Tawanan Sang Devils'

Tawanan Sang Devils'
Cooperate


__ADS_3

"Apakah aku harus memberitahumu bahwa Skylar tidak pernah sekali pun terpikat oleh wanita? Jangankan wanita, ia bahkan tidak pernah memikirkan seorang gadis. Gadis, Ariana. Bagaimana mungkin kau begitu yakin bahwa Skylar menaruh hati pada wanita seperti dirimu?"


Ariana berusaha menahan diri untuk tidak melayangkan kepalan kecilnya pada wajah sempurna itu. Sejenak, ia terdiam ketika pikirannya tiba-tiba melayang pada saat di mana pertama kali bertemu dengan Skylar. Sebuah bar tempatnya bekerja, club malam milik pria itu. Mereka memang berkenalan begitu saja, tanpa sentuhan dan cumbu rayu, terlebih lagi bersetubuh.


Merayu dan menggoda lelaki, Ariana termasuk wanita mahir dalam hal sekecil itu. Namun, entah mengapa Skylar sama sekali tidak pernah terjerumus ke dalam lingkaran kenistaannya. Pria itu selalu menolak dirinya yang lihai akan suatu hal yang berkaitan dengan kepuasan hasrat lelaki. Membuat Ariana sempat berpikir bahwa pria itu adalah lelaki yang tidak normal, tidak memiliki hasrat lebih terhadap seorang wanita. Homoseksual. Ya, saat itu Ariana mengira Skylar adalah seorang gay, penyuka sesama jenis.


Hingga kemudian, pria itu menawarkan sebuah pekerjaan. Yaitu mengamati seorang wanita, dengan imbalan mereka akan menghabiskan satu malam bersama. Tentu saja Ariana tidak menolak itu, dan menerima saja saat dia hanya dimanfaatkan saat itu. Dan karena satu malam yang mereka habiskan itu, menimbulkan sepercik perasaan cinta terhadap pria tak tersentuh itu.


"T—tentu saja! Kami pernah menghabiskan malam bersama. Kau salah mengira, hubungan kami sudah terlalu jauh. Dan itu menandakan bahwa dia juga jatuh cinta padaku," tegasnya percaya diri.


Gavino tergelak beserta kedua tangannya yang menyelinap di balik saku celana kerja hitamnya, sementara tatapannya sama sekali tidak teralihkan dari wajah cantik Ariana. "Kau terlalu percaya diri, Ari. Kau hanya dimanfaatkan dan kau menganggap itu cinta? Lucu sekali. Tetapi kau tenang saja, aku bisa membantumu, Ariana sayang."


"Berhenti memanggilku seperti itu. Kau menjijikkan. Persetan dengan alasan busukmu. Aku bisa mendapatkan apa pun yang kuinginkan tanpa bantuanmu, Gavin," sergah Ariana sebelum akhirnya berbalik, hendak meninggalkan Gavino dari ruangan tersebut ketika lelaki itu kembali bersuara yang membuat langkahnya terhenti seketika.


"Sayang sekali karena sepertinya kau belum mengetahui kenyataan yang sesungguhnya."


Ariana menatap pria itu dengan dahi yang berkerut sama. "Apa maksudmu?"


"Aku benar, bukan? Ada satu hal penting yang belum kau ketahui." Pria itu menelengkan kepalanya sebelum kembali melanjutkan. "Skylar ... pria yang kau cintai rupanya bajingan licik yang tengah berusaha menghancurkan seorang gadis lugu dan manis."


Kalimat menggantung itu membuat kepala Ariana kian memanas. "Cepat katakan padaku, sialan! Jangan mengulur waktuku hanya untuk mendengar omong kosongmu itu!"

__ADS_1


Senyum keji Gavino kembali merekah. "Kau tahu wanita yang menjadi istri Skylar saat ini? Dia adalah seorang adik dari lelaki yang telah membuat adik perempuannya gila lalu tewas karena bunuh diri. Dan kau pasti sudah bisa menerka, mengapa Skylar dikabarkan mendadak menikah. Lelaki yang kau cintai menikahi wanita itu karena balas dendam. Dia ingin menyakiti wanita itu, menghancurkan tubuhnya hingga tak bersisa, seperti apa yang kakaknya lakukan kepada adik kesayangannya sendiri."


Ariana tercengang di depan Gavino. Kabar yang baru didengarnya itu benar-benar mengejutkan, dari awal Skylar memang tidak pernah memberitahukan alasannya memanfaatkan dirinya dan dia juga tidak banyak tanya. Tetapi ternyata, kebenaran itu benar-benar mengejutkan.


