Tawanan Sang Devils'

Tawanan Sang Devils'
Villa


__ADS_3

Setelah selesai membicarakan soal pekerjaan, Andreas kemudian menyerahkan berkas-berkas yang sejak tadi dibawanya kepada Skylar yang tengah duduk di kursi kebesarannya di ruang kerjanya tersebut.


"Ini beberapa orang yang mungkin bisa kita curigai."


Skylar mengambil berkas itu dan membacanya, lalu membolak-baliknya. Matanya terpaku pada salah satu foto di berkas tersebut.


"Kenapa dia masuk ke dalam daftar ini?" Andreas melirik sekilas berkas yang ditunjukkan oleh Skylar.


"Karena kami memfilter semua pegawai rumah sakit yang masuk kurang dari dua bulan sebelum kejadian kecelakaan itu."


Skylar mengernyit lama, sebelum kemudian wajahnya menegang.


"Oh astaga ... dia punya akses bebas memasuki rumah ini dan bertemu dengan Starla. Dia pasti masih ada di dalam rumah ini, kita harus menangkapnya cepat."


Tanpa berpikir panjang, Skylar bergegas melangkah ke pintu dengan tergesa-gesa diikuti oleh Andreas. Dan pada saat bersamaan, pintu lebih dahulu dibuka dari luar, wajah panik Jeane muncul dengan napas yang terengah-engah.


"Tuan Skylar ... maafkan aku! Aku lalai menjaga nyonya Wolves dan sekarang dia kabur bersama dokter Alex."


****


Dokter Alex mengendarai mobilnya dengan tenang menembus kemacetan jalan raya, mereka lalu tiba di belokan ke luar kota, menuju jalanan yang sepi. Starla yang selama ini diam karena menahan rasa tegang dalam perjalanan dan hanya terus mengucapkan rasa syukur karena pada akhirnya bisa bebas dari neraka ciptaan Skylar itu menoleh dan menatap dokter Alex penuh rasa ingin tahu.


"Kita akan ke mana, Dok?"


Dokter Alex menoleh lalu tersenyum manis. "Ke rumah di pinggiran kota, tempatnya seperti villa di pegunungan, kau akan aman di sana dan tuan Skylar tidak akan menjangkaumu. Setelah cukup tenang aku akan membawamu ke luar negeri, ke tempat saudaraku. Kau bisa mengubah identitasmu di sana, dan kau benar-benar tidak akan bisa ditemukan oleh tuan Skylar."


Perkataan dokter Alex cukup menjanjikan, semuanya terdengar begitu membahagiakan. Setelah ini, dia benar-benar akan bebas dari bayang-bayang Skylar, dan di tempat yang jauh itu dia akan mengubah identitasnya dan dia tidak akan dikenali oleh siapa pun lagi.

__ADS_1


Starla kemudian menganggukkan kepalanya dan menatap lurus ke depan, pemandangan di luar adalah hutan dan jalanan yang berkelok-kelok, malam makin gelap dan Starla sudah mulai merasa mengantuk. Akhirnya dia menyandarkan kepalanya dengan nyaman di kursi dan mulai memejamkan mata lalu jatuh tertidur.


****


Skylar menatap marah pada perawat yang dibius untuk menggantikan Starla di atas tempat tidur, Jeane yang sudah diberitahu agar tidak membiarkan Starla hanya bersama dengan orang asing, serta penjaga rumah yang tidak becus memeriksa dokter Alex dan perawat yang bersamanya—yang tidak lain adalah Starla.


Dia sangat marah besar karena harus kecolongan di rumahnya sendiri, di dalam kekuasaannya sendiri dia bisa dibodohi. Hal itu yang membuatnya semakin marah besar.


"Kenapa kalian bisa sebodoh itu, huh?" suara Skylar terdengar tenang, tetapi intensitas kemarahannya membuat bulu kuduk orang di tempat itu berdiri dan bergidik ngeri.


Para pengawal itu saling bertatapan mencoba berkata-kata, tetapi tidak bisa. Mereka memang bersalah. Andreas sebagai atasan mereka telah menginstruksikan untuk memeriksa siapa pun sebelum masuk dan keluar dari kediaman Skylar. Tetapi karena dokter Alex tampaknya terbiasa datang dengan seorang perawat untuk memeriksa keadaan Starla, mereka jadi lengah dan membiarkannya saja tanpa memeriksa lebih detail lagi. Siapa sangka kalau dokter Alex yang terkenal ramah dan memiliki senyum secerah matahari itu ternyata adalah pembunuh bayaran yang disewa oleh Gavino, yang memiliki mental psikopat yang sangat ditakuti itu.


Skylar menatap marah kepada kedua penjaga rumahnya, memikirkan hukuman apa yang cukup kejam untuk dilimpahkan atas kebodohan mereka. Starla melarikan diri, dan bukan hanya melarikan diri. Demi Tuhan! Perempuan sialan itu sekarang ada di tangan seorang pembunuh psikopat.


Andreas datang kembali, menyerahkan setumpuk berkas lagi. Mengalihkan perhatian Skylar. "Sepertinya dugaan Anda memang benar, Tuan Skylar. Profil dokter Alex sangat mirip dengan profil pembunuh psikopat itu. Dia lulusan jenius dari kedokteran, kehidupannya sangat misterius, dan menurut desas-desus ibunya meninggal karena bunuh diri. Sedangkan ayahnya dibunuh dengan tangannya sendiri karena muak melihatnya terus mabuk-mabukan dan menghabiskan uang dengan berjudi. Dia baru mendaftar ke rumah sakit ini dua bulan yang lalu, dan ketika kami melakukan pengecekan terhadap masa lalunya, semuanya kosong, tidak ada satu pun data tentangnya. Seolah memang sengaja semuanya dihapus."


