Tawanan Sang Devils'

Tawanan Sang Devils'
Miss


__ADS_3

Jantung Starla berdegup kencang. Hanya karena ucapan singkat itu, cukup gila bukan? Namun, itulah kebenarannya. Starla malah terpana hanya karena gerakan anggun pria itu ketika menyingkirkan air dari wajah dan rambutnya. Tetapi terlebih karena ... kedekatan mereka. Saat lengan-lengan kuat Skylar menekan dinding kolam dan memenjarakan Starla di tengah-tengahnya.


"I miss you."


Starla belum sempat mengutarakan apa pun karena pria itu langsung membungkam mulutnya. Dengan bibir pria itu, Starla otomatis menutup mata saat bibir Skylar menjelajah namun seribu pikiran merasuk ke dalam benaknya. Kelakuan Skylar selama ini cukup kasar dan begitu tiba-tiba, tetapi sekarang terkesan lembut. Hal itu yang membuatnya kebingungan.


Lama setelahnya, ketika pria itu mengangkat wajah dan Starla masih dilingkupi keajaiban ciuman pria itu, ia memberanikan diri membuka suara.


"A—apa yang ...."


Skylar menjauh sejenak, berenang berkeliling di sekitar Starla. "Apa?" tanyanya saat mendekat lagi.


"K—kau sudah pulang, Skylar?"


Skylar kembali mendekat. "Tentu saja aku pulang. Ini rumahku dan jam kerja sudah selesai. Dan betapa bergairahnya aku, ketika disuguhkan pemandangan istriku yang tengah bersantai sambil berenang dengan pakaian renang yang cukup membangkitkan gairah."


Starla sama sekali tidak menyukai mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Skylar. Hanya saja, entah kenapa dia sangat menyukai sentuhan Skylar kali ini. semenjak kejadian itu, Skylar memang tidak pernah menyentuhnya, dan ini adalah sentuhan pertama setelah peristiwa nahas itu. Mungkin gairah-gairah yang tersembunyi kini ingin disalurkan, oleh karena itu dia bahkan tidak menolak di saat Skylar menciumnya begitu tiba-tiba. Oh God! Kau memang benar-benar murahan, Starla!


"B—bukan seperti itu, Skylar. Aku hanya terlalu kaget dengan kehadiranmu yang begitu tiba-tiba."


Skylar terbahak. "Aku tahu kalau sebenarnya kau merindukanku juga, Starla. Jangan munafik dan biarkan aku berada dalam dirimu sekarang!"

__ADS_1


Dan ... Starla tidak tahu siapa yang lebih dulu memulai, yang ia tahu hanyalah ia berada dalam pelukan erat Skylar. Wajah yang sialnya tampan itu menatapnya penuh nafsu dan Starla kembali tersesat, terlebih ketika bibir pria itu kembali memagutnya dengan kasar.


Starla melepaskan ******* kecil saat mulut Skylar menjelajahinya. Gabungan bibir dan lidah pria itu menciptakan sensasi yang membuatnya tak sanggup menutup bibir. Ia malah membuka dan mengundang Skylar untuk masuk dan menjelajah dan tanpa sadar, Starla sudah membalas dengan intensitas yang nyaris sama. Ciuman mereka dalam tetapi manis, liar tetapi juga lembut, panas tetapi menghangatkan dada Starla dan ia tanpa sadar memeluk pria itu. Membiarkan Skylar memeluknya dengan erat, membiarkan tangan pria itu menjelajah.


Segalanya terlihat sempurna. Dilihat dari kejauhan mereka terlihat pasangan yang saling mencintai dan begitu bergairah, tanpa tahu bahwa hubungan mereka lebih menyedihkan dengan hubungan permusuhan. Terlihat dari cara berciuman keduanya, sentuhan pria itu, kehangatan yang ditampilkan, segalanya ....


Starla hampir tak sadar kalau dia sedang bergairah pada musuhnya sendiri, bahkan ia tak sadar tangan Skylar sudah melepaskan bikini atasnya. Dan pria itu telah mendorongnya hingga ke ujung kolam. Starla terkesiap saat ciuman Skylar berpindah ke sisi lehernya dan tangan besar pria itu telah hinggap di salah satu dadanya.


"S—Skylar," ucap Starla kaget saat telapak tangan itu menekan kulit telanjangnya. Tersadar akan kepasrahannya sejak tadi, bahkan membalas sentuhan pria itu pada tubuhnya.


"Aku sangat-sangat merindukan tubuhmu, Starla," ujar pria itu di sela-sela ciumannya sementara tangannya mengusap berirama.


Starla kembali melepaskan *******. Belaian pria itu, efek dari ciuman yang ditimbulkannya, panas membungkus Starla dan perutnya mengejang, ia sadar kalau saat ini ia tidak keberatan seperti sebelum-sebelumnya. Ia menginginkan lebih, tubuhnya seperti simpul yang meminta untuk diuraikan. Oh astaga ... kau begitu murahan.


