Tawanan Sang Devils'

Tawanan Sang Devils'
Merges


__ADS_3

Penolakan demi penolakan yang dilontarkan oleh Starla membuat api amarah itu langsung merambat cepat ke diri Skylar ketika melihat Starla yang semakin memberontak di bawah tubuhnya. Entah mengapa wanita murahan itu masih selalu bersikeras menolaknya. Wanita murahan ini tidak bisa dibiarkan lagi. Pria itu kemudian bangkit dan menarik Starla, memaksa wanita itu agar mengikuti langkahnya.


"A—apa yang—"


Teriakan kaget dari bibir Starla kini terdengar, menggantikan pertanyaan yang baru saja ingin ia keluarkan. Hanya dalam sekedipan mata, Starla merasa raganya melayang seketika saat Skylar menyentakkan punggungnya ke terali besi itu. Bukan ... bukan karena rasa sakit yang menjalar di sekitar punggung kecilnya, namun posisi tubuh yang saat ini sudah mengarah ke arah langit malam dengan kedua kaki yang tidak lagi menyentuh lantai di bawahnya. Hanya tangan kekar Skylar yang menyangga pahanya.


Napasnya tersengal, matanya yang terbelalak sempurna tidak berhenti mengeluarkan air mata yang terus mengalir melewati pelipisnya. Tangan kecilnya yang bergetar berusaha mencengkeram pergelangan tangan Skylar yang bertengger manis di lehernya agar tidak terjatuh.


Sejak pria itu menariknya dan melihat tangan besar itu terulur membuka pintu, Starla sudah bisa mencium gelagat aneh. Dan di sinilah dia berada, di sebuah balkon yang sebentar lagi akan menjadi saksi bisu tempatnya meregang nyawa. Dia akan mati jika Skylar melepaskan sanggahan tangannya.


Oh Tuhan ... oh Tuhan ... pria gila ini benar-benar akan membunuhnya kali ini. Entah apa maksud pria itu membawanya sampai ke sini?


Dengan sekuat tenaga, ia berusaha mengeluarkan suara lirihnya dengan susah payah. "S— Skylar ...."


"Kenapa?" tanya Skylar tenang seakan tidak terjadi sesuatu. Ia berdiri di sela paha Starla.


"Please ....." Wajah Starla memerah saat Skylar semakin menghambat saluran pernapasannya. Ia bahkan tidak mampu lagi mengeluarkan satu patah kata pun untuk menghentikan aksi bejat pria itu.


Meskipun beberapa waktu yang lalu Starla pernah mencoba membunuh dirinya di sini hanya untuk berusaha mengancam Skylar tetapi merasakan Skylar yang secara langsung akan membunuhnya benar-benar membuatnya menggigil ketakutan. Phobia Starla akan ketinggian benar-benar membuatnya ketar-ketir ketakutan.


Sesaat ia mendengar tawa remeh di atasnya. "Aku tahu, kau wanita yang takut mati. Bagaimana jika aku membunuhmu sekarang? Lihatlah ke bawah, tubuh cantikmu akan hancur jika aku melemparmu dari atas sini. Sayang sekali, bukan?"


"Ja—jangan ...." Wanita itu kembali mencoba mengeluarkan suaranya dengan kesusahan.

__ADS_1


Sungguh, Starla merasa tidak sanggup lagi. Jemari Skylar benar-benar kuat mencengkeram lehernya. Batuk kering bahkan sudah berkali-kali keluar dari mulutnya. Genggaman kuatnya pada lengan Skylar kini mulai mengendur.


Sebentar lagi sebentar lagi Starla akan menghadapi suatu kenyataan yang sangat di takuti, yaitu kematian.


Namun, itu sama sekali tidak terjadi ketika ia merasa nyawanya nyaris melayang dan meninggalkan tubuh lemahnya.


Starla langsung menghirup udara dengan rakus saat tangan Skylar mulai meninggalkan lehernya. Kedua kakinya pun sudah kembali menyentuh lantai. Ia tidak mati. Pria kejam itu tidak jadi membunuhnya—lebih tepatnya belum. Kedua tangannya menggenggam erat lengan Skylar. Ia masih belum bisa berdiri tegak dengan kaki bergetarnya.


Isakan kecil Starla mampu membuat salah satu sudut bibir Skylar tertarik, membentuk senyuman licik. Tangannya terulur menghapus air mata yang merebak hampir ke seluruh wajah wanita yang masih ketakutan itu.


