
Xander tidak bisa lagi menahan amarahnya sesaat ia mengetahui bahwa Starla hampir saja mati di tangan seorang psikopat gila dan amarahnya semakin membuncah di saat ia mengetahui bahwa itu semua karena Skylar.
Karena musuh-musuh Skylar itu, Starla hampir saja meregang nyawa. Dan Xander lebih marah ke dirinya sendiri karena terlambat mengetahui hal itu, dia terlambat mengetahui bahwa ternyata selama beberapa hari ini Starla mendapat masalah dan hampir saja terbunuh. Sialan!
Oleh karena itu, demi melampiaskan amarahnya di sinilah ia sekarang. Di perusahaan Skylar, dia harus melakukan perhitungan pada mantan sahabatnya itu yang sekarang sudah menjadi rival-nya. Bagi Xander, semua yang terjadi pada Starla itu semua karena pria itu. Karena Skylar yang memang sangat terobsesi untuk menghancurkan dan membunuh wanita yang sangat dicintainya itu.
Karena pria itulah yang membawa hidup Starla dan memberikan banyak masalah untuknya. Xander memang tidak sempat menyelamatkan Starla selama ini dari cengkeraman Skylar, tetapi mendengar bahwa Starla terkena masalah dan hampir saja dibunuh dan itu terjadi atas musuh Skylar, tentu saja Xander tidak bisa tinggal diam saja.
Xander segera menghampiri sosok pria yang baru saja turun dari mobil dan langsung menghujamkan bogem mentah ke wajah Skylar hingga pria itu tersungkur jatuh ke tanah. Ia kemudian menarik kasar kerah kemejanya, lalu kembali menghantam tanpa memperdulikan seruan orang-orang yang berada di pelataran tempat parkir tersebut.
Dada bidangnya berubah kembang kempis. Matanya memerah menahan gejolak emosi yang kini jatuh tepat pada iris biru itu. Amarahnya benar-benar menggebu-gebu, emosinya harus segera di lampiaskan pada pria di depannya itu.
"Aku akan membunuhmu ... aku akan membunuhmu jika sekali lagi kau menyakitinya, Skylar," ujarnya setelah mendorong tubuh itu hingga membentur mobil mewah di belakang mereka.
Skylar menyeka darah di sudut bibirnya sebelum tertawa remeh, dia menggerakkan tangannya memerintahkan Andreas dan para pekerja lain untuk tidak ikut campur ke dalam urusan mereka.
"Karena musuh-musuhmu itu, nyawanya hampir saja terancam, Starla hampir saja terbunuh. Kau hampir membunuhnya melalui psikopat itu, brengsek!"
Xander baru saja mendengar kalau Starla diculik dan hampir saja terbunuh, dan itu semua karena kelakuan Gavino, musuh terbesar Skylar. Dan Xander tidak bisa mengerti kenapa harus Starla yang jadi korban, kenapa bukan Skylar yang jahat itu saja.
Skylar terkekeh. "Aku sudah menyelamatkannya kalau itu yang kau takutkan. Dan oh iya, kau sudah terlambat untuk menjadi pahlawan, kawan. Gadismu sudah terlanjur rusak dan hancur di tanganku." Skylar berucap dengan terengah-engah. "Apa kau tahu? Aku sangat menyukai ******* seksinya saat ia berkali-kali meneriakkan namaku di bawah tubuhku."
__ADS_1
"Go to hell!"
Skylar tidak melawan saat Xander kembali menyerang dirinya. Ia membiarkan pria itu mengambil kepuasan. Benar-benar tidak melawan untuk kali ini. Ia membebaskan Xander melampiaskan kemarahannya kepadanya.
"Kau bajingan. Kau pria brengsek yang tidak punya hati. Kau menyakiti seorang wanita lemah. Kau iblis!"
Xander terus saja memukul wajah Skylar, dan terus mengeluarkan kalimat-kalimat yang berupa umpatan. Ya, sebenci inilah Xander pada Skylar sekarang.
Kepalan tinju itu berhenti mengenai wajahnya saat ia merasa tubuh Xander ditarik paksa oleh para pengawal. Orang-orang Skylar kini datang melerai perkelahian itu saat melihat Xander semakin brutal sedangkan Skylar sama sekali tak melawan dan terlihat biasa saja dijadikan alat untuk melampiaskan amarah Xander.
