
"Diam!"
Mata Starla terbelalak takut saat suara pria itu terdengar dari atas kepalanya. Dan ia tahu, lelaki itu bukan Skylar. Tangan-tangan kecilnya mulai bergerak berusaha menjauhkan lengan besar yang berlingkar sempurna di perut wanita itu.
Skylar ....
"Tenanglah, aku tidak akan menyakitimu."
Kalimat panjang berupa bisikan itu membuat pergerakan tangannya berhenti seketika. Dengan deru napas pendek yang tersengal karena rasa takut, Starla meyakinkan dirinya bahwa dia mengenal suara itu. Suara yang tidak asing di indra pendengarannya.
Sesaat, Starla terdiam dan tidak melawan. Wanita itu hanya mengikuti arah langkah yang ditentukan pria itu. Namun, dari penglihatan minim akibat air matanya yang menggenang, ia dapat melihat lelaki ini membawanya ke sayap kiri gedung, tidak jauh dari toilet yang berniat ditujunya tadi.
Setelah langkah mereka terhenti, pria itu melepaskan tangan-tangannya, lalu berpindah ke bahu Starla dan membalikkan tubuh mungil itu.
"Mr. Xander?" pekik Starla saat mengetahui siapa lelaki yang tadinya dia kira adalah orang jahat yang berniat melukai dan menculiknya.
"Ya, ini aku." Napas pria itu tersengal. "Oh Tuhan! Akhirnya aku menemukanmu, setelah sekian lama aku mencari-carimu, Star."
Kedua bola mata Starla membelalak. "Anda mencariku, Sir?"
Xander mendesah pelan, kemudian mengangguk. "Tentu saja! Kau tiba-tiba menghilang, tidak pernah datang ke kantor tanpa kabar. Tetapi syukurlah akhirnya aku bisa menemukanmu di sini. Terima kasih, Tuhan!"
Starla melihat jelas gurat wajah Xander yang menunjukkan raut wajah yang lega. Seakan-akan memang sangat bahagia melihat dirinya baik-baik saja di sini. Jadi, benarkah Xander mencarinya selama ini?
"Kau tidak apa-apa?" tanya Xander kembali.
__ADS_1
"T—tentu saja aku tidak apa-apa. Tetapi—" ucapan Starla terpotong ketika Xander tiba-tiba menarik tubuhnya, dan mendekapnya begitu erat.
Starla merasa tidak nyaman dengan perlakuan Xander yang begitu tiba-tiba memeluknya. Oleh karena itu, Starla mencoba memberontak dan berusaha melepaskan diri dari rengkuhan Xander.
"Biarkan seperti ini, Starla!" gumam lelaki itu, sembari semakin mempererat pelukannya.
Xander memejamkan matanya. Entah perasaan apa yang pria itu rasakan, dia sendiri pun tidak tahu. Rasa bahagia dan cemas yang secara bersamaan menggerogoti hatinya. Bahagia karena ia akhirnya menemukan gadis yang dia cari selama ini. lalu cemas karena ....
Pria itu melepaskan pelukannya lalu menunduk untuk menatap Starla lekat. "Star, kau ... Skylar ...."
Demi Tuhan, Xander bahkan tidak tahu ingin memulai pembicaraan dari mana. Semuanya terlalu begitu kebetulan untuknya. Dan rasanya ia tidak bisa mempercayai dengan apa yang baru saja dirasakan dan dilihatnya saat ini.
" Skylar?" tanya Starla bingung.
"Kau dan Skylar ...." Tangan Xander bergerak mencengkeram kedua bahu Starla, pria itu menarik napas dalam-dalam dan mulai bertanya. "Kau mengenal Skylar? Apakah ... apa dia suami kamu? Kalian sudah menikah?"
Sebenarnya tanpa perlu bertanya pun, Xander sudah mengetahui jawaban itu. Tetapi ia benar-benar ingin meyakinkan semua apa yang ada di dalam pikirannya saat ini. Semuanya benar-benar terlalu mengejutkan. Terlalu kebetulan untuk apa yang dilihatnya tadi saat melihat Skylar memasuki gedung ini bersama Starla.
Starla hanya bisa menegang di tempatnya tanpa bisa mengeluarkan satu patah kata pun untuk memperjelas kalimat Xander. Memangnya apa yang harus dikatakan oleh Starla? Apa dia harus dengan bangga memberitahukan bahwa dia seorang istri dari Skylar Aleandro Wolves? Sungguh, itu bukanlah sesuatu yang membanggakan, justru itu adalah musibah harus berurusan dengan iblis pencabut nyawa itu.