Starla harus selamat, meskipun sekarang hal itu diragukan, karena Starla berada di tangan seorang pembunuh psikopat kejam. Meskipun Starla adalah musuhnya, dan sangat menginginkan kematian wanita itu. Tetapi Skylar juga tidak akan membiarkan wanita itu mati secepat itu di tangan dokter Alex. Hanya Skylar yang bisa membunuh wanita tersebut, oleh karena itu Skylar akan menempuh segala cara untuk mendapatkan Starla kembali, selamat, dan hidup-hidup.


****


" Starla, kita sudah sampai." Dokter Alex mengguncang bahu Starla dengan lembut.


Serta merta wanita itu membuka matanya dan menemukan mobil mereka terparkir di sebuah villa tua berwarna putih yang sangat indah dihujani cahaya lampu yang remang-remang. Seperti perkataan dokter Alex, Starla memang dibawa ke villa tua tersebut.


Dokter Alex turun lebih dahulu, lalu membuka pintu penumpang dan membantu Starla turun. Mereka berjalan bersisian memasuki teras rumah, ketika dokter Alex membuka kunci pintu rumah itu, Starla mengernyit dan bertanya, "Ini rumah Anda, Dokter?"


"Bukan, ini properti milik sahabatku yang dititipkan padaku, karena dia sekarang berada di luar negeri. Aku pikir tempat ini adalah tempat yang paling aman untukmu sementara ini. kau bisa bersembunyi di sini, sebelum aku membawamu pergi jauh. Karena aku tahu tuan Skylar akan menggunakan segala cara untuk mencari keberadaanmu."

__ADS_1


Starla menggigil mendengar kemungkinan itu, dan membiarkan dirinya dihela masuk ke dalam villa tersebut. Bagian dalam villa itu sangat indah, secantik bagian luarnya, dengan ornamen Belanda yang kuno dan rapi, tampak begitu nyaman untuk ditinggali.


"Ayo, kuantar kau ke dalam kamar, kamu bisa beristirahat di sana. Aku yakin kau pasti lelah setelah perjalanan panjang." Dokter Alex melangkah melalui anak tangga dan Starla mengikutinya.


Kamar untuk Starla adalah kamar sederhana yang tertata rapi, dan ranjang berseprai putih tampak sangat empuk dan menggoda untuk ditiduri. Tanpa sadar Starla menguap dan membuat dokter Alex terkekeh.


"Tidurlah, Starla. Semoga besok pagi kau bangun dengan keadaan yang lebih segar."


Starla menganggukkan kepalanya. "Terima kasih, Dok. Terima kasih atas segalanya, saya tidak tahu lagi bagaimana harus berterima kasih kepada Dokter karena sudah menyelamatkanku dari Skylar."


Dokter Alex melangkah ke pintu, senyumnya tampak misterius di balik cahaya remang-remang. "Tidak apa-apa, Starla. Aku senang bisa membantumu sampai di sini." Lalu lelaki itu melangkah keluar dan menutup pintu di belakangnya.


****


Starla terbangun karena rasa haus yang amat sangat, dia terduduk di ranjang dan sedikit terbatuk-batuk. Dengan pelan dia memandang ke sekeliling, masih gelap. Mungkin ini masih dini hari.


Dengan langkah hati-hati, Starla turun dari ranjang dan keluar dari kamar. Starla mencari-cari letak dapurnya, namun tak kunjung dia temukan. Pada akhirnya dia terus melangkah, menuju lorong lantai dua yang tampak gelap. Tetapi ada cahaya putih di ujung sana, dia lalu melangkah hati-hati menuju cahaya tersebut dan berharap itu adalah letak dapurnya, hingga kemudian dia dibawa ke sebuah pintu yang sedikit terbuka di ujung lorong.


Starla membukanya, dan tertegun. Ini bukan dapur. Dia sudah hendak membalikkan kembali badannya, ketika pandangan matanya terpaku pada sesuatu, dan wajahnya berubah memucat.


Di sana, di salah satu sisi tembok itu penuh dengan gambar orang yang terbunuh dengan sadis dan brutal. Seakan-akan, setiap habis melancarkan aksinya, dia akan memotret mayat tersebut kemudian di tempel di dalam ruangan itu. Dan bukan hanya itu saja, mata Starla kembali mendapati gambar Skylar dan beberapa gambarnya juga ada di sana. Gambar itu diambil secara candid, terlihat Skylar sedang melakukan aktivitasnya, bahkan di antaranya ada yang bersama dengan dirinya.


"Ada pepatah, kalau rasa ingin tahu yang besar suatu saat akan menjadi penyebab kematianmu."


Starla terlonjak kaget, mendengarkan suara yang mendesis itu. Dia membalikkan badannya dan berhadapan dengan dokter Alex yang berdiri diam di balik bayang-bayang. Lelaki itu tersenyum, seperti biasanya, tetapi senyumnya kali ini bukanlah senyum manis secerah matahari, melainkan seringai jahat yang menakutkan.


Oh Tuhan!

__ADS_1


__ADS_2