Tawanan Sang Devils'

Tawanan Sang Devils'
Cruelty


__ADS_3

Starla tengah membantu salah satu pramuwisma khusus untuk memasak di kediaman itu ketika bunyi bel terdengar, membuat ia menoleh ke belakang pada pramuwisma lain yang tampaknya tidak jauh beda dengan usianya.


"Nyonya, sepertinya itu ...."


Pramuwisma itu terlihat resah, takut bahwa yang baru saja membunyikan bel adalah Skylar. Starla yang mengerti akan keresahan itu hanya mengulum senyum tipis sebelum mengangguk ringan.


"Baiklah," gumamnya lalu meletakkan pisau buah yang digenggamnya ke atas meja pantry dengan berat hati.


Skylar memang tidak memperbolehkan ia bekerja di dapur atau di mana pun, entah apa alasannya Starla tak mengerti. Namun, ia beranggapan bahwa Skylar mengizinkan dia bekerja hanya untuk pria itu seorang. Di atas ranjang tentu saja.


Tentu saja, Skylar pastinya terluka atau membuat tubuhnya lecet yang membuat ketidak sempurnaa itu tampak jika pria itu kembali mengklaim dirinya. Ya, itulah alasan pria itu tentu saja.


Pria itu memang selalu kembali lebih cepat semenjak Starla mencoba kabur dari rumah itu, dan pada saat dia hampir saja meregang nyawa setelah diculik oleh pembunuh bayaran itu. Tetapi, ketika mata teduhnya beralih pada jam dinding yang menunjukkan pukul empat kurang, membuatnya mengernyit heran. Ini belum waktunya lelaki bejat itu pulang. Lagi pula ... Skylar tidak mungkin membunyikan bel hanya karena ingin memasuki kediamannya sendiri. Sangat aneh, bukan?


Starla melangkah ke ruang tamu untuk membunuh rasa penasarannya akan tamu yang membunyikan bel tersebut. Namun, Starla begitu terkejut ketika ia tanpa sengaja ia mendengar suara yang tidak asing baginya.


"Mr. Xander?" serunya sedikit terkejut dengan kening yang berkerut bingung.


Starla sama sekali tidak menyangka pria yang bertamu di sore hari ini adalah Xander, atasannya dahulu di tempat kerja sebelumnya, sesaat ia sebelum dipaksa untuk berhenti dengan kejam oleh Skylar.


Xander melangkah lebar dan langsung mendekap tubuh mungil itu sejenak, lalu kembali melepaskannya dan memandang cemas wajah Starla.


"Kau baik-baik saja?"


Starla termangu melihat Xander yang telah meneliti seluruh tubuhnya.


"Ada apa, Mr. Xander?" tanya wanita itu dengan heran setelah mengangguk mantap.

__ADS_1


"Starla, dengarkan aku ...." Xander menangkup kedua pipi wanita itu tanpa menghilangkan rasa cemas di wajahnya.


"Aku sahabat Skylar. Kau tahu? Selama ini aku mencarimu ke mana-mana, tetapi aku tidak menemukanmu. Aku bahkan baru mengetahui bahwa ... bahwa kaulah yang menjadi istri Skylar."


"Mr. Xander —"


"Aku tahu alasan Skylar menikahimu. Aku tahu semua yang dilakukan Skylar terhadap kamu, Starla. Dan ... dan aku akan membantumu keluar dari tempat ini. Kau mengerti?"


Tidak ada hal yang ada dalam pikiran Xander selain menyelamatkan Starla dari lelaki iblis itu. Xander sungguh tidak ingin melihat wanita itu menderita karena perlakuan Skylar. Terlebih lagi ia tidak akan membiarkan Skylar ataupun musuh-musuhnya itu membunuh Starla.


Ia menatap Starla penuh kecemasan, memperhatikan garis wajahnya yang tak lagi secerah dulu. Tak ada senyum manis, yang tersisa hanya kekosongan. Bahkan ketika ia menemukan gadis itu untuk pertama kali setelah berbulan-bulan menghilang, senyum itu seakan tenggelam dan berganti dengan wajah ketakutan.


Starla mengangguk cepat dengan matanya yang berkaca-kaca, menahan rasa takut yang menghantamnya. Ia takut jika Skylar menemukan Xander di sini, dan bisa saja Skylar akan membunuh lelaki itu. "Ya, aku mengerti. Tetapi, a—aku takut ... aku takut jika pria itu menemukanku. Dia pasti akan murka dan membunuhmu ketika dia tahu, kau yang membawaku keluar dari sini."


