Tawanan Sang Devils'

Tawanan Sang Devils'
Swimming


__ADS_3

Skylar menatap tajam perempuan itu, mencoba menahan emosi yang sudah mencapai ubun-ubun. Namun, ini bukan waktu yang tepat untuk berdebat, Skylar juga malas meladeni Starla yang cukup sering mencoba melawannya.


"Sudahlah. Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu." Skylar kembali menatap Starla dengan serius. "Bagaimana kondisimu sekarang?"


Skylar menunduk dan mengamati Starla.


Wanita itu hanya bisa terdiam, otomatis memalingkan wajah dari Skylar. Dia sama sekali tidak menyukai diajak berbasa-basi oleh pria itu. Memangnya apa bedanya Starla harus memberitahukan kondisinya pada pria brengsek itu. Toh, bukankah kalau Starla mati sekarang tidak akan menjadi masalah bagi pria iblis itu.


"Starla!" Skylar memanggil nama Starla dengan penuh penekanan, membuat Starla akhirnya mau menatap matanya.


"Aku baik-baik saja," jawab Starla ketus. "Walaupun aku tahu, semua yang terjadi padaku karena kau dan musuh-musuhmu itu."


Skylar terkekeh. "Hm ... mengingat kau sudah kembali galak dan sudah mulai mencoba melawanku. Aku yakin kau sudah sembuh." Skylar menyentuhkan jemarinya di pipi Starla. "Aku tidak akan meminta maaf atas kejadian yang menimpamu. Tetapi meskipun begitu, aku menyesalkan apa pun yang terjadi padamu dan itu karena musuh-musuhku."


"Aku juga sama sekali tidak mengharapkan permintaan maafmu itu. Dan tidak perlu merasa bersalah, karena cepat atau lambat aku memang akan mati, kalau bukan di tangan musuh-musuhmu itu, sudah pasti itu berasal dari tangan kamu sendiri."

__ADS_1


Skylar kembali bersuara dan tidak menanggapi kalimat yang dilontarkan oleh Skylar. "Tetapi kau harus tahu, selama kau bersamaku. Aku akan menjagamu dari musuh-musuhku itu."


Starla mendengkus. "Kalau bisa memilih, aku lebih memilih untuk tidak bersamamu. Kalau aku kembali ke kehidupanku yang sebelumnya, tanpa bayang-bayang dendammu itu. Aku pasti akan lebih baik-baik saja."


Skylar menatap Starla tajam. "Tidak bisa. Situasi kemarin membuat kau dikenal sebagai istri kesayanganku. Orang yang mengincarku pasti akan mengincarmu terlebih dahulu, karena setahu mereka kau adalah kelemahanku. Itu yang membuatmu harus selalu bersamaku." Skylar kembali menatap Starla lurus-lurus. "Dan jangan pernah berpikir untuk kabur dariku lagi. Apalagi sampai terpikir untuk percaya kepada orang asing. Jangan membuat kebodohan lagi, Starla."


Starla hanya membuang pandangan. Dia sebenarnya sama sekali tidak mengerti isi hati dan pikiran pria itu. Kenapa juga dia harus repot-repot menjaganya, kalau akhirnya dia juga akan terbunuh melalui tangan pria itu sendiri.


"Kau bebas keluar masuk seisi rumah ini, tetapi aku mohon padamu, jangan mencoba melarikan diri lagi dari rumah ini." Skylar mengangkat tangannya yang terluka untuk mengusap rambutnya, dan Starla langsung teringat peristiwa itu, ketika Skylar dengan cepat menggenggam pisau itu, menghalanginya untuk terluka, tanpa sadar dia bergidik ngeri.


"Ya," gumam Skylar, ketika memperhatikan reaksi Starla ketika tatapan matanya tertuju pada tangannya yang juga dilapisi dengan kain kasa. "Kau seharusnya takut, Starla. Karena mereka semua akan melakukan apa saja untuk melukaiku melalui dirimu. Tetapi aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh dan melukaimu. Karena kau adalah milikku, hanya aku yang bisa menyakiti dan melukaimu, Starla!"


Sudah beberapa minggu berlalu setelah peristiwa menakutkan itu, dan tentu saja Starla masih merasakan kengerian dan sedikit rasa trauma saat mengingat malam berdarah itu. Dan sekarang, dia masih di sini dan terjebak bersama Skylar dan segala dendam tak berkesudahannya itu.


Tetapi meskipun begitu, Skylar sedikit berbaik hati dengan memberikannya sedikit kelonggaran untuk bebas menjelajahi isi rumah ini dan tentu saja itu sedikit memberikan kenyamanan untuk Starla yang akhir-akhir ini kehidupannya begitu sesak karena terpenjara di dalam kamar.

