
Wanita itu tidak pernah menyangka bahwa kesalahan yang pernah ia lakukan rupanya berdampak buruk bagi semua orang yang begitu dikenalnya. Kesalahan yang membuat sang kakak menjadi sosok lelaki bengis yang tidak lagi mengenal kelembutan dan belas kasih. Suatu kesalahan fatal yang mengubah kehidupan orang-orang terkasihnya, dan itu benar-benar tidak termaafkan. Ia tidak bisa menampik ketika rasa sesal Itu menyerang lubuk hatinya secara tiba-tiba. Membuat ia harus menahan rasa sakit akan penyesalan yang begitu besar ketika indra pendengarannya acap kali menangkap percakapan para pelayan yang merawat dirinya.
Dia tahu benar seperti apa kebejatan yang dilakukan sang kakak pada wanita yang sama sekali tidak bersalah itu. Sungguh, ia takut, benar-benar takut jika perlakuan Skylar sudah melebihi batas. Keinginan untuk menjelaskan semuanya kepada lelaki itu begitu kuat, namun dirinya tidak mampu berbuat apa-apa. Ia tidak mengerti dengan keadaan tubuhnya yang terlalu lemah dan rapuh, sehingga untuk sekedar menyuarakan satu atau dua patah kata pun terasa begitu sulit.
Air matanya jatuh menitik saat bayangan wajah Starla terngiang di kepalanya. Oh Tuhan, wanita itu, sahabat baiknya ... bagaimana kondisinya saat ini? Apakah ia masih baik-baik saja?
"Angel?"
Suara berat dan terdengar lembut itu berhasil memecah keheningan. Skylar melangkah hati-hati dengan sepiring makanan dan segelas air mineral yang memenuhi kedua genggamannya. Menghampiri wanita itu yang tengah terduduk damai di atas kursi rodanya yang mengarah pada jendela besar. Setengah berjongkok, lelaki itu menatap wajah sang wanita penuh kasih sayang. Tatapannya begitu manusiawi. Sama sekali tidak ada kesan intimidasi di dalam sana. Tangannya bergerak pelan, mengusap air mata perempuan itu dengan tenang. Tidak perlu bertanya untuk mencari tahu alasannya, karena ia sudah cukup terbiasa baginya melihat sang adik yang selalu menangis dalam kondisi tidak berekspresi seperti saat ini.
"Sudah waktunya makan siang, Sayang," ujarnya tulus. "Aku tahu kau belum makan. Jangan menolakku kali ini, Angel. Aku hanya ingin memastikan bahwa kau benar-benar makan, dan aku akan pergi setelah itu."
Skylar tahu bahwa sang adik tidak akan memberikan tanggapan padanya, tetapi itu tidaklah masalah. Ia merasa baik-baik saja selagi wanita itu tidak menolak atau memberontak akan kehadirannya. Dengan tenang, ia mengambil satu sendok makanan lalu mengarahkannya pada Angel ketika wanita itu tiba-tiba menepis tangannya dengan kasar. Angel menatap sang kakak dengan penuh emosi terpendam.
"Aku ... membencimu!" lirih wanita itu terbata.
Tidak ada ekspresi berlebihan di wajah Skylar. Hal ini sudah menjadi makanan sehari-hari untuknya meskipun hatinya mengadu pilu ketika sang adik selalu menolak kehadirannya dan berkata seperti itu. Seakan-akan wanita yang disayanginya itu begitu membencinya dan selalu menolak kehadirannya. Membuat Skylar selalu bersedih menghadapi wanita kesayangannya tersebut.
"Ang—"
__ADS_1
"P—pergi!" jeritnya dengan keras.
Meskipun dengan nada yang terbata-bata, tetapi dari nada suara itu tersimpan kebencian mendalam untuk Skylar. Dan sampai sekarang Skylar belum mengerti kenapa adiknya itu bisa membencinya sedemikian rupa seperti itu dan hal itu yang membuatnya benar-benar bersedih.
Skylar menggeleng keras kepala. "Aku tidak akan pergi jika kau tidak makan."
"Pergi! Tidak! Pergi dari sini!"
Skylar berusaha menahan tangan Angel yang mulai bergerak memukulnya. Selalu seperti itu, Angel akan mulai memukulinya dengan membabi buta jika seperti ini, memberinya cakaran-cakaran yang tercetak jelas di kulitnya, tetapi apa yang dilakukannya sama sekali diabaikan oleh Skylar. Ia menganggap bahwa ini adalah bentuk dari kekesalannya kepada seorang pria, tetapi tetap saja Skylar sedih karenanya.