Hingga kemudian dia tersadar, bahwa ini salah. Dia hanya semakin menunjukkan betapa murahannya dirinya yang harus selalu tunduk ke dalam cengkeraman Skylar. Dia tidak menginginkan ini, dia sama sekali tidak menginginkan Skylar menyentuhnya lagi.


"Skylar, please ... aku mohon hentikan ini!" ucap Starla rendah dan lemah, berusaha menghentikan pria itu sementara Skylar masih terus mengusap salah satu puncak dadanya dengan ibu jarinya.


"Please ... please, Skylar." Starla kembali memohon, memanggil nama pria itu. Dan berusaha sekuat tenaga melepaskan diri, meskipun itu sia-sia. Sungguh, Starla tidak menginginkannya. Tetapi ia tidak berdaya menunjukkan pada pria itu bahwa ia sama sekali tidak menyukai terus dipaksa oleh pria iblis itu.


Namun, sesuatu yang terjadi cukup melegakan bagi Starla karena Skylar mendengarkannya. Tetapi kelegaannya tidak bertahan lama karena Skylar malah mengangkat tubuhnya dan membawanya keluar dari dalam kolam renang itu. Dan melempar tubuhnya ke atas sofa yang tersedia di pinggiran kolam tersebut, bersamaan dengan tubuh besarnya yang kembali melingkupinya. Disusul oleh mulut Skylar yang telah menggantikan jari-jarinya di atas dadanya. Panas, mulut pria itu begitu panas. Dan basah. Dan lapar. Starla menjerit karena sensasi tersebut dan melengkungkan punggung tanpa sadar.

__ADS_1


Seolah jeritannya adalah pemberi semangat, Starla merasakan Skylar menghisap lebih keras. Pria itu menggigit lembut lalu semakin lama, semakin dalam dan kuat. Lirihan keluar dari mulut Starla, ia merintih, tak sanggup menahan sakit dan nikmat yang bercampur satu. Lalu pria itu berpindah ke yang lain, menjilat setiap inci kecuali puncaknya. Dia kemudian memutarnya dengan pelan sampai Starla merasa akan gila. Setelahnya, pria itu mengatupkan mulut di sana dan mulai kembali menghisap, dia menghisap dengan begitu keras sehingga rasanya seluruh Starla tenggelam dalam mulut panas itu.


"Kau ingin aku berhenti?" tanya pria itu saat mengangkat kepalanya.


"Ya," jawab Starla dengan nada sedikit ragy.


Ya, ia ingin pria itu berhenti. Ia ingin Skylar berhenti untuk terus menyentuhnya. Dan demi Tuhan, Jeane masih ada di rumah ini. Bisa saja wanita paruh baya itu memergoki kelakuan mereka berdua, dan itu cukup memalukan.


Hingga kemudian, Starla merasakan pria itu bergerak, berpindah, dan ia tidak tahu apakah ia harus merasa lega ... atau justru kecewa.


Lalu tiba-tiba Starla merasakan sesuatu memasuki dirinya. Jemari pria itu. Ia terkejut dengan invasi tak disangka-sangka itu, lalu ia menjerit.


"Oh Tuhan ...."


"Suaramu, bagaikan musik penyemangat di telingaku. Jangan menolakku, Starla. Aku tahu bahwa kau juga merindukanku dan sangat menginginkan aku berada di dalam tubuhmu. Menjeritlah saat aku memuaskanmu, Starla."


Jemari pria itu bergerak keluar masuk, gerakannya kasar tetapi ritmenya teratur. Starla terengah, tersentak dan melawan sekeras mungkin agar ia tidak bergerak mendesakkan diri pada jemari pria itu. Ibu jari pria itu lalu mengusapnya dan Starla mengerang keras.


Pria itu lalu menarik jarinya keluar, dan Starla bisa melihat Skylar mencicipi cita rasanya dan ia kembali berdenyut. Ia ... merasa kehilangan. Tetapi belum sempat ia bereaksi, pria itu mendorongnya hingga terjatuh ke atas sofa. Lalu pria itu dengan cepat meraih kaki-kaki Starla dan melebarkannya. Starla kembali menjerit karena kali ini mulut pria itu menggantikan lidahnya.


Skylar sekarang mengusap, menjilat, menghisap dirinya lalu menerobos ke dalam, menjelajah seolah dia kelaparan. Lidah pria itu licin, basah dan panas. Tidak pernah ia merasakan rangsangan sehebat ini, Starla mengerang tak terkendali sementara mulut dan jari Skylar memuaskannya.

__ADS_1


Starla menjerit ketika pelepasan itu menerjangnya.


"Sekarang katakan, Starla. Apa kau masih tidak bersedia?"


__ADS_2