
Skylar membawa Starla melewati pusaran gelombang dan semakin naik hingga guncangan pelepasan mereka berdua. Menyatukan mereka dalam satu titik kenikmatan.
Skylar mengangkat tubuhnya dari Starla yang terengah-engah, dengan pikiran masih berkabut karena pelepasannya. Dengan lembut jemarinya membuka ikatan tangan Starla. Ikatan itu menimbulkan bekas kemerahan di sana. Dan Skylar mengecup kedua pergelangan tangan Starla.
"Kau milikku, ingat itu. Kalau kau mencoba melarikan diri lagi, aku akan menghukummu dengan hukuman yang lebih berat."
Lalu Skylar bangkit mengenakan pakaiannya dan menatap Starla yang sedang memalingkan wajah darinya, tidak mau menatapnya.
"Aku harap kau tidak melupakan malam ini, setiap detiknya," gumamnya dingin lalu, melangkah pergi meninggalkan Starla terbaring lemas diam di ranjang.
Setetes air mata mengalir kembali di sudut mata Starla. Skylar benar, Starla tidak akan pernah bisa melupakan malam ini di setiap detiknya.
****
"Mr. Skylar?"
Gerakan Skylar yang akan membuka pintu ruang kerjanya tiba-tiba terhenti. Ia lalu menatap sang sekretaris yang baru saja menggumamkan namanya.
"Ada apa?" tanyanya dengan wajah datar dan tenang.
"Seseorang sudah menunggu Anda di dalam sana, Tuan."
"Siapa?"
"Ariana, Sir."
Wanita itu mengalihkan tatapannya ketika melihat raut wajah tampan Skylar yang berubah drastis setelah dia mengatakan nama tersebut.
"Lalu kau membiarkan dia masuk begitu saja?"
Suaranya membuat nyali sekretaris wanita itu menciut seketika. Skylar memang mengharamkan siapa pun untuk memasuki ruangan kerjanya yang tidak berkeperluan, terlebih lagi seorang wanita. Dan, Skylar sangat marah mengetahui Ariana begitu bebasnya melenggang keluar masuk ke dalam ruangannya.
"Maafkan saya, Mr. Skylar. Wanita itu bersikeras untuk tetap masuk."
__ADS_1
Dan tanpa menanggapi perkataan sekretarisnya itu, Skylar langsung menghempas kasar pintu itu. Tatapan tajamnya jatuh pada sosok wanita cantik yang tengah duduk di sofa dengan kaki bersilang indah dan terbilang sempurna.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Skylar setelah berdiri tegak di tengah ruangan.
Wanita itu memamerkan senyum indahnya, kemudian berdiri dari tempatnya, sembari berjalan anggun menghampiri Skylar. Senyum manis menggoda itu kini merekah ketika melihat wajah keras pria itu.
"Aku merindukanmu," katanya yang membuat mata Skylar semakin berkilat marah. "Kau berjanji akan menemuiku, tetapi kau tak kunjung datang."
Skylar mendengkus marah. "Aku sudah tidak punya urusan denganmu lagi."
"Jadi begini caramu mencampakkanku? Setelah semua yang aku lakukan untukmu, kini kau berusaha mendepakku dari hidupmu? Begitu?"
Sebisa mungkin Ariana tidak menunjukkan emosinya di depan pria itu. Dia tidak ingin semakin memperkeruh suasana yang bisa saja berakhir dengan Skylar benar-benar membunuhnya.
Dia sungguh tahu bagaimana tabiat Skylar yang sebenarnya, sehingga dia perlu berhati-hati menghadapi pria itu atau hidupnya akan berakhir di tangan iblis itu.
"Perjanjiannya memang seperti ini, Ari. Kau membantuku dan aku pun juga memberimu apa yang kau inginkan. Dan sekarang semuanya sudah selesai, kita tidak punya urusan lagi."
Raut wajah pria itu tidak berubah sama sekali. Datar dan tenang dengan tatapan tajam yang terarah tepat ke wajah cantik di depannya itu. Tangannya kemudian merogoh ponsel di saku celana.
"Perintahkan dua security untuk mengusir singa betina ini keluar dari ruanganku. Segera!" titahnya pada seseorang di seberang telepon tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari Ariana yang tercengang mendengar kalimat itu. Ariana pasti tidak percaya kalau Skylar serius benar-benar mengusirnya dan telah mencampakkannya. Sialan!
