
"Sudah selesai," suara Bobby terdengar puas, mengembalikan Starla dari lamunannya.
Starla sedikit melirik ke cermin, pada mulanya tidak begitu tertarik akan hasil dandanan Bobby—sang lelaki kemayu yang memang disewa oleh Skylar untuk mendandaninya. Tetapi mau tidak mau pandangan matanya tertahan lebih lama di sana. Keahlian pria kemayu itu memang tidak bisa diragukan lagi, pria itu selalu mampu menyulapnya menjadi berbeda, dari itik buruk rupa, menjadi angsa yang sangat cantik.
Gaun hitamnya tampak menjuntai di belakang, dengan potongan sederhana, tetapi elegan. Rambutnya diangkat ke atas, memamerkan telinganya yang dihiasi anting ruby dengan ukiran emas. Secara keseluruhan, penampilannya tampak begitu elegan dan berkelas. Bobby memang hebat bisa membuat penampilannya berubah drastis seperti ini.
"Tuan Skylar akan mengajakmu makan di Luxury." Bobby seketika mengernyit ketika melihat Starla tampak biasa saja mendengar nama restoran tersebut. "Hei, itu restoran bintang lima dan paling berkelas di negara ini, di sana akan ada banyak mata yang melihat dan menilaimu, tetapi jangan pedulikan mereka." Bobby melanjutkan dan kali ini memutar matanya dengan genit. "Mereka hanya akan iri karena kau ternyata sudah menjadi istri dari seorang taipan kaya raya yang sangat tampan dan paling banyak diminati."
Istri taipan kaya yang paling banyak diminati? Tanpa sadar Starla memutar bola matanya, mungkin orang-orang itu terlalu silau akan ketampanan Skylar hingga buta akan semua sifat buruknya. Mereka tidak tahu saja bagaimana sifat asli dari Skylar, dia tak ubahnya dari seorang predator yang sangat menakutkan.
Pintu terbuka menyadarkan Starla dari lamunannya, dan di sana Jeane yang sedang membuka pintu. "Sudah siap?" tanya wanita paruh baya itu, kemudian tampak terpukau dengan kecantikan Starla yang memancar. "Tuan Skylar sudah menunggu di bawah."
****
Starla di antar ke ballroom bawah dan Skylar sudah berdiri di sana. Lelaki itu sekilas melemparkan pandangan memuji, tetapi tidak mengatakan apa-apa.
Di dalam mobil pun dilalui dalam keheningan. Lelaki itu rupanya berniat mempertahankan keheningan sampai ke tujuan. Tetapi Starla tidak tahan lagi, satu-satunya senjata agar dia tidak terjatuh dalam pesona Skylar adalah dengan terus menerus melawannya.
"Kenapa kau mengajak aku makan malam di luar?"
Akhirnya Starla memecah keheningan itu dengan pertanyaannya, yang sejak tadi ingin dilontarkan.
Skylar menoleh sedikit dan menatap Starla dengan pandangan malas. "Aku lapar."
__ADS_1
Starla mendengkus jengkel mendengar jawaban itu. "Kau punya banyak koki di rumahmu."
"Aku sedang ingin makan malam di luar, dan kau ...." Skylar menatap Starla dengan tatapan—awas kalau kau berani membantah. "Kau adalah istriku, jadi kau harus mendampingiku."
Tentu saja Starla membantah dan kembali melawan. "Tetapi aku tidak sudi menjadi istrimu."
"Meskipun kau tidak mengakuinya, tetapi kita sudah mengucap janji di depan Tuhan. Ah, dan jangan lupakan, kau adalah istri yang setiap malam kutiduri."
"Sialan!" Starla mengumpat, wajahnya memerah mendengar omongan Skylar yang vulgar itu. "Kau memang pria—"
"Starla!" Skylar mengeluarkan suara mengancamnya yang khas. "Jangan menantangku. Kau tahu aku sedang tidak ingin berdebat denganmu, suasana hatiku sedang buruk dan aku muak dengan semua perlawananmu. Jadi jangan coba-coba memancing kesabaranku."
"Kalau kau muak denganku seharusnya kau lepaskan aku, atau kalau perlu langsung bunuh aku."
“Tidak." Skylar menjawab cepat, hanya sepersekian detik setelah Starla menutup mulutnya. "Hentikan, Starla! Kau tidak akan aku lepaskan dan belum waktunya aku bunuh."
