
Skylar membuka pintu kamarnya. Suara gemericik air langsung terdengar dari arah kamar mandi menandakan keberadaan Starla. Segera ia berjalan menuju kamar mandi menyusul Starla yang tidak mengunci pintu kamar mandi tersebut.
Starla yang menyadari kedatangan Skylar tentu saja kaget, namun itu tidak bertahan lama, ia memilih mengacuhkan kedatangan pria itu yang datang menyusulnya. Ia sempat mengira kalau pria itu akan menemani Ariana di bawah, melihat kekhawatiran pria itu terhadap Ariana begitu besar, sangat mustahil kalau ia tidak menemaninya di bawah sana.
"Apa sebenarnya yang terjadi, Starla?"
Skylar sebenarnya masih berada di kantor, tetapi mendapat telepon dari Jeane bahwa Ariana datang menemuinya dan sekarang sedang bersama Starla. Ia sangat tahu kalau Ariana pasti sengaja datang untuk bertemu Starla, bertemu dengannya hanyalah salah satu alasan. Ariana sudah lama terobsesi dengannya, dan menjadi kekasihnya one night standnya. Hanya saja sebatas itu, dan Skylar selama ini sudah berbaik hati semenjak wanita itu mau membantunya mendekati Starla. Tetapi hanya sebatas itu, harusnya Ariana tahu batasan terhadap hubungan mereka.
Tetapi apa yang dilihatnya baru saja berbeda dari perkiraannya. Ariana tidak menyakiti Starla. Melainkan Starla-lah yang dengan sengaja mendorong Ariana ke kolam renang, untung saja ia datang cepat dan menyelamatkan wanita itu. Tetapi yang membuatnya kembali bertanya-tanya kenapa Starla juga sampai terluka?
"Apa pedulimu?" tanya Starla balik, lalu kembali membersihkan luka di telapak tangannya dan berusaha menghentikan darah yang masih mengucur dengan air.
Embusan napas berat Skylar semakin dalam dan berat. Kekesalan melanda setiap Starla menantangnya dengan keras kepala.
Skylar membalikkan tubuh Starla dengan kasar. Dengan gusar ia bertanya, "Kenapa tanganmu sampai terluka?"
"Bukan urusanmu, Skylar," jawab Starla. Membuang muka ke arah cermin, menghapus air mata yang tidak tahu malu kembali mengalir.
"Ini menjadi urusanku, Star. Karena aku tidak menyukai ada luka di tubuh kamu itu." Skylar tanpa sadar meninggikan suaranya di depan wajah Starla. Kekhawatiran Skylar terlihat jelas di wajahnya.
Starla sampai tersenyum sinis karenanya. "Kau khawatir?"
Skylar dibuat gelagapan oleh pertanyaan yang dilayangkan oleh istrinya itu. Apakah dia khawatir dengan keadaan wanita itu? Apakah itu terlihat jelas? Tetapi kenapa dia harus khawatir?
"Aku ...."
"Kau lucu, Sky. Kenapa kau baru mempertanyakan luka kecil ini tanganku? Apa kabar dengan luka yang selama ini kau torehkan kepadaku, itu bahkan lebih menyakitkan dari ini. Jadi bersikaplah seperti biasanya. Tidak peduli. Karena dengan kau bersikap seperti ini, aku merasa aneh."
Lama Skylar mencerna perkataan Starla, ia kemudian menyugar rambutnya dengan kasar. Starla memang ahlinya menjungkir balikkan emosinya, sampai ke level tertinggi.
"Sial!" umpatnya kasar. "Harusnya aku memang tidak mempertanyakan hal sia-sia itu. Kau pembunuh dan selamanya akan jadi pembunuh, harusnya aku tidak heran kalau kau akan kembali melakukan hal itu terhadap Ariana."
