Tawanan Sang Devils'

Tawanan Sang Devils'
First Love


__ADS_3

Bahagia dan sedih adalah satu bagian yang tidak dapat dipisahkan. Kebahagiaan akan selalu tercipta ketika kesedihan itu ada, begitupun sebaliknya.


Senyum getir kini menghiasi wajah kelam Starla ketika pikirannya kembali berputar di mana kebahagiaan itu selalu berpihak pada kehidupannya yang biasa-biasa saja. Ia teringat saat-saat kebersamaannya dengan Arlan sebelum semuanya terjadi. Betapa bahagianya ia ketika sang kakak yang saat itu kembali lebih awal dari biasanya dan mengajak dirinya menikmati makan malam di luar. Melewati momen yang sangat jarang mereka cecapi hingga larut malam tiba. Dan Starla benar-benar bahagia pada saat itu.


Namun, siapa yang menyangka bahwa malam itu rupanya malam terakhir kebersamaan mereka sebelum ia menerima kabar perihal tragedi yang menimpa kakaknya di keesokan hari. Sebuah kecelakaan tragis yang berhasil merenggut nyawa Arlan dengan begitu ganasnya. Meninggalkan dirinya dalam keterpurukan dan segudang masalah yang membuat hidupnya menjadi seperti ini. Sehingga dia merasa bahwa Arlan sudah mempermainkan kehidupannya dengan kejam dan tidak berperasaan.


Lalu, Gabriella.


Satu nama itu tiba-tiba terlintas di benaknya. Ia membiarkan kedua sudut bibirnya terangkat tipis ketika mengingat kebersamaannya dengan wanita cantik itu. Tiada hari yang mereka lalui tanpa tawa dan kekonyolan. Oh, sungguh, Starla benar-benar merindukan sahabatnya itu. Ia masih mengingat saat dirinya bercerita perihal seorang pria yang baik dan memiliki senyuman hangat yang berhasil menyentuh hatinya. Sosok pria yang membuat Starla nyaris tak mampu terlelap di setiap malamnya. Lelaki yang begitu sulit untuk dilepaskan dari dalam pikirannya. Dan lelaki itu ....


"Kau mau mati kedinginan?"


Wanita itu terperanjat hebat ketika suara Skylar berhasil melenyapkan kenangan-kenangan yang bersarang di dalam kepalanya. Dengan gerakan secepat kilat, ia berusaha menutupi tubuh polosnya dengan tangan-tangan kecilnya sesaat setelah melihat sang pria tengah berdiri tak jauh darinya.


Skylar menatap tajam wanita itu tanpa berkedip sebelum melangkah mendekat dan memutar keran shower, mengabaikan percikan air yang mulai membasahi kemeja yang ia kenakan. Seringai liciknya tercipta ketika tatapannya kembali pada wajah sang wanita yang tampak waspada. Pria itu mendekat dan mengarahkan wajahnya ke lekukan leher milik Starla. Memberikan kecupan-kecupan gairah di sana beserta tangan-tangan besarnya yang mulai bergerak erotis. Menjamah setiap inci tubuh cantik dan polos itu. Membuat Starla tampak menegang dan mencengkeram lengan kemeja Skylar.


"A—aku belum membersihkan diri," kata Starla terbata.


"Nanti." Skylar menjawab tanpa menghentikan aksinya. "Kau akan mandi bersamaku setelah ini."


"T—tetapi ...."

__ADS_1


"Aku tidak mau menerima alasan apa pun."


"Skylar ...."


"Menurut lah jika kau masih ingin berjalan normal!"


Pria itu mengunci bibir Starla dengan ciuman panas. Sesekali menarik wajahnya ketika kedua tangannya berusaha menanggalkan seluruh pertahanan yang melekat pada tubuhnya. Skylar membawa tubuh mungil itu hingga punggung milik sang wanita menyentuh dinding belakang. Mata Starla terbelalak seraya mendorong tubuh Skylar dengan hati-hati ketika lelaki itu mulai mengangkat salah satu kakinya yang bergetar.


" Skylar, p—please ...."


"Ssstt ...." Pria itu meraih kedua tangan Starla lalu meletakkannya di atas pundaknya. "Tidak usah ragu. Aku tidak akan menyakitimu. Untuk kali ini ..." ucapan Skylar berhenti sejenak dan beralih menjadi gerungan nikmat ketika tubuhnya berhasil melesak jauh ke dalam. Ia mengatur napasnya yang terasa berat sebelum kembali melanjutkan. "Kau yang akan menikmatinya kali ini, Starla."


