
Tidak ada satu patah kata pun yang terlontar sejak kepergian mereka dari tempat itu. Suasana di dalam mobil terasa semakin mencekam sebelum akhirnya Starla memulai pembicaraan yang tentu saja hal tersebut adalah kali pertama yang ia lakukan.
"Ariana ...." Wanita itu meneguk air liurnya dengan kasar sebelum kembali melanjutkan. "Apa sebenarnya kalian memiliki hubungan khusus?"
Ia tidak peduli. Kali ini, ia benar-benar tidak peduli bagaimana pandangan Skylar terhadap dirinya setelah pertanyaan itu terlontar dengan mulus tanpa tahu malu dari bibirnya. Starla tidak mengerti dengan hatinya saat ini. Pertanyaan itu terlontar begitu saja saat benaknya terus membayangi kejadian tadi. Salahkah? Salahkah dirinya yang menanyakan hal itu pada suaminya sendiri? Batinnya kini tertawa miris ketika pertanyaan itu terlintas di benaknya.
"Bukan urusanmu!"
Starla tersenyum getir saat jawaban itu menyapa indra pendengarannya. Ah, miris sekali. Benar-benar memalukan.
Namun, ucapan Skylar rupanya masih belum berakhir. Ia berdeham pelan sebelum kembali melanjutkan.
"Lagi pula, kenapa kau menanyakan hal itu? Kau cemburu?"
"Ya."
Pria itu nyaris kehilangan konsentrasi saat mendengar jawaban itu. Terdengar ringkas memang, tetapi entah mengapa satu kata itu mampu membuatnya menegang. Jantungnya seakan menggelinjang, mencari jalan keluar dan meninggalkan tubuhnya saat itu juga. Sejenak, ia mengarahkan wajahnya pada Starla yang tampak tenang di sebelahnya. Ia merasa paru-parunya semakin mengecil, menyulitkan dirinya untuk mengambil pasokan udara dengan baik.
Dan setelah itu, tidak ada lagi perbincangan lain. Skylar memilih bungkam, membiarkan jawaban Starla menyatu dengan udara. Membiarkan suasana keheningan kembali menggelayuti keduanya, pun dengan Starla yang bergeming di tempatnya. Seakan tidak terjadi apa-apa. Perempuan itu mencoba menenangkan hatinya yang menangis. Meratapi kehidupannya yang sungguh memalukan dan menyedihkan.
Hingga beberapa menit kemudian mereka tiba di pekarangan parkir mansion. Mengabaikan satu sama lain. Skylar membiarkan dirinya berjalan lebih dulu. Tanpa mengetahui Starla yang berjalan tertatih di belakang tubuhnya.
"Bisakah kau—" ucapannya terhenti saat ia berbalik dan melihat Starla yang tampak berdiri lemah tak jauh dari pintu utama. Kernyitan di dahinya terlihat begitu jelas. Ia melangkah hati-hati mendekati Starla yang membuat wanita itu memberingsut mundur. Pandangannya tertuju pada wajah lemah sang istri. Starla berusaha melindungi wajahnya ketika pria itu mengulurkan tangannya, mengira bahwa Skylar akan menyakitinya. Tetapi, tidak. Rupanya lelaki itu hanya menghapus cairan merah yang menetes dari hidup Starla tanpa wanita itu sadari.
Dan Skylar tentu saja sudah mengetahui apa yang akan terjadi. Lelaki itu dengan sigap menyangga tubuh ringkih Starla ketika wanita itu tampak semakin lemah lalu terjatuh di atas kedua lengannya.
__ADS_1
****
Skylar tergopoh menapaki anak tangga satu per satu beserta tubuh Starla yang terkulai lemah di kedua lengannya. Sesekali menunduk untuk melihat wanita itu, pucat pasi dengan bibir kering yang memutih. Darah segar masih terus menerus mengalir dari dalam hidungnya. Tangannya terulur bergetar saat ia berusaha membuka pintu kamar, lalu meletakkan wanita rapuh itu ke atas tempat tidur miliknya dengan hati-hati setelah menata beberapa bantal hingga tersusun dua.
Napasnya memburu tak kala lelaki itu kembali menegakkan tubuh dan memilih berdiri tepat di sisi tempat tidur. Skylar bergeming, sementara sorot matanya tidak teralihkan dari wajah Starla yang terbaring tak berdaya di atas sana. Dahinya berkerut samar setelah menyadari apa yang baru saja ia lakukan. Menolong wanita itu dan membaringkannya dengan gerakan penuh kehati-hatian.