Terlebih lagi mengingat kejadian penculikan itu, Skylar pasti tidak tanggung-tanggung akan membunuh Xander dengan brutal sama seperti bagaimana dia membunuh psikopat itu dengan kejamnya.


Belum sempat Starla menjawab, wanita itu tiba-tiba merasa ada seseorang yang menariknya dengan kasar, lalu memekik keras ketika pandangannya menangkap Skylar yang memukul kuat wajah Xander hingga pria itu terpental jatuh ke lantai.


"Sialan! Jauhkan tanganmu dari tubuh istriku!"


Xander bangkit berdiri dan membalas memukul Skylar tepat di wajahnya. Membuat Starla yang berdiri tidak jauh dari mereka dan kembali mengeluarkan pekikan kaget dari bibirnya.


"Kau pengkhianat, Skylar!"


Lagi. Xander kembali menyerang. Lalu dengan cekatan ia menarik Starla ke dalam dekapannya, melindungi wanita itu dari amukan Skylar. Namun, perlakuan Xander sungguh membuat Skylar semakin naik pitam. Emosinya tak mampu ditahan lagi, ia kembali menarik Starla, menjauhkan wanita itu sebelum kembali menyerang Xander dengan brutal. Sangat-sangat brutal.


"Sudah aku katakan, jauhkan tanganmu dari tubuh istriku! Apa kau tidak mengerti?"

__ADS_1


Starla berteriak tertahan sembari menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Air matanya menggenang ketika ia melihat Xander yang sepertinya tak lagi bisa bergerak di bawah kekuasaan suaminya. Skylar benar-benar memukul laki-laki itu dengan sangat tidak manusiawi.


"H—hentikan!"


Ia mengedarkan pandangan, mencari keberadaan Andreas, namun tidak ada. Ia hanya melihat dua orang pekerja yang tak jauh dari mereka. Pekerja itu tak mungkin bisa berbuat apa-apa, mereka hanya perempuan lemah sama seperti dirinya.


"Skylar, aku mohon hentikan!"


Mengetahui bahwa Skylar tak akan berhenti, ia memberanikan diri, mencoba mendekat dan menarik lengan Skylar dengan tangan kecilnya yang bergetar hebat.


"Sky ... kau bisa membunuhnya. Berhentilah!"


Skylar yang mendengar lirihan permohonan itu seketika menghentikan aksinya. Ia menoleh, menatap wajah pucat Starla dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.


"Kenapa?" Napasnya berubah terengah. "Kau takut dia mati?"


"Bukan. Bukan seperti itu ...." Starla menggeleng cepat yang membuat air mata itu menetes di pipinya.


Skylar menggerung marah. Ia menyuruh para pekerja untuk pulang dan memanggil Andreas untuk membawa pria yang sudah tergeletak tidak berdaya di lantai itu. Entah pria itu masih bernapas atau tidak, ia tidak peduli. Di benaknya hanya ingin memberi pelajaran pada manusia keras kepala yang tengah menangis sesenggukan di pojok ruangan itu.


Setelah memastikan ruangan lengang, Skylar mendekat dan menampar pipi Starla hingga wanita itu terjerembab jatuh ke lantai. Starla menjerit keras ketika merasakan rambutnya ditarik kasar oleh Skylar, memaksanya untuk berdiri dan menuruti perintahnya. Tangannya terulur berusaha menahan rambutnya sendiri untuk menghilangkan sedikit rasa sakit, namun tidak bisa. Tarikan Skylar terlalu kuat, bahkan Ia berpikir bahwa sebentar lagi kulit kepalanya akan terlepas.


"Kau mau mati? Sudah bosan hidup, huh?" Skylar menggeram marah. "Apa tadi yang kau lakukan, ******?"


Entah apa yang membuat Skylar marah. Pria itu sungguh tidak tahu bahkan tidak mengerti kenapa tiba-tiba emosinya membuncah hanya karena melihat Xander yang tengah memeluk istri pelacurnya itu. Dan ia semakin murka ketika wanita sialan itu menyuruhnya berhenti untuk memukuli Xander. Starla seakan tidak mau jika terjadi apa-apa dengan pria brengsek itu.


Sialan!

__ADS_1


__ADS_2