Tawanan Sang Devils'

Tawanan Sang Devils'
Flashback


__ADS_3

Flashback!


Air mata masih terus merebak dari manik biru sang wanita, sementara bibir keringnya tak henti bergetar saat isak samarnya memenuhi indra pendengaran milik sesosok lelaki di hadapannya.


"Maafkan aku!"


"Tidak apa-apa, lupakan saja."


"Aku menyesal. Aku malu, Arlan."


Tidak ada lagi jawaban yang terlontar dari bibir Arlan. Ia memilih bungkam sementara benaknya masih terus memikirkan kenyataan yang ada. Lelaki itu marah dan kecewa, tentu saja. Dan kekecewaan yang luar biasa itu terpancar jelas di sorot matanya yang tenang meskipun berkali-kali ia mencoba untuk terus menyembunyikannya.


Wanita itu menatap Arlan penuh penyesalan lalu melangkah pelan, mengikis jarak antar keduanya. Tangannya terulur perlahan, menggenggam tangan besar itu dengan hati-hati sebelum akhirnya berkata, "Aku mohon, maafkan aku! Aku ... aku sungguh menyesali perbuatan konyolku ini. Arlan, aku—"


"Gaby ...." Dengan penuh kesakitan bersuara saat laki-laki itu menggumamkan namanya.


"Gabriella," gumamnya sekali lagi, lalu kembali melanjutkan kalimatnya dengan nada pelan. "Betapa kau mengecewakanku, kau tahu?"


Masih dengan gumaman pedihnya, Gabriella membawa salah satu tangan Arlan ke sebelah pipinya. Sesak dan menyakitkan ketika ia menatap raut wajah lelaki itu dengan seksama.


"Berikan aku kesempatan satu kali lagi Arlan. Aku mohon padamu!"

__ADS_1


Pria itu menangkup kedua pipi Gabriella dan menggerakkan ibu jarinya saat setetes cairan kepedihan itu kembali menitik. “Seharusnya kau tahu bahwa tidak semua orang bisa mendapatkan kesempatan. Dua kali aku memberimu kesempatan itu, kenapa kau tidak memanfaatkannya dengan baik?"


Kalimat demi kalimat tersebut terlontar begitu lembut dari bibirnya. Pria itu tidak bisa benar-benar marah, bahkan dalam kondisi seperti ini, di mana ketamakan kini menguasai hatinya yang berapi-api. Apalagi terhadap sosok wanita di depannya, ia tentu tidak mampu melupakan emosinya kepada wanita yang sangat dicintainya itu.


"Arlan ..." gumam Gabriella lirih.


Lidahnya mendadak kelu. Wanita itu tidak dapat berkata-kata lagi. Ia tidak menemukan kalimat yang tepat untuk menjerat kembali hati nurani Arlan yang kian menghindar dan bersembunyi darinya.


"Dengarkan aku, Gaby. Lelaki yang mencintai seorang wanita tidak akan berbuat lebih sebelum waktunya. Dia akan menjaga perempuan itu layaknya harta yang paling berharga dalam hidupnya. Kau wanita dewasa, seharusnya kau bisa memilih mana yang baik dan menjauh dari hal yang kau anggap buruk."


Gabriella bungkam. Air mata penyesalan tak henti-hentinya membasahi wajahnya. Semakin erat ia menggenggam punggung tangan milik Arlan yang masih melekat hangat di kedua pipinya


"Kenapa kau begitu ceroboh merusak apa yang seharusnya kau jaga? Kau menyerahkannya kepada lelaki yang bahkan tidak kau kenali. Dan demi Tuhan, Gabriella! Apa yang kau dapatkan sekarang? Dia justru meninggalkanmu dalam kondisi seperti ini."


"Sungguh, semuanya tidak masalah jika tidak terjadi apa-apa. Aku pasti menerimamu seperti saat itu. Tetapi jika begini, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Kau mengecewakanku dan aku begitu mencintaimu, Gaby. Kau seharusnya mengerti mengapa hingga saat ini aku tidak berani menyentuhmu. Aku mencintaimu, aku tidak ingin menyakitimu, aku ingin menjagamu semampuku, aku ingin kita menikah setelah kau siap dan mengungkapkan hubungan kita pada mereka, tetapi kau justru begitu mudahnya melenyapkan keinginan itu," lanjut Arlan dengan nada panjang yang begitu menyayat hati dan siapa pun yang mendengarnya.