"Kau mengerti maksudku, bukan? Kau bisa mendapatkan Skylar dengan mudah. Menyingkirkan wanita tidak berharga itu, mungkin? Ataukah sekarang kau punya rencana lain? Aku bisa membantumu, Ariana."


Balas dendam? Jadi, bukan karena cinta? Skylar menikah hanya karena dendam adiknya? Penjelasan dari Gavino memang tidak membuat otaknya benar-benar bekerja. Ia tidak tahu bagaimana detail kejadian tersebut, dan tidak akan pernah ingin mencari tahu meskipun benaknya terus bertanya-tanya. Namun, ia mengerti, sangat mengerti dengan arah pembicaraan lelaki ini. Ia bisa dengan mudah mengambil perhatian serta hati Skylar dengan cara melenyapkan wanita itu. Tentu saja Skylar akan menatapnya dengan tatapan kagum karena telah turut serta membantunya.


Ia menatap mata Gavino lekat-lekat, mencari kebohongan di dalam sana. Tetapi tidak ada. Lelaki itu benar-benar serius dengan kalimat yang baru saja terucap. Dan tatapan curiga itu tentu saja terbaca jelas oleh indra penglihatan Gavino.


Alis Gavino terangkat tinggi. "Kau tidak percaya? Aku bisa membuktikan semuanya jika kau berpihak padaku sekali lagi, Ari. Kau tidak akan menyesalinya."


Wanita itu bersumpah dalam hati bahwa ia tidak pernah berbuat keji terhadap seseorang. Ia memang wanita penghibur yang melakukan banyak pekerjaan dan tidak terdidik, tetapi dia selalu menghindar untuk melakukan sebuah kejahatan yang dapat membahayakan orang lain. Namun, untuk kali ini, ia menampik semua pendirian itu. Demi satu nama, demi mendapatkan hati seorang lelaki terkasih, ia memutuskan untuk melakukan segala sesuatu yang dihindarinya selama ini. Hanya untuk kali ini saja.


****


"Mrs. Wolves?"


Sedikit terkesiap, Starla menoleh dan mendapati Andreas yang berdiri tak jauh dari belakang punggungnya.


"Sudah lama di situ?" Suara merdu dan lirihnya membuat senyum pria itu terukir seraya menggeleng pelan.

__ADS_1


"Baru saja," balas Andreas lalu melangkah dan mengambil posisi di sebelah Starla. "Anda tidak merasa dingin?"


"Hanya dingin. Aku rasa tubuhku sudah kebal untuk merasakan sesuatu yang lebih buruk lagi." Starla terkekeh mendengar jawabannya sendiri.


Wanita itu memang hanya mengenakan gaun rumahan biasa, tanpa lengan dan hanya sebatas lutut. Starla tentu tahu pakaian seperti itu benar-benar tidak sesuai digunakan untuk berdiri lama di luar balkon, sementara angin musim dingin terus menerpa tubuh mungilnya, bahkan menusuk hingga ke tulang dalamnya. Namun, hal itu bukanlah masalah besar, kulitnya sudah tidak peka lagi terhadap sentuhan apa pun sepertinya. Dirinya sudah mati rasa.


"Aku pikir kau bersamanya," lanjut wanita itu lagi.


"Saya diperintahkan untuk mengawasi Anda mulai saat ini," ucap Andreas seadanya.


"Untuk apa?"


Starla menghela napas pelan dan mengarahkan pandangan ke arah taman di bawah sana setelah menyadari Andreas tidak memberikan jawaban atas pertanyaannya. Tentu saja Skylar memerintahkan pria ini untuk mengawasinya agar tidak melarikan diri, karena pria gila itu tidak akan mungkin melepaskannya sebelum dirinya berhasil dihancurkan dengan brutal dan mati mengenaskan di tangannya.


"Jangan berpikir seperti itu," ujar Andreas seolah-olah menerka apa yang tengah dipikirkan Starla saat ini. "Tuan Skylar mengutus saya untuk menjaga Anda dengan baik. Ia tidak ingin kejadian kemarin malam dan malam penculikan itu kembali terulang."


Bibir Starla membentuk lengkungan tipis saat mendengar penuturan manis sekaligus miris itu. Terdengar konyol, baginya.


"Anda tidak ingin ke bawah sana?"


"Tidak perlu. Cukup memandanginya dari sini saja."

__ADS_1


__ADS_2