
Ketika Starla terbangun, yang dirasakannya pertama kali adalah rasa sesak di dadanya. Dia menggeliat panik, mencoba menarik napas sekuat-kuatnya, dalam usahanya mencari oksigen sebanyak-banyaknya.
"Tenang, kau sudah ada di daratan. Kau bisa bernapas secara normal." Suara Skylar membawa Starla kembali pada kesadarannya.
Dengan waspada dia menoleh dan mendapati Skylar sedang duduk di tepi ranjangnya. Starla beringsut menjauh sejauh mungkin dari Skylar dan tingkahnya itu memunculkan secercah cahaya geli di mata Skylar.
"Apakah kau takut padaku setelah kejadian tadi? Di mana mulut cerewetmu itu menghilang?" Nada geli pun tersamar dalam suara Skylar.
Kurang ajar, batin Starla dalam hati. Dia baru saja berjuang mempertaruhkan nyawa, dan lelaki ini malah duduk di sini dan menertawainya.
Tetapi, apakah benar Skylar yang terjun ke kolam waktu itu dan menyelamatkannya? Kenapa? Bukankah jelas-jelas dalam kemarahannya Skylar sudah memutuskan untuk membunuhnya? Kenapa lelaki ini malah berubah pikiran?
"Ya, aku memang menyelamatkanmu." Skylar bergumam seolah-olah bisa membaca pikiran Starla. "Tetapi itu bukan demi dirimu, itu demi kepuasanku."
Starla menatap Skylar geram. "Apa maksudmu?"
Dalam keadaan lemah, Starla berusaha bangun dari pembaringan untuk menghindari apa pun yang ada dalam niatan Skylar.
Melihat hal itu, Skylar terkekeh. Dengan tidak sabaran mendorong tubuh Starla hingga kepala dan punggungnya terbentur keras di kepala ranjang.
"Apa yang akan kau lakukan? Jangan sentuh aku!"
"Sesuatu yang membuatmu menyesali perbuatanmu seumur hidup!"
Suara Skylar membuatnya merinding hebat. "Aku tidak mau. Kau menjijikkan!"
"Kau akan mau."
Starla semakin memberontak ketika salah satu tangan Skylar mulai bermain ke dalam gaun tidurnya. Ia memukul keras lengan kekar pria itu. Namun, semuanya tidak berarti apa-apa, Skylar tetap berhasil. Tangannya bahkan sudah merambat masuk hingga ke dadanya. Tetapi entah kekuatan dari mana yang Starla dapatkan. Ia berhasil memukul wajah Skylar dan menendang perut laki-laki itu dengan lutut kecilnya, sehingga membuatnya sedikit terhuyung ke belakang. Hanya sedikit. Dan apa yang baru saja ia lakukan itu justru membuat Skylar semakin geram.
__ADS_1
"Kau akan menyesalinya."
Pria itu benar-benar tidak percaya dengan kekuatan istri kecilnya ini. Keadaannya yang masih lemah dan tubuhnya yang mungil bahkan dengan tangan-tangannya yang kecil, hampir membuatnya nyaris kalah. Dan sungguh, tidak bisa dipungkiri bahwa wanita itu tidak selemah yang dia pikirkan. Ia pikir Starla tidak akan kuat melawannya lagi setelah keadaannya yang lemah dan dibantai habis-habisan setiap malamnya. Namun, Skylar salah besar. Entah harus dengan cara apalagi untuk membuat Starla menunduk takut padanya.
Dengan tenang lelaki itu melepas dasinya, gerakannya pelan tetapi mengancam hingga tanpa sadar Starla bergidik ngeri dan kembali beringsut menjauh.
"Kali ini kau tak akan pernah bisa menolakku." Senyum di bibirnya tampak kejam.
Ketika Starla menyadari maksud Skylar semuanya sudah terlambat. Laki-laki itu mencengkeram kedua lengannya dengan satu tangan. Kekuatan Starla tidak sebanding dengan kekuatan tubuh Skylar yang besar dan kuat di atasnya. Dengan mudahnya lelaki itu mengikat kedua pergelangan tangannya dengan ikatan mati yang sangat rapi, lalu menalikannya di kepala ranjang.
"Kau ... kau mau apa?" Starla mulai panik ketika Skylar yang setengah duduk di atasnya membuka kancing kemejanya.
Senyum Skylar tampak penuh kepuasan melihat kondisi Starla yang tidak berdaya. Lelaki itu membuka seluruh kancing kemejanya sehingga dada dan perutnya yang berotot terlihat. Sejenak Starla terpana melihat kulit berwarna perunggu yang berkilauan bagai satin itu, tetapi kemudian dia sadar bahwa dia ada dalam kondisi genting. Dengan panik Starla mulai meronta dan menendang, sedapat mungkin bergerak untuk melepaskan diri.
Tetapi percuma, ikatan Skylar di tangannya sangat kuat, dan dalam kondisi terikat seperti itu, Starla benar-benar tidak berdaya.
"Puaskan aku sekarang!"
Dalam kondisi terikat tak berdaya, Starla melihat ketika Skylar melepas kemejanya dan setengah menindihnya. Mulutnya sangat dekat dengan bibir Starla, hingga napas mereka beradu, Skylar menundukkan kepalanya, mencium sisi leher Starla, membuat wanita itu berjingkat dan berusaha meronta lagi.