Starla mendongak, menggeleng-gelengkan kepala tidak percaya akan perkataan Skylar. Ia tidak menyangka kalau pria itu akan berpikiran jelek seperti itu terhadapnya. Ia memang sengaja mendorong Ariana, tetapi itu semua punya alasan. Ariana yang memulai semuanya, ia hanya mencoba membela diri. Tetapi sudahlah, sampai kapan pun Skylar akan selalu menyalahkannya, Skylar tidak akan pernah mempercayainya. Jadi, biarlah berjalan seperti biasanya.
"Sudahlah, aku sudah lelah dengan urusan kantor. Aku butuh mandi dan istirahat," ucapnya, membuka satu persatu kancing kemejanya memperlihatkan tubuhnya yang terpahat indah.
__ADS_1
Sadar kalau Skylar akan mandi, Starla membalikkan badannya untuk keluar. Namun tertahan karena tangannya dicekal oleh pria itu.
"Apa?" tanya Starla kasar. Berusaha menyentak lengannya yang kembali dicekal dengan kuat oleh pria itu, yang kembali menimbulkan rasa sakit di pergelangan tangannya. Tidak lama lagi, tangannya itu akan berubah kemerahan.
"Aku mau mandi."
"Lalu?" Starla mengangkat alis tidak mengerti.
Skylar tersenyum menyeringai. "Bantu aku mandi."
Skylar mendorong tubuh Starla ke pancuran, membiarkan air hangat membasahi tubuh mereka berdua. Seketika Starla sekali lagi mencoba memberontak, Skylar mencengkeram kedua tangannya erat-erat ke dinding.
"Jangan menentangku, Sayang. Kalau kau tidak ingin aku memperkosamu sekarang juga," ucap Skylar dengan kasar.
Starla terdiam. Kata 'perkosa' sudah banyak mempengaruhinya dan membuatnya ketakutan. Alhasil ia kembali tunduk akan perintah pria yang suka mengancam itu.
Skylar terkekeh. Melihat keterdiaman Starla, memberikan arti kepada Skylar kalau wanita itu takut kepadanya. "Ayo gosok punggungku dengan sabun." Skylar melepaskan pakaiannya, lalu melepaskan celananya, terkekeh ketika Starla langsung memalingkan wajahnya, tak mau melihat.
Starla seketika terpana dengan pemandangan di depannya. Tidak munafik, tubuh Skylar benar-benar indah. Tetapi dengan cepat ia mengerjapkan mata saat menyadari bahwa matanya terpaku pada keindahan tubuh Skylar yang berotot dan keras. Kau benar-benar menjijikkan, Star!
Starla terlonjak kaget, perkataan Skylar bukan main-main. Dengan kembali menyulut emosi pria itu, bisa saja ia kembali diperkosa. Dan itu bukan pilihan yang baik untuknya.
Saat tangan halus Starla menyentuh punggung keras Skylar, tiba-tiba pria itu mengerang seperti kesakitan.
Skylar benar-benar butuh pelepasan untuk saat ini. Apalagi di depannya terpampang tubuh yang tercetak indah dari pakaian basah yang masih dikenakan Starla itu ... sangat-sangat menggoda.
Dan akhirnya Skylar tidak bisa menahan gairahnya yang meluap-luap dan butuh pelepasan. Dengan cepat ia berdiri dengan kasar, berbalik menghadap tubuh Starla.
"A–apa yang ...."
"Kau sangat indah," bisik Skylar. Pria itu lalu menarik tengkuk Starla menciumnya dengan kasar dan dalam, membawa wanita itu ke dalam ciuman yang hebat.
"Skylar!" Starla mengerang di sela-sela ciuman Skylar.
"Aku membutuhkanmu, Sayang." Entah Skylar sadar atau tidak, kata 'sayang' itu terucap dari bibirnya. Tetapi itu hanyalah euforia dari gairah yang tidak bisa ditahannya lagi.
__ADS_1
Tangan besar Skylar mulai merayap dari pinggul ke perutnya, kemudian merabanya dan terus merayap sampai ke dadanya yang masih terbungkus bra dan meremasnya dengan kuat. Membuat wanita itu mengerang dan melengkungkan tubuhnya ke belakang. Skylar merunduk dan menciumi rahang juga leher Starla dengan sensual.
