Tawanan Sang Devils'

Tawanan Sang Devils'
Pain


__ADS_3

"Lepaskan aku, brengsek! Jangan sentuh aku!"


Wanita itu tidak tahu keberanian dari mana yang didapatkan saat bibirnya seolah tidak takut melontarkan kalimat penolakan terus-menerus. Kaki-kakinya bergerak tidak karuan di atas lengan Skylar, bersamaan dengan tangannya yang tak kalah lincah memukul brutal dada pria itu.


"Aku tidak mau! Lepaskan aku monster sialan! Kau benar-benar menjijikkan!"


Rahang Skylar mengeras. Dia berusaha keras untuk menahan dirinya untuk tidak melempar wanita murahan itu hingga patah tulang ketika tubuh polos itu menggelinjang hebat di atas kedua lengannya. Wanita yang teramat sangat sialan yang masih berani membangkang hingga detik ini. ****!


Starla menutupi bagian-bagian tubuhnya dengan tangan-tangannya yang kecil ketika Skylar merebahkan dirinya kasar ke dalam bathup yang berisi air hangat. Ia terus bergerak gelisah dengan pandangan was-wasnya yang tertuju pada wajah keras tersebut. Oh, tentu saja wanita itu mempersiapkan diri untuk melawan Skylar sekuat tenaga.


"Apa yang kau pikirkan? Bersihkan dirimu jika kau tidak ingin aku menyetubuhimu sekarang juga!" kata Skylar yang membuat Starla berjengit jijik.


"L—lalu apa yang kau lakukan di situ?" tanyanya berang dan terengah-engah, memberanikan diri setelah melihat Skylar yang masih berdiri tak jauh darinya.


Mata Skylar menggelap. Ia menjawab tanpa ekspresi. "Ini kamar mandiku ...."


Lelaki itu kehilangan kata-kata. Seolah tidak ada satu kata pun yang tepat untuk melanjutkan kalimatnya yang menggantung. Apa yang ia lakukan di sini? Melihat wanita sialan itu mandi? Ia menarik napas dengan sulit.


"Kau membuang waktuku, sialan!"

__ADS_1


Tanpa berpikir panjang, ia mendekati Starla yang semakin beringsut menghindar. Membersihkan tubuh itu tanpa mengindahkan teriakan melengking sang wanita yang menyuruhnya untuk menjauh dan tidak menyentuhnya.


Tentu saja ini yang pertama kalinya ia melakukan sesuatu yang tidak pernah sama sekali ia lakukan setelah membantai Starla. Ini adalah pertama kalinya ia membantu wanita itu membersihkan diri. Dan Skylar tak mampu memastikan, ia melakukannya dengan sadar atau tidak.


Hanya saja, kata hati terdalamnya malah menuntungnya untuk melakukan hal ini, melakukan sesuatu yang memang tidak pernah ia lakukan pada wanita yang selama ini selalu mendapatkan perlakuan kasar darinya.


Persetan!


****


Sudah sejak lima belas menit yang lalu mereka duduk di depan meja makan, menikmati sarapan dalam keheningan yang menyeramkan. Starla mengunyah makanan dengan pelan dan hati-hati. Sesekali menghentikan aktivitas saat sengatan itu tiba-tiba menyerang bibirnya yang memar. Luka itu begitu perih, namun tidak membuatnya meringis. Setidaknya ia tidak menunjukkan pada iblis biadab di hadapannya bahwa betapa sakitnya luka kecil yang telah diberikan pria itu kini ia rasakan. Ia tidak ingin jika Skylar kembali memberikan tawa remeh kepadanya. Ia juga tidak ingin membiarkan lelaki itu merasa menang.


Batinnya mengumpat tajam pada diri sendiri ketika air matanya lagi dan lagi melesak keluar. Sialan! Entah karena rasa sakit mana yang berhasil membuatnya tampak lebih menyedihkan seperti ini. Apakah luka kecil di bibirnya? Ataukah sudut hatinya yang tercabik ganas selama beberapa bulan terakhir? Entahlah.


Pikirannya yang nyaris semakin menjauh kini kembali saat ia mendengar gesekan kursi di sebelahnya. Starla mengubah posisi ketika Skylar memaksa berhadapan dengannya dan sedikit menyentak dagunya ke atas. Lalu pada saat itu juga matanya terpejam pasrah. Pasrah dengan apa pun yang akan Skylar lakukan pada wajahnya yang masih belum pulih dari bekas luka.


