Tawanan Sang Devils'

Tawanan Sang Devils'
Grudge


__ADS_3

Kejadian mengerikan beberapa bulan yang lalu masih terus menerus membayangi benak Skylar. Sebuah kejadian yang telah mengubah semuanya. Peristiwa menyeramkan yang merenggut habis sisi lembut pria itu, hingga tak bersisa sedikit pun. Skylar benar-benar tidak bisa melupakan ketika ia pertama kali mengetahui semuanya.


Saat ia mendengar sebuah pengakuan yang meluncur dengan mulus dari bibir seorang gadis yang sangat disayanginya. Sebuah pengakuan yang membuat tubuhnya menegang seketika dengan kedua telapak tangan terkepal sempurna. Gabriella, adik kesayangannya, mengatakan bahwa dirinya tengah mengandung dan sudah berjalan dua bulan. Hal itu membuat amarah Skylar membludak. Pria itu bahkan nyaris melayangkan telapak tangan besarnya padanya jika saja Andreas tidak dengan sigap menahan dirinya waktu itu.


Selama ini, Skylar selalu menilai Gabriella adalah sosok gadis dewasa yang teduh. Gadis itu tidak pernah bercerita apa pun tentang kedekatannya bersama lelaki lain. Lantas, bagaimana mungkin Gabriella melakukan hal tabu dan gila itu?


Hingga dua bulan berlalu setelah mendengar hal tersebut, kabar buruk pun kembali menghampiri adik kesayangannya itu. Gabriella mengalami gangguan kesehatan mental akibat persoalan hidupnya yang terasa semakin rumit. Pria itu benar-benar tidak tahu, takdir macam apa yang dengan begitu ganasnya mempermainkan kehidupan Gabriella.


Iblis di dalam tubuh Skylar seketika bangkit lalu melemparkan kobaran api amarah ke dalam dirinya. Membakar habis hati nuraninya, sehingga kekejaman itu menguar begitu cepat dan melahirkan sosok monster yang sangat bertolak belakang dari sikap aslinya. Apalagi ketika ia mengetahui bahwa lelaki yang telah berhasil mematikan sinar kebahagiaan di mata Gabriella adalah sosok lelaki yang sama sekali tidak bertanggung jawab.


Untuk menyelidiki pria brengsek yang sudah menyakiti adik kesayangannya benar-benar tidak memerlukan waktu yang lama.


Ia menerima informasi bahwa Arlan-lah yang membuat Gabriella menderita seperti itu. Skylar juga mendengar kabar bahwa Gabriella sudah berkali-kali mendatangi kediaman lelaki itu, meminta pertanggungjawaban, namun nihil. Gadis malang itu tidak mendapatkan apa pun yang ia inginkan dari Arlan.


Keinginan untuk membunuh Arlan benar-benar semakin menggeluti dirinya. Batinnya meneriakkan protes agar dengan segera mengambil tindakan untuk menghabisinya. Namun, dua hari setelah kematiannya, Gabriella yang pada saat itu tengah mengalami penyakit kejiwaan, tidak lagi berpikir panjang untuk melakukan tindakan yang benar-benar konyol. Gadis itu malam menjatuhkan dirinya dari lantai dua kediamannya, yang membuat tulang belakangnya cedera dan menjadi pemicu ketidak mampuannya untuk berjalan normal, serta janin yang tidak mampu bertahan akibat benturan keras pada rahimnya, yang kemudian pada akhirnya memaksa Skylar memutuskan untuk mengubah seluruhnya. Membiarkan sisi lain itu menguasai jiwanya. Membuat dirinya menjadi sosok lelaki yang tidak lagi mengenal balas kasih dan kata maaf. Mengubah Gabriella menjadi sosok gadis yang lain. Baginya, Gabriella merupakan satu nama yang membawa dampak yang teramat sangat buruk, mengundang kesialan di dalam kehidupan gadis itu.


Adiknya bukan lagi seorang Gabriella, melainkan malaikat. Malaikat yang sangat disayanginya. Malaikat yang selalu menampilkan senyum ceria untuk dirinya.


Angel ... Angela, adik kesayangannya.

__ADS_1


Sejak saat itu pula Skylar mulai bertindak. Menyembunyikan keberadaan Gabriella lalu membalaskan dendamnya kepada Arlan melalui gadis itu, Starla, yang juga adik kesayangan dari pria brengsek itu. Membuktikan kepada Arlan bahwa dirinya bisa melakukan hal yang lebih rendah lagi dari apa yang dia lakukan pada Gabriella. Memaksa pria itu menyaksikan penderitaan Starla di dalam genggaman dendamnya yang gelap.