"Kau tahu kenapa, kau tahu alasannya dengan baik." Skylar jelas sudah mulai tampak jengkel.
Starla masih mencoba menantang. "Tidak, aku tidak tahu," jawab Starla keras kepala.
Skylar mendengkus kasar. "Karena," suara Skylar sedikit mengeram, dan dalam sekejap lelaki itu mencengkeram rahang Starla dengan jemarinya, keras dan mengancam. "Karena aku sangat suka memasukimu, merasakan milikmu membungkusku dengan panas, lalu mendengarmu merintih karena pelepasan. Jelas?"
Sangat jelas. Dan Skylar berhasil membuat Starla terdiam. Sepanjang perjalanan mereka tidak berucap sepatah kata pun lagi.
__ADS_1
Sialan pria itu!
****
Skylar menggandeng tangan Starla dengan formal ketika memasuki restoran. Sang kepala restoran sendiri yang menyapa mereka dan mengantarkan mereka berdua ke meja yang sudah disiapkan.
Skylar terlihat tampak akrab dengan kepala restoran itu, dan Starla melihat kepala restoran seorang lelaki Perancis dengan logat Perancis yang kental. Sesekali Skylar berbicara dalam bahasa Perancis yang lancar dan tersenyum menanggapi perkataan kepala restoran itu.
Gabriella memang pernah mengatakan kalau Skylar pernah tinggal lama di Perancis untuk bersekolah di sana. Mungkin ini sebabnya Skylar lancar berbahasa Perancis, meskipun itu bukan urusannya. Karena tidak ingin terlihat penasaran, Starla cepat-cepat mengalihkan pikirannya dari Skylar.
Ketika kepala restoran itu pergi, Skylar menarikkan kursi untuk Starla dan duduk di depan wanita itu.
"Restoran ini milik dari ayah temanku di Perancis." Skylar menatap kepergian kepala restoran itu. "Francoise adalah ayah temanku, dia memilih tinggal di sini setelah kematian istrinya dan dia mencintai restoran ini sama seperti mencintai hidupnya."
Starla terdiam menatap Skylar. Sebenarnya dia tidak ingin tahu siapa pun orang itu, tetapi karena Skylar terlanjur membeberkannya, Starla berusaha menjadi pendengar yang baik, dan berusaha untuk menghindari kemarahan pria sialan itu.
Beberapa menit kemudian, seorang pelayan datang dan Skylar memesan lagi dalam bahasa Perancis yang fasih. Ketika hidangan pembuka datang, Starla seketika terpesona dengan tampilannya.
Tanpa diminta, Skylar seketika menjelaskan bahwa makanan itu adalah L'imperial de saumon marine yang ternyata adalah fillet salmon asap. Ditemani dengan Creme, potongan jeruk citrus, dan Roti Baggue. Penyajiannya begitu indah, seperti hamparan padang pasir di atas piring lengkap dengan suasana eksotisnya.
Starla menyuap untuk pertama kalinya dan mendesah, merasakan Creme itu meleleh di mulutnya dan menciptakan cita rasa yang bercampur baur antara rasa manis dan kelembutan yang nikmat.
Tak disadarinya bahwa Skylar menatap ekspresinya itu dengan tatapan kelaparan. Suasana hati Skylar luar biasa buruknya, hasratnya yang tidak terlampiaskan membuatnya frustasi luar biasa. Dia amat sangat ingin meledak … di dalam tubuh Starla, istri pelacurnya itu.
__ADS_1
Skylar memesan anggur Chardonnay sebagai teman makan mereka, sambil berharap malam ini Starla sedikit mabuk sehingga mengedorkan pertahanannya. Skylar susah muak menikmati wanita itu dengan iringan tangis, dia ingin menikmati Starla dalam keadaan menginginkannya juga. Ia tidak tahan lagi kalau terus menerus menggunakan kekerasan, dan malam mereka dilalui dengan tangisan dan siksaan.
Tetapi pikiran bercinta dengan Starla dalam kondisi perempuan itu mabuk sama sekali tidak menyenangkannya. Dia ingin perempuan itu sukarela, tanpa direcoki dengan minuman keras dan paksaan. Skylar ingin wanita itu melingkarkan pahanya sendiri di tubuhnya, ketika tubuh keduanya bersatu. Saat itu akan datang pada akhirnya. Impiannya untuk mendapatkan wanita itu dengan sukarela pasti akan datang, Skylar hanya perlu menundukkan perempuan keras kepala itu pelan-pelan.