
Dia tidak siap ... dia takut akan kematian.
Starla memejamkan matanya erat, menanti detik-detik kematiannya. Tetapi kemudian dia tidak merasakan sakit, seperti yang sangat ditakutkan sebelumnya. Apakah memang kematian tidak terasa sakit? Dengan ragu dibukanya kedua bola matanya, dan dia terkesiap dengan pemandangan di depannya.
Di sana, Skylar sedang menahan pisau itu dengan tangan telanjang. Bagian tajam pisau itu bahkan sudah mengiris telapak tangannya, tetapi lelaki itu menggenggam pisau tersebut tanpa ekspresi, meskipun darah mulai bercucuran dari tangannya, mengenai Starla. Sekali lagi, entah apa maksud pria itu, dia kembali diselamatkan dari kematian.
Pertanyaan berkelebat di dalam kepala Starla. Kenapa? kenapa pria yang terus berkoar-koar ingin membunuh dirinya, malah berakhir menyelamatkannya? Semua ini tentu saja sungguh aneh.
Dokter Alex tampak terperangah dengan gerakan Skylar yang tak disangkanya itu, dia berusaha menarik pisaunya dari genggaman Skylar, tetapi pria itu malah menarik pisau tersebut dan melemparnya jauh-jauh.
"Aku akan menghajarmu sebelum membunuhmu, sialan!" Skylar sudah bergerak menerjang dokter Alex ke lantai, dan mereka bergulat saling memukul.
Tetapi dokter Alex itu tidak terbiasa berkelahi dengan tangan kosong sehingga dia kewalahan di bawah kuasa Skylar. Skylar terus dan terus menghajarnya tanpa ampun, ketika kemudian rintihan Starla menghentikan aksinya yang brutal.
Skylar yang melihat Starla sudah tampak hilang kesadaran, mulai oleng dalam kondisi terikat di kursi, perhatian Skylar teralihkan. Dan dia tidak memperdulikan apa-apa lagi, semua pikirannya terfokus terhadap keadaan Starla yang sudah kehilangan kesadaran, dia kemudian berdiri untuk meraih Starla dan mengabaikan psikopat gila itu. Pada saat itulah, dokter Alex yang sudah babak belur mencoba meraih pisaunya yang sebelumnya telah dilempar oleh Skylar tadi. Dia berhasil meraihnya dan kemudian mengarahkannya untuk menikam punggung Skylar. Sedikit lagi, pisau itu sudah hampir mencapai punggung belakang Skylar dan sang empunya sama sekali tidak menyadari bahaya yang tengah mengintainya.
__ADS_1
Namun, dorr ….
Tubuh dokter Alex ambruk ke lantai karena tembakan itu. Skylar dengan cepat menoleh ke belakang, melihat dokter Alex yang sudah ambruk dengan pisau yang masih berada di tangannya, dan dia kembali menoleh ke arah pintu, dan di sana, Andreas tengah memegang senjata api di tangannya, alat yang digunakan untuk membunuh psikopat gila tersebut.
"Bereskan dia!"
Skylar memerintah cepat, lalu perhatiannya sepenuhnya terarah kepada Starla, tidak dirasakannya telapak tangannya yang sudah tersayat dalam. Dia kemudian membuka ikatan Starla di kursi, dan perempuan itu langsung jatuh ambruk ke pelukannya.
****
Ketika kesadarannya kembali, Starla berada di ruangan putih itu kembali, dan dia memejamkan matanya kembali. Tidak pernah sebelumnya dia merasa begitu bersyukur berada di ruangan ini.
Starla merasa nyeri yang amat sangat dan menoleh ke arah lengannya di mana sumber rasa sakit itu berasal. Lengannya yang diingat kemarin sudah berhasil tersayat oleh pisau tajam yang dimiliki oleh dokter Alex, bekas sayatan itu bahkan sudah mengeluarkan darah yang begitu segar dan membuat Starla begitu ketakutan. Tetapi, lengannya itu kini sudah dibalut perban yang amat tebal, nyerinya masih terasa tetapi lebih karena rasa trauma mendalam yang dirasakan oleh Starla akibat dari pengalaman buruknya itu. Oh Tuhan, itu sungguh-sungguh menakutkan, seperti mimpi buruk yang ingin dilupakan secepatnya.