Tawa remeh itu kembali terdengar dari bibirnya yang membengkak. Membuat Xander menggerung marah.
"Aku akan membunuhmu suatu saat nanti, bajingan! Kau akan mendapatkan balasan apa pun yang telah kau lakukan padanya."
"Mr. Skylar—"
Skylar menatap Andreas bersamaan dengan tangannya yang mengisyaratkan untuk tidak mendekat saat pria itu hendak menghampirinya.
"Tidak usah khawatir," katanya tenang sebelum berjalan, namun langkahnya kembali berhenti dan berbalik. "Jangan lakukan apa pun padanya tanpa seizinku! Biarkan dia seperti itu!"
Pria itu kembali berderap memasuki gedung perusahaannya dengan wajah yang teramat sangat tenang, namun tetap terlihat tegas, seolah tidak ada sesuatu yang baru saja terjadi. Mengabaikan para karyawan yang memandang wajahnya, yang nyaris dipenuhi luka dan lebam, berserta darah di sudut bibirnya.
__ADS_1
****
Starla terpaksa menghentikan langkah kakinya yang hendak menuruni anak tangga terakhir ketika melihat Skylar memasuki pintu utama. Dahinya berkerut samar. Selain merasa heran karena sang pencabut nyawa kembali lebih awal dari biasanya, matanya juga tanpa sengaja menangkap pelipis dan sudut bibir pria itu membiru, serta berkas darah kering yang sedikit menempel di sekitar luka memar itu. Namun, ia berusaha untuk mengabaikan hal tersebut dan kembali berjalan tak acuh ke ruang makan. Mengabaikan Skylar melemparkan pandangan permusuhan saat melewati bahu kecilnya.
Setelah sepuluh menit berlalu, Skylar kembali membawa dirinya ke ruang makan, dengan wajah yang lebih segar dari sebelumnya.
Mereka menikmati makan siang dengan kaku, seperti biasa. Tidak ada percakapan sama sekali. Para pramuwisma sudah mulai menjauh setelah menyajikan beberapa makanan di atas meja. Starla mengunyah makanan dengan tenang. Sesekali mendongak, melihat wajah memar itu sejenak, lalu kembali menurunkan pandangan saat tatapan mereka bertemu.
Starla bersumpah bahwa ia benar-benar membenci tatapan itu. Tatapan tajam yang seakan selalu menelanjangi tubuhnya. Terlalu tidak sopan.
Namun, tidak lama dari itu perutnya seakan terkoyak. Tangannya refleks menutup mulut saat ia merasa ingin mengeluarkan sesuatu, membuat Skylar mengernyit penuh selidik. Starla terdiam cukup lama, ia tidak bergerak dengan telapak tangan yang masih menempel pada mulutnya sebelum akhirnya berlari ke kamar mandi terdekat dan berusaha mengeluarkan isi perutnya. Ia mencengkeram tepi wastafel saat perasaan itu tak henti-hentinya bergejolak. Wanita itu terengah-engah dengan mata terpejam.
Sejenak, ia membiarkan perutnya sedikit lebih tenang lalu membasuh mulutnya sebelum berbalik dan hendak melangkah keluar. Namun, langkahnya terhenti ketika mendapati Skylar yang berdiri di ambang pintu dengan tatapan tajam tapi tak terbaca. Pria itu mendekat.
"Kau kenapa?"
Bukan. Sungguh, itu bukanlah sebuah pertanyaan khawatir atau peduli, namun seperti ....
"Berdoalah agar tidak terjadi apa-apa di dalam perutmu." Skylar semakin merunduk setelah menarik tubuh Starla hingga menempel di dadanya sebelum menegaskan kalimat itu. membuat mata Starla memanas. Ia tahu benar apa maksud Skylar. "Karena jika itu terjadi, kau akan lebih menderita lagi. Aku benar-benar akan membuat dirimu sakit ... yang teramat sakit, sama persis yang dirasakan sahabat terbaikmu dulu, istriku!"
Liquid bening itu mengalir deras begitu mendengar bisikan ancaman tersebut. Starla terisak pilu, membiarkan tubuhnya terguncang hebat di dalam dekapan Skylar yang mematikan.
__ADS_1
Oh Tuhan. Sebesar itu kah rasa benci Skylar terhadap dirinya? Nyawanya pun seakan menjadi mainan biasa bagi pria itu. Sama sekali tak berharga dan tak ada artinya.