
"Kau mau mati? Sudah bosan hidup, huh?" Skylar menggeram marah. "Apa tadi yang kau lakukan, ******?"
"Tidak ada ...." Perempuan itu semakin menjerit ketika Skylar mendorongnya ke dinding dengan kasar.
"Kau memang tidak bisa diperlakukan dengan lembut."
"Skylar, dengarkan aku dulu—"
"Tidak ada yang perlu didengarkan, wanita murahan!" bentak pria itu kasar.
"Aku hanya—"
"Shut up your fucking mouth! Kau akan mendapatkan yang lebih buruk lagi di bibirmu jika kau masih berani bersuara!" Skylar menatap bengis wanita itu. Sungguh, ia juga tidak mengerti mengapa dirinya semarah ini.
Tidak ada yang bisa dilakukan oleh Starla. Ia hanya menangis sesenggukan, tidak bisa berbuat apa-apa. Skylar bahkan sudah tidak mau mendengar penjelasannya. Tidak, laki-laki itu bahkan tidak akan pernah mau mendengar alasan apa pun yang keluar dari bibirnya.
Skylar menekan kuat tubuh itu dengan tangan kekarnya yang menahan dada Starla.
"Setelah membunuh Gaby, kau juga sengaja ingin menghabisi Xander menggunakan tanganku?"
Starla menggeleng kuat dengan bibir yang terkatup rapat. Air matanya mengalir deras diiringi oleh isakan kepedihan yang tertahan. Ia berusaha memegang lengan Skylar yang menjadi kungkungan tubuhnya di dadanya.
"Lalu apa, sialan?"
"Maafkan aku ..." kata Starla lirih di sela tangisannya. "Aku tidak tahu bahwa pria itu akan datang. Sungguh, Skylar. Percaya padaku."
Wajah Skylar benar-benar mengerikan. Manik birunya yang memerah, menatap tajam wajah Starla. Dadanya kembang kempis. Entah mengapa ia sangat marah kali ini. Sialan!
"Kau harus menerima hukumanmu kalau begitu!"
__ADS_1
Setelah kata-kata itu keluar, Starla meronta hebat. Wanita itu berteriak keras ketika Skylar menyeret lengannya ke lantai dua, lalu melempar kasar tubuhnya di atas tempat tidur.
"Kenapa kau berteriak?"
"Tidak! J—jangan lagi, Skylar!"
"Jangan? Apa yang membuatmu selalu menolakku?" Skylar melepas kancing kemejanya satu persatu, dan mengangkat alisnya tinggi saat pertanyaan itu mengalun. "Aku sudah mengklaim dirimu setiap waktu. Apalagi yang akan kau pertahankan?"
Pria itu membawa dirinya naik di atas ranjang, setengah menindih tubuh Starla yang bergetar hebat di bawah sana. Ia tidak memperdulikan isakan pilunya. Pria itu kemudian meraup dan ******* rakus bibir Starla. Tangannya kini bergerak bermain kasar di dada wanita itu.
Skylar akan kembali menyiksa Starla, tanpa ampun, tanpa belas kasih. Perempuan ini memang selalu berhasil memancing emosinya.
Ataukah mungkin Skylar yang terlalu berlebihan?
Entahlah. Yang ia tahu hanya bahwa dirinya tidak ingin jika miliknya disentuh oleh orang lain.
****
Entah sudah berapa lama Skylar membiarkan posisi tubuhnya menyamping seperti ini sementara matanya bergerak tanpa ekspresi. Memandangi setiap inci wajah anggun itu, dan berhenti tepat di bibir Starla yang membengkak dan sedikit memar di sudut sana. Sang wanita mengerutkan dahi samar sembari menggeliat kecil ketika ibu jari Skylar menyentuh luka tersebut, membuat ia refleks menghentikan gerakan.
Begitu sakit kah? Bahkan hanya karena merasakan sentuhan ringan darinya pun sudah membuat wanita itu terusik dari tidurnya.
Sesaat pria itu tertegun. Apa yang ada di pikirannya? Bukankah memang itu yang dia inginkan? Menyakiti Starla luar dalam, lalu melempar wanita itu jauh-jauh dari kehidupannya setelah mendapatkan apa yang dia mau? Tetapi, ada apa? Kenapa dia harus memikirkan kondisi wanita pelacur itu?