"Aku tadi melihatmu bersamanya dan ... dan—"
Penjelasan Xander terputus ketika mendengar suara berat yang memaksa masuk di antara mereka.
"Sudah cukup bernostalgianya?"
__ADS_1
Skylar melangkah dengan wajah tenangnya, namun tetap terlihat menyeramkan bagi Starla. Pandangannya jatuh pada iris coklat Xander yang juga tengah menatapnya tidak bersahabat.
"Aku pikir sudah cukup. Kau juga sudah tahu, bukan?" kata Skylar lalu menggamit pinggang Starla, menjauhkan tubuh sang istri dari hadapan Xander. Memperlihatkan kepada pria itu bahwa wanita yang diharapkannya kini sudah menjadi miliknya seorang. Tatapan membunuh yang dilayangkan Skylar itu sama sekali tidak teralihkan dari wajah Xander yang mulai menggelap. "Jadi, sudah waktunya kita pergi, istriku."
Suara beratnya yang tenang itu mampu membuat Starla tidak bisa berkutik. Tubuhnya menegang seketika. Tangan Skylar yang melingkar di pinggangnya pun terasa seperti seekor ular yang tengah membelit kuat dirinya hingga tidak mampu bernapas dengan normal.
Xander mengalunkan suaranya saat melihat Skylar yang mulai beranjak pergi dengan Starla di sisinya. "Ke mana kau akan membawanya, Skylar?"
Skylar menoleh sekilas. "Ke mana pun, itu bukan urusanmu," balas Skylar seraya melemparkan tatapan tajamnya pada Xander.
"Jangan sakiti dia, Sky" pinta Xander dengan suara seraknya. Matanya sama sekali tidak meninggalkan wajah pucat Starla. Ia tahu benar bahwa perempuan itu sangat ketakutan dengan suasana mencekam seperti ini.
Kilasan-kilasan pembicaraannya dengan Skylar beberapa waktu yang lalu menghantuinya. Ucapan-ucapan yang dilontarkan oleh Skylar yang berniat menyiksa wanita itu membuatnya sadar kalau wanita yang dimaksud itu adalah Starla. Dan dia semakin ketakutan dan khawatir bersamaan, melihat ketakutan yang terlihat jelas dari wajah Starla. Benar-benar terlihat bahwa selama ini dia memang hanya terpaksa dan tersiksa hidup bersama Skylar.
Oh Tuhan! Xander harus bisa membebaskan Starla dari cengkeraman Skylar, sang pendendam.
"Apa pun yang akan kulakukan, itu sama sekali bukan urusanmu, Xander. Haruskah aku menjelaskan bahwa dia adalah istriku?" tanya Skylar yang mampu membuat Xander menegang. "Tidak ada yang berhak mengatur atau melarangku untuk berbuat apa pun padanya, meskipun ternyata dia adalah gadis yang selama ini kau cari. Dia sudah menjadi milikku. Gadis impianmu sudah menjadi istri seorang Skylar."
"Dan aku ingatkan sekali lagi, Xander. Jangan coba-coba bermimpi untuk memiliki Starla, sampai kapan pun tidak akan aku biarkan hal itu terjadi. Dia milikku dan selamanya akan menjadi milikku. Jadi aku sarankan, lebih baik kau melupakannya atau kau akan berhadapan denganku!" lanjut Skylar kembali menambahkan kalimatnya yang sarat akan ancaman. Skylar tidak peduli lagi dengan persahabatan mereka yang sudah terjalin dengan erat, dia tidak akan tanggung-tanggung membunuh siapa pun yang berani mengusik hidupnya, terlebih lagi berpikir untuk menggagalkan rencananya.
Pria itu tak mampu berkata-kata lagi. Lidahnya kelu mendengar kenyataan itu. Ia membenarkan semua perkataan Skylar. Xander sudah tidak berhak ikut campur dalam masalah mereka. Sekalipun itu demi melindungi sang gadis pengisi hatinya selama ini. gadis itu sudah menjadi milik sah Skylar. Lalu apa yang harus dia lakukan?
Tetapi, bagaimana mungkin Xander bisa menyaksikan seorang Skylar menghancurkan Starla di depan matanya? Bagaimana Xander harus membebaskannya, setelah menyadari semua perkataan Skylar itu benar semua. Oh Tuhan, hanya engkau yang bisa menolong Starla dari cengkeraman Skylar.
Xander mengerjap pelan seraya menatap nanar pada Starla yang tengah ditarik paksa oleh sahabat yang sepertinya sudah menjadi rivalnya mulai saat ini.
__ADS_1