
Suara decitan pintu terdengar saat Skylar memasuki kamar Starla. Matanya seketika mengamati sang istri dari ujung kaki hingga kepala. Ia tidak bisa menampik bahwa Starla benar-benar cantik malam ini. Ah, bukan malam ini saja. Skylar tidak munafik, Starla memang sangat-sangatlah cantik, dia benar-benar tumbuh menjadi wanita penggoda dengan segala pesonanya.
Apalagi malam ini, wanita itu berdandan begitu memukau, tangan-tangan perias itu patut diacungi jempol karena telah merubah Starla sedemikian rupa. Ditambah dengan gaun hitam panjang melewati mata kaki, benar-benar melekat di tubuh rampingnya. Heels yang senada. Lalu neck yang terbuka hingga pundak, menampilkan leher jenjang putih mulusnya. Sederhana namun tetap terlihat mewah dan elegan. Dan juga bagian dada yang masih tertutup aman.
Benda padat itu tak terlihat seinci pun, karena Skylar tidak ingin dan tidak akan pernah memiliki keinginan untuk memamerkan milik kesayangannya itu. Hanya dia satu-satunya pria yang mengetahui segi bentuk dan rupanya. Tidak ada satu pun lelaki yang berhak dan boleh melihat itu selain dirinya. Tidak boleh!
"Kau sudah siap rupanya."
Skylar kemudian menghampiri wanita cantik yang baru saja berdiri ketika menyadari kedatangannya. Satu tangannya terulur cepat menggamit erat pinggang kecil itu, lalu menyentaknya mendekat ke tubuhnya. Bibirnya tersungging keji ketika mendengar pekikan kaget dari Starla. Ia menangkup pipi wanita itu dengan tangannya yang lain. Tatapannya sama sekali tidak teralihkan dari paras anggun istrinya tersebut.
"Jangan mengulangi perbuatanmu jika kau tidak ingin aku membuatmu tidak bisa berjalan hingga berminggu-minggu. Jika kau berniat kembali untuk kabur, maka aku akan menghukummu lebih parah dari yang kemarin." Skylar menatap Starla dengan tatapan tajam dan lekat. "Dan aku harap kau tidak berbuat ulah di pesta itu. Mengerti?"
God damn ....
Napas Starla tertahan seketika saat Skylar menegaskan kalimat itu tepat di atas bibirnya. darahnya terasa berdesir hebat. Wajah keras Skylar yang menunduk di atasnya semakin menguatkan ancaman yang baru saja terucap, tidak ada kesan main-main.
"Mengerti?"
Suara berat itu kembali terdengar, mengembalikan kesadarannya. "Y—ya ..." jawab wanita itu dengan nada suara yang bergetar.
Lalu tanpa peringatan, Skylar meraup bibir ranum Starla, ********** dengan lembut dan intens. Matanya terpejam menikmati daun bibir lembut nan penuh itu dan membawa kedua tangan Starla bertumpu di dadanya, lalu kembali menahan tengkuk wanita itu dan memperdalam lumatannya. Bunyi kecupan-kecupan basah bahkan tidak menjadi masalah. Pria itu mengeratkan rengkuhannya pada pinggang Starla ketika ia tersadar bahwa wanita itu masih belum memberinya jalan.
Starla yang mendapat perlakuan itu segera menurut jika tidak ingin kembali mengambil risiko. Ia merasakan lidah hangat pria itu yang bergerak lincah, menyapu seluruh rongga mulutnya. Hangat dan terasa tulus. Wanita itu bahkan tanpa sadar turut serta memejamkan mata dan membalas ******* Skylar.
__ADS_1
Kedua tangannya meremas bebas tuksedo hitam milik suaminya ketika pria itu semakin intens. Ini adalah kali pertama Skylar menciumnya dengan lembut dan penuh perasaan. Benar-benar tanpa nafsu. Entah apa yang membuat suaminya seperti ini.
Apakah hati Skylar sudah luluh?
Demi Tuhan! Starla sangat ingin menertawakan dirinya ketika ia masih sempat memikirkan hal itu. Lagi pula, kenapa Skylar harus luluh kepadanya? Sudah sangat jelas pria itu membencinya setengah mati. Dan wanita itu tentu menyadari bahwa rasa benci tersebut telah melekat erat di jiwa Skylar. Bahkan terselip di setiap tarikan napas lelaki itu. Apa pun yang terjadi, Skylar sudah pasti benar-benar membencinya.
Tidak lama setelah itu, Skylar melepaskan ciumannya dan semakin merunduk, menempelkan hidungnya ke leher jenjang Starla. Ia menghirup dalam-dalam aroma khas wanitanya.
"Kau cantik ... dan wangi," ucap Skylar di sela-sela kecupan lembutnya.
Starla menelan ludahnya dengan kasar. "S— Skylar, kita akan terlambat."
Skylar tersadar, lalu sedikit menarik kepalanya, dan dengan berat hati menjauhkan tubuhnya dari tubuh Starla yang mengeluarkan aroma wangi yang menenangkan.
