
Emosinya seakan dipermainkan ketika tatapan kagum lelaki muda itu tak kunjung berpaling. Wajahnya menggelap dengan napas yang mulai menyesakkan dada. Regan tidak pernah merasa semarah ini hanya karena masalah yang sepele. Namun, sepertinya lelaki sialan itu memang sudah melewati batas.
Skylar nyaris menghampiri laki-laki itu ketika sang istri menahan dirinya yang membuat ia merunduk menatap wajah tegang milik Starla. Wanita itu menggeleng pelan, mengisyaratkan agar ia tidak berbuat ulah di tempat keramaian.
Sesaat, Skylar membuang napas kasar. Mengarahkan pandangannya pada sosok laki-laki yang masih belum menyadari kemarahannya, lalu kembali pada wajah sang istri.
"Kita pergi!"
Starla menatap Skylar dengan tatapan heran. "Buahnya—"
"Lupakan!"
Pria itu kemudian menarik lengan Starla, memaksa wanita itu untuk meninggalkan tempat tersebut sebelum kemarahannya kembali membuat amarahnya menghancurkan apa pun yang ada di sekitarnya.
****!
****
Dua puluh menit setelah itu, mereka akhirnya tiba di rumah sakit. Sosok wanita yang tengah berbaring setengah duduk di atas ranjang pasien itu mengernyit bingung saat ia melihat kedua pasangan sejoli tersebut. Mereka terlihat canggung. Ah, tidak. Sepertinya hanya Starla yang begitu, sementara Skylar tampak biasa saja dengan wajah tenangnya yang tegas.
Kecanggungan itu terlihat jelas di sinar wajah Starla. Belum lagi manik birunya yang terlihat hampa dan kosong. Ada apa? Apakah ada sesuatu yang terjadi di antara mereka?
Wanita itu berdeham samar. Ia membuka suara setelah terdiam beberapa lama.
"Jadi, bagaimana?"
__ADS_1
Pertanyaan yang nyaris tidak memiliki penjelasan itu membuat Skylar mengerutkan dahinya sebelum menjawab. "Apa yang bagaimana?"
"Apa kamu benar-benar seorang lelaki?" Grace mulai bangkit dalam posisi duduk seutuhnya dengan tatapan yang sama sekali tidak bergeser dari wajah Skylar. "Tentu saja aku menanyakan perihal bayi. Apa kalian tidak pernah memikirkan itu?"
Sontak pertanyaan gamblang itu membuat keduanya tertegun. Starla meneguk kasar air liurnya yang terasa pahit. Ingin rasanya ia tertawa miris. Menertawakan dirinya yang juga sempat mengharapkan kehadiran seorang bayi. Andai saja ... andai saja pernikahannya dengan Skylar berlandaskan cinta dan ketulusan, mungkin saat ini jabang bayi itu sedang bersemayam di dalam rahimnya. Namun, pada kenyataannya itu tidaklah terjadi.
Seandainya Grace mengetahui semua rencana Skylar, wanita itu tidak mungkin menanyakan hal se-sensitif itu. Pertanyaan yang membuat hati Starla bagai teriris sembilu. Matanya tiba-tiba memanas. Ia mengerjap cepat, menghalau air matanya yang nyaris menitik dan mempermalukan dirinya di hadapan Grace. Napasnya terasa sesak. Wanita itu menundukkan wajah seraya menautkan kedua jemarinya yang bergetar, berharap bahwa dengan demikian, ia dapat menguatkan hatinya untuk tetap bertahan. Setidaknya, setelah pergi dari tempat itu.
Di sebelahnya, Skylar tampak tenang seolah tidak terjadi apa-apa. Namun, tidak ada yang tahu bahwa di dalam ketenangan itu juga tersua ketegangan yang menghujam sudut hatinya dengan ganas. Pikirannya terhambat secara tiba-tiba. Pria itu benar-benar tidak tahu jawaban apa yang harus dilontarkan. Entah mengapa ada sebuah perasaan asing yang menerjangnya ketika Grace menuturkan pertanyaan tersebut. Apakah karena wanita itu menyebutkan bayi? Bayinya? Anaknya? Darah dagingnya sendiri?
Tidak bisa dipungkiri bahwa ia juga menginginkan seorang bayi, darah dagingnya sendiri. Namun, bagaimana jika keturunannya berasal dari rahim seorang wanita yang menjadi rivalnya? Wanita yang telah membantu Arlan untuk menghancurkan kehidupan adiknya. Wanita yang menjadi mainan pribadinya selama ini. Pantaskah?