"Aku membencimu, Skylar," bisik Starla dengan bibir terbuka dan mata tertutup.
Skylar menyeringai mendengar perkataan Starla. "Kau memang mungkin membenciku, tetapi tidak dengan tubuh ini Bahkan kau merasa puas hanya dengan ciumanku."
"Sialan!" Dan benar, erangan terlontar dari bibir Starla.
Erangan lembut keluar dari bibir Starla, saat Skylar menggigit puncak dadanya yang sudah menegang tak tahu malu. Membuatnya sekali lagi sangat rendah di depan pria itu.
Skylar semakin menekan tubuh Starla ke dinding, dan mendekatkan bukti gairahnya. Pria itu kembali mencium Starla dengan dalam dan kasar, seakan bibir itu telah menjadi candunya.
Skylar kemudian melepaskan tubuh Starla dan membalikkannya hingga wanita itu menghadap dinding dan tubuh depannya menempel dengan dinding. Sedangkan Skylar merengkuhnya dari belakang, pria itu juga melepaskan pakaian yang masih melekat di tubuh Starla dengan kasar. Lalu bergerak menaikkan sebelah kaki Starla dan mulai menyatukan tubuh keduanya.
Starla berusaha mati-matian untuk menahan desahannya keluar, ia tidak ingin terlihat menikmatinya. Namun pada akhirnya ******* itu tetap keluar, wajahnya mendongak dengan mata terpejam dan bibir terbuka.
Skylar menggerakkan tubuhnya, dengan kuat dan keras hingga tubuhnya terlonjak ke depan, menahan sebelah tangannya agar kepalanya tidak terbentur ke dinding. Skylar masih menghujam tubuh Starla dengan keras, dia membalikkan tubuh wanita itu hingga berhadapan kemudian menyatukan kembali tubuh mereka.
Starla sendiri sudah terkulai lemas di bahunya dengan kedua tangan yang mencengkeram kuat, sampai dia merasakan sesuatu hendak meledak dalam tubuhnya dan erangan panjangnya keluar.
"Oh ****!" Skylar mengumpat kasar saat merasakan pelepasannya.
Mereka sama-sama terengah-engah, mengatur napas dan keadaan berubah menjadi panas meski air dari shower masih mengalir. Gerald melepas tubuhnya dari Starla, dan mengangkat tubuh wanita itu yang sudah terkulai lemas itu kembali ke dalam kamar.
Dan, sore itu sekali lagi mereka melanjutkan dan melakukannya dengan panas di atas ranjang. Skylar seakan menggila dengan terus menghujam tubuhnya kembali. Pria itu tidak memiliki rasa puas. Kamar itu kini berubah menjadi panas dengan matahari terbenam di cakrawala menjadi penutup percintaan panas mereka di sore ini.
****
Di balik pintu kamar itu, seorang wanita mengepalkan tangannya dengan kuat. Sangat terlihat kalau saat ini ia sangat marah mendengar ******* dua orang manusia yang saling sahut menyahut di dalam sana. Skylar dan Starla tengah bergulat di dalam kamar itu, membuat Ariana cemburu setengah mati.
Ya, Ariana masih berada di rumah ini. Dan sangat marah karena Skylar berjanji untuk menemuinya, tetapi lihat sekarang pria itu tengah bercinta gila-gilaan dengan istrinya, sialan!
Bahkan pria itu tidak menanyakan kabarnya hanya untuk memastikannya baik-baik saja, padahal ia sudah berakting di depan pria itu, bahkan memojokkan Starla. Semua itu dilakukannya supaya Skylar berpaling darinya, tetapi nyatanya itu sangat susah, keduanya tidak bisa dipisahkan segampang itu.
Tetapi bukan Ariana namanya kalau akan menyerah secepat itu.
__ADS_1
Karena Skylar adalah miliknya!