Batinnya tak henti-hentinya menghardik ketika ada satu kenyataan yang tidak mampu dia pungkiri. Kenyataan bahwa dirinya baru saja merasakan sebuah kekhawatiran yang luar biasa. Tepatnya saat ia tanpa sengaja melihat sebegitu banyaknya cairan merah pekat yang mengucur dari hidung Starla. Skylar tidak pernah sepeduli ini, tidak sekalipun jika tangannya sendiri yang selalu berhasil menciptakan luka kecil pada tubuh Starla hingga mengeluarkan sedikit darah ataupun menimbulkan bekas kebiruan yang bertahan berhari-hari. Akan tetapi, entah mengapa rasa iba itu tiba-tiba timbul tanpa seizinnya.
Skylar menghela udara sedalam mungkin, mengatur napasnya yang terasa berat, berharap bahwa dengan demikian, ia dapat melenyapkan semua bentuk kepedulian serta ketakutan yang menghantamnya akan kondisi wanita itu. Menyingkirkan rasa pengkhianatan yang kini semakin merambat ke seluruh jiwanya. Pria itu memutar tubuh dan melangkah ke arah pintu setelah berhasil mengendalikan diri, hendak meninggalkan Starla yang masih dalam keadaan tidak sadarkan diri dengan darah yang nyaris memenuhi setengah dari wajah pucatnya. Apa pun yang terjadi pada wanita itu, dia tidak akan pernah peduli.
Namun kini, apa yang Skylar kehendaki rupanya tak sesuai dengan kenyataan yang ada. Lelaki itu berbalik arah ketika ia nyaris mencapai pintu, kembali membawa dirinya mendekati sang istri. Langkahnya mantap sembari merogoh saku celana dan mengambil ponsel dari dalam sana.
"Panggilkan dokter! Starla jatuh sakit dan pingsan. Segera!" titahnya cepat dan tak terbantahkan pada Andreas di seberang sana.
Pria itu bahkan belum sempat melontarkan satu jawaban pun saat Skylar memutuskan sambungan telepon secara sepihak.
Ia menyerah, benar-benar menyerah akan batinnya yang tanpa henti meronta dan meneriakkan kata-kata kekhawatirannya pada wanita itu. Hingga pada akhirnya, untuk kali ini, ia lebih berpihak pada hatinya lalu meninggalkan sikap egoisnya jauh ke belakang. Benar-benar hanya untuk kali ini.
Skylar kembali meraih ponselnya setelah nyaris melupakan sesuatu.
"Dokter wanita. Kau mengerti?"
Sesaat, pria itu terdiam untuk mendengar tanggapan Andreas di seberang telepon.
"Siapa pun itu, aku tidak ingin jika dokter pria yang menanganinya!"
__ADS_1
****
Dokter yang datang untuk memeriksa kondisi Starla terlihat cukup baik. Wanita itu tampak lebih tua hanya beberapa tahun dari usia Skylar. Garis wajahnya lembut dan tulus. Ia juga banyak tersenyum saat berinteraksi dengannya.
Ketika dokter Jessie tengah memasukkan peralatannya ke dalam tas hitam bawaannya, Skylar memulai suara yang membuat wanita itu sejenak menghentikan gerakan.
"Apa yang terjadi?"
"Tidak ada masalah dengan kesehatan istri Anda," kata dokter Jessie pada pria itu sembari melanjutkan kegiatannya.
Skylar mengernyit samar. "Lalu?"
Tawa kecil sang dokter terdengar ketika pertanyaan tersebut menyapa indra pendengarannya. Wanita itu menatap Skylar yang berdiri di seberang tempat tidur.
"Anda tenang saja dia hanya kelelahan. Biarkan dia beristirahat."
Pria itu bergeming dan memilih untuk bungkam.
"Hubungi saya jika hal ini kembali terjadi, saya permisi dulu," lanjutnya kemudian pamit untuk pergi.
Dokter Jessie akhirnya beranjak dari kamar itu setelah mendapat anggukan ringan dari Skylar.
Tatapan dalam yang tak terbaca milik Skylar kini mengarah pada Starla yang masih tergeletak tak berdaya di atas ranjang. Ia membungkuk lalu menarik selimut, menyelimuti tubuh dingin dan lemah sang istri sebelum tangannya bergulir ke pipi tirus itu, menelusurinya pelan dengan jemarinya sementara batinnya terus menegaskan bahwa wanita itu baik-baik saja. Dokter sendirilah yang mengatakannya. Ya, Starla tentu akan baik-baik saja. Wanita itu tidak akan mati membusuk hanya karena beberapa tetesan darah merebak dari dalam hidungnya, bukan?
"Baiklah, kau boleh beristirahat di kamarku," bisiknya pelan namun tajam di atas wajah Starla. "Jangan mengira aku luluh. Kau musuhku dan akan tetap hancur di tanganku. Anggap ini adalah imbalan untukmu, musuhku yang rupanya telah berhasil membuatku khawatir."
__ADS_1
Lama pria itu menatap wajah Starla sebelum akhirnya berbalik lalu meninggalkan kamar dalam keadaan redup dan tenang. Membebaskan hatinya yang berkhianat dan berharap agar wanita itu tertidur pulas malam ini.