Helaan napas berat itu akhirnya terdengar. Sejenak, ia melirik Starla melalui ujung mata sebelum akhirnya memutuskan untuk bersuara. Mengalihkan suasana yang terasa mencekam dengan menjawab pertanyaan dari wanita itu. Namun, jawaban itu seketika tertahan saat pintu ruangan VIP itu terbuka dari luar.
"Aunty?"
"Aunty, lama tidak melihatmu. Aku merindukanmu, kau tahu?" kata anak itu setelah melepas pelukannya.
Starla mengangguk ringan. "Aku juga merindukanmu, Akala. Kau dari mana saja?"
"Dari taman. Kau ingin melihatnya? Mommy bilang, kau juga menyukai taman. Aku akan menemanimu jika kamu mau, Aunty."
Sungguh, Starla tidak mampu menahan senyum gelinya saat ia mengamati wajah anak tampan itu. Begitu lucu dan menggemaskan dengan kedua pipinya yang chubby. Binar matanya yang bahagia tidak pernah teralihkan hingga ia tidak menyadari bahwa Skylar sejak tadi mengamatinya dari samping wajahnya. Pria itu tidak pernah melihat istrinya tersenyum manis dan begitu tulus seperti ini. Tidak pernah sama sekali semenjak ia memutuskan untuk mematikan sinar kebahagiaan yang ada di dalam kehidupan wanita itu.
"Sepertinya tidak perlu karena sebentar lagi aku akan pulang. Hari sudah mulai malam dan besok kau sekolah, bukan?"
__ADS_1
Tampak Akala mengangguk mantap di depan wajah Starla. "Bolehkah aku mengunjungimu jika libur tiba?"
Senyum Starla semakin merekah di bawah tatapan Skylar yang masih membiarkan manik birunya memandangi wajah anggung itu. Dan hal tersebut tentu tidak diketahui oleh sang empunya.
"Tentu saja. Aku akan menunggumu kalau begitu," jawab Starla tenang meskipun ia sedikit ragu saat mengatakan itu. Wanita itu meragukan nyawanya yang sudah di ujung tanduk. Dia bisa mati kapan saja jika bersama Skylar, bukan?
****
Selepas dari rumah sakit, Skylar memutuskan untuk makan malam di sebuah restoran mewah di pusat kota. Seperti sebelum-sebelumnya, mereka melewati aktivitas itu dengan keheningan yang menyelimuti. Hal itu sudah sangat biasa bagi mereka di setiap harinya.
Selang beberapa menit setelah makan malam, mereka akhirnya berjalan menuju pelataran parkir saat Skylar tiba-tiba mendengar seruan wanita yang tidak asing di indra pendengarannya.
"Ah, bahagia sekali."
Wanita itu mendekat, menghampiri keduanya dengan langkah tenang. Wajah cantiknya yang sensual tampak mengeras saat sorot matanya tanpa sengaja menangkap tangan Skylar yang menggamit posesif pinggang ramping istrinya. Sesaat, ia menghujam Starla dengan tatapan menusuk sebelum berpaling ke wajah tampan Skylar.
"Kau habis makan malam dengan, Starla?" tanyanya dengan nada remeh dan merendahkan. Namun, tidak ada jawaban dari Skylar. Pria itu malah membalas tatapannya tak kalah tajam dengan wajah tegasnya yang mengetat kejam.
"Aku benar-benar merindukanmu, Skylar."
Starla yang berdiri di samping sang suami mengernyit jijik saat melihat wanita itu melingkarkan kedua tangannya pada leher suaminya. Dan apa yang dilakukan perempuan itu sukses membakar emosi Skylar. Ia melepas rangkulannya pada Starla lalu menyentak kasar lengan wanita seksi itu yang membuat sang empunya memekik kaget.
"Gosh! Kau menyakitiku, Sky!"
"Dengar, Ariana." Skylar menekankan suaranya. Ia memangkas jarak pada wanita itu dan berdiri tepat di hadapannya. "Jangan memaksaku untuk menyakitimu lebih dari apa yang baru saja aku lakukan!"
__ADS_1
Ia menyelesaikan kalimat itu dalam satu kali tarikan napas yang membuat Ariana berjengit takut. Skylar lantas beranjak dari tempat itu setelah tangannya kembali terulur, merenggut pinggul sang istri. Meninggalkan Ariana yang bergeming dengan pandangan tidak percaya.
"Sialan!"