Tawanan Sang Devils'

Tawanan Sang Devils'
Flashback


__ADS_3

Derasnya hujan yang disertai angin kencang membuat Starla bergerak mundur ke sudut halte saat percikan-percikan air hujan mengenai rok kerjanya. Sudah sejak lima belas menit yang lalu, gadis itu menunggu setelah Arlan menelepon dan mengatakan bahwa pria itu kemungkinan akan terlambat menjemput dirinya selepas pulang kerja. Namun, hingga sekarang kakaknya itu masih belum menunjukkan batang hidungnya. Gadis itu hanya bisa mendengkus kasar saat melihat ponselnya yang mati total karena kehabisan baterai.


Starla menghembuskan napas berat. Entah sudah kali ke berapa Arlan seperti ini. Sebenarnya, Starla sudah tahu bahwa kakak lelakinya itu tidak benar akan menjemputnya, tetapi ia masih bersikeras untuk menunggu. Momen seperti ini sangat jarang ia lewati bersama kakaknya. Mereka jarang bertatap muka meskipun tinggal di satu atap yang sama. Pria itu terlalu sibuk.


Arlan berprofesi sebagai seorang arsitek di sebuah perusahaan Developer. Pria itu selalu diliputi oleh kesibukan mengurus rancangan-rancangan bangunannya. Ia bahkan sangat jarang berbagi waktu dengan Starla, membuat gadis tersebut selalu merasa kesepian. Sama seperti saat ini, menyempatkan sedikit waktu untuk menjemput adiknya pun sepertinya sangat berat. Meskipun begitu, Starla tahu betul kalau sebenarnya Arlan itu sangat menyayangi dirinya. Hanya kesibukan yang membatasi interaksi keduanya, tetapi pria itu masih begitu perhatian padanya. Dan ya, Starla juga sangat menyayangi keluarga satu-satunya itu.


Perasaan kecewa kini terlihat semakin jelas di wajah lelahnya setelah Starla melirik jam tangan. Ini sudah semakin sore. Arlan tidak mungkin membiarkan adiknya menunggu selama ini—seandainya saja tidak ada kesibukan yang mendadak. Gadis itu harus segera beranjak jika tak ingin pulang terlalu malam.


Jalanan benar-benar lengang, hanya beberapa kendaraan yang nekat menerobos badai kecil itu. Ia mengedarkan pandangan, mencari angkutan umum apa saja yang bisa membawanya pulang ke apartemen. Kalau sudah malam begini, terlebih lagi sedang badai kecil, angkutan umum jarang terlihat, sepertinya mereka lebih memilih bergelung di dalam rumah mereka masing-masing.


Namun, tiba-tiba pandangannya tanpa sengaja menemukan mobil seseorang yang sangat ia kenali. Gadis itu mengerjap pelan saat benda mewah bercat hitam itu berhenti tepat di depan halte tempatnya sekarang berdiri, berlindung dari derasnya hujan.


Starla sedikit membungkuk begitu kaca mobil terbuka, dia tahu betul siapa pria itu dan siapa yang dicarinya. "Gaby masih—"


Ucapannya terpotong ketika suara berat sang pengemudi terdengar.


"Aku tahu. Masuklah!"


Hening sesaat. Starla tampak tertegun sejenak.


"Bajuku basah."


Starla sedikit berteriak saat mengatakan kalimat tersebut. Gemuruh hujan benar-benar menenggelamkan suaranya yang memang lembut dan merdu.


"Tidak masalah," balas sang pengemudi seraya menggerakkan sedikit kepalanya, mengisyaratkan agar Starla segera masuk.


Namun tutur kata yang baru saja terdengar itu membuat Starla terdiam. Ia memperhatikan keadaan bajunya yang sudah semakin basah karena terlalu lama terkena percikan hujan. Lalu dengan sedikit ragu, ia kembali menengadah dan bertanya.

__ADS_1


"Benarkah tidak masalah?"


Tanpa ada jawaban yang terlontar, pria sang pengemudi itu membuka pintu mobil dari dalam. Dan pada saat itu juga, Starla menurut. Pandangannya sama sekali tidak teralihkan dari wajah Starla yang terlihat tengah menahan rasa dingin yang menggelayuti sekujur tubuhnya.


Tidak ada perbincangan yang berarti di antara mereka. Setelah cukup berbasa-basi, menanyakan hal-hal yang sebenarnya tidak penting, mereka kembali digerayangi oleh keheningan. Starla yang duduk di sebelah pengemudi merasa canggung. Gadis itu tidak pernah sedekat ini dengan Skylar, kakak Gabriella—sahabatnya. Apalagi hanya ada mereka berdua di dalam mobil seperti ini. Mereka jarang berinteraksi, walaupun keduanya selalu bertemu jika Starla mengunjungi Gabriella atau Skylar yang selalu menjemput sang adik ketika pulang kerja.


