Tawanan Sang Devils'

Tawanan Sang Devils'
Candle


__ADS_3

Setelah merasa cukup, pria itu menarik diri lalu melangkah keluar tanpa sepatah kata pun.


"Kenapa kau begitu membenciku?"


Suara lirih dan serak itu berhasil menghentikan langkahnya yang nyaris mencapai pintu. Ia lalu berbalik setelah terdiam beberapa detik dan kembali melemparkan tatapan tajamnya pada Starla.


"Aku rasa kau mengetahuinya," ujar Skylar sembari mendekati kaki ranjang dengan langkah tenang.


Wanita itu kembali bersuara tanpa menatapnya. "Tidak bisakah kau memaafkanku?"


"Kata maafmu tidak sebanding dengan apa yang kalian lakukan padanya." Skylar berkata dengan nada tinggi yang membuat Starla mendongak membalas tatapannya.


"Kau bahkan tidak pernah mendengar penjelasanku. Aku ..." ucapan Starla terhenti sejenak ketika ia melihat Skylar mendekatinya dengan raut wajah yang semakin menggelap. Wanita itu sedikit beringsut mundur sebelum kembali melanjutkan. "Aku bisa menjelaskan semua padamu asal kau mau mendengarnya."


"Aku tidak butuh penjelasan apa pun darimu, ******! Tutup mulut sialanmu itu!" sergah Skylar keras.


Namun, hal itu tidak berhasil meluluhkan sifat keras kepala Starla. Wanita itu terus masih berusaha mengeluarkan suaranya meskipun batinnya berteriak bahwa ia tengah ketakutan setengah mati.


"A—aku tidak pernah bermaksud membantu Arlan untuk bersembunyi, Skylar. Sungguh, aku benar-benar tidak tahu. Saat itu—"


Lagi-lagi ucapannya terhenti saat Skylar mencengkeram kuat lengannya. Begitu kuat hingga Starla tak mampu lagi untuk melanjutkan kalimatnya.


"Bukankah sudah aku katakan bahwa aku tidak butuh penjelasan apa pun? Jangan pernah memaksaku untuk menyakitimu lebih parah lagi."


Skylar menghempas kasar lengan kecil itu setelah menyelesaikan kalimatnya. Ia hendak berbalik ketika lirihan Starla kembali terdengar.


"Jadi ... kau akan tetap membunuhku?"

__ADS_1


Sesaat Skylar terdiam mendengar pertanyaan itu. Menatap lekat-lekat manik kelam yang dipenuhi oleh genangan air mata itu, Skylar bisa melihat jelas bahwa ada sebuah kepasrahan yang bercampur dengan rasa takut di dalam sana.


"Tentu saja!" tuturnya kemudian. "Karena nyawamu sama sekali tidak ada artinya bagiku. Kapan dan di mana pun kau mati, aku tidak akan peduli!"


Pria itu kembali melanjutkan setelah membiarkan napasnya sedikit lebih tenang. "Tetapi, aku tidak mungkin membiarkanmu mati semudah itu. Tubuh cantikmu terlalu indah untuk menjadi mayat secepat itu. Aku akan membuangmu ketika kepuasanku untuk menyiksamu sudah tercapai."


Kalimat kejam itu berhasil membuat tubuh Starla terguncang. Air mata itu kembali lolos beserta lolongan dan isak tangis yang terdengar bagaikan rintihan makhluk yang tengah terluka.


Sosok pria tinggi yang sejak tadi ditatapnya kian memburam akibat air matanya yang tidak henti-hentinya mendesak keluar.


"S—sampai kapan kau harus seperti itu, Skylar?" Ia mengeluarkan suaranya dengan susah payah. Berusaha agar tidak terdengar semakin menyedihkan. "Begitu dalam kah rasa bencimu? Jika begitu, bantu aku menggali hatimu dan menemukan perasaan benci itu, lalu membuangnya sejauh mungkin. Aku yakin ... aku yakin kita bisa melakukannya jika bersama-sama."


Wanita itu menghapus air matanya. Tatapan kelamnya masih terus mengarah pada wajah Skylar.


"Mau sampai kapan kau akan membawaku ke dalam lubang kehidupan gelapmu? Kau sudah terlalu lama bermain-main di tempat itu, Skylar. Kita bisa menyelesaikan semuanya dengan cara yang lebih baik, hanya saja kau tidak ingin mencobanya. Kau justru membiarkan dendam itu membakar habis hati nuranimu."


Sejenak, Starla menjeda kalimatnya. Ia tidak peduli lagi dengan apa yang akan pria itu lakukan setelah ia mengatakan hal itu. Hatinya mendesak, ingin mengeluarkan segala macam kegundahannya selama ini—meskipun ia tahu bahwa itu sama sekali tidak akan mempengaruhi keteguhan hati Skylar. Wanita itu lelah. Sungguh! Lelah bertarung melawan kebencian yang kerap kali lelaki itu lemparkan padanya. Lelah menjalani kehidupan pahit yang selalu dipenuhi oleh kepedihan dan air mata yang tidak berkesudahan.


