ketika Skylar kembali menarik tubuhnya lalu mengentakkannya dengan ganas dan kuat.
"Dan aku peringatkan kepadamu, jangan pernah bertemu dengan Xander lagi ataupun memikirkannya!"
Starla tak mampu lagi mencerna perkataan Skylar dengan baik. Sesaat, ia merasa dirinya seakan kehilangan kesadarannya.
Setelah beberapa lama dengan posisi yang sama, Starla merasakan Skylar yang semakin membesar dan keras di dalam tubuhnya.
Skylar menghujam semakin cepat dan kuat membuat Starla terlempar ke atas. Tubuhnya meneriakkan protes ingin segera memuntahkan dirinya ketika mendengar ******* lemah wanita itu. Starla menekuk kuat jemari kakinya tak kala merasakan gerakan Skylar semakin tidak terkendali.
Dia tahu bahwa pria itu sudah di ujung kenikmatan. Ia bahkan bisa melihat wajah bengis Skylar dari balik kelopak matanya yang setengah tertutup. Wajah tegas yang dipenuhi peluh gairah dan kenikmatan, napasnya yang terengah-engah, dahinya berkerut samar penuh konsentrasi untuk segera mencapai kepuasannya.
Sekali lagi, Skylar menarik tubuhnya lalu kembali melesak jauh ke dalam, berusaha mengubur dirinya sedalam mungkin dan diiringi oleh gerungan nikmat dari bibirnya. Tangannya mencengkeram erat paha Starla saat kenikmatan tersebut mengantarnya untuk merasakan gelombang dahsyat itu.
Pria itu kemudian menurunkan kaki Starla lalu menindih tubuh mungil itu tanpa melepas tautan mereka. Napas panasnya yang memburu menyapu sekitar telinga Starla saat ia menenggelamkan wajahnya di lekukan leher wanita itu. Menghirup dalam-dalam aroma feromon di sana. Membiarkan wanita itu bernapas teratur sebelum ia kembali membantainya. Lagi dan lagi.
****
__ADS_1
Sepasang manik jernih itu perlahan terbuka, bersiap melawan cahaya yang menyerangnya dari balik jendela. Butuh sekitar lima detik bagi Starla untuk kembali pada kenyataan.
Wanita itu kemudian mulai bangkit dalam posisi duduk di tepi ranjang. Tubuhnya penuh dengan aroma bekas percintaan dan tidak ketinggalan juga aroma tubuh Skylar. Starla mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan, memperhatikan keadaan kamar. Tidak perlu bertanya atau berpura-pura lupa ingatan untuk tidak mengingat semuanya. Wanita itu tahu persis apa yang telah terjadi sehingga membuat kamar itu layaknya kapal pecah.
Benar-benar berantakan.
Starla menarik napas sejenak lalu mengusap wajahnya pelan. Kejadian semalam kembali terlintas di dalam pikirannya. Skylar benar-benar kasar. Meskipun pria itu memang tidak pernah melakukannya dengan lembut, tetapi sungguh, gerakan Skylar tadi malam lebih beringas dari biasanya. Tidak ada sama sekali kenikmatan yang dirasakan oleh Starla. Pria monster itu bahkan tidak memberikan waktu semenit pun untuk Starla memejamkan mata, sehingga ia harus terbangun di hari yang sudah menjelang siang seperti sekarang ini.
"Skylar sialan!"
Wanita itu mengerang ketika ia mencoba berdiri. Seluruh tubuhnya benar-benar sakit. Lalu dengan susah payah, ia menyeret dirinya ke kamar mandi. Sesekali tangan kecil itu terulur menyentuh sesuatu yang bisa membantu menopang tubuhnya.
Starla menatap iba pantulan dirinya di cermin wastafel. Berantakan dan mengenaskan. Lebam dan memar hasil cengkeraman serta hisapan kuat dari Skylar nyaris memenuhi seluruh tubuhnya. Kebanyakan di bagian leher. Ini adalah kesekian kalinya—bahkan bisa dihitung dengan jari, perempuan itu memandangi wajah menyedihkan setelah menikah. Perlahan, ia menyentuh cermin tersebut dan menggerakkan telunjuk seolah-olah tengah menyentuh pipi wanita rapuh itu.
"Kau menjijikkan. Lihat tubuh kotormu, apa semua itu membuatmu nyaman?"
Air mata pilu itu mengalir pelan ke salah satu pipinya.
Starla bersumpah, ia sangat jijik pada dirinya sendiri. Maka dari itu, dia selalu berusaha menghindar dari sesuatu yang bisa memantulkan tubuh dan wajahnya. Ia tidak ingin melihat pantulan mengerikan itu. Starla juga membenci dirinya yang lemah. Terlalu lemah menghadapi pria bajingan itu.
Tetapi demi Tuhan, sekuat apa pun dia melawan, sekeras apa pun dia menolak, Skylar tidak akan pernah kalah lalu berhenti menyakitinya. Pria kejam itu bahkan sudah mengetahui kelemahan terbesar yang ada pada dirinya, sehingga dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Starla hanya bisa menangis ketika Skylar menjamah dan menguasainya. Menikmati lekukan demi lekukan tubuhnya.
Mencapai kepuasan tanpa memikirkan keadaan wanita yang terengah di bawah kekuasaannya. Dan setelah itu, dengan sangat tidak berperasaan, Skylar memandangnya dengan pandangan yang teramat sangat melecehkan, lalu meninggalkan Starla yang terkulai lemas, tanpa harus repot-repot membantunya untuk membersihkan diri.
__ADS_1
Lucu sekali. Bahkan serangga-serangga yang melihat kejadian itu pun turut serta menertawakan Starla yang dilecehkan seperti itu.
Ia tertawa miris dan membiarkan air matanya kembali menetes seraya berkata, "Kau lihat, bukan? Adikmu sudah menjadi pelacur. Dan itu semua karenamu."