Starla berusaha bangun dari pembaringannya, kemudian terduduk dengan cepat. Skylar telah menyelamatkannya, sekali lagi. Kenapa lelaki itu menyelamatkannya? Bukankah pria itu sangat menginginkan kematiannya untuk membalaskan dendam bodohnya yang sialnya sudah menjalar di dalam tubuh Skylar? Atau benar kata pria itu selama ini, bahwa dia sangat menyukai tubuhnya dan menjadi istri pelacurnya? Pria itu hanya menyukai tubuhnya dan belum siap sebelum tubuh yang dimilikinya ini dihancurkan oleh tangannya sendiri? Dengan pucat Starla sontak memalingkan wajahnya, entah kenapa dia merasa dirinya begitu rendah, benar-benar menjijikkan. Kalau dengan alasan seperti itu, hidupnya begitu sia-sia. Kenapa dia tidak mati saja?
__ADS_1
Lelaki itu memang sudah menyelamatkannya. Meskipun ada rasa marah, namun sebersit rasa syukur menghampirinya. Dia masih hidup karena pertolongan laki-laki brengsek itu. Starla memejamkan matanya, membayangkan bagaimana Skylar menghalangi pisau yang hendak menikamnya dengan tangannya. Starla masih teringat darah yang mengalir itu, dan mau tidak mau Starla menyadari kalau dihitung-hitung sudah beberapa kali dia diselamatkan oleh pria tersebut. Kenapa Skylar menyelamatkannya? Itu adalah pertanyaan yang belum bisa dijawabnya sampai sekarang.
Dengan gemetar, Starla meraba lengannya yang diperban, dan kemudian air matanya meluruh terjatuh membasahi kedua pipinya— Starla akhirnya menangis. Seluruh kehidupannya berubah hanya dalam waktu singkat, seluruh rencana yang dibuatnya matang-matang setelah kepergian Arlan, keluarga satu-satunya telah hancur. Dan dia sekarang terpuruk di sini dengan segudang masalah. Kembali ke dalam cengkeraman lelaki iblis yang dipenuhi dengan dendam amarah yang meletup-letup, dan bahkan sialnya sekarang dia berhutang nyawa kepada pria iblis itu.
"Jangan menangis!"
Starla terlonjak ketika suara itu terdengar di dekatnya, dengan ketakutan dia menoleh dan mendapati Skylar ada di sana, duduk di sofa tak jauh dari ranjang dan tengah mengamatinya. Apakah sejak tadi pria itu ada di sana? Menonton kekalutan yang dirasakannya, dan melihat kesedihannya? Sialan!
Dengan kasar, Starla menghapus air matanya dan menatap Skylar dengan marah. "Semua ini gara-gara kau!" serunya dengan nada menuduh. "Kalau kau tidak melibatkanku dalam kehidupanmu yang penuh dengan permusuhan, aku tidak akan mengalami hal seperti ini!"
"Dan kalau kau tidak gampang tertipu oleh bujuk rayu dokter yang selalu tersenyum itu, kau tidak akan diculik dengan mudah. Dan di bawah kuasaku," sela Skylar tajam.
Dengan napas terengah-engah, Starla menatap Skylar penuh permusuhan. "Aku hanya ingin lepas darimu. Kenapa kau tidak melepaskan aku?" Kali ini Starla berteriak dengan frustasi. "Aku mohon dengarkan segala penjelasanku, lalu lepaskan aku. Aku sudah muak berada di sini ... aku ...."
"Semua penjelasanmu itu adalah kebohongan. Sampai kapan pun aku tidak akan mendengar omong kosongmu tersebut." Skylar mendekat ke ranjang dan menyentuh dagu Starla dengan jemarinya. Pada saat itulah Starla melihat telapak tangan Skylar yang dibalut perban. "Kau dan Arlan adalah seorang pembunuh. Kau telah membunuh sahabatmu sendiri, adik kesayanganku. Jadi, sampai kapan pun aku tidak akan melepasmu. Kau hanya akan terlepas jika aku sudah bosan dan berniat membunuhmu. Saat-saat itu akan menghampirimu, jadi kau hanya perlu menunggunya, Starla."
__ADS_1
"Aku sama sekali tidak tahu apa-apa dan aku bukan pembunuh, Skylar!" desis Starla tajam. "Kau hanya berusaha menutup telinga dan sama sekali tidak ingin mendengar penjelasan siapa pun. Kau hanya menyimpulkan sesuatu yang salah. Please ... dengarlah penjelasanku, sekali saja. Setelah itu, kau bisa menyimpulkannya sendiri. Kalau memang kau menganggap kata-kataku sebuah kebohongan, aku akan menerima segala hukuman yang akan kau berikan. Tetapi paling tidak dengarlah, satu kali saja. Karena aku merasa ini tidaklah adil, jika aku harus menerima hukuman sedangkan kau sama sekali tidak ingin mendengar sedikitpun penjelasan yang sejujurnya."
Lelaki itu menatap Starla dengan tajam. Seakan-akan ia ingin menghancurkan mulut itu dengan satu kali pukulan. Sialan wanita ini! kenapa dia sangat suka menantangnya?