Wajah Skylar mengetat kejam. Ia menyibak selimut tebal itu sebelum bangkit dalam posisi duduk di tepi ranjang. Menampilkan otot-otot kencang di bagian-bagian tertentu tubuhnya yang tidak mengenakan pakaian.
Lelaki berkulit Tan itu mengusap wajahnya kuat-kuat. Skylar merasa bahwa dirinya adalah sosok lelaki dewasa yang naif. Dan ia benar-benar ingin tergelak keras. Menertawakan pikirannya yang seolah menghianatinya. Juga mengkhianati adiknya, Gabriella.
Damn it!
__ADS_1
Pria itu hendak keluar kamar setelah kembali mengenakan pakaian ketika matanya lagi-lagi tanpa sengaja menangkap sosok wanita rapuh itu. Skylar berjalan mendekat. Dan entah malaikat apa yang merasuki dirinya saat tangannya terulur berkhianat—menarik selimut lalu menutupi punggung polos itu dengan gerakan ringan, seakan tidak ingin mengganggu sang empunya.
Terkutuk!
Lelaki itu membuang napas kasar dan membiarkan ia memaki dirinya sendiri. Ia memejamkan mata sejenak sebelum berbalik lalu meninggalkan sang wanita yang tampak damai bergelut dalam alam mimpi.
****
Starla mengernyit ketika kelopak matanya memaksa untuk terbuka. Ia mengerjap, berusaha kembali mengumpulkan kesadarannya sebelum mendudukkan diri. Tubuh lemah itu seakan terbelah dua. Begitu sakit di mana-mana. Lagi-lagi ia harus menerima kenyataan bahwa dirinya baru saja dilecehkan oleh lelaki gila yang sudah masuk dan merusak kehidupannya. Lelaki terkutuk yang sudah mengubahnya menjadi sosok wanita murahan dan tidak berharga. Lelaki bajingan yang selalu menertawakan hatinya yang terluka.
Ia menarik napas dalam saat air matanya mengancam keluar. Memikirkan itu membuatnya jijik pada diri sendiri. Skylar benar-benar tidak ingin berdamai. Tidak sama sekali. Pria itu terlalu membencinya setengah mati. Apalagi yang harus ia lakukan? Haruskah ia memaksa dirinya untuk pasrah dan menyerahkan hidupnya pada Skylar? Membiarkan pria itu merombaknya habis-habisan?
Ia terlonjak kaget ketika pintu kamar terbuka dan menampilkan sosok pencabut nyawa yang tengah berdiri di sana.
Tangannya bergerak cepat menarik selimut yang berada di perutnya dengan putus asa, menyembunyikan tubuh polos bagian atasnya dari pandangan melecehkan itu. Sementara pikirannya kini bersarang dengan sederet pertanyaan di dalam sana. Apa yang dilakukan manusia terkutuk itu? Bukankah Skylar bekerja hari ini?
Kamar dingin dan sejuk kini beralih menjadi aura mencekam yang membuatnya sesak napas akan kehadiran sang empunya. Dan Starla tidak mungkin berlama-lama di ruangan itu. Dengan perasaan yang masih getir di bawah tatapan tajam sang iblis, ia berusaha menggerakkan kakinya dengan susah payah. Selambat apa pun gerakannya, rasa sakit yang menyengat itu benar-benar tidak mampu membuatnya untuk tidak melenguh kecil. Namun, lenguhan lemahnya membuat lelaki itu segera mendekat tanpa Starla sadari.
"Kau terlalu lama."
Skylar mengangkat tubuh mungil itu dalam satu sentakan yang membuat Starla berteriak kaget dan refleks menggenggam erat kaos putih yang dia kenakan.
"Aku tidak pernah mengizinkan kamu untuk tidur di kamarku!"
Starla tidak merespon. Ia tidak dapat menanggapi apa yang baru saja Skylar katakan. Ketegangan mulai menjalar di sekujur tubuhnya ketika ia mengetahui bahwa pria itu membawanya ke kamar mandi.
Oh Tuhan! Apakah Skylar akan kembali menggunakannya di dalam sana? Air matanya menggenang. Bibirnya kembali bergetar dengan tubuh berdesir hebat. Dia akan kembali dilecehkan?
"Lepaskan aku, brengsek! Jangan sentuh aku!"
__ADS_1