"Mr. Skylar?"


Suara berat milik Andreas kini berusaha menanggalkan semua kilasan-kilasan menyakitkan itu dan membuat Skylar berbalik dari hadapan jendela besar di kamarnya.


"Ada apa?”


"Dokter sudah datang, Tuan."


****


"Bagaimana keadaannya? Apakah ini pengaruh dari benturan keras pasca kecelakaan beberapa minggu yang lalu, Dokter?"


Dokter tersebut menggeleng. "Ini bukan dikarenakan benturan di kepala, dia susah sembuh sepenuhnya. Semua baik-baik saja," kata dokter itu pada Skylar. "Tiga bulan pertama menggunakan kontrasepsi memang terkadang menimbulkan rasa mual yang berlebihan."


"Jadi ini bukan karena pengaruh dari benturan itu, ataupun karena hamil?"


Skylar tentu harus memperjelas semuanya, sehingga dia tahu langkah apa selanjutnya yang harus diambil untuk menyiksa Starla.

__ADS_1


"Bukan karena itu, Tuan. Ini karena penggunaan kontrasepsi."


Starla tak henti-hentinya membuang napas lega, meskipun hatinya mengadu pilu saat mendengar penjelasan tersebut. Wanita itu bangkit dalam posisi duduk dan menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang. Matanya menunduk pasrah, memandang sayu perut ratanya yang berbalut selimut putih dengan kedua tangan yang saling bertautan di atas sana.


Ia menarik napas dalam-dalam dan membuat pikirannya berkelana. Matanya memanas saat ia kembali mengingat ucapan Skylar yang penuh ancaman serta raut wajahnya yang gelap.


Bagaimana bisa Skylar melantunkan tutur kata yang menyeramkan itu? Sebesar itukah kebencian Skylar terhadap dirinya? Apakah pria itu akan membunuh bayinya jika janin itu benar-benar ada? Meskipun itu darah dagingnya sendiri?


Tak terasa air matanya mengalir perlahan melewati pipinya. Wanita itu menangis tanpa isakan. Sungguh, hatinya begitu pedih, sangat sedih untuk menerima semua kenyataan ini. Skenario kehidupannya terlalu berat dan menyakitkan.


Entah sudah berapa lama wanita itu terdiam dengan pandangan kosong hingga ia tidak menyadari sang dokter sudah memohon diri untuk keluar. Meninggalkan mereka berdua di dalam kamar milik Starla. Menciptakan suasana keheningan yang terasa mencekam di ruangan luas tersebut.


Tanpa bergeser sedikit pun dari tempatnya berdiri, Skylar mengamati wajah kepedihan Starla yang tampak tengah memikirkan sesuatu. Pandangannya benar-benar tidak teralihkan, apalagi ketika ia melihat setetes kepedihan yang menelusuri pipi dan membasahi bibir wanita itu. Terlihat begitu menyedihkan. Tetapi, ia berusaha untuk tidak peduli. Pria itu mendekat, meraih pelan dagu yang sudah basah akibat air mata itu, memaksa Starla agar membalas tatapannya. Tidak ada cengkeraman, tidak ada kekasaran untuk kali ini.


Entah mengapa saat itu juga, ia merasa hatinya bagai terhunus belati tajam ketika tatapan tajamnya bertemu dengan manik teduh dan sembab itu. Tersirat jelas kepedihan dan sakit hati yang mendalam di tatapan wanita itu. Ia tahu benar, bahwa Starla tengah menahan isakannya saat ini. Napas panas yang tidak beraturan milik wanita itu mengenai wajah tegasnya yang sangat dekat.


Lama ia menatap wajah menyedihkan itu, membiarkan posisi tubuhnya membungkuk di atas wajah Starla, sebelum akhirnya menggerakkan ibu jarinya, mengusap air mata itu dengan gerakan yang teramat sangat tenang. Menyapu pelan cairan kepedihan yang membasahi bibir pucat Starla, layaknya seorang suami yang tidak ingin melihat sang istri mengeluarkan liquid itu lagi, tanpa menghilangkan ekspresi tegasnya.


Setelah merasa cukup, pria itu menarik diri lalu melangkah keluar tanpa sepatah kata pun.

__ADS_1


"Kenapa kau begitu membenciku?"


__ADS_2