"Kau benar. Kita akan terlambat jika melakukannya sekarang. Aku juga tidak ingin merusak riasanmu malam ini. tetapi tenang saja, akan kutuntaskan semuanya setelah pesta itu berakhir."
Mereka baru saja sampai di tempat berlangsungnya pesta pernikahan rekan bisnis Skylar. Sebuah ruangan gedung mewah dengan nuansa putih khas pernikahan. Semuanya serba putih, menandakan bahwa pesta ini benar-benar pesta sakral yang suci. Para undangan pun sepertinya orang-orang kelas atas, tidak ada yang sederhana, semuanya terlihat mewah dengan pakaian pilihan mereka masing-masing.
Skylar merangkul posesif pinggang ramping Starla. Mereka benar-benar terlihat serasi malam ini dan hampir semua orang yang ia temui mengatakan hal itu. Membuat Starla yang mendengarnya hanya tersenyum kecil, bahkan sangat ingin tertawa miris.
Starla mengedarkan pandangan ke sekelilingnya dan mengamati orang di sekelilingnya. Wanita-wanita berpakaian bagus dan mewah, juga para prianya yang terlihat rapi dan berkelas. Semua orang yang ada di pesta itu terlihat menikmatinya, tidak seperti dirinya yang sangat tidak menyukai berada di tempat seperti ini dan berbaur dengan orang yang tidak dikenalnya.
Skylar menggenggam erat tangan Starla dan mengajaknya untuk masuk, sangat menyadari kalau wanita di sampingnya terlihat gugup dan ketakutan. Membawa Starla berjalan melewati para penjaga di depan pintu masuk yang dibuka lebar.
__ADS_1
"Jangan takut seperti itu, mereka tahu kau istriku jadi mereka tak akan memperlakukanmu dengan buruk," bisik Skylar di telinga Starla.
Rasa hangat yang berasal dari tangan Skylar memberikan perasaan nyaman dan merasa terlindungi. Gadis batin Starla tertawa sambil terisak. Terlindungi? Yang benar saja, terlindungi dari apa? Toh, jika memang ada bahaya yang mengancamnya. Sudah pasti itu datangnya dari si empunya tangan ini. Karena dialah satu-satunya ancaman terberat dalam hidup Starla. Karena dia laki-laki bejat yang menyiksa secara fisik maupun batin.
Saat ini, Skylar tengah berbincang-bincang dengan rekan bisnisnya yang lain. Sedangkan Starla, jangan tanyakan lagi. Sejak tadi ia bergerak gelisah. Terlalu banyak perasaan aneh yang menggerogotinya. Selain tidak mengerti apa yang Skylar perbincangkan, dia juga merasa asing. Ia benar-benar tidak mengenal siapa pun di tempat itu. Lalu tatapan para wanita-wanita lain terhadapnya sepertinya tidak menyukai kenyataan bahwa Starla-lah yang menjadi istri seorang Skylar —benar-benar membuatnya risih.
"Aku ingin ke kamar mandi," bisiknya pada Skylar.
Ia menengadah, menatap sang suami yang sepertinya tengah mencari kebohongan di dalam matanya dengan raut wajah curiga yang membuat Starla mendengkus kasar.
"Hanya sebentar. Kau boleh mengikutiku jika itu perlu."
Ya, Skylar benar-benar akan melakukannya. Pria itu bahkan akan mengikuti Starla hingga ke toilet wanita sekalipun jika saja ia sedang tidak berlagak menjadi seorang pebisnis yang ramah saat ini.
Sialan! Tidak bisakah wanita itu bertahan sebentar lagi?
"Pergilah! Kurang dari sepuluh menit, kau sudah harus kembali ke sini," sahut Skylar sembari melepas rangkulannya dengan sangat tidak ikhlas, lalu kembali berbincang. Tetapi sorot matanya masih setia memandang tajam kepergian istrinya, hingga tubuh mungil itu menghilang di persimpangan koridor.
Starla berjalan dengan sedikit tergopoh akibat kakinya yang sepertinya sudah lecet karena heels yang dikenakannya. Kepalanya menunduk, melihat heels sialan yang berhasil membuatnya nyaris tak bisa berjalan normal. Sesekali mendesis ketika denyutan perih itu semakin terasa.
Namun, sedetik kemudian, ia merasa tubuhnya tertarik kasar oleh seseorang dari arah belakang, lalu menyeretnya entah ke mana. Teriakannya tertahan ketika telapak tangan besar itu membekap kuat mulutnya.
"Diam!"
__ADS_1
Matanya terbelalak takut saat suara pria itu terdengar dari atas kepalanya. Dan ia tahu, itu bukan Skylar tangan-tangan kecilnya mulai bergerak berusaha menjauhkan lengan besar yang berlingkar sempurna di perut wanita itu.
Oh Tuhan! Skylar ... tolong aku!