Tawanan Sang Devils'

Tawanan Sang Devils'
Ekspektasi


__ADS_3

"Maaf ... ada orang yang mencari Tuan Skylar, Nyonya Starla."


"Siapa?" tanya balik Starla pada Jeane.


"Seorang wanita, Nyonya."


Starla mengangkat alis, lalu bergumam, "Katakan kepada wanita itu kalau Skylar belum pulang. Kalau ada keperluan mendesak suruh temui langsung di kantornya atau tunggu saja sampai Skylar pulang." Starla berjalan ke arah kamarnya, meninggalkan Jeane yang masih menyusul di belakangnya. "Lagian sepertinya Skylar tidak akan lama lagi pulang dari kantornya," lanjut Starla kembali saat menyadari Jeane masih mengikuti langkahnya.


"Tetapi dia berpesan agar Anda menemaninya untuk menunggu Tuan Skylar," kata Jeane kembali dengan nada takut-takut dan berusaha menghentikan Starla memasuki kamarnya.


Starla tampak berpikir, dia enggan menemui siapa pun wanita itu. Namun, tetap saja langkah kakinya menuntunnya menuruni anak tangga demi menemui wanita yang katanya ingin ditemani menunggu Skylar. Benar-benar merepotkan.


Langkahnya kemudian menuntunnya ke arah kolam renang yang kata Jeane wanita itu sedang menunggu di sana.


Starla tidak menyangka bahwa wanita yang datang mengunjungi Skylar adalah Ariana. Meskipun wanita itu masih membelakanginya, tetapi dari arah belakang Starla langsung mengenalinya.


Starla berdeham pelan, membuat wanita itu segera berbalik ke arahnya, sedetik kemudian Starla terperangah akan kecantikan temannya itu, dengan rambut panjang sepinggang yang berwarna kecokelatan, terlihat mengkilau hasil tatanan salon terkenal. Belum lagi baju yang sangat cantik dan indah melekat pada tubuh seksi bak model itu.


Wanita itu benar-benar berbeda. Starla sudah tidak mengenalnya lagi. Dia benar-benar bukan Ariana yang dikenalinya dulu, sahabat baiknya.


Tanpa berpikir panjang, Starla maju lalu memeluk tubuh Ariana. Berharap kalau kejadian kemarin hanyalah bualan semata dan sekarang Ariana datang untuk membebaskannya dari cengkeraman Skylar.


"Kau pasti datang untuk menjemputku, bukan? Perkataanmu kemarin pasti semuanya hanyalah kebohongan hanya untuk mengelabui Skylar, iya 'kan?"


Namun, ekspektasi tak seindah realita. Nyatanya wanita itu malah mendorongnya, dan sedikit mengibaskan tangannya dengan gerakan jijik sehabis disentuh oleh dirinya.


"Apa kau belum mengerti dengan semua yang terjadi, Star? Aku sama sekali tidak datang ke sini untuk menjemputmu, tetapi aku datang untuk melihat keadaanmu, lalu menertawakanmu."


Starla hanya bisa terperangah dan syok mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Ariana. "Ari, apa yang—"


Wanita itu kemudian tertawa terbahak-bahak. "Dan sepertinya Skylar memang telah berhasil merendahkanmu sedemikian rupa. Kau benar-benar terlihat menyedihkan, Star."


Sebisa mungkin Starla menahan air matanya untuk tidak terjatuh dan semakin menunjukkan pada Ariana kalau dia memang hanyalah gadis lemah. "Apa sebenarnya salahku padamu, Ari? Kenapa kau begitu jahat padaku?"


"Banyak. Kau memiliki banyak kesalahan. Dan wajah polosmu itu … wajah itu benar-benar menjengkelkan."

__ADS_1


Starla tidak tahan lagi. Dia tidak bisa mendengar kalimat-kalimat menyakitkan dilontarkan oleh orang yang pernah sangat dipercayainya itu.


"Keluar! Keluar dari sini, Ariana!"