Alis Skylar terangkat tinggi, lalu dengan tenangnya ia bertanya, "Bagaimana? Kau ingin pergi dengan kedua kaki cantikmu sendiri atau menunggu mereka datang dan menyeretmu keluar dari sini?"
Ariana mengerjap. Napasnya sempat tertahan saat mendengar tutur kata-kata kasar dari pria itu. "O—okey … okey, Sayang. Aku akan keluar, sepertinya hari ini mood kamu kurang bagus dan aku datang di waktu yang salah."
Skylar hanya mendengkus marah dan sama sekali tidak menanggapi kalimat yang dilontarkan oleh Ariana.
Perempuan itu kemudian melepaskan rengkuhannya, lalu berderap keluar ruangan dan meninggalkan dentuman keras di belakangnya. Napasnya terengah-engah. Dahinya berkerut samar ketika ia merasa diperhatikan oleh seseorang.
"Apa yang kau lihat, huh?"
Sekretaris wanita itu hanya tersenyum sinis. Ia sama sekali tidak terkejut dengan bentakan wanita ****** yang baru saja keluar dari ruangan atasannya itu. Ah, lebih tepatnya diusir.
__ADS_1
"Tentu saja aku melihat wajah menyedihkanmu itu. Bukankah itu memalukan? Diusir?" katanya dengan nada melengos begitu saja dari hadapan Ariana yang lantas membuat wanita itu geram.
"You suck!"
****
Hari sudah sore ketika Skylar memutuskan untuk pulang lebih awal dari biasanya. Saat mobilnya terparkir sempurna, matanya tanpa sengaja menangkap sosok wanita yang berdiri di balkon kamar. Wanita itu tampaknya tengah memandang kosong ke arah taman. Terlihat menyedihkan dan rapuh. Namun, sedetik kemudian ia tersadar dan mengerjap lalu memalingkan wajah. Ia mendengkus kasar, lalu keluar dari mobil dan melangkah masuk ke penthouse-nya itu.
“Apa yang kau lakukan di sana?" tanyanya ketika ia sudah mencapai pintu pembatas balkon.
"Tidak ada," sahut Starla ringkas tanpa menoleh sedikit pun pada Skylar. Matanya masih memandang lurus ke arah taman itu. Tanpa memperdulikan keberadaan Skylar.
"Bersiaplah kalau begitu."
Starla berbalik dan menatap Skylar dengan kerutan samar di dahinya, sama sekali tidak mengerti apa maksud pria itu. Skylar yang melihat mimik wajah bingung itu segera menjelaskan.
"Aku akan menghadiri pesta pernikahan rekan bisnisku malam ini."
Starla mengangkat alisnya. "Lalu?"
Skylar membuang napas dengan kasar. "Kau harus ikut denganku! Dan aku tahu kau tidak mempunya gaun. Jadi, kita akan ke butik mencari gaun yang cocok untukmu dan ke salon setelahnya. Kau perlu perawatan, aku tidak ingin kau mempermalukan aku di pesta itu," jelas Skylar dengan nada sarkasme.
"Aku tidak ikut." Starla menjawab tak acuh. Wanita itu kembali menghadap taman, memunggungi Skylar.
"Kurasa aku tidak memberimu pilihan, Star."
Setelah mengatakan kalimat arogan itu, Skylar melangkah mendekati Starla lalu dengan cepat mengangkat tubuh mungil itu dengan kedua tangannya yang berada pada punggung dan belakang lutut istrinya. Membuat wanita itu berteriak kaget.
"Apa yang kau lakukan, laki-laki kurang ajar! Lepaskan aku!" Starla terus memberontak berusaha melepaskan diri, namun begitu sia-sia.
Lelaki itu masih terus berderap keluar kamar dan menuruni anak tangga dengan wajah tegasnya. Tidak memperdulikan tatapan heran dari para pelayan yang ia lewati. Rontaan Starla dalam gendongannya pun tak ia hiraukan. Ia kemudian menggerakkan kepalanya, memberi aba-aba pada Andreas agar membukakan pintu.
"Diam di sini jika kau tidak ingin aku mencekikmu sekarang juga," geram Skylar sesaat setelah menghempas kasar tubuh Starla di kursi mobilnya.
__ADS_1