Tangisan itu semakin menjadi-jadi sesaat setelah Arlan menyelesaikan kalimatnya. Lolongannya terdengar semakin memilukan. Sungguh, Gabriella tidak mampu membayangkan bagaimana hidupnya setelah ini. Hatinya meringis perih ketika bayang-bayang Arlan meninggalkannya tak kunjung lenyap dari benaknya. Ia begitu bodoh dan hina. Sungguh, dirinya tidak pantas untuk laki-laki sebaik Arlan itu.


Tetapi bagaimana? Apa yang harus ia lakukan? Gabriella terlalu mencintainya, dan semuanya telah terjadi karena kelakuannya sendiri yang memalukan.


Oh Tuhan! Arlan ....

__ADS_1


Bagaimana bisa ia dengan mudahnya menyakiti perasaan pria ini? Menggoreskan luka di dasar hatinya yang tulus, lalu mencabik luka tersebut dengan caranya yang bengis hingga menimbulkan keperihan yang luar biasa menyakitkan dan tak kunjung pulih. Ia merasa dirinya bagaikan seorang wanita yang tidak berperasaan sama sekali.


"Arlan, please ...."


"Maafkan aku," kata lelaki itu sebelum mengecup lembut dahinya, sebelum akhirnya Arlan menjauhkan wajahnya lalu berkata, "Aku tidak bisa lagi. Sungguh, maafkan aku. Ketahuilah bahwa aku sangat mencintaimu, Gabriella."


Dan setelah itu, pria itu pergi. Benar-benar pergi dari hadapannya, bahkan menghilang dari kehidupannya dalam kehampaan yang begitu menyakitkan. Karena kesalahannya. Apa yang telah terjadi tentu saja karena kesalahannya sendiri. Dia yang telah sangat bodoh menyakiti pria sebaik dan sebertanggung jawab seperti Arlan itu.


****


Peluh membanjiri tubuh bergetar Gabriella saat kilasan-kilasan menyakitkan itu kembali menjejali pikirannya yang kosong. Erangan frustasi beserta rintihan pilu yang tertahan kini menjadi satu-satunya pengusir keheningan di kamar remang yang luas dan sunyi senyap itu.


Bayangan itu adalah kesalahan terbesar yang pernah ia lakukan di masa lalu. Kesalahan yang tidak dapat dimaafkan dengan cara apa pun itu. Gabriella meremas rambutnya dengan frustasi kala mengingat kebodohannya beberapa bulan silam. Tepatnya saat ia pertama kali meluncurkan sebuah pengakuan kepada Arlan yang mengatakan bahwa dirinya hamil, dan tentu saja benih tersebut bukan dari lelaki itu, melainkan dari seorang pria yang tidak ia kenali. Tetapi, sungguh, ia melakukannya dalam keadaan mabuk, lalu mendapati dirinya yang terbaring lemah dengan tubuh polos tepat di samping pria itu pada keesokan harinya.


Dua kali kejadian itu berlangsung dengan lelaki yang sama. Pertemuan tanpa sengaja di sebuah bar. Namun, saat itu mereka melakukannya dengan kesadaran penuh, tidak ada pengaruh alkohol ataupun semacamnya, dan tanpa pengaman apa pun yang membuat dirinya seperti ini. Gabriella tidak ingat lagi, alasan apa yang membuatnya begitu bodoh hingga dia menyerahkan semua miliknya pada lelaki asing itu, tanpa mengingat Arlan yang saat itu sudah memaafkan bahkan masih mau menerima dirinya yang telah hina.


Jemari lemahnya semakin kuat menarik rambutnya sendiri. Hatinya terlalu sakit tatkala ia merasa jiwanya terus menggumamkan kesalahan terbesarnya. Kalimat-kalimat caci maki untuk dirinya sendiri seakan berdenging tanpa henti di kedua telinganya. Kemudian, bayangan wajah Skylar yang tengah menyakiti Starla kembali berkelebat di dalam kepalanya. Dengan susah payah, ia mencoba mengeluarkan lolongan yang wanita itu pikir dapat menanggalkan pikiran-pikiran tersebut.


"Tidak! Skylar ... tidak!"


Dan pada akhirnya, hanya gerungan amukan putus asa yang terlontar dari bibir pucat milik Gabriella, yang membuat dua orang pelayan datang menghampiri wanita yang tengah meronta hebat di atas kursi rodanya itu. Dia kembali berteriak ketakutan mengingat perlakukan Skylar yang saat ini tengah membalaskan dendam pada orang yang salah. Dan ia takut, sungguh ia takut terjadi sesuatu pada Starla. Oh Tuhan!

__ADS_1


Demi Tuhan! Dia dan Skylar sudah menyakiti dua kakak beradik yang tidak terlibat kesalahan apa pun dalam hal ini. Apa yang harus dilakukan?


__ADS_2