"Wah … kau sudah berlagak seperti nyonya di rumah ini ternyata." Ariana merubah raut wajahnya. "Asal kau tahu Starla, kau hanya pelacur bagi Skylar di sini ... tidak lebih. Jadi, jangan besar kepala."


Kalau wanita itu tidak mau pergi, maka Starla yang harus menjauh. Dia benar-benar sudah tidak sanggup mendengar kalimat-kalimat yang dilontarkan oleh Ariana yang begitu menyakiti hatinya.


Namun, langkah Starla kembali terhenti saat suara Ariana kembali terdengar. "Dan lihat pakaian yang kau kenakan? Apakah Skylar tidak pernah membelikan pakaian mewah yang pantas dikenakan wanitanya pemuasnya?" ucapnya kembali tanpa peduli bahwa setiap kalimat yang dilontarkan akan menyakiti hati Starla.


"Itu bukan urusanmu, Ariana!"


Ariana kembali terbahak. "Ya, itu memang tidak menjadi urusanku. Aku hanya merasa aneh karena selama ini wanita-wanita di dekat Skylar akan dilimpahkan pakaian mewah dan perhiasan. Kasihan sekali dirimu yang sama sekali tidak memiliki apa pun di sini."


Hati Starla semakin mencelos, sangat tahu apa yang dimaksud dari perkataan Ariana. Semua yang dikatakan wanita itu memang kebenaran, dia memang hanya pelacur Skylar di sini, yang sama sekali tidak diberikan kenyamanan. Tetapi mendengar langsung dari mulut Ariana, itu benar-benar menyakitkan.


"Skylar juga memberiku pakaian indah dan perhiasan, aku hanya tidak terbiasa memakai barang-barang mahal itu," jawab Starla berbohong. Membanggakan dirinya demi harga dirinya di depan Ariana. Dia tidak mau selalu diinjak-injak oleh orang lain.


"Oh ya? Aku pikir perempuan menjijikkan dan dari keluarga miskin sepertimu tidak pantas mengenakan apa-apa. Kau hanya pantas menjadi pelacurnya saja."


Ariana sangat senang melihat perubahan raut wajah dari Starla. Ia sudah berhasil mempengaruhi wanita itu lewat perkataannya.


Starla mengerutkan keningnya dan bertanya, "Apa sebenarnya maksudmu berbicara seperti itu?" Emosi Starla semakin tersulut dengan perkataan Ariana yang merendahkan keluarganya, lalu terkekeh skeptis. "Aku tidak pernah menyangka kalau kau memiliki hati yang sangat busuk. Aku menyesal karena telah mempercayaimu dan menjadi temanmu. Sungguh, Ari, kau adalah wanita yang benar-benar menjijikkan. Wanita bermuka dua."


"Baguslah kalau kau sudah mengenalku. Ya, inilah aku, Starla. Ariana yang hanya berpura-pura mendekatimu. Dan semua ini aku lakukan untuk Skylar." Wanita itu kemudian terkekeh. "Dan aku ingatkan, kau hanya cocok menjadi pelacurnya Skylar dan hanya akulah yang pantas menjadi istrinya," jawab Ariana dengan penuh rasa percaya diri.


"Baguslah." Starla berdecak, membalas Ariana dan melayangkan tatapan menghina. "Orang sepertimu memang pantas bersama Skylar. Sama-sama buruk." Starla tidak mau setengah-setengah, biarlah ia semakin merendahkan wanita di depannya itu. Bukankah, wanita itu yang lebih dahulu mengajaknya berperang?


Ariana membelalak tidak percaya. Tersinggung dengan kata-kata Starla. Sialan!


"Apa maksudmu, huh?"


"Tidak ada, aku hanya tidak peduli dengan kalian. Justru aku bahagia kalian bersama, karena kalian sama-sama buruk dan jahat yang tidak pantas hidup," jawab Starla kasar.


"Apa kau bilang?" desis Ariana. Kedua telapak tangannya mengepal di kedua sisi tubuhnya.

