
Skylar berjalan keluar gedung perusahaan beserta Andreas yang mengiringi langkah lebarnya di sebelahnya. Tampak lelaki itu sesekali menggerakkan bibirnya, memerintahkan sesuatu yang membuat sang asisten mengangguk setuju.
Setibanya di pekarangan parkir, langkah mereka tersendat akan kehadiran Ariana yang tengah berdiri bersedekap menyambut kedatangannya, sementara kakinya menyilang indah, pun dengan punggungnya yang bersandar pada mobil milik Skylar di belakangnya. Wanita itu terlihat percaya diri, begitu sombong dengan sesuatu yang telah diketahuinya tentang kebenaran Skylar dan pernikahannya dengan Starla.
Wajah cantiknya yang angkuh dan terlihat sensual itu membuat Andreas sejenak mengerutkan dahi. Namun, wanita itu tentu saja tidak mengacuhkan lelaki itu. Tatapannya hanya tertuju pada wajah lelaki yang masih bertahan dengan ekspresi tenangnya— Skylar.
"Aku sudah terlalu lama menunggumu, Sky sayang!" sapa Ariana dengan suara lemah lembut yang terdengar dibuat-buat.
"Bisakah kau menyingkir dari situ?" desis Skylar tenang yang membuat wanita itu berdecak kesal, lalu melangkah mendekat.
"Oh, ayolah! Kenapa ...." Kalimat Ariana sejenak terhenti saat Skylar lagi dan lagi menepis tangannya ketika ia hendak mengelus rahang tegas milik lelaki itu. "Kenapa kau selalu menghindar seperti ini? Kau justru membuatku semakin tertantang untuk mendapatkanmu. Kau melupakan aku dan mencampakkanku. Tetapi aku tidak akan menyerah untuk bisa mendapatkan kamu kembali."
Sejenak, Skylar membuang pandangan ke arah lain lalu kembali menatap lekat wajah Ariana sebelum berujar tenang. "Katakan apa yang membuatmu datang ke tempat ini? Aku tidak memiliki banyak waktu untuk wanita sepertimu."
"Mysterious, Skylar." Ariana memandangnya dengan tatapan sensual. "Kau semakin menggoda jika seperti ini."
Salah satu bibirnya tertarik, membentuk senyuman penuh kelicikan saat mengucapkan kalimat tersebut. Ariana tentu saja sengaja memanas-manasi keadaan, ingin melihat sampai di mana Skylar akan menahan diri.
Pria itu tetap bungkam tanpa mengalihkan tatapan tidak bersahabat miliknya pada wanita murahan itu. Ariana yang melihat ekspresi itu mendesah berat.
"Baiklah, Sepertinya kau tidak suka berlama-lama. Langsung saja kalau begitu." Ia kemudian merangsek maju dan mendekatkan bibirnya ke telinga Skylar lalu berbisik. "Wanita itu ... aku bisa membantumu melenyapkannya dengan mudah."
__ADS_1
"Apa maksudmu?" erang Skylar saat wanita itu kembali memposisikan diri di depannya.
"Tidak perlu ragu untuk mengungkapkan semuanya padaku. Aku tahu kenapa kau sangat terobsesi untuk menikahinya. Aku tentu bisa membantumu membalaskan dendam adikmu padanya. Ah, bahkan lebih menderita lagi dari—"
Kalimat panjang dan lebar itu tertahan seketika saat pria itu tiba-tiba menarik kasar lengan Ariana lalu mendorongnya dengan kuat. Wanita itu mengerang perih ketika punggungnya terbentur keras oleh mobil milik pria itu di belakangnya. Kemurkaan yang berapi-api tampak begitu jelas di wajah tegas Skylar ketika pria itu mendekatkan wajahnya ke arah Ariana yang terbelalak takut karena sudah berani-beraninya memancing kemarahan pria itu.
"Lakukan semua rencanamu bila kau memang sudah bosan hidup, Ari. Aku akan mematahkan tulang-tulangmu jika sedikit saja kulit kotormu itu menyentuhnya." Skylar mencoba mengatur napasnya yang tidak beraturan lalu kembali meneruskan. "Juga sampaikan hal itu kepada Gavin. Kalau dia tidak ingin bernasib sama dengan pembunuh bayaran bodohnya itu, jangan terlalu melampaui batas. Karena aku akan menantikan hari itu datang, hari di mana ia menyetorkan nyawa tidak berharga kalian kepadaku karena telah berani mengusik kehidupanku dan menyakiti istriku."