"Angel!"
"Hei, tenanglah!"
"A—aku membencimu, bedebah!"
Sungguh, pria itu tidak pernah peduli jika wajahnya kembali terluka karena serangan yang dilakukan sang adik. Sebesar apa pun luka yang Angel ciptakan, itu sama sekali tidak membuatnya merasakan sakit. Namun, yang selalu berhasil melukai hatinya adalah ketika setiap kali dirinya datang berkunjung, di saat itu juga sang adik selalu menolak keberadaannya. Dan penolakan itu kerap kali menjadi penyebab hadirnya emosi terhadap sosok wanita yang saat ini berstatus sebagai istrinya. Adiknya yang selama ini hidup bersamanya kini membencinya setengah mati, dan ia benar-benar tidak tahu alasan apa yang membuat wanita itu selalu melemparkan kebencian mendalam terhadapnya.
Skylar pikir akan tenang ketika ia berusaha meredakan Angel ke dalam rengkuhan hangatnya. Namun, tidak. Usaha yang ia lakukan benar-benar tidak berarti. Gerakan sang wanita semakin hebat memukul kuat tubuh kekar itu sembari terus meneriakkan kalimat-kalimat kebencian dan kalimat pengusiran. Dan itu membuat kesabaran Skylar lenyap seketika. Wanita itu benar-benar sudah berhasil menyulut emosinya. Sinar matanya yang tulus dan penuh kasih sayang kini beralih menjadi tatapan kemarahan. Wajahnya mengeras, menahan gejolak emosi yang nyaris meledakkan emosinya. Skylar mengguncang tubuh itu dalam satu kali gerakan.
__ADS_1
"Gabriella!" Ia menyerukan nama itu dengan nada tinggi yang membuat sang wanita menghentikan gerakannya. Dadanya kembang-kempis sementara ia membiarkan tangannya menggenggam erat salah satu pergelangan kecil itu.
"Kenapa ... kenapa kau membenciku?" Matanya berkilat marah, namun tersirat jelas kekecewaan di dalam sana. "Aku sudah membantumu melakukan apa pun, Gaby. Aku bahkan sudah membalaskan semua dendammu pada lelaki brengsek itu. Apa yang membuatmu membenciku?"
Tidak ada jawaban yang terlontar dari bibir sang adik. Matanya yang sendu dan berkabut tertuju pada manik biru Skylar yang membalas tatapannya penuh kesakitan. Bibir pucatnya bergetar. Skylar yang melihat raut wajah pilu itu akhirnya luluh. Cengkeramannya mengendur, turut serta dengan tatapannya yang kembali tulus seperti semula setelah memastikan bahwa Angel tidak lagi memberontak. Ia mengamati wanita itu lekat-lekat.
"Maafkan aku!" ucapnya penuh penyesalan.
Pria itu nyaris gagal mengendalikan diri. Napasnya berubah terengah. Sorot matanya tidak berpaling sama sekali. Perlahan, ia kembali menggenggam tangan sang wanita dan membawanya ke sebelah wajahnya, lalu menggerakkan jemari lembut nan ringkih itu.
"Lihat dan rasakan. Aku kakakmu, Angel. Aku bukan lelaki brengsek yang akan mengkhianatimu. Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian. Sebentar lagi kita akan mencapai titik kemenangan atas penderitaan mereka. Aku mohon, bertahanlah sebentar lagi."
Isakan samar sang wanita terdengar setelah Skylar menyelesaikan kalimat itu. Angel menggeleng lemah sembari berusaha menggerakkan bibirnya dengan susah payah.
" Skylar ... please ...." Wanita itu berucap lirih di tengah tangisannya. "J—jangan dia. Bukan, Arlan ....”
Seharusnya perkataan yang baru saja terdengar itu menjadi titik penerang bahwa Arlan bukanlah sosok pelaku yang membuat dirinya seperti ini. Dan bukan Starla yang menjadi sasaran balas dendam pria itu. Namun, apalah yang terjadi, Skylar merengkuh erat tubuhnya yang terguncang. Pria itu tidak menangkap apa yang baru saja ia tuturkan. Suaranya terlalu lirih dan serak sehingga lelaki itu tidak dapat mencernanya dengan baik.
Maaf ... maafkan aku, Starla. Aku mohon, maafkan aku.
__ADS_1
"Semua akan baik-baik saja. Kau akan bahagia setelah ini. Aku janji!"