
"Kondisinya sudah membaik, tetapi dia masih harus beristirahat dan berbaring beberapa hari di sini. Saya belum bisa merekomendasikan dia dibawa pulang seperti permintaan Anda, Tuan Skylar." Ekspresi dokter Alex berubah serius meskipun masih penuh senyum. "Itu akan berbahaya untuknya. Kepalanya terbentur sangat keras dan guncangan sekecil apa pun akan membuatnya mual dan muntah bahkan kesakitan. Anda tentu tidak ingin hal itu terjadi padanya, 'kan?"
"Berapa hari sampai dia bisa normal kembali, Dokter?" Skylar membicarakan Starla seolah-olah Starla tidak ada di ruangan itu.
Dokter Alex tampak menghitung. "Maksimal tujuh hari, tetapi tidak menutup kemungkinan kalau kurang dari tujuh hari perkembangannya sudah membaik, kami akan merekomendasikannya untuk bisa dirawat di rumah."
Skylar tercenung. Tujuh hari? Dan Starla bukan di dalam area retorisnya? Tidak. Skylar tidak akan membiarkan wanita itu tetap di sini, Starla bisa dirawat di rumah dan ia bisa mengawasi langsung. Di samping itu, Starla juga bisa terbebas dari bahaya yang mengancam dari pembunuh bayaran dan Gavino. Skylar harus cepat-cepat membawa Starla pulang ke rumah.
"No!" ucap Skylar cepat, yang membuat dokter Alex maupun Starla seketika menoleh ke arahnya. "Aku tidak akan membiarkan istriku berada di sini. Aku minta dia dirawat di rumah saja."
"Tetapi—"
"Jangan membantahku. Ini adalah perintah!" potong Skylar. "Persiapkan segalanya, karena sebentar sore aku akan membawanya pulang. Dan siapkan juga dokter berpengalaman untuk merawatnya di rumahku, biar istriku melakukan perawatan di rumah saja."
Mau tidak mau, dokter Alex mengangguk pelan. "Baiklah, Tuan. Seperti permintaan Anda, Nyonya Starla akan dirawat di rumah dengan dokter berpengalaman yang akan merawatnya. Aku akan mempersiapkan segalanya, Tuan Skylar." Dokter muda itu beralih ke arah Starla. "Saya yakin Anda akan segera sembuh." Senyumnya secerah Matahari memancar lagi, membuat Starla terpesona, bahkan setelah dokter Alexa pergi.
Skylar menatap Starla dan mencibir. "Jangan bermimpi!" desahnya kesal.
Starla menatap Skylar dan mengernyit. "Apa maksudmu?"
"Kau menatap dokter itu dengan tatapan bodoh dan terpesona, seperti perawan yang melihat lelaki pertamanya ... oh maaf!" Senyum Skylar benar-benar mengejek. "Aku lupa kalau kau sudah tidak perawan dan akulah lelaki pertamamu."
Starla benar-benar marah kepada Skylar, lelaki itu benar-benar perpaduan dari semua yang dia benci, kurang ajar, tidak sopan dan sangat kasar. Mungkin karena itulah Tuhan menciptakannya dengan kesempurnaan fisik yang luar biasa, untuk mengimbangi sifat buruknya.
"Kenapa kau menolongku?" tanya Starla mengalihkan pembicaraan, setelah teringat kenapa dia bisa berada di sini dan masih bisa diselamatkan.
Skylar duduk di kursi sebelah Starla dan menatapnya datar. "Kenapa? Apa kau ingin mati?"
Mati? Sebuah kalimat yang begitu menakutkan untuknya. Tetapi akhir-akhir ini, kalimat itu adalah makanan sehari-hari untuknya. Pria di depannya itu terlalu mudah melontarkan kalimat-kalimat mengancam dan ingin membunuhnya. Dan ya, Starla mungkin saja akan lebih memilih mati, daripada hidup bersama Skylar.
__ADS_1
Starla membuang pandangan, mengabaikan air matanya yang kembali terjatuh dengan tidak tahu malunya. "Ya!" jawabnya dengan nada gemetar.
Semua yang dilakukan oleh Starla, menjadi perhatian Skylar. Pria itu melihat bagaimana Starla yang berusaha menyembunyikan air matanya, tetapi tetap saja Skylar bisa melihatnya dengan jelas.
"Sayangnya, kau hanya perlu mati dengan tanganku sendiri, dan aku tidak akan membiarkan kau mati dalam kecelakaan ini."
Air mata Starla semakin mengucur deras. "Baiklah, lakukanlah apa yang menurut kamu baik, Skylar."
Keduanya terpenjara dalam keheningan. Hingga kemudian, Starla menggeram. Kepalanya berdenyut-denyut, seperti ditusuk dengan tongkat besi. Dia kemudian meringis dan memegang kepalanya.