Starla mengeratkan jemarinya, menekan pundak sang suami ketika lelaki itu mulai bergerak. Matanya terpejam kuat dengan bibir yang terkatup rapat, berusaha menahan ******* setiap kali Skylar menghujam tubuhnya.


Oh Tuhan, entah seperti apa perasaannya kali ini. Sakit dan nikmat kini bercampur menjadi satu. Ia tidak mungkin membiarkan suaranya terdengar ketika Skylar tengah berusaha memancingnya. Ia tidak ingin jika lelaki itu semakin merendahkan dirinya. Tidak. Ia tidak mau.


"Jangan munafik!"


Namun, apa yang terjadi tentu saja tidak sesuai dengan harapan. Lelaki itu semakin kuat menyentak tubuhnya saat ia merasa kedua kakinya kini melingkar sempurna pada pinggul Skylar. Pria itu menyentuh sesuatu di dalam sana yang membuatnya tak mampu memendam segala erangan kenikmatan.


"Skylar ...."

__ADS_1


Lalu pada akhirnya, suara lemah nan merdu tersebut menyapa indra pendengaran Skylar saat pelepasan itu terjadi. Menjadi musik pengiring yang berhasil membakar gairah lelaki itu. Tubuhnya semakin membengkak ketika ia merasakan cengkeraman erat yang membuat dirinya tidak dapat menyembunyikan erangan, dan berakhir menjadi gerungan kasar saat ia memuntahkan dirinya ke dalam rahim Starla sembari memijat lembut dada wanita itu.


Skylar menenggelamkan wajahnya pada tempat favoritnya. Sama seperti biasa, ia menghirup dalam-dalam aroma khas sang istri sembari mengatur napasnya yang terasa berat dan membiarkan posisi mereka tetap seperti itu.


Lelaki itu bersumpah bahwa permainan kali ini benar-benar berhasil meledakkan seluruh gairahnya dengan begitu hebat dan nikmat. Mungkin karena dia yang melakukannya dengan hati-hati dan penuh perasaan, ataukah karena alasan yang lain. Entahlah.


****


Starla mendongak, menatap wajah keras Skylar dengan pandangan bertanya-tanya namun terlihat hampa saat pria itu membuka pintu mobil penumpang. Lelaki itu menggerakkan kepalanya, mengisyaratkan agar wanita itu segera turun sekarang namun apa yang terjadi, Starla masih terus menerus menampilkan wajah heran seraya mengerutkan dahinya.


"Apa kau begitu suka jika aku memaksamu? Kau ingin aku menarikmu keluar dari situ?"


Tampak wanita itu membuang pandangan sebelum akhirnya bergerak melepas seatbelt-nya, lalu menuruti perintah Skylar. Setelah melakukan aktivitas rutinnya sore tadi, ia memaksa wanita itu untuk ikut bersamanya. Pria itu mengatakan bahwa Grace, saudara sepupunya jatuh sakit dan saat ini tengah melakukan perawatan serius. Dan Skylar tentu tidak mungkin mengunjunginya seorang diri sementara Grace sering kali menanyakan keberadaan Starla.


Skylar memasuki toko buah itu dengan Starla yang mengikuti langkahnya dari belakang. Membeli beberapa macam buah untuk diberikan kepada Grace. Wanita itu berjalan dengan langkah tenangnya. Tatapannya lurus ke depan sembari mengikuti Skylar ke mana pun lelaki itu pergi. Tidak ada ekspresi berarti di dalam sorot matanya yang kelam. Ia tidak punya hak berbicara, pun dengan Skylar yang juga selalu menciptakan keheningan di antara keduanya. Terlalu kaku dan canggung.


Namun, tiba-tiba ia merasa sang suami menggamit lengannya ketika mereka tengah berdiri di depan meja kasir. Skylar mendekatkan tubuh mungil itu padanya saat ia melihat seorang lelaki yang tengah mengamati wajah cantik Starla tanpa wanita itu sadari. Ia tidak mengerti perasaan apa yang menghampirinya saat ini.


Emosinya seakan dipermainkan ketika tatapan kagum lelaki tampan itu tak kunjung berpaling. Wajahnya menggelap dengan napas yang mulai menyesakkan dada. Ia tidak pernah merasa semarah ini hanya karena masalah yang sepele. Namun, sepertinya lelaki sialan itu memang sudah melewati batas.


*****

__ADS_1


FYI. Aku ada novel baru dengan judul Wedding Chaos. Selagi nunggu couple SS update,ramaikan di sana juga, ya 😉 Ceritanya gak seberat novel ini kok hihi


Judulnya Wedding Chaos


__ADS_2