__ADS_1


Starla begitu menikmati kebebasannya keluar masuk kamar ini sepenuhnya. Oh, dia memang masih bermaksud pergi, tetapi tidak sekarang. Dia masih trauma akan kejadian itu. Setidaknya rumah ini masih memberikan keamanan, meskipun sang pemilik rumah adalah ancaman terbesar untuknya.


Sore itu, suasana rumah sangat sepi. Para pekerja sudah kembali ke kediaman mereka masing-masing, hanya Jeane yang masih setia menjaganya dan mengawasinya, Starla tahu betul kalau wanita itu sebagai mata-mata Skylar akan kegiatannya seharian ini. Starla menelusuri area belakang rumah, tempat taman itu berada, lalu beralih ke kolam renang dengan airnya yang jernih dan cukup dalam. Sebuah pikiran kembali terlintas, di saat Skylar mendorongnya dari atas lantai dua dan kemudian pria itu sendiri yang menyelamatkannya. Kalau di pikir-pikir, pria itu memang terlalu sering menyelamatkannya. Entah apa mau pria itu sebenarnya?


Melihat air kolam yang begitu jernih itu, membuat Starla ingin berenang. Tanpa berpikir panjang, ia berlari ke atas menuju kamar saat sebuah ide terlintas. Ia lalu dengan cepat berjalan ke kamar, mengacak isi lemari yang sama sekali belum pernah terpakai selama berada di rumah ini dan menemukan dua stel pakaian renang dua potong. Berwarna biru dan satu lagi hitam. Andreas memang asisten yang teliti dan detail, bahkan sampai hal sekecil ini pun, pria itu tak lupa menyiapkannya.


Starla mencoba pakaian renang berwarna hitam. Pas. Starla mematut dirinya di depan cermin, untuk dirinya yang biasa mengenakan pakaian tertutup atau gaun sebatas lutut, Starla merasa pakaian renang ini terlalu ... terbuka. Tetapi ia bukannya memang ingin berenang, jadi sudah sepantasnya mengenakan pakaian renang. Lagi pula, Starla hanya berdua dengan Jeane, dan wanita itu hanya berada di dapur. Sedangkan Skylar, ini belum jam pulang, pria itu pasti akan pulang malam sehingga dia tidak akan kedapatan sedang berenang dengan pakaian se-terbuka ini.


Tanpa berpikir lama-lama lagi, ia kemudian menyambar handuk dan membalut tubuhnya dengan jubah mandi sebelum bergegas menuju belakang rumah. Di sana, di balik pintu geser kaca, ada kolam renang yang cukup raksasa, dengan air kolam yang cukup jernih, begitu menyegarkan berenang sembari menikmati udara sore hari yang tenang.


Starla meletakkan jubah dan handuknya di kursi lalu terjun ke kolam. Ia sebenarnya tidak terlalu bisa berenang, apalagi mengingat rasa takutnya akan peristiwa hari itu. Hanya saja dia sudah terlalu tergoda dengan air kolam itu. Sehingga dia sangat menginginkan untuk berenang. Ia berenang bolak-balik sampai napasnya mulai tersengal, lalu membalikkan badan mengapung di atas air sambil menatap langit di atas. Cerah dan menyenangkan. Dan Starla senang berada di sini.


Ia kemudian menghela napas dalam, membuka matanya yang tadi terpejam karena hangat matahari sore, lalu kembali menatap langit selama beberapa detik sebelum membalikkan posisi. Akhir-akhir ini terlalu banyak masalah yang silih berganti menghampirinya. Membuatnya begitu muak akan kehidupannya. Dia benci ... dia benci terjebak bersama Skylar.


Kini Starla berenang cepat, ternyata dia cukup mudah belajar. Ia bolak-balik sampai dadanya berdebar sebelum mencapai ujung kolam, menikmati pemandangan, dan taman yang selalu dikaguminya yang berada tidak jauh dari kolam ini. bunga-bunga bermekaran dengan indahnya, dan aroma wangi semerbak menusuk hidungnya. Ini adalah tempat yang sangat indah di rumah ini, dan Starla sangat menyukainya.

__ADS_1


Sampai kemudian, ia terkejut saat mendengar ceburan di ujung yang lain dan Starla menoleh dengan cepat hanya untuk terpana menatap tubuh kuat Skylar yang membelah kolam dan menuju ke arahnya. Starla tidak mengerti kenapa jantungnya berubah berdebar pada musuhnya itu, bahkan semakin keras, saat pria itu semakin mendekat ke arahnya. Ia terkesiap halus saat pria itu menghilang ke dalam air dan muncul begitu dekat. Wajah mereka nyaris bertubrukan.


"Hallo, istriku. Apakah kau merindukan suamimu?"


__ADS_2