Tawanan Sang Devils'

Tawanan Sang Devils'
Planning


__ADS_3

Napasnya tertahan ketika Starla memutar handle pintu, mendorong pintu kamar itu terayun membuka dan mendapati Skylar yang tengah menatapnya balik dengan tatapan nyalang.


Saat ini Skylar duduk di atas ranjang dengan minuman keras di tangannya. Tampak kacau. Terlihat jelas kalau pria itu sudah dalam pengaruh minuman keras tersebut. Sial! Apa pria itu berniat untuk mabuk di hari pernikahan mereka?


Starla mendekat dengan takut-takut. "Apa ini kelakuan orang yang katanya sangat dielu-elukan? Mabuk-mabukan bahkan di saat pesta pernikahannya belum berakhir?"


Skylar mendongak. "Apa pedulimu, *****?" desis Skylar, lalu kembali menenggak minuman keras tersebut langsung dari botolnya.


"Aku hanya kasihan kepada kamu, Skylar. Apakah kau sebegitu tidak inginnya menutupi sifat menjijikkan itu di depan banyak orang? Sampai kau harus mabuk-mabukan dan meninggalkan pesta pernikahanmu? Paling tidak, tunjukkanlah dirimu seperti yang diketahui orang selama ini, menjadi pria terpandang yang dielu-elukan orang banyak."


Entah dapat keberanian dari mana Starla, sampai seberani itu mengeluarkan kalimatnya, kalimat yang sudah membuat Skylar bergemeletuk menahan amarah di tempatnya.


Hanya saja Starla seakan tidak peduli, dia masih marah dengan pria itu. Belum selesai amarahnya tentang pria itu yang memata-matainya lewat Ariana, bahkan dia ditipu habis-habisan. Starla masih mencoba untuk tidak percaya, bagaimana mungkin wanita sebaik Ariana itu hanya berpura-pura padanya. Tetapi ternyata, semua itu telah disusun apik oleh Skylar dan mereka berdua bersama-sama mempermainkan hidupnya.


"Wah ... ternyata kau sudah semakin berani, Starla!" desis Skylar. Gerungan kasarnya itu diikuti dengan melemparkan botol yang masih berada di tangannya menghantam tembok, membuat botol itu seketika hancur berkeping-keping.


Starla berjengit kaget. Mundur perlahan saat melihat Skylar sudah berdiri dan mulai mendekatinya.


"Sepertinya kau semakin pintar berbicara, Starla. Mulutmu itu sudah semakin pandai ...." Skylar maju dan mencengkeram mulut Starla dengan kasar. Membuat wanita itu seketika meringis dan mencoba melepaskan cekalan tangan itu dari mulutnya, yang jelas sia-sia. "Kenapa kau tidak memuaskan aku saja dengan mulut itu?" suara Skylar berubah serak.


Starla membeku oleh kata-kata Skylar. Starla menyesal, seharusnya ia tidak perlu mengikuti Skylar sampai ke sini—harusnya ia membiarkan saja apa yang ingin dilakukan pria gila itu.


Tetapi semuanya sudah terlambat, dirinya kini sudah berada dalam cengkeraman pria iblis itu. Apalagi ketika menyadari bahwa tatapan mata Skylar kali ini bukan tatapan mata orang mabuk. Pria itu sudah sadar sepenuhnya.


Dengan kasar, Skylar mencium bibir Starla. Sesekali menggigitnya, membuat bibir itu seketika mengeluarkan darah segar. Starla yang tidak tahan diperlakukan seperti binatang balas menggigit bibir Skylar, kuat dan kasar.


"Sialan!" umpat Skylar. Melepaskan ciuman mereka dan memegang bibirnya yang sudah mengeluarkan darah, lebih banyak dari darah bibir Starla.


Skylar menarik tangan Starla dengan kasar. "Kau sudah semakin berani ternyata, huh!"


Starla menyentak lengannya dengan sekuat tenaga yang memang tidak dipegang kuat oleh Skylar, lalu berlari mendekati pintu kamar, berniat kabur dari sana.


Namun, sebelum mencapai pintu keluar. Skylar merenggut bahunya dengan kasar, kemudian membalik tubuh itu agar ia kembali berbalik ke arahnya. Starla menjerit kesakitan saat punggungnya membentur dinding kamar karena Skylar menyudutkannya di sana.

__ADS_1


"Mau ke mana, huh?" ujarnya sambil mengunci kedua lengan Starla ke atas dinding.


"Lepas ... aku mau ke bawah, Skylar!" teriak Starla dengan mata menyala-nyala namun penuh ketakutan.


"Tidak! Kau harus tetap berada di sini untuk memuaskan aku." Skylar menarik paksa gaun indah itu, mengoyaknya di bagian dada membuat dada Starla menyembul dari balik bra yang masih dikenakannya.


"Hentikan!" Starla berteriak keras. Dengan refleks menutupi keterbukaannya itu dengan tangan.


Skylar tertawa sinis. "Kenapa? Kalau kau lupa biar aku ingatkan, kita ini baru saja bersumpah di depan Tuhan menjadi suami istri. Kau istriku dan aku pantas atas dirimu."


Skylar mengangkat tubuh Starla dan menjatuhkan tubuh itu ke atas kasur. Ia membuka gaun itu dengan tergesa-gesa tanpa kelembutan sedikit pun. Dan hanya menyisakan pakaian dalam yang masih terpasang di tubuh Starla. Skylar terus memaksanya, tidak peduli dengan rontaan Starla di bawahnya.


