Tawanan Sang Devils'

Tawanan Sang Devils'
Anger


__ADS_3

Sentakan nyeri yang kian terasa di kepalanya membuat Starla terbangun dari tidurnya. Tidak hanya itu, ia juga mendapatkan kejutan yang membuat jantungnya bergelinjang. Rasa kantuk yang melandanya kian menipis saat mendapati Skylar yang berdiri menatap dirinya tanpa menunjukkan ekspresi apa-apa, sementara tangannya bergelut dengan selembar dasi yang menjadi pelengkap kemeja hitam kerjanya pagi ini.


Ia memilih beralih pandang tatkala tatapan Skylar tak kunjung berakhir. Pria gila itu selalu berhasil membuatnya dilanda rasa gelisah karena sorot matanya yang bagaikan benda tajam yang mampu menusuknya kapan saja. Dengan perasaan getir, Starla bergerak pelan mengambil posisi duduk, dan saat itu juga ia menegang ketika ujung matanya menangkap pergerakan Skylar. Jantungnya memukul keras dan ia was-was dengan apa pun yang akan pria itu lakukan padanya.


Starla pikir, Skylar akan bergerak mendekat dan menerjangnya secara tiba-tiba seperti yang biasa pria itu lakukan kepadanya. Namun, apa yang baru saja berkelebat di pikirannya ternyata tidak terjadi sama sekali. Iblis itu melangkah dalam diam ke arah pintu, melewati ranjang tempat dirinya terduduk kaku dan membeku, lalu keluar begitu saja tanpa menyisakan sepatah kata pun.


Wanita itu melepaskan napasnya yang sempat tercekat setelah pintu kamar kembali ditutup rapat. Benar-benar lega. Skylar tidak menyerangnya hari ini. Ia bahkan tertidur pulas semalam, tanpa terbangun sekalipun untuk melayani nafsu bejat pria itu. Ada apa dan kenapa? Sepertinya Starla tidak peduli dengan jawaban apa pun untuk menjawab pertanyaan itu. Ia tidak ingin mencari tahu alasannya. Starla justru berharap bahwa Skylar sudah bosan dengan tubuhnya, lalu mencari wanita lain yang lebih hebat untuk mencapai kepuasannya, sehingga dia ... dia bisa terbebas dan melindungi nyawanya sendiri dari lingkaran dendam pria itu. Ya, semoga saja.


"Mrs. Wolves?"


Starla menoleh ke arah pintu saat Jeane menyerukan nama tersebut dan ia melihat wanita itu melangkah tenang mendekati ranjang dengan senyum tulusnya yang tidak pernah lepas dari wajahnya.


"Tuan Skylar sudah menunggumu untuk sarapan."


"Ah, ya ... aku mandi terlebih dahulu," jawab Starla yang membuat pelayan wanita itu mengangguk sopan.


"Mari aku bantu, Mrs," tawar Jeane kembali.


Starla menggeleng pelan. "Tidak perlu, aku bisa sendiri. Kau bisa melanjutkan pekerjaanmu yang lain, Jeane."


Jeane mengangguk sekali lagi, diiringi dengan senyum tipis nan tulus yang menampakan kerutan halus di kedua sudut matanya.

__ADS_1


"Baik, Mrs. Wolves."


****


Ariana kerap kali menyisih ketika seseorang telah berhasil menipu dirinya. Masalah sekecil apa pun itu, ia tidak akan pernah mau menerima sebuah kebohongan. Dan kali ini, seseorang telah melakukan hal konyol itu kepadanya. Ia merasa dikibuli dengan ajakan kerjasama Gavino.


Pria sialan itu sepertinya memanfaatkan dirinya hanya untuk kepentingan pribadi. Menjadikannya sebagai alat pengecoh yang justru mempermalukan harga dirinya di depan pria angkuh dan tidak berperasaan sama sekali itu. Oh, tentu saja ia marah. Marah dengan semua orang yang sudah mempermainkan dirinya. Memanfaatkannya dengan segala cara liciknya. Sialan! Ia tidak akan pernah memaafkan Gavino.


Dan Gavino harus bertanggung jawab atas segalanya, pria itu harus membayar karena telah berani-beraninya menipunya. Jadi, di sinilah dia sekarang, untuk membunuh pria sialan itu.


Wanita itu melangkah lebar menuju tempat di mana ruangan kerja Gavino berada. Persetan dengan para karyawan yang memandang wajah kerasnya melalui tatapan aneh mereka. Benaknya hanya ingin segera sampai di sana, lalu meluapkan segala amarah yang berkelebat di dalam hatinya.