Bisakah?


Skylar terdiam. Sesaat ia merasa sekujur tubuhnya lumpuh seketika. Ia mengerjap pelan dengan pandangan yang sama sekali tidak berpaling dari wajah Starla yang sembab dan banjir akan air mata kesedihan. Tidak ada ekspresi berarti di garis wajahnya yang menegang. Entah seperti apa perasaannya kali ini, benar-benar tak ada seorang pun dapat memaparkan isi hatinya tersebut.


Apa Lelaki itu marah akan semua kalimat yang dilontarkan wanita ini? Ataukah merasa tenang dan mulai menerimanya? Atau mungkin ada perasaan yang lain? Sungguh, ia tidak tahu jawaban mana yang lebih tepat.


Napasnya terasa berat. Rasanya ia tidak sanggup berlama-lama memandangi wajah pilu itu. Dengan tenang, Skylar berderap keluar kamar tanpa suara, meninggalkan dentuman keras di belakangnya beserta isak tangis yang terdengar semakin pilu di dalam sana.


Ia mengusap wajahnya sejenak, lalu memilih menyandarkan tubuhnya pada dinding belakang tepat di samping pintu kamar yang baru saja ia tinggalkan. Membiarkan indra pendengarannya terus menerima dan mencerna isakan pedih wanita itu.

__ADS_1


****


Para pemegang saham berdiri. Saling mengangguk dan melemparkan senyum antar sesama anggota yang hadir di pertemuan penting itu. Skylar mengangguk ringan sembari tersenyum tipis saat para investor bergantian berjabat tangan dengannya. Senyum kemenangan tampak jelas di bibir tipisnya saat melihat Gavino yang berdiri mematung di seberang sana.


Skylar berjalan memutari meja meeting di perusahaan miliknya setelah ruangan besar itu lengang. Senyum sinis tersebut tidak pernah luntur hingga ia berdiri tepat di hadapan Gavino.


Inilah rencananya, yaitu mempermalukan pria yang sudah berani-beraninya mengusik kehidupannya bahkan hampir saja Starla terbunuh oleh psikopat sewaannya itu. Skylar memang memilih tidak membunuhnya langsung, karena dia harus membawa pria itu ke hari ini, hari di mana pria itu melihat kehancurannya.


"Tuan Gavin, bagaimana? Apa kau senang?"


Suara itu bagaikan batu besar yang mengenai punggungnya Gavino. Ia mendengkus kasar, menahan emosi dengan tangannya terkepal kuat.


"Brengsek!"


Gavino benar-benar tidak bisa menahan amarah lagi, tangannya terangkat hendak memukul wajah Skylar ketika pria itu tiba-tiba saja menghentikan gerakannya. Skylar tidak mungkin membiarkan itu terjadi. Ia terkekeh sinis mendengar Gavino yang menggeram marah.


"Aku sudah peringatkan berulang kali padamu." Skylar menekan jemarinya pada lengan Gavino. Ia menatap lelaki itu penuh emosi. "Berhenti mengusik kehidupanku. Kau terlalu berambisi. Kau sudah terlalu banyak mengganggu ketenanganku, Gavin!"


"Dan apa yang kau lakukan terakhir ini membuatku benar-benar sangat marah. Bagaimana mungkin kau menyewa pembunuh untuk membunuh aku dan istriku," lanjut Skylar kembali.


Gavino mendengkus kasar sembari menghentakkan tangannya. Ia melemparkan pandangan pada objek lain sebelum kembali menatap wajah tegas Skylar.


"Kau akan menyesalinya, Skylar!" Sesaat, pria itu berusaha menahan gejolak emosi sebelum akhirnya salah satu sudut bibirnya terangkat tipis. "Istrimu memang bukan targetku, tetapi pembunuh bodoh itu sendiri. Tetapi entah mengapa wanita itu tiba-tiba terlintas di kepalaku. Bagaimana jika kali ini aku memutuskan untuk mengusiknya? Starla ... istri cantikmu."


Skylar mendorong tubuh itu hingga membentur dinding belakang. Tangannya terkepal erat menggenggam kerah kemeja milik Gavino.


"Tidak akan aku biarkan." Skylar menggerung marah. "Kau benar-benar akan mati di tanganku jika sedikit pun kulitmu menyentuhnya. Kematianmu akan kubuat lebih mengenaskan dari pembunuh bodoh itu. Tidak sulit untuk membereskan sampah kotor sepertimu, Gavin."

__ADS_1


Ia menyelesaikan kalimatnya seraya menekan tubuh itu sekali lagi sebelum beranjak pergi. Tak lama kemudian, dua pengawal masuk sesaat setelah Skylar keluar dari ruangan. Mereka menatap Gavino dengan tatapan mengancam.


"Aku akan pergi. Kalian tidak perlu menyeretku untuk keluar dari sini!" kata Gavino lalu melangkah tertatih meninggalkan ruangan kosong dengan membawa segudang ancaman lelucon baginya.


__ADS_2