Tawanan Sang Devils'

Tawanan Sang Devils'
Cunning


__ADS_3

Skylar menghantam kuat meja kerja dengan buku jarinya yang membuat seorang karyawan pria yang berdiri tepat di hadapannya tersentak kaget.


"Bodoh! Bagaimana bisa kau tidak mengeceknya terlebih dahulu?" bentaknya keras. Ia bangkit berdiri lalu melempar kasar map besar yang berisi kertas-kertas itu ke lantai.


Hening sesaat, lalu karyawan pria itu berdeham gugup. "Maafkan aku, Sir. Tidak ada seorang pun yang mengetahui isi dari map itu. Semua karyawan mengira bahwa itu adalah salah satu kiriman dari perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan ini."


"Dan kau juga dengan bodohnya menganggap seperti itu? Hanya Andreas satu-satunya orang yang berhak menerima berkas dari perusahaan lain. Tidak ada yang pernah menitipkan itu ke resepsionis bahkan sekretaris sekalipun. Kau sudah bertahun-tahun bekerja di tempat ini, tetapi kau masih belum tahu peraturannya, huh?"


Pria itu terdiam sesaat setelah suara sang atasan semakin meninggi dan berdenging di telinganya.


Pria itu menunduk penuh penyesalan. "Maafkan saya, Sir."


Skylar mendesah berat. "Keluarlah!"


Setelah karyawan itu keluar dan menutup pintu, Skylar menendang kursi kebesarannya dengan kasar. Jika saja ia tidak melihat isi yang tercantum di surat tersebut, mungkin perusahaan ini, yang sudah dirintisnya mulai dari bawah dengan bersusah payah sudah tidak ada apa-apanya lagi. Karena Skylar nyaris saja menandatangani surat penggelapan dana yang berasal dari Gavino.


Gavino Alejandro adalah musuh terbesar Skylar. Mungkin tidak bisa dikatakan begitu, karena sebenarnya Gavino-lah yang selalu mencari masalah dengannya. Laki-laki itu terlalu berambisi untuk menyaingi perusahaannya. Gavino bahkan sudah sangat sering berbuat curang hanya karena ingin menjatuhkan Skylar. Seperti saat ini, Gavino mengirimkan surat penggelapan dana di perusahaan miliknya sendiri, lalu dengan sengaja mengatasnamakan Skylar sebagai pelaku. Benar-benar sialan!


Skylar kemudian meraih ponselnya lalu menelepon seseorang.


"Kau benar-benar hebat, Gavin."


Terdengar kekehan remeh yang berasal dari seberang telepon.


"Ku sudah menerimanya? Baguslah," ucap Gavino di seberang sana dengan nada meremehkan.


Skylar mendengkus kasar. "Ya, aku sudah menerimanya. Terima kasih, karena sudah merepotkan diri untuk membuatnya. Surat itu sekarang sudah menjadi santapan tikus-tikus di tempat sampahku." Skylar mengatakannya dengan nada tenang.


"Ah, dan satu lagi. Sepertinya kau harus belajar lebih licik lagi sebelum berusaha menghancurkanku, Tuan Gavin," imbuhnya sebelum memutuskan sambungan secara sepihak.


Skylar benar-benar murka. Wajah tampannya tampak sangat mengerikan. Gavino sudah melewati batas, pria itu sungguh tidak pernah puas mengusik kehidupan Skylar. Padahal semua orang pun tahu, kalau dia sama sekali tidak bisa mengalahkan seorang Skylar Aleandro Wolves, tetapi pria itu terus saja berusaha, yang malah akan berakhir mempermalukan dirinya sendiri.


Sialan! Ini tidak bisa dibiarkan lagi.


Skylar sudah muak dengan apa pun rencana-rencana licik pria itu. Dan Skylar tidak akan membiarkan pria itu terus-terusan mengganggunya. ****!


Di lain sisi, setelah sambungan terputus, Gavino melempar ponsel yang sama sekali tidak bersalah itu ke sembarang arah. Ia menggerung marah dan dengan cepat melangkah melewati meja kerja lalu menghantam kuat orang kepercayaannya itu.


"Di mana otakmu, bodoh!?" teriak Gavino dengan kemarahan yang meletup-letup. "Dia tidak menandatangani surat itu. Bagaimana bisa kau mengatakan bahwa tugasmu itu sudah selesai, kalau ternyata semuanya sia-sia?"

__ADS_1


Pria itu terdiam, ia bahkan hanya menunduk, menghindari tatapan membunuh dari sang atasan.


"Kau tuli, huh?" berangnya lagi setelah kembali melayangkan tangan besarnya di rahang laki-laki itu.


Gavino mengalihkan tatapan membunuhnya ketika ia mendengar suara kekehan, dan mendapati seorang wanita yang tengah berdiri angkuh tepat di depan pintu. Entah sudah sejak kapan wanita seksi itu berdiri di tempat tersebut. Gavino lalu menyuruh pria yang baru saja menjadi sasaran amukannya untuk keluar dari ruangan.


Gavino mengernyit samar. "Ada apa?"


Pertanyaan yang baru saja terdengar berhasil membuat sang wanita tertawa sinis mendengarnya.


"Kau pernah mendengar kata 'brengsek'?" tanya wanita itu. "Itu kau, sialan!"


Jarinya terulur menunjuk pria yang dikatakannya sialan itu tepat di depan wajahnya. Dengan suara yang melengking keras, dipenuhi amarah yang besar.


Pria itu mendesah berat. "Apa maksudmu?"


"Kau penipu!"


