
"Anda tidak ingin ke bawah sana?"
Tiba-tiba Andreas kembali mengeluarkan suara di saat melihat tatapan Starla terus terarah ke bawah sana, membuat ia menawarkan sesuatu yang mungkin saja diinginkan oleh Starla.
"Tidak perlu. Cukup memandanginya dari sini saja."
Matanya bergerak pelan menelusuri tempat itu, lalu berhenti pada kursi taman bercat putih, tempat di mana saat pertama kali Andreas memulai percakapan dengannya. Dia ingat sekali hari itu, tiba-tiba Andreas mendatanginya dan untuk pertama kalinya mereka mengobrol meskipun hanya obrolan biasa yang begitu kikuk.
"Apa kau pernah merasakan seperti yang aku alami saat ini?" gumamnya yang membuat Andreas menoleh ke arahnya, lalu kembali meneruskan. "Menjadi alat untuk meluapkan segala dendam dan amarah seseorang. Itu benar-benar menyakitkan, kau tahu? Lebih menyedihkan lagi ketika kau merasa tidak memiliki kesalahan apa pun pada orang tersebut. Kau ingin mengatakan yang sebenarnya, namun untuk melontarkan satu kata pun ia tidak pernah memberimu kesempatan."
Andreas menatap wanita itu lekat-lekat. Begitu banyak kesakitan dan kekecewaan di dalam tatapan kosong tak berarti milik Starla. Pun dengan suaranya yang lirih, bahkan terdengar putus asa di setiap kali wanita itu berucap.
"Saya yakin, Skylar tidak benar-benar melakukannya."
Alih-alih bertanya, lelaki justru lebih memilih menyatakan pernyataan tersebut.
"Bolehkan aku sedikit bercerita?" tanya Starla ringan dan tanpa harus menunggu persetujuan Andreas, wanita itu kembali melanjutkan percakapannya.
"Kala itu sepertinya kemalangan memang tengah mengincar hidupku. Begitu banyak berita duka beruntun yang menimpaku. Bermula dari kabar Gabriella yang mengalami gangguan jiwa."
__ADS_1
Begitu menyesakkan. Starla mengingat ketika ia hendak mengunjungi Gabriella, namun Skylar selalu mencegah bahkan mengusirnya dari sana. Pria itu tak pernah sekali pun memperbolehkan dirinya untuk bertemu sahabat baiknya itu, hingga saat di mana wanita itu mengakhiri hidupnya dengan tragis. Semua itu benar-benar membuatnya kaget dan mengguncang perasaannya, dia tidak ada di sana saat sahabatnya itu meninggal, bahkan ia tidak ada di sana di saat-saat terakhir Gabriella merasa kesakitan sendirian. Dan Starla benar-benar menyesali segalanya.
"Pun dengan Arland yang mengalami kecelakaan tragis lalu meninggalkan banyak masalah besar tak berkesudahan yang bahkan baru aku ketahui selepas kepergiannya. Dan setelah itu, Gaby ...." Starla meneguk air liurnya dengan kasar. "Semuanya begitu menyedihkan dan mengenaskan. Aku bahkan tidak mengerti dengan peristiwa macam apa yang tengah aku jalani saat ini. Tidak berhenti sampai di situ, takdir lagi-lagi mengombang-ambingkan kehidupanku ketika ia kembali mempertemukanku dengan seseorang yang teramat sangat membenci nyawaku. Seseorang yang menganggap hidupku adalah sebuah musibah terbesar yang pernah ada.
"Tuan Skylar menganggap bahwa Anda-lah yang membantu Arland untuk bersembunyi." Untuk kali ini Andreas benar-benar tidak dapat menentukan bagaimana jenis kalimat yang baru saja ia lontarkan. Apakah itu sebuah pertanyaan ataukah pernyataan? Entahlah.
Wanita itu menarik napas berat turut serta wajahnya yang setengah menengadah. Berusaha mencekal air matanya yang memaksa untuk segera dikeluarkan. Lalu melemparkan tatapan sendu miliknya kepada Andreas seraya menggeleng putus asa.
