Tawanan Sang Devils'

Tawanan Sang Devils'
Cruel


__ADS_3

"Sekarang katakan, Starla. Apa kau masih tidak bersedia?"


Starla mendengar pertanyaan itu lalu membuka mata, masih setengah melayang. Ia melihat pria itu kini berdiri telanjang di hadapan Starla.


"Kau memang selalu menginginkanku. Tetapi kenapa kau harus terus berpura-pura dan bersikap munafik?" tanya Skylar dan bahkan terdengar sedikit geli.


"Aku tidak pernah menginginkan untuk disentuh olehmu, Skylar!" bantah Starla sambil menggelengkan kepalanya.


"Jadi, meskipun malam-malam panjang yang telah kita lewati, pemaksaan demi pemaksaan. Kau bahkan masih akan terus keras kepala untuk menolakku?"


"Ya."


"Sesukamu saja, Starla. Bersikaplah munafik untuk seterusnya."


Starla tak menduga kalau Skylar akan tetap memaksanya. Pria itu mencengkeram kedua tangannya dan menguncinya di atas kepala, sehingga Starla sama sekali tidak bisa bergerak untuk melawan kekuatan pria itu.


"Aku tidak mau, Skylar. Apa kau akan tetap memaksaku?"


"Tentu saja kau akan bersedia. Kau pembohong kecil, tubuhmu basah menginginkanku."


Mendengar hal itu, Starla nyaris mati karena malu. Tetapi sampai mati pun, ia tak akan mengakuinya.


"Lepaskan aku, sialan!"


Ia terengah terkejut saat Skylar mendekat ke antara kedua kakinya dan menekankan dirinya di sana. "Apa kau benar-benar masih tidak bersedia?" desak pria itu.

__ADS_1


Starla menggeleng keras. "No!"


"Kau memang wanita munafik, Starla." Skylar tidak menunggu, pria itu tak memberi peringatan, dia tak ragu saat menghujamkan tubuhnya ke dalam tubuh Starla dengan keras. Sama seperti percintaan mereka yang sebelum-sebelumnya.


****


Pagi itu, Starla yang baru saja keluar dari kamar mandi setelah melakukan ritual paginya. Namun, saat kakinya baru melangkah keluar, ia sudah dikejutkan oleh lemparan benda kecil namun cukup menyakitkan tepat mengenai atas dadanya.


Pelakunya tentu saja si iblis itu, Skylar Aleandro Wolves. Pria yang kini sudah memberinya tatapan tajam dengan emosi yang terlihat membuncah.


"Kamu sengaja tidak meminumnya? Untuk menjebakku, huh?" bentak Skylar dengan keras, Starla sampai harus meringis karena mendengar teriakan itu yang cukup memekakkan telinga.


Starla sama sekali tidak tahu apa lagi yang membuat amarah iblis itu tersulut, bahkan beberapa hari ini emosinya sudah sedikit stabil, tetapi hari ini emosi dan amarahnya kembali meluap-luap, membuat Starla tidak paham dengan sifat pria kasar itu.


Skylar kembali maju, dan dengan cepat menarik rambut Starla dengan kasar. "Kau sengaja, huh? Berhenti meminum pil itu untuk menjebakku?"


"T—tidak ... bukan seperti itu, Skylar," cicitnya. Sambil berusaha melepaskan tangan Skylar dari rambutnya, karena cengkeraman itu sangat menyakitinya.


"Lalu apa?" Skylar mendesis di atasnya. Lalu kembali berkata, "Jeane menemukan benda itu berada di tempat sampah. Itu tandanya kau sengaja membuangnya."


Starla memberontak. Ia berusaha menjauhkan tangan Skylar yang masih setia menyentak kuat sejumput rambutnya. Cengkeraman Skylar cukup menyakitkan, hingga ia merasa kulit kepalanya akan ikut terlepas.


"Sungguh, Skylar. Kau sudah salah paham. Aku benar-benar tidak tahu keberadaan pil itu, sudah dua hari aku memang kehilangannya dan aku tidak tahu kalau benda itu berada di dalam tempat sampah."