"Penipu?" ulang Gavino mulai berang melihat perempuan itu bungkam dan hanya memutar bola mata. "God damn itu! Just talk to me. Now, *****!"


Wanita itu berdecih. "Aku menemuinya kemarin, dan laki-laki itu mengusirku begitu saja. Kau bilang dia masih menginginkanku. Namun, sepertinya dia sekarang sudah terlalu mencintai istri sialannya itu. Bukankah kemarin aku menjelaskan semuanya di telepon?"


"Bastard! Kenapa kau justru tertawa? Tidak merasa bersalah?"


"Kau ingin aku membantumu, Ariana sayang?" Pria itu bersedekap dan setengah membungkuk ketika ia membisikkan penawaran tersebut tepat di depan wajah Ariana sebelum kembali terkekeh ringan saat melihat kerutan halus di kening wanita itu. "Kerja sama. Aku dapat, kau pun seperti itu. Kau mengerti?"


Ariana mengamati raut wajah Gavino yang sepertinya tidak bermain-main dengan ucapannya. Alis wanita itu terangkat sinis sebelum bersuara, "Apa kau bisa dipercaya?"


"Kau bisa menilainya nanti."


Gavino mengatakan kalimat itu dengan percaya diri.


Dan jika masih tidak berhasil. Tidak ada pilihan lagi selain mengusik kelemahannya.


****


"Bagaimana Gavin dengan mudahnya lolos bersama surat itu?"


Andreas menyodorkan sebuah map coklat pada Skylar yang tengah menatap marah padanya. Malam semakin larut. Jam besar yang tergantung di ruangan kerja pribadi miliknya memberi suasana yang mencekam yang semakin menakutkan.

__ADS_1


"Itu—"


"Ya. Aku mengerti." Skylar mengangguk setelah melihat isi map tersebut.


"Sebelum Anda bertindak, Mr. Carl sudah lebih dahulu menyelidiki Gavin. Kita bisa mendapatkan informasi dari sana jika Anda setuju," kata Andreas kemudian.


Skylar menggeleng dan menyandarkan punggung pada sandaran kursi kerjanya.


"Untuk kali ini, aku tidak membutuhkan bantuan apa pun dari lelaki itu," sahutnya tenang. Kembali teringat apa yang dilakukan lelaki rekan bisnis sekaligus suami dari saudara sepupunya saat ia dan Gavino berada dalam konflik besar. "Aku bisa menanganinya sendiri."


Andreas mengangguk setuju. "Apakah Anda akan membunuhnya?"


Skylar melipat kedua tangannya di depan dada. Menatap mata kelam Andreas lekat-lekat seraya menjawab ringkas. "Ya."


Dan jawaban itu membuat Andreas tampak menegang di sana.


"Tetapi sebelum benar-benar terbunuh, aku ingin dia merasakan sedikit penderitaan karena telah berani mengusik kehidupanku," lanjutnya setelah hening beberapa detik.


Wajah dingin dan tegas itu benar-benar menunjukkan keseriusan. Dan Andreas tahu benar bahwa Skylar tidak pernah bermain-main dalam ucapannya.


"Bagaimana dengan Miss. Angela?"


Pria itu melemparkan tatapan tajamnya pada objek lain. Ia mendengkus pelan sebelum menjawab, "Aman. Aku sudah mengirim beberapa pengawal untuk mengawasi keadaan di sana."


Andreas kembali mengangguk. lalu teringat pada seseorang yang sudah sangat pasti akan menjadi sasaran lain untuk Gavino merecoki tuannya. Ia berdeham singkat sebelum mengeluarkan sebuah pertanyaan dengan ragu. "Lalu bagaimana dengan Mrs. Starla? Apakah ... Anda akan mengorbankan nyawa istri Anda?"


Sontak pertanyaan itu membuat Skylar mengarahkan iris tajamnya ke wajah Andreas. Ketegangan itu tersirat jelas di wajah tegas Skylar. Lalu dengan cepat ia menepis hingga kembali terlihat dingin dan tenang. Ia memang selalu pandai menyembunyikan ekspresi itu dengan baik, namun tidak untuk kali ini. Andreas menangkap jelas raut wajah cemas itu.


Sejak hampir sepuluh tahun mengenal Skylar, dan menjadi asisten pribadinya selama tujuh tahun terakhir, Andreas tentu sangat mengenal bagaimana lelaki itu. Bagaimana watak keras kepalanya. Bagaimana sikap dan sifatnya.


Tetapi sungguh, hingga detik ini, dirinya tidak pernah bisa menebak isi hati Skylar. Selalu tidak pernah terbaca. Terbungkus sempurna dengan wajah datar dan tenangnya.


"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Aku mempercayaimu untuk mengawasinya dengan baik. Perintahkan beberapa orang kepercayaan yang bisa mendampingimu!"


Titah yang baru saja terdengar berhasil membuat Andreas menghembuskan napas lega. Setidaknya, Skylar masih memiliki sedikit hati nurani untuk melindungi sosok wanita rapuh itu agar tidak terusik oleh musuhnya. Meskipun Andreas tahu bahwa pada akhirnya, wanita itu akan tetap menderita di dalam genggaman Skylar.


Dengan sigap, Andreas mengangguk setuju.


"Kau akan banyak membantu dalam misiku kali ini, Andreas. Dan aku bersumpah, pria itu benar-benar akan mati di tanganku."

__ADS_1


Suara itu terdengar menakutkan. Bagai janji dalam kegelapan yang begitu meyakinkan. Menguar terbang di udara bersama dinginnya malam, menyebarkan ketakutan. Dan Andreas bisa merasakannya.


__ADS_2