Keheningan itu disadari oleh Skylar. Ia berdeham pelan sebelum kembali membuka suara dengan wajah tenangnya dengan sorot matanya yang terus mengarah ke jalanan di depannya.


"Masih dingin?" tanya Skylar, sembari tangan besarnya terulur mengatur suhu AC agar dapat menghangatkan tubuh Starla.


Gadis itu menggeleng pelan. "Itu sudah cukup," balas Starla canggung.


Lagi. Keheningan kembali menggerayangi mereka. Perjalanan menuju apartemen yang sebenarnya hanya membutuhkan waktu empat puluh lima menit, kini terasa dua jam lamanya. Apa yang terjadi begitu canggung bagi Starla. Wanita itu bahkan harus berkali-kali meneguk air liurnya dengan kasar.


Untuk beberapa saat, Skylar membiarkan keheningan itu terjadi. Ia tiba-tiba memarkirkan mobilnya di depan sebuah kedai kopi sederhana yang membuat Starla mengerjap bingung.


Starla tersenyum kaku. "Tidak perlu. Aku tidak suka kopi, Skylar."


Ya. Meskipun dia suka, mungkin gadis itu tidak akan bisa menikmati kopi tersebut, atau minuman apa pun yang disukainya, Starla tidak mungkin bisa menelan dengan baik jika masih berada di samping pria itu. Ia hanya ingin segera sampai di apartemen secepatnya. Bukan karena kedinginan, tetapi Starla sudah tidak memiliki nyali yang cukup untuk menghadapi kecanggungan ini.


"Coklat hangat?"


Namun, ternyata pria di sampingnya itu tidak mengerti arti dari penolakan yang diutarakan oleh Starla. Skylar kembali mengajukan pertanyaan yang mau tidak mau Starla harus mengangguk setuju jika tidak ingin semakin lama bersama pria itu.


Pria itu kemudian mengambil sebuah sweater hangat miliknya di jok belakang. "Ada baiknya jika kita turun bersama. Pakai ini." Skylar kemudian menyodorkan sebuah sweater pada Starla.


"Tidak usah. Bajuku masih basah. Aku tidak ingin sweater itu—"

__ADS_1


"Kemejamu transparan," kata Skylar tenang yang membuat Starla terdiam seketika. Gadis itu dengan cepat merunduk, melihat kemeja putihnya yang ....


Oh my gosh!


"Sudah sejak tadi," imbuh Skylar saat melihat Starla kembali menengadah dengan semburat merah di wajahnya. Mata birunya masih setia memperhatikan gerakan demi gerakan yang dilakukan Starla sejak gadis itu mengambil sweater dari tangannya, lalu memakainya dengan gerakan cepat.


Mereka lalu turun berderap memasuki kedai kopi tersebut. Sungguh, pria itu tidak bisa menahan bibirnya yang mengukir senyum geli ketika melihat sosok gadis itu tengah berjalan kaku dengan sweater besar yang menenggelamkan tubuh mungil di depannya itu. Gadis tersebut terlihat menggemaskan bagi Skylar.


Setelah memesan dua cup minuman hangat yang berada di genggaman masing-masing, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Tidak cukup lima belas menit kemudian, mobil mewah itu akhirnya berhenti sempurna di depan gedung apartemen milik Starla dan Arlan.


"Terima kasih," ucap Starla tulus, namun masih terlihat gugup.


Skylar mengangguk ringan sebagai respon.


Gadis itu menghentikan gerakannya saat ia baru ingin melepas seatbelt. "Sweaternya nanti akan aku titip pada Gaby."


Skylar kembali mengangguk. "Ya. Sampaikan salamku pada Arlan."


"Pasti."


Starla turun dan segera berlari seraya menutupi kepalanya dengan telapak tangan kecilnya, seakan dengan demikian ia bisa menghindari tetesan air hujan.


Setelah itu, Skylar kembali memacu mobilnya dengan kecepatan normal. Bibir tipisnya mengulas senyuman kecil.


Pria itu memang tidak sengaja melihat Starla yang tengah berdiri di halte. Dan dengan bodohnya, gadis itu berdiri tanpa menyadari bahwa bajunya yang basah sudah sangat transparan. Bahkan dari arah kejauhan, Skylar bisa melihat dengan jelas warna pakaian dalamnya. Untungnya pada saat itu, halte bus sedang lengang, tak ada siapa-siapa selain Starla.


Skylar kembali terkekeh geli saat mengingat hal itu.

__ADS_1


Jika saja ia tidak menjemput Gabriella yang ternyata masih lembur dan memintanya untuk pulang, mungkin dia tidak akan mendapati Starla dalam keadaan seperti ini. Dan entah apa yang akan terjadi seandainya bukan Skylar yang menemukannya.


__ADS_2