"Dua hari?" Skylar terkejut luar biasa. "Jadi, selama dua hari ini aku menyentuhmu dan kau sama sekali tidak mengkonsumsi pil itu?" tanya Skylar dengan kaget.

__ADS_1


Sialan! Bermimpi saja wanita itu kalau menginginkan bayi dalam pernikahan ini. Sampai kapan pun, Skylar tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Skylar sama sekali tidak menginginkan anak yang terlahir dari dalam rahim wanita itu, musuhnya sendiri.


Starla dengan takut-takut mengangguk. Dia sebenarnya khawatir luar biasa, bagaimanapun juga menghadirkan anak dalam pernikahan tanpa visi misi ini adalah sama saja dengan bunuh diri. Meskipun hal itu adalah impiannya, tetapi ia juga tidak ingin berlaku egois. Ia tidak ingin membuat calon anaknya itu menderita hidup dengan kedua orang tua yang saling membenci. Starla hanya akan menjadi orang tua yang jahat kalau sampai melakukan hal tersebut.


"Tetapi, demi Tuhan aku tidak sengaja dan ... aku lupa mengatakan kalau pil itu menghilang sejak kejadian penculikan itu." Starla menunduk, sama sekali tidak berani menatap Skylar yang wajahnya sudah berubah memerah. Starla kembali berhasil menyulut emosi pria itu.


"Jangan kau pikir kebaikanku beberapa hari yang lalu setelah menyelamatkanmu malah kau pergunakan dengan salah. Karena aku masih membencimu, sangat! Dan aku sama sekali tidak menginginkan bayi dari wanita pembunuh seperti kamu."


Skylar kemudian mendorong tubuh Starla hingga kepala dan punggungnya terbentur keras dengan dinding. Wanita itu meringis dan berpikir keras bahwa sebentar lagi tulang-tulangnya akan hancur. Namun, apa peduli Skylar? Di benaknya hanya ingin memberi hukuman untuk wanita itu. Tanpa ampun. Agar perempuan tidak tahu malu itu tahu bahwa percobaan untuk berusaha hamil dengan menjebaknya adalah kesalahan besar dan benar-benar salah.


"Argh ... Skylar!" Starla berteriak kencang saat Skylar dengan tidak manusiawinya kembali menjumput rambut wanita itu lalu menariknya dengan kasar untuk mengikutinya.


"Apa yang akan kau lakukan?"


Skylar sama sekali tidak menjawab pertanyaannya. Starla masih mencoba melepaskan diri dari Skylar, kulit kepalanya seakan tertarik dengan paksa, saking kerasnya cengkeraman dan tarikan tangan Skylar. Dan entah apa yang terjadi setelahnya. Starla tidak tahu. Ia hanya merasakan tubuhnya yang tiba-tiba saja dihempaskan dengan kasar di atas ranjang. Belum sempat ia bergerak bangkit, Skylar sudah mengangkangi perutnya lalu kemudian mencengkeram kedua pipinya.


"Puaskan aku sekarang dan aku akan menghamilimu!"


"Tidak ... kau gila, Skylar! Aku tidak mau! Starla berteriak dengan suara lemahnya.


Skylar mana peduli akan penolakan itu. Pria itu malah menikmati penolakannya. Wanita itu meronta hebat ketika Skylar berkutat dengan ikat pinggangnya. Dan tidak perlu waktu lama tubuh Skylar sudah terpampang di hadapannya. Ia menggeleng putus asa saat benda itu semakin mendekati mulutnya yang sedikit terbuka akibat tekanan kuat jemari Skylar di pipinya.


"Kita lihat Starla apa yang akan terjadi kalau sampai kau hamil. Hidupmu akan semakin seperti di neraka dan apa yang dilakukan Arlan pada Gaby dan anaknya, juga akan terjadi padamu ... aku akan membunuh anak itu, kemudian membunuhmu juga."


Dan, air mata Starla mengalir dengan derasnya mendengar ancaman gila Skylar. Apakah dia tidak menyadari kalau yang akan dibunuh adalah darah dagingnya sendiri. Skylar memang pria iblis.

__ADS_1


__ADS_2