__ADS_1


Starla melayangkan senyum maklum, melihat kemarahan wanita di depannya. Dengan gerakan santai, ia mengambil gelas jus kosong bekas Skylar tadi pagi. Beranjak dari tempatnya dan menatap mata Ariana yang sejajar dengannya. "Pulanglah atau kalau masih ingin menunggu Skylar tidak apa-apa, tapi aku sudah malas berada di sini bersama wanita sepertimu, wanita pengkhianat yang sangat jahat."


Namun, baru saja Starla membalikkan badannya, dia tiba-tiba merasakan kalau tubuhnya sengaja didorong dengan keras dari belakang. Mengakibatkan gelas yang di pegangnya terjatuh, menyusul tubuhnya terhuyung ke depan dan langsung menimpa pecahan gelas tersebut.


Sambil menahan amarahnya, ia bangkit terduduk. Melihat telapak tangannya yang terluka oleh pecahan gelas tersebut berdekatan dengan bekas luka yang juga diberikan oleh Skylar di telapak tangannya beberapa waktu yang lalu. Starla berusaha mengabaikan rasa sakit di telapak tangannya yang kini sudah mengeluarkan darah segar yang mengucur mengotori lantai. Belum lagi kedua lututnya yang lecet. Ia berdiri dengan kasar, menatap Ariana tanpa rasa takut.


"Sorry ... aku tidak sengaja." Ariana mengucapkannya dengan sikap santai tanpa rasa bersalah.


"Aku juga tidak sengaja. Maaf!" Tanpa berlama-lama Starla mendorong bahu Ariana ke arah kolam renang. Dan ....


Byurrrr~


Ariana terjatuh dengan tergeragap ke dalam kolam renang. Dengan segera wanita itu berusaha berenang ke tepi permukaan kolam. Tapi sedetik kemudian, tiba-tiba saja ia terlihat sengaja menenggelamkan diri, membuat Starla tampak pias dengan kelakuan wanita itu.


Tetapi semua itu terjawab saat melihat Skylar yang juga melompat ke dalam kolam renang dan berenang mendekati Ariana. Wanita itu jelas sedang berpura-pura tenggelam saat menyadari kehadiran Skylar. Cih! Wanita ular itu benar-benar pandai bersandiwara.


Sepertinya wanita yang pernah sangat dipercayainya itu benar-benar terobsesi pada Skylar hingga mampu bersikap selicik itu. Wanita itu benar-benar buruk!


"Apa kau baik-baik saja?" Skylar bertanya. Berjongkok di samping Ariana sambil mengelus punggung wanita itu. "Jeane, bawakan handuk untuk Ariana," pintanya pada Jeane yang kebetulan datang menyusul di saat mendengar keributan.


"Aku takut Skylar, istrimu ini benar-benar kejam. Ia sengaja mendorongku padahal aku tidak tahu berenang, kau pasti tahu itu." Ariana memeluk Skylar di lengangnya dan menangis saat Skylar balik memeluknya.


"Sudahlah, kau sudah aman." Skylar mengambil handuk dari tangan Jeane, lalu memakaikan ke tubuh Ariana. "Jeane, tolong bantu Ariana untuk mengganti pakaiannya."


Starla hanya mendengkus melihat kelakuan mereka, lalu berderap meninggalkan drama menjijikkan tersebut.


Setelah kepergian Jeane dan Ariana, Skylar baru menyadari kalau ternyata Starla si biang masalah itu juga menghilang.


Lalu, kemudian Skylar terpaku. Matanya tertuju pada bercak darah di antara pecahan gelas yang berhamburan di atas lantai. Keningnya berkerut, darah siapa itu? Setahunya Ariana tidak terluka sama sekali.


Dan pertanyaannya terjawab saat menyadari kalau tempat itu adalah yang ditempati Starla berdiri. Dan membuatnya semakin yakin bahwa itu adalah darah Starla.


Entah apa yang terjadi di sini, kenapa Ariana menemui Starla dan kenapa Starla sengaja mendorong Ariana, pertanyaan itu terus berkelebat di dalam pikirannya.


Membuatnya tampak frustasi dan lebih memilih menemui Starla yang pasti tengah berada dalam kamar tidur mereka. Oh Tuhan! Benar-benar merepotkan!

__ADS_1


__ADS_2