"Aku tidak pernah memikirkan tindakan konyol itu. Kau mungkin tidak akan percaya dengan apa yang aku katakan. Tetapi sungguh, Arland nyaris tidak pernah kembali ke apartemen karena kesibukannya sendiri, dan aku hanya selalu mengatakan hal itu setiap kali Gabriella menanyakan keberadaan Arland." Sejenak menjeda kalimatnya. Starla mendengar sendiri suaranya yang kian bergetar beserta napasnya mulai tak beraturan. "Dan sungguh, aku benar-benar tidak menyadari sikap Gabriella saat itu. Aku selalu mengira dia datang hanya untuk mengunjungiku. Arland tidak pernah mengatakan bahwa mereka tengah menjalin hubungan, pun dengan Gaby. Mereka sama-sama menyembunyikan hubungan khusus mereka padaku."
Starla segera memutuskan pandangan tatkala setetes air mata itu melintas di salah satu pipinya. Tangannya bergerak gesit mengusap cairan sialan tersebut. Namun, apa yang ia lakukan rupanya tak cukup cepat. Andreas sudah terlanjur melihatnya.
Rasa tidak percaya itu tepat menumbuk hatinya. Tadinya ia berpikir bahwa yang dikatakan wanita ini adalah kilah semata, hanya sebuah kebohongan. Hanya sebuah akal bulus sebagai pengecoh agar bisa terbebas dari sangkar kebencian. Namun, semua penuturan itu terdengar jauh lebih tulus dan jujur, serta putus asa. Terus terang, Andreas begitu gugup, bahkan takut dan was-was akan kebenaran yang ada. Batinnya risau saat bayangan-bayangan penyesalan kian mengganggu pikirannya.
Karena kebenaran akan selalu terungkap meskipun semua telah terlambat. Kemudian, keterlambatan yang selalu menghasilkan sebuah penyesalan. Semua saling berkaitan, bukan?
"Bolehkah saya menanyakan satu hal, Nyonya?" tanya Andreas setelah berdeham samar.
"Tanyakan saja," gumam Starla dengan nada yang lirih.
__ADS_1
Andreas kembali berdeham pelan. "Apakah ... apakah Anda membenci tuan Skylar?"
Ia tidak tahu mengapa pertanyaan bodoh itu berkelebat di dalam benaknya secara tiba-tiba, lalu meronta dan meneriakkan protes agar segera dikeluarkan tanpa harus menunggu lama. Andreas yakin, bahkan anak kecil berusia tujuh tahun pun akan tergelak keras seandainya pertanyaan itu terdengar langsung oleh mereka.
Bibir Starla mengulas senyuman getir. "Aku pernah jatuh cinta. Cinta pertama tentu saja. Lelaki itu adalah kakak dari sahabatku sendiri. Tulus dan penuh kasih sayang. Aku menyukai senyumnya yang hangat. Aku menyukai caranya berbicara, dan aku sangat menyukai cara dia menatapku. Oh, apa kau tahu? Tidak ada yang tahu bahwa aku sedang jatuh cinta padanya, saat itu. Bahkan sahabatku sendiri tidak menyadarinya ketika aku selalu menanyakan apa pun yang berhubungan dengan pria itu."
Dahi Andreas berkerut dalam yang membuat Starla terkekeh ringan sebelum menjulurkan telunjuknya. "Kau ingat seminggu yang lalu saat kau menghampiriku di kursi itu?"
"Ya," balas Andreas setelah mengikuti arah telunjuk Starla mengarah ke arah mana.
"Saat itu, kau mengajukan beberapa pertanyaan padaku, bukan? Kurasa aku baru saja menjawabnya sekarang."
Lagi-lagi pria itu tercengang saat mendengar jawaban tersebut.
"Dan ...." Ia memberanikan diri untuk kembali bersuara, berusaha memecah keheningan yang sempat menguasai keduanya. "Apakah perasaan itu masih ada?"
"Tidak lagi," jawab Starla dengan nada tegas. Kebencian serta kekecewaan terpancar jelas ketika Starla menatap lelaki itu lekat-lekat, lalu menggeleng pelan. Hatinya melengos saat kembali mengingat jawaban singkat yang dia lontar kan pada Skylar kemarin malam. "Semua perasaan itu hilang hanya sekelip mata, sejak pertama kali dia meretakkan kehidupanku. Aku membenci pria itu. Sangat-sangat membencinya seumur hidupku."
Dan pada akhirnya, jawaban itu berhasil membuat Andreas kehilangan kata-kata.
__ADS_1