Selepas melontarkan kalimat penuh ancaman itu, Skylar kembali menyingkirkan wanita itu lalu pergi dengan mobilnya. Meninggalkan Ariana yang masih terus menatap kepergiannya dengan kemarahan serta rasa malu yang luar biasa. Namun, wanita itu tidak peduli. Rasa keinginannya untuk memiliki hati Skylar jauh lebih besar dari rasa malu yang menggerogotinya saat ini.
Gerakan tangan Ariana begitu cepat saat dia merogoh tas tangannya dan mengambil kunci mobil miliknya dari dalam sana. Hendak menyusul Skylar ketika Andreas yang sejak tadi berdiri tak jauh darinya mencekal lengannya dengan tiba-tiba.
"Mau ke mana, huh?"
Andreas mendekatkan dirinya tanpa melepaskan cengkeramannya pada lengan Ariana.
"Kau akan menyesali perbuatanmu jika kau benar-benar melakukannya. Kenali wajahku. Aku yang akan turun tangan untuk menghabisimu, bahkan tanpa mendapat perintah sekali pun, akan aku lakukan," kata Andreas dengan nada tenang setelah terkekeh remeh.
Ariana mengerjap cepat lalu mendengkus kasar sebelum akhirnya terbata-bata membalas ancaman Andreas. "Kau pikir aku takut? Lepaskan aku sekarang juga, brengsek!"
Salah satu sudut bibir Andreas terangkat tipis. Pria itu bergerak gesit merenggut kunci mobil itu dari tangan Ariana dengan mudah, lalu melemparnya ke seberang jalan.
__ADS_1
"Kau ...."
Ariana tidak mampu melanjutkan kalimatnya ketika ia melihat kunci mobil mewahnya hancur terlindas mobil lain yang tengah melintas.
"Kau senang?"
Pria itu menatapnya dengan pandangan melecehkan, dan saat itu juga Ariana menyentak kasar lengannya.
"Apa yang kau lakukan? Mobil itu bahkan jauh lebih mahal dari bayaranmu, sialan!"
"Menyedihkan." Andreas mencibir pelan seraya menatap kunci mobil yang telah hancur di tengah jalanan itu, lalu mendesah berat dengan raut wajah penyesalan yang dibuat-buat. "Aku turut prihatin."
Sejenak, lelaki itu mengarahkan pandangan ke wajah Ariana sebelum beranjak pergi dan tersenyum puas saat berbagai macam umpatan dari wanita itu mengalir mulus ke telinganya.
****
Terkadang, hidup membutuhkan pengalaman untuk memahami arti kehidupan yang sesungguhnya.
Tiap hari ataupun di setiap detiknya, Starla selalu bertanya-tanya, apakah yang tengah dialaminya saat ini adalah sebuah pengalaman hidup? Begitu pahit kah perjalanan hidup untuk mengecapi kehidupan yang sesungguhnya? Haruskah hidup semenderita ini? Kesepian, kesakitan, tidak berdaya, sendirian, dihina, dibenci, direndahkan. Apakah wanita-wanita lain juga merasakan hal yang sama? Kenapa takdir begitu kejam menghukum kehidupannya yang sebelumnya biasa-biasa saja? Dan satu pertanyaan lagi yang membuat hatinya begitu sesak, kenapa saat itu Tuhan meniupkan napasnya ke dunia dan menciptakan sosok wanita rapuh dan lemah untuk menghadapi kematian?
Begitu banyak pertanyaan yang berkecamuk di dalam kepalanya. Namun, tidak ada satu pun jawaban tepat yang ia temukan. Tidak ada yang bisa mencegah perjalanan hidupnya yang menyakitkan. Starla sudah terlanjur berada di tepi jurang kehidupan, tak seorang pun yang peduli terhadap dirinya ketika ia meneriakkan pertolongan agar segera diselamatkan. Membuatnya merasa putus asa, hingga mau tak mau ia merelakan dirinya terhantam oleh badai kekejaman yang akan mendorongnya hingga terperosok jatuh ke dalam sana.
__ADS_1
Sakit fisik yang Starla rasakan akibat kekasaran Skylar sungguh jauh berbeda dibanding rasa sakit yang kini selalu setia menumbuk dadanya. Wanita itu tak mampu lagi menatap Skylar tanpa mengingat kekasaran pria itu terhadapnya. Skylar benar-benar tidak ingin memperbaiki keadaan. Dia terlalu sulit untuk diraih serta digenggam, dan Starla tidak tahu lagi tindakan apa yang harus dilakukan untuk menumbuhkan kembali hati nurani pria itu.
Semuanya terlalu mustahil untuk kembali baik-baik saja, semuanya tentu saja telah berbeda sampai kapan pun itu.