
Perspektif seorang Skylar untuk mengeluarkannya dari rumah ini, yaitu membawanya ke lantai dua atau tepatnya di pinggiran balkon yang di bawahnya terdapat kolam renang yang sangat jernih namun terlihat sangat dalam. Tanpa sadar Starla bergidik ngeri.
"Apa maksudmu, Skylar?!"
"Tentu saja mengeluarkanmu dari tempat ini seperti yang kau inginkan!" jawab Skylar dengan tenang.
"Lalu? Kenapa kau membawaku ke tempat ini?" tanya Starla masih belum mengerti dengan isi pikiran Skylar kali ini.
"Ayo, Starla! Lompat sekarang juga!" Perintah Skylar tanpa belas kasihan.
Starla tercengang mendengar perintah pria gila di depannya itu. "Apa maksudmu, Sky?" teriak Starla sekali lagi tidak mengerti dengan perintah tidak masuk pria gila itu.
Skylar maju mencengkeram lengan Starla, lebih mendorongnya mendekati balkon. "Sekarang, Star!"
Starla menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kau gila!"
Skylar berdecak. "Kenapa? Kau tidak mau? Baiklah biar Jeane yang menggantikanmu."
Skylar berbalik menarik Jeane yang ternyata sudah ada di antara mereka. Bukankah wanita itu sudah pamit pulang, tetapi kenapa dia masih berada di sini. Dan beberapa pelayan yang seharusnya juga sudah pulang kini berada di sekitar mereka. Raut wajah mereka terlihat menyimpan sebuah ketakutan dan kengerian yang besar.
"Kau lihat, Star. Jeane yang akan menggantikanmu untuk lompat. Ayo, Jeane. Sekarang!"
Jeane sudah menggigil ketakutan, namun tetap mengikuti perintah Skylar. Starla bahkan bergidik ngeri melihat ketinggian belum lagi kolam itu terlihat sangat dalam. Air mata Jeane terus berderai, membuat Starla seketika kasihan melihatnya. Ini salahnya, dan ia tidak mau Jeane yang sudah baik kepadanya harus menanggung hukuman dari Skylar.
"Kau lihat, Starla? Wanita di depanmu ini yang akan menjadi korban dari kekeras kepalaanmu!" Skylar lalu mulai mendorong wanita itu.
Sebelum Skylar berhasil mendorong Jeane. Starla berteriak kencang. Mencengkeram lengan Skylar, mencegahnya mendorong Jeane yang sudah dianggapnya keluarga sendiri selama berada di rumah ini.
"Jangan! Jangan, Sky! Aku yang salah, aku yang bersalah di sini, bukan dia. Biar aku yang melakukannya," teriak Starla panik.
Skylar tersenyum sinis. "Setiap kau mencoba melarikan diri, aku bersumpah akan ada nyawa yang berkorban untukmu. Perbuatan nekat dan pembangkangmu akan membuat satu nyawa melayang!"
"Iya, Skylar. Aku yang salah. Aku mohon lepaskan Jeane, biar aku yang melakukannya."
Skylar terdiam mematung, masih menatap Starla dengan tatapan sedingin es.
"Jadi kau mengaku salah? Dan tidak akan lagi membangkang perkataanku, apa lagi berniat kabur dari sini?" tanya Skylar lalu perlahan melepaskan cekalannya dari lengan Jeane, lalu mendorongnya menjauh.
__ADS_1
"Bersyukurlah kali ini Jeane. Tetapi bersiaplah jika wanita sialan ini kembali berbuat ulah, maka kau yang akan mendapat imbasnya," ancam Skylar.
"Iya, Tuan Skylar," jawab Jeane dengan cicitan yang penuh ketakutan.
Starla merasa lega luar biasa karena Skylar tidak jadi melampiaskan semuanya ke Jeane. Namun, ia kembali merasa ketakutan saat tatapan Skylar kembali terarah kepadanya.
"Baiklah, Starla. Ayo lompat sekarang! ini adalah hukuman karena beraninya berniat kabur dariku!"
"Aku hanya ingin keluar dari tempat ini, Skylar!" teriak Starla marah, frustasi karena Skylar menggunakan ancaman licik untuk mencegahnya melarikan diri.
"Kau milikku! Kita sudah menikah kalau kau tidak lupa. Sejak dulu kau hanya milikku sampai aku berbaik hati untuk membunuhmu."
"Ayo lompat sekarang!" teriak Skylar kembali.
"Kau gila, Skylar! Kau tahu Gaby pasti membenci dirimu yang sekarang. Kau berkoar-koar bahwa apa yang kau lakukan saat ini hanya balas dendam untuk kematian Gabriella, tapi apakah adikmu itu pernah memintamu untuk balas dendam, tidak 'kan?"
"Bahkan kalau Gaby masih hidup pasti dia akan membenci dirimu yang sekarang. Balas dendam kepada wanita lemah yang bahkan tidak bisa melawanmu, dan parahnya lagi wanita itu tidak tahu apa sebenarnya kesalahannya sampai harus menanggung dendam sialanmu itu," lanjut Starla kembali dengan nada berapi-api.
Starla terengah-engah saat mengatakannya, ini adalah kesempatannya untuk melampiaskan segalanya, bahwa apa yang dilakukan oleh Skylar adalah sebuah kesalahan.
"Tutup mulut sialanmu itu!" Skylar mulai membentaknya. Giginya bergemeletuk menandakan kalau ia sangat marah mendengar kalimat Starla, terlebih lagi mendengar nama asiknya keluar dari bibir wanita sialan itu.