Kemurkaan kian terasa membakar dirinya tatkala pandangannya jatuh kepada Gavino yang tengah berbincang dengan seorang pria yang entah siapa. Masih dalam kekuasaan emosi yang melanda, derap langkah Ariana semakin gesit mendekati Gavino yang masih belum menyadari kehadirannya, lalu dengan sekuat tenaganya yang ada ia menghantam lengan pria itu dengan tas tangan karamelnya.


Pria itu mendesis geram. "Kau—"


"Kenapa?"


Suara Ariana rupanya tak kalah menggelegar dari Gavino. Demi Tuhan! Ia benar-benar marah kali ini. Ia tidak peduli lagi dengan para karyawan yang menyaksikan aksinya yang memalukan. Ia bahkan sangat ingin melemparkan boots selututnya ke wajah Gavino andai saja benda itu bisa dengan mudah terbebas dari kaki jenjang indahnya.


"Kau marah? Apakah itu memalukan? Kau tidak suka aku mempermalukanmu? Kau memang pantas diperlakukan seperti itu, bedebah! Bahkan lebih dari ini!"

__ADS_1


Perempuan itu hendak kembali mengayunkan tasnya sekali lagi, namun gerakan Gavino tentu jauh lebih cepat darinya ketika pria itu mencekal kuat tangannya sebelum membekap dan menariknya ke dalam lift. Tampak lelaki itu menekan tombol yang mengantarkan mereka ke lantai di mana ruangan kerjanya berada. Benar-benar wanita murahan tidak tahu malu! Perempuan sialan ini sudah mencoreng wajahnya di depan karyawannya sendiri.


"Apa yang kau lakukan, ******?" tanya Gavino berang setelah memerosotkan Ariana sekasar mungkin ke dalam ruangan pribadinya.


Wanita itu menatap wajah keparat tersebut tak kalah berang. Sejenak, ia membenahi Jumper dress kelabu miliknya yang sempat terkoyak akan perlakuan Gavino lalu kembali mengangkat dagunya tinggi-tinggi.


"Aku akan membunuhmu, Gavin! Kau tahu? Aku tidak suka jika seseorang berusaha menipuku. Dan kau melakukan itu! Kau terkutuk!" cercanya tepat di depan wajah Gavino.


"Apa maksudmu? Aku menipumu dalam hal apa? Jangan memaksa tanganku untuk mencekik lehermu. Katakan padaku!"


Ariana menjulurkan telunjuknya ke dada Gavino dan sedikit mendorongnya. "Dengar! Aku tidak akan bekerja sama denganmu lagi! Kau penipu sialan yang hanya menggunakan diriku untuk kepentinganmu dan juga ambisimu. Kau berkali-kali mengatakan bahwa Skylar memang menginginkanku dan bukan karena hanya memanfaatkan aku. Tetapi apa yang aku dapatkan? Dia justru menolakku tanpa hati, Gavin. Aku tahu kau menjadikanku sebagai umpan hanya untuk menghancurkan Skylar. Dan kau bilang bahwa kita akan sama-sama mendapatkan keuntungan? Kau licik!"


Kekehan ringan Gavino terdengar setelah Ariana menyelesaikan kalimat tersebut. Pria itu membawa dirinya ke kursi kerjanya. "Kau yakin tidak ingin bekerja sama denganku lagi? Kau terlalu mudah menyerah, Ari."


"Tidak akan lagi! Aku bisa mendapatkan Skylar dengan caraku sendiri."


Gavino mengangguk dengan senyuman licik yang menghiasi wajahnya.


"Kau tidak ingat siapa dirimu? Skylar tidak mungkin menyukai wanita kotor sepertimu, Ariana. Jangan terlalu banyak berharap," katanya sarkasme yang membuat Ariana terbelalak sempurna.


"Tidak! Skylar mencintaiku, dan aku yakin itu."

__ADS_1


"Mencintaimu? Mencintai ****** sepertimu? Tidakkah itu salah?" Gavino bangkit dari duduknya sebelum melangkah menghampiri Ariana yang berdiri menegang di tengah ruangan. "Apakah aku harus memberitahumu bahwa Skylar tidak pernah sekali pun terpikat oleh wanita? Jangankan wanita, ia bahkan tidak pernah memikirkan seorang gadis. Gadis, Ariana. Bagaimana mungkin kau begitu yakin bahwa Skylar menaruh hati pada wanita seperti dirimu?"


Sungguh! Perkataan Gavino benar-benar menohok hati dan perasaan Ariana.


__ADS_2