Starla kembali mengumpat saat Skylar tengah berkutat untuk memisahkan kaitan branya. "Kau laki-laki yang tidak punya harga diri."


Iris mata Starla menatap Skylar dengan tatapan jijik. Entah mengapa, setiap Skylar ingin memaksakan kehendaknya terhadap Starla, ia benar-benar membenci pria itu.


Pria itu terkekeh, meremehkan sindirannya. "Kau berani menantangku rupanya. Tetapi itu tidak masalah. Aku bahkan lebih menyukaimu seperti ini. Kau terlihat lebih agresif. Tidak salah jika aku mengklaimmu sebagai wanita pemuasku."


"Para tamu saja masih berada di tempat ini, dan kau sudah akan memaksaku sekarang juga. Kau memang tidak tahu malu." Skylar sempat tercekat lama mendengar perkataan Starla. Tetapi itu hanya berlaku sepersekian detik, karena setelahnya Skylar kembali melanjutkan menyentuh wanita di bawahnya dengan liar.


"Persetan dengan itu! Mereka pasti akan mengerti. Bukankah suami istri harus punya waktu private tersendiri?"


Setelah mengatakan kalimat itu. Skylar mulai menyentuh Starla, mengabaikan teriakan maupun rontaan penolakan wanita itu.


Dan malam itu kembali terjadi. Malam pertama mereka dilewatkan dengan Skylar memperkosanya dengan kasar dan tidak manusiawi.


****


"Brengsek! Beraninya Gerald mempermalukanku seperti ini," desis Gavino dengan marah.


Saat ini, ia sudah berada di mansionnya setelah beberapa menit yang lalu ia baru saja dipermalukan di depan banyak orang.


"Sebenarnya apa yang kalian lihat dari wanita itu? Bahkan wanita itu biasa-biasa saja," tanya Ariana yang tiba-tiba masuk menyusul ke dalam mansion pria itu.

__ADS_1


Ariana dan Gavino juga berhubungan tanpa diketahui oleh Skylar. Dan betapa kagetnya dia saat mengetahui bahwa Gavino sangat menginginkan kehancuran Skylar. Bahkan berniat mengusik Skylar dengan mengganggu Starla. Sungguh, Ariana tidak mengerti kenapa kedua pria itu memperebutkan wanita seperti Starla. Wanita yang jauh dari kata sempurna. Wanita yang sama sekali tidak pantas dijadikan bahan rebutan. Wanita yang jauh di bawahnya, sama sekali bukan levelnya.


Cih! Cantikan juga dirinya, batin Ariana.


"Kenapa kau bisa masuk ke sini, sialan?" geram Gavino karena merasa terganggu dengan keberadaan pria itu.


"Itu hal yang mudah, Gavin. Hanya saja sepertinya kau memiliki maksud lain dari kesepakatan kita."


Beberapa waktu lalu, Gavino memang datang menawari Ariana untuk bekerja sama. Agar Starla menjadi miliknya dan Skylar menjadi milik Ariana seutuhnya. Mereka melakukan kerja sama simbiosis mutualisme, sama-sama memperoleh keuntungan. Mereka akan sama-sama diuntungkan. Lagian, Gavino sangat tahu kalau Ariana sangat tergila-gila terhadap Skylar. Dan Gavino bisa menghancurkan Skylar melalui istrinya. Makanya dia berpura-pura mencintai Starla untuk melancarkan rencananya.


"Tetapi sepertinya kau telah menipuku! Kesepakatan kita berubah tidak seperti sebelumnya, kau punya maksud lain. Iya 'kan, Gavin?"


"Apa maksudmu, huh?"


"Kau hanya menginginkan Starla sebagai alat untuk menghancurkan Skylar. Kau sama sekali tidak menginginkan wanita itu, kau hanya menginginkan Skylar yang hancur," jerit Ariana tidak tertahankan.


Dia baru menyadari sekarang, itu sama saja dengan bunuh diri kalau sampai harus bekerja sama dengan pria yang sebenarnya menginginkan agar Skylar hancur. Dan Ariana sama sekali tidak menyukai ide tersebut.


Tawa keras terdengar dari mulut Gavino. Terbahak-bahak di depan Ariana. Perkataan wanita itu terdengar sangat lucu di telinganya.


"Brengsek! Kenapa kau tertawa? Ternyata benar, kau benar-benar menipuku, sialan!"


"Kau ingin aku membantumu, Ariana Sayang?" Pria itu bersedekap dan setengah membungkuk ketika ia membisikkan penawaran tepat di telinga Ariana sebelum kembali terkekeh ringan ketika melihat kernyitan halus di kening wanita itu. "Baiklah, sepertinya wanita Skylar itu tidak bisa dilewatkan. Begini saja, kita kembali ke rencana awal, kau mendapatkan Skylar dan Starla juga menjadi milikku. Bagaimana?"


Dan kita lihat bagaimana kehancuran Skylar setelah itu, lanjut Gavino dalam hati.


Alis mata wanita itu terangkat. Mengamati wajah pria di depannya, meneliti apakah tengah bermain-main atau serius. Tetapi kalau di lihat dari raut wajah Gavino, pria itu terlihat tidak main-main.


"Apa kau bisa dipercaya?"


"Tentu saja!"


Gavino mengucapkan kalimat itu dengan penuh percaya diri. Dia sudah tidak sabar menghancurkan seorang Skylar yang begitu sombong itu.

__ADS_1


__ADS_2