"Sshh ... kau akan menyakiti lenganmu kalau kau meronta-meronta terus seperti itu." Bibir Skylar merayap dan mendarat di bibir Starla. Lelaki itu mengecup sedikit ujung bibir Starla, lalu lidahnya menyelusup masuk, membuka bibir Starla yang lembut, mengecapnya dan merasakan seluruh tekstur bibir Starla yang hangat dan panas. Lidahnya mengait lidah Starla dan memainkannya dengan intensitas yang sangat ahli.
Ketika Skylar melepaskan bibirnya, napas Starla terengah-engah. Ciuman ini adalah ciuman yang paling intens yang pernah dirasakannya.
"Kamu menyukainya, bukan?" Skylar berbisik lembut dengan napasnya yang panas di telinga Starla. "Aku sangat menyukai bibirmu dan sensasi kelembutannya di bibirku." Tangan Skylar kemudian merayap ke bawah, meraba kulit leher Starla. "Seluruh tubuhmu hangat, Sayang. Seakan menggodaku."
Starla menggelinjang, mencoba meronta, tetapi tubuh kuat Skylar yang setengah menindihnya membuat gerakannya terbatas. Apalagi tangannya yang terikat ke atas, membuat lengannya terasa kram dan pergelangan tangannya yang ngilu ketika dia menggerak-gerakkannya.
Skylar melirik ke pergelangan tangan Starla yang terikat, dan menyadari bahwa ikatan itu menyakiti Starla. "Jangan bergerak-gerak, atau kau akan mengalami memar-memar ketika ini selesai."
__ADS_1
Setetes air mata kembali mengalir di sudut mata Starla, dia putus asa dalam usahanya untuk melepaskan diri.
"Jangan lakukan ini! Please …."
Mata Skylar sedikit melembut ketika mendengar permohonan Starla, tetapi kemudian senyumannya tampak mengeras.
"Aku hanya ingin membuatmu sadar di manakah tempat kau seharusnya berada, Star." Skylar membuka gaun Starla dengan gerakan pelan, membiarkan dada wanita itu terbuka bebas untuknya.
"Ini milikku." Skylar menyentuh tubuh itu dan menggodanya, menikmati ketika mendengar erangan tersiksa Starla. "Seluruh tubuhmu adalah milikku."
Starla melengkungkan punggungnya atas sensasi yang menyiksanya tanpa ampun. Dalam kondisi terikat dan tak berdaya, merasakan lelaki itu mencumbunya, dan menyiksanya dengan godaan-godaan yang sangat ahli, ada perasaan aneh yang menjalar di tubuhnya. Seperti gelenyar panas yang bergulung-gulung, terasa seperti arus listrik yang mengalir dari jemarinya, dan menjadi semakin panas ketika menyatu di pusat tubuhnya.
Dan jemari Skylar menyentuh ke sana dengan begitu ahli, memainkan Starla sesuka hatinya. Tubuh Starla meronta tak tahan akan alunan sensasi permainan jemari Skylar, tetapi lengan Skylar yang kuat menahan tubuhnya.
Kemudian bibir Skylar mengikuti jemarinya. Starla terkesiap merasakan hembusan napas panas di pusat tubuhnya. Seketika dia menegakkan tubuhnya dan tertahan oleh ikatan di pergelangan tangannya.
"Jangan!" teriaknya panik, mencoba merapatkan kaki, mencegah bibir Skylar menyentuhnya.
Tetapi lengan Skylar yang kuat menahannya, dan kemudian Starla melengkungkan punggungnya dan mengerang keras merasakan sensasi itu. Sensasi sentuhan bibir dan lidah Skylar di pusat tubuhnya, dengan hembusan napasnya yang panas. Panas bertemu panas dan dia terbakar. Pandangannya menggelap karena sensasi kenikmatan yang tak tertanggungkan.
"Semua bagian tubuhmu adalah milikku, Starla. Milikku!" Skylar mencumbu pusat gairah Starla dan menyatakan kepemilikannya.
Dan ketika Skylar selesai bermain-main, Starla sudah terbaring lemas dan tak berdaya dengan napas terengah-engah dan tubuh membara. Skylar menaikkan kembali tubuhnya dan mengecup lembut bibir Starla. Dada bidangnya menggesek dada wanita itu dan Starla merasakan tubuh Skylar yang begitu keras menyentuh pahanya dengan begitu menggoda seolah mengerti apa yang paling Starla inginkan. Skylar menempatkan dirinya dengan begitu tepat, seolah telah mengenal setiap jengkal tubuh Starla. Dan Starla merasakan tubuh Skylar yang keras dan panas menyatu dengan tubuhnya memberikan gelenyar kenikmatan yang makin menghujam.
"Starla." Skylar mengerang merasakan tubuhnya Starla yang panas, halus, dan membungkusnya dengan begitu erat. Menggodanya untuk mencapai kepuasan secepat mungkin.
Ketika Skylar bergerak, Starla mengerang. Semua ini terlalu nikmat untuk ditanggungnya, dia tak bisa menjangkau kesadarannya lagi, hampir frustasi karena pada akhirnya tubuhnya menyerah dalam pusaran gairah Skylar. Skylar menundukkan kepalanya, lalu mengecup sudut bibir Starla dengan posesif, menyatakan kepemilikannya, dan menghujamkan dirinya dalam-dalam.
"Kau milikku, Starla. Ingat itu baik-baik."
__ADS_1
Sedetik kemudian, Skylar membawa Starla melewati pusaran gelombang semakin dan semakin naik hingga guncangan kepuasan menerjang mereka berdua. Menyatukan mereka dalam satu titik kenikmatan.