Ekspresi Skylar langsung berubah. Lelaki itu berdiri dari kursinya dan setengah duduk di ranjang, memeluk Starla. "Star? Kau kenapa? Starla ...."
"Kepalaku ... kepalaku sedikit sakit. Aku tidak apa-apa."
"Berbaringlah." Skylar membantu merapikan bantal-bantal di belakang Starla, lalu dengan pelan membaringkan wanita itu ke ranjang.
Starla memejamkan matanya, merasakan denyutan itu mulai mereda, dan mendesah.
Starla menarik napas panjang dan membuka mata, menemukan wajah luar biasa tampan itu menatapnya dengan cemas, benar-benar cemas, bukan sesuatu yang dibuat-buat.
"Sudah sedikit lebih baik," jawab Starla dengan nada mencicit.
Skylar memberi anggukan. "Berbaringlah. Kalau keadaanmu memang belum membaik, mungkin sebaiknya kau dirawat di sini saja, dan perawatan di rumah aku batalkan saja. Bagaimana?"
Starla menggeleng. Sebenarnya dia kurang nyaman berada di rumah sakit terlalu lama. Meskipun rumah Skylar juga bukan tempat terbaik dan aman untuknya, tetapi paling tidak di sana ada Jeane yang sudah seperti ibu baginya. Dan Starla sudah merindukan wanita paruh baya itu.
"Aku dirawat di rumah saja, Skylar. Aku kurang nyaman berada di rumah sakit ini."
Skylar menatap Starla dengan lekat, kemudian kembali bersuara, "Baiklah. Kalau seperti itu kau harus beristirahat. Dan sebentar sore kita pulang ke rumah."
__ADS_1
Raut wajahnya begitu berbeda dengan kalimat-kalimat menyakitkan yang selalu dia lontarkan. Apakah Skylar benar-benar cemas? Tetapi bagaimana mungkin? Bukankah lelaki ini adalah lelaki kejam yang ingin balas dendam padanya dan berniat membunuhnya dengan tangannya sendiri?
Tetapi ingatan Starla kembali pada malam kecelakaan itu sekarang terpatri jelas dalam ingatannya kalau Skylar benar-benar merengkuhnya malam itu, memeluknya erat-erat dan menahan guncangan-guncangan untuk melindunginya. Mungkin kalau bukan karena dipeluk oleh Skylar, tubuh Starla sudah terlempar, dan bukan hanya kepalanya saja yang terluka. Malam itu, Skylar jelas-jelas melindunginya.
Bukankah sudah jelas? Pertanyaan-pertanyaan itu sudah dijawab langsung oleh Skylar. Pria itu bersusah payah menolongnya hanya karena tidak ingin dirinya mati di tangan orang lain dan bukannya di tangan Skylar sendiri. Ya, begitu kejamnya seorang Skylar.
Hening sejenak, kemudian Skylar menghela napas. "Istirahatlah, kalau kau perlu apa-apa, kau tinggal menekan tombol di dekat ranjang."
Dan kemudian Skylar pergi menutup pintu dengan pelan dari luar. Meninggalkan Starla seorang diri dalam kegamangan.
****
Skylar menyandarkan tubuhnya di dinding dan memijat dahinya yang berdenyut, dadanya terasa sakit dan nyeri. Ia tidak tahu rasa sakit itu bersumber dari mana, dan ia sama sekali tidak ingin mencari tahu. Rasanya dia sudah menjelma menjadi pengkhianat, menjadi pria yang begitu munafik. Dia berdosa, dia telah bersalah kepada Angela-nya.
Hanya saja, melihat Starla kesakitan hampir membuatnya meledak dalam kecemasan, dan itu semua karena musuh-musuhnya yang hendak mencelakainya, tetapi malah Starla yang berhasil mereka celakai.
"Apakah semua baik-baik saja, Tuan?" Andreas muncul, dia memang sedang bertugas berjaga di sana dan cemas melihat Skylar hanya bersandar di pintu.
Skylar menoleh, menatap Andreas dan mengenyit. "Ah ya, dia baik-baik saja. Hanya tadi ada serangan di kepalanya dan dia kesakitan."
"Apa Anda khawatir, Tuan?"
Khawatir? Apakah dia memang khawatir kepada musuhnya itu? Tetapi kenapa, seharusnya dia bahagia melihat musuhnya itu menderita dan tersiksa. Kenapa?
"Omong kosong apa yang sedang kau ucapkan itu, Andreas!" geram Skylar dengan kasar. Sama sekali tidak ingin memperlihatkan kekhawatirannya itu pada Andreas.
Pria itu malah terkekeh. "Berarti aku telah salah lihat, Tuan. Maafkan aku!" ucapnya dengan nada jahil.
Skylar menggeram. "Persiapkan kepulangan Starla. Aku rasa di sini bukan tempat yang aman bagi Starla di rawat."
__ADS_1
Andreas mengangguk. "Baik, Tuan Skylar."