Di depannya Skylar masih menatapnya dengan tajam, rahangnya mengeras menandakan kalau ia sangat marah saat ini. Tetapi Starla harus meluruskan segalanya, menyadarkan kalau perbuatan Skylar selama ini salah.
"Apakah kau tidak sadar, kalau perlakuan itu yang membuat Gabriella mencari kesenangan di luar sana. Apakah kau tahu, dia kesepian karena terus ditinggal olehmu. Oleh satu-satunya keluarga untuknya. Sebenarnya kaulah yang membuat Gaby seperti itu hingga memilih mengakhiri hidupnya."
"Stop! Aku bilang berhenti mengucapkan nama adikku dengan mulut menjijikkan kamu itu!"
"Gaby mendapatkannya dari Arlan, Skylar. Bersamanya dia terlindungi dan merasa berbahagia. Kaulah Skylar, kau yang membuatnya mencari kesenangan di luar sana. Kau terlalu sibuk dan tidak memperdulikannya. Apakah kau sadar kalau sampai kematiannya dia masih saja kesepian karena dirimu yang terlalu sibuk?"
Perkataan Starla terhenti karena tamparan keras di pipinya. Skylar-lah yang menamparnya, mengakibatkan ujung bibirnya mengeluarkan darah segar.
"****** sialan! Jangan sok tahu. Dia sama sekali tidak mendapatkan kebahagiaan dari Arlan, justru pria itu yang menyakitinya setelah menikmatinya. Dan kau! Kau juga ikut andil dari semua ini, membantu Arlan dan membuat Gaby memilih untuk mengakhiri hidupnya." Dengan kasar Skylar mendesak tubuh Starla sampai benar-benar ke ujung balkon. Membuat tubuhnya terbungkuk ke bawah sementara tangannya dikekang dari belakang oleh Skylar.
"Jangan memutar fakta seolah-olah aku yang membuat Gaby mengakhiri hidupnya. Aku tahu Gaby, dia adikku dan selama ini dia mengerti dengan kesibukanku. Tetapi semua itu bermula setelah dia mengenal Arlan. Kau dan kakakmu itu adalah pembunuh keji. Kau pantas menyusul Arlan dan terbakar di neraka bersamanya." Dengan kejam Skylar menyumpahinya, tanpa perduli dengan ketakutan Starla yang semakin didesak ke pinggiran balkon.
Dengan sedikit tenaga yang tersisa, Starla masih bisa mengeluarkan cicitannya. "Kau mengataiku pembunuh. Lalu kau itu apa? Kau tidak ada ubahnya dari seorang pembunuh. Pemerkosa keji seperti dirimu tidak pantas hidup," teriak Starla.
__ADS_1
"Perempuan ******!" Skylar benar-benar mendorongnya sampai ke ujung. "Ada kata-kata terakhir?"
Starla memalingkan kepalanya sehingga tatapan matanya bertemu dengan bola mata Skylar yang menggelap oleh amarah. "Aku membencimu! Dan sampai kapan pun akan selalu begitu, Skylar."
Lalu, setelah itu tubuh Starla terlempar. Melayang di udara kemudian meluncur ke dalam kolam renang yang dalam itu. Terbanting menembus permukaan kolam, lalu tenggelam. Starla memejamkan matanya, tidak berusaha menyelamatkan diri. Entah berapa banyak air kolam ditelannya. Napasnya terasa sesak dan paru-parunya seakan mau pecah.
Oh Tuhan! Aku akan mati.
Apa ini adalah akhir hidupnya?
Ketika Starla sudah sampai di titik akan kehilangan kesadaran, terdengar ceburan lain yang tak kalah kerasnya. Disusul sebuah lengan kekar merengkuh dan mengangkat tubuh lemahnya dan membawa ke permukaan. Tubuh lemas Starla dibaringkan di lantai pinggiran kolam, lalu dia merasakan dadanya ditekan dengan ahli hingga merasakan aliran air yang tertelan keluar.
Starla memuntahkan banyak air dan terbatuk-batuk kesakitan. Paru-parunya masih terasa begitu sakit dan nyeri.
Siapakah penolongnya? Apakah dia memang belum diizinkan mati sekarang?
Di saat kegelapan semakin menyelimutinya, ia masih bisa melihat Skylar memberinya napas. Perlahan suara keras Skylar mengalung, suara terakhir sebelum kegelapan mengambil alih tubuhnya.
"Cepat panggil dokter!"
Itu jelas suara Skylar. Apakah Skylar yang menyelamatkannya?
Lagi pula ... kenapa lelaki itu menyelamatkannya?
****
Skylar keluar dari kamar mandi dengan masih menyimpan kemarahan. Rambutnya basah kuyup. Dan seluruh pakaiannya yang basah teronggok di lantai.
Sebuah gerakan di sudut kamar membuatnya menoleh. Andreas berdiri di sana dan terlihat tampak khawatir melihatnya.
"Bagaimana dia?" tanya Skylar dingin.
"Dokter sedang menanganinya, paru-parunya kemasukan cairan. Anda sendiri bagaimana, Tuan Skylar? Anda tidak apa-apa? Terjun dari lantai dua seperti itu hanya untuk menyelamatkan perempuan itu ...."
Skylar melirik pada Andreas dengan tatapan tajam, lalu meraih handuk untuk menggosok rambutnya yang basah. "Tadinya aku berniat membunuhnya."
"Kalau begitu kenapa Anda menyelamatkannya?"
__ADS_1
Skylar membalikkan tubuhnya dan menatap Andreas dengan mata menyala. "Karena aku memutuskan belum saatnya dia mati." Mata biru Skylar bagaikan bersinar di dalam kegelapan.