"Bukankah pemerkosamu ini sangat baik karena tidak melemparmu?" tanyanya dengan senyum kemenangan yang menghiasi wajahnya. "Kau masih ingin menantangku, huh?"


Alis Skylar terangkat tinggi saat menanyakan hal itu. Ia semakin mendekatkan wajahnya.


"Jangan terlalu percaya diri dengan keputusanku untuk tidak menghabisimu malam ini, Starla. Aku hanya tidak ingin bercinta dengan mayat."


"Bagaimana, Sayang? Sudah siap?"


Sekali lagi, pria itu merunduk lalu menyeka air mata kesedihan tersebut.


"Jangan membuatku murka hanya karena air mata ini. Aku tidak ingin melihatnya lagi saat aku sedang menikmati tubuhmu."


Starla semakin terisak mendengar kalimat menjijikkan itu. Tetapi, tentu saja pria itu tidak peduli. Ia justru membawa dan membaringkan tubuh bergetar itu ke atas ranjangnya. Dengan gerakan yang teramat tenang, ia mulai melepas perlahan gaun malam Starla.

__ADS_1


Skylar bersumpah bahwa dia benar-benar tidak bisa menyembunyikan senyum kemenangannya ketika melihat Starla yang menjadi penurut seperti ini. Perempuan itu bahkan tidak lagi bergerak menjauh atau pun melarikan diri darinya.


Dan malam ini, Skylar benar-benar akan menikmati setiap inci tubuh cantik istri murahannya itu.


"Sepertinya kau tidak akan bisa berjalan normal lagi setelah ini," kata Skylar yang membuat Starla menegang seketika.


Pria itu mulai merangkak naik setelah menanggalkan seluruh pakaiannya dan langsung mengambil posisi di sela paha Starla. Tangannya bergerak pelan melepas gaun dan seluruh pertahanan wanita itu.


Skylar merunduk, meraup bibir pucat milik sang istri seraya menjamah seluruh tubuh polos Starla yang bergetar hebat.


Dengan kaki-kakinya yang terbuka lebar, perempuan itu merasakan tubuh besar Skylar yang menggesek pusat tubuhnya.


"Jadilah pemuas nafsuku yang baik dan penurut malam ini, Starla."


*****


Starla mencengkeram seprai putih yang sebenarnya sudah tidak berbentuk lagi. Ia mengerang di antara rasa sakit sekaligus nikmat yang menerjangnya. Punggung telanjangnya yang bersimbah keringat itu terdorong kuat setiap kali Skylar bergerak. Bagian dadanya yang tidak tertutup sehelai benang pun kini bersandar pada bidang empuk tempat tidur.


Gerakan Skylar benar-benar tidak terkendali, cengkerama kuat yang ia dapatkan sungguh membuatnya tidak mampu untuk berhenti. Pria itu bahkan semakin brutal ketika mendengar rintihan kesakitan sang wanita. Suara itu seakan menyemangatinya agar bergerak lebih cepat lagi. Salah satu tangannya menyanggah perut datar Starla agar tidak terjatuh, sementara tangannya yang lain sibuk meremas dada sang wanita.


"Sky … pelan-pelan!"


Sesekali wanita itu bangkit dan mengulurkan tangannya ke belakang, menahan perut Skylar agar memperlambat ritmenya. Namun, pria itu tentu tak mengindahkan, ia tetap bergerak semaunya, mengabaikan Starla yang merintih kesakitan.

__ADS_1


Aroma percintaan yang berasal dari tubuh mereka menguar begitu saja di kamar luas itu. Decitan tempat tidur bagaikan musik pengiring di setiap gerakan yang Skylar ciptakan. Suara hentakan kulit mereka bahkan tidak menjadi masalah bagi Skylar, itu justru semakin membangkitkan gairahnya.


Sementara itu Starla kembali menyandarkan pipinya ke tempat tidur sembari memejamkan matanya pasrah. Membiarkan tubuhnya bergerak hebat. Namun, kepasrahan itu membuat Skylar semakin bergerak tidak manusiawi bak binatang buas yang hanya ingin memenuhi kepuasannya. Dan pada saat itu juga, cengkeraman Starla semakin kuat. Erangannya bahkan semakin keras.


__ADS_2