Dugaan Skylar yang akan kembali membuat luka adalah salah besar. Wanita itu perlahan membuka matanya yang berkabut dan memerah. Mendapati wajah sang pria tepat di atas wajahnya. Mengobati luka itu dengan gerakan penuh kehati-hatian, layaknya seseorang yang tengah menata pecahan kaca yang telah hancur berkeping-keping agar tertata kembali, meskipun hasilnya tidak akan bisa sesempurna sebelumnya. Dan pada akhirnya, air mata yang sejak tadi ditahan kini mengalir dengan tidak tahu malu. Menyapa jemari Skylar yang lihai mengoleskan obat di sana.


Ini salah! Ia seharusnya tertawa. Seharusnya dia tergelak keras ketika melihat Skylar menyembuhkan lukanya. Itu sebuah lelucon. Lelaki itu yang menciptakan luka, namun dirinya pula yang mengobati. Terlihat lucu, bukan?

__ADS_1


Starla tidak membiarkan tatapan sendunya mengarah pada Skylar. Ia lebih memilih membuang pandangan pada objek lain yang lebih menarik. Namun, wanita itu tahu benar bahwa sang pria tengah mengamatinya, dan ia menangkapnya melalui ujung mata. Detik kemudian, Skylar bangkit berdiri dan meninggalkan dirinya dalam keheningan.


Starla tiba-tiba merasakan sesak yang menghantam hatinya. Dorongan untuk kembali mengeluarkan liquid bening itu begitu kuat. Tangannya bergerak menghapus sisa-sisa obat itu pada bibirnya saat ia mengembalikan posisi. Perlahan-lahan, tubuhnya terguncang beserta isakan pilu yang terdengar menyayat hati. Sungguh, ia tidak sanggup lagi menghadapi semuanya. Takdirnya terlalu berat dan menyakitkan untuk ia jalani sendiri.


Wanita itu memaksa dirinya untuk tidak lagi mencucurkan air mata. Ia mengusap kasar cairan kepedihan itu sebelum beranjak dari ruangan tersebut. Sesaat setelah berbalik, langkahnya tiba-tiba saja terhenti. Skylar berdiri di sana, di ambang pintu dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia tentu mendengar dan menyaksikan Starla yang baru saja mengutarakan kepedihan hatinya melalui sebuah sauk tangisan.


"A—aku ... sudah kenyang."


Terbata-bata Starla menyelesaikan kalimat itu dengan mata yang bergerak gelisah tentu saja. Skylar selalu marah jika ia tidak menghabiskan makanannya. Seperti katanya sebelumnya, hal sekecil pun bisa menyulut amarah pria itu, membuat hal itu sebagai alasan untuk kembali menyakiti dan menyiksanya. Padahal itu hanya masalah sepele.


Lama keduanya membisu. Membiarkan keheningan kembali menyapa keduanya hingga akhirnya Skylar melangkah lebar, meraih tubuh mungil itu ke dalam dekapan yang hangat.


Skylar tidak tahu, sangat tidak tahu mengapa dirinya seperti ini. Hatinya benar-benar sudah mengkhianati dirinya. Sudah sejak tadi perasaan itu meronta hendak mendekap tubuh mungil nan rapuh itu. Begitu rapuh sehingga sangat mudah untuk dihancurkan.


Air mata yang mengalir deras membasahi pipi wanita itu benar-benar mempengaruhinya. Membuat Skylar benar-benar membencinya setengah mati, karena bisa se-terpengaruh itu terhadap keadaan Starla.


Sehingga tanpa bisa dicegah, tangannya semakin erat mendekap ketika isak samar memenuhi indra pendengarannya. Merapatkan pipi Starla ke dadanya yang berdegup cepat. Untuk kali ini, ia membiarkan batinnya berharap agar waktu berhenti saat ini juga.


Entah kenapa akhir-akhir ini tubuhnya begitu aneh, perasaannya menjadi aneh setiap berhadapan dengan tangisan Starla. Dan kali ini biarlah ia melakukan sesuai kata isi hatinya. Ya, biarlah untuk saat ini seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2