
"Bagaimana dia?" Skylar menyeruak di antara kerumunan perawat itu. Sedangkan para perawat dari ruangan lain tampak mengejarnya karena luka di lengannya belum selesai diobati dan dibalut dengan kain kasa.
Dokter dan perawat yang menangani Starla menoleh serentak dan sedikit terpana ketika menyadari bahwa di pintu ruangan gawat darurat itu, tengah berdiri sosok lelaki yang luar biasa tampan, mengenakan kemeja putih yang berlumuran darah, dan tampak begitu marah.
"Bagaimana dia?" Sekali lagi Skylar bertanya, dengan sedikit berteriak.
Dokter Alex, yang bertugas di sana, cukup mengetahui reputasi Skylar yang begitu pemarah. Oleh karena itu dia cukup berhati-hati menghadapi pria itu. Dia kemudian menghampiri Skylar dan mulai menjelaskan keadaan Starla.
"Dia baik-baik saja, Tuan Skylar. Kami sudah menjahit luka di kepalanya. Tetapi dia kehilangan banyak darah, dan saat ini kami sedang mencari darah dari penyedia terdekat—"
"Cari darah itu, Andreas!" Skylar berteriak memanggil Andreas, yang dari tadi sebenarnya sudah berdiri di belakangnya. "Dia akan membantu mencari darah untuk Starla. Apa golongan darah istriku?"
"AB." Dokter itu menjawab cepat, tiba-tiba merasa takut akan api yang menyala di mata berwarna biru muda itu.
Skylar tertegun sejenak. "Ambil darahku! Aku juga AB."
"Tuan Skylar, Anda juga habis terluka karena kecelakaan ini." Andreas menyela cemas, sama sekali tidak setuju dengan tawaran tuannya itu.
Dokter Alex juga ikut menggeleng. "Kami tidak bisa mengambil darah Anda. Kondisi Anda sama sekali tidak memungkinkan untuk melakukan transfusi darah," ucap dokter Alex menyela tak kalah cepat, hampir bersamaan dengan Andreas.
Skylar mengepalkan tangannya marah. "Dengar, ini hanya luka lecet kecil dan aku ingin semua perkataanku dituruti oleh kalian semua. Ambil darahku dan selamatkan istriku! Dan kalau ...." Skylar terengah, matanya melirik ke arah tubuh Starla yang terkulai lemas di sana. "Dan kalau sampai terjadi sesuatu padanya. Aku akan membuat kalian menerima ganjarannya," teriaknya dengan nada mengancam yang menakutkan.
****
Skylar duduk di pinggir ranjang dan menatap Starla yang masih tertidur karena dalam pengaruh obat. Transfusi darah sudah dilaksanakan dan kondisi Starla berangsur membaik.
__ADS_1
Kali ini barulah Skylar merasakan sedikit pusing dan sakit di lengannya yang tersayat besi mobil yang terguling tiga kali sebelum terhempas ke turunan jalanan tadi.
"Kondisinya sudah membaik." Andreas yang berdiri di sana berusaha memecah keheningan. "Kami sudah menyelidiki pelakunya."
"Gavin." Skylar menggeram, dia sudah tahu bahkan sebelum Andreas memberitahunya. Hanya bajingan busuk itu yang selalu berani mengusik hidupnya dan dia telah berani-beraninya melakukan hal serendah ini. Gavino mungkin tidak tahu apa yang menantinya. Skylar pasti akan mencincangnya sampai menjadi bubur. "Di mana pria brengsek itu sekarang?"
"Sudah pasti dia mengurung diri karena mendengar kalau rencananya gagal total. Sekali lagi dia kalah dan mempermalukan dirinya sendiri."
Skylar terkekeh. "Sampai kapan pun dia tidak akan pernah bisa mengalahkanku." Pria itu kembali berujar, "Biarkan saja. Aku sudah punya cara untuk membuatnya semakin merutuki diri karena telah berani-beraninya melawan seorang Skylar Aleandro Wolves."
"Oh iya, ada satu lagi, Tuan." Andreas kembali bersuara ketika mengingat kabar yang lainnya.
Skylar hanya melirik tidak berminat. "Apa lagi?"
Skylar pernah mendengar pembunuh bayaran yang sangat ahli itu. Mungkin itu adalah orang sama yang telah disewa oleh Gavino. Dia adalah pembunuh jenius bermental psikopat yang sangat keji dan maniak. Dia membunuh korbannya dengan perhitungan yang sangat matang dan terkadang bisa sangat kejam. Sampai saat ini, tidak ada yang tahu sosok asli pembunuh itu, mereka semua hanya mengetahui kalau dia pembunuh bayaran yang ahli karena selalu berhasil membunuh korbannya ... sampai sekarang.
"Dia terkenal tidak pernah gagal. Dan dia akan terobsesi kepada korbannya kalau tidak bisa membunuhnya. Dan sekarang, dia pasti akan mengejar Anda. Anda harus berhati-hati karena sampai saat ini kita tidak tahu siapa dirinya."
Skylar menganggukkan kepalanya. Gavino dan pembunuh psikopat itu akan menjadi lawannya. Mereka semua terlalu mengusik dan ikut campur dengan kehidupannya. Kalau mereka memutuskan berhadapan dengannya, berarti mereka telah memilih musuh yang salah.
****
Starla terbangun ketika merasakan lengannya disengat. Dia membuka mata dan bertatapan dengan wajah muda berkacamata yang sangat tampan dan ramah.
"Upss ... aku membangunkanmu?" tanya lelaki itu sembari tersenyum ramah. "Aku sedang menyuntikkan obat untuk lukamu. Aku sudah berusaha melakukannya selembut mungkin, tetapi sepertinya aku tak selembut yang aku kira."
__ADS_1
Starla mengamati lelaki itu dari jas putih yang dikenakannya. Pria itu pasti dokter di rumah sakit ini yang merawatnya.
Laki-laki itu mengikuti arah pandangan Starla dan tersenyum lembut. "Perkenalkan, aku adalah Dokter Alex. Aku dokter yang merawatmu kemarin ketika kau di bawa ke ini. kepalamu pasti sangat sakit, ya? Kau terbentur cukup keras dan aku menjahit dua belas jahitan di sana."
"Kecelakaan?" Starla berusaha mengingat semuanya tetapi ingatan terakhirnya hanya sampai pada teriakan Skylar dan pelukannya yang begitu erat, sebelum semuanya menjadi gelap.
"Ya, kecelakaan. Kata polisi mobil kalian disabotase dan remnya tidak berfungsi sehingga membuat mobil kalian terguling dan kepalamu terbentur. Untungnya kami dapat menyelamatkanmu."
"Bagaimana dengan Skylar?" Starla bertanya cepat. Sabotase itu pasti dilakukan oleh musuh Skylar, pria iblis itu sudah pasti memiliki banyak musuh di luar sana.
Apakah Skylar terluka? Ataukah lelaki itu sudah mati? Baguslah, lebih baik pria itu meregang nyawa dalam kecelakaan itu, ini lebih bagus. Dan sebentar lagi Starla akan terbebas dari cengkeraman pria iblis tersebut.
"Maafkan aku mengecewakanmu, Sayang," suara khas itu terdengar dari arah pintu. "Tetapi aku masih hidup."
Starla menoleh dan melihat Skylar berjalan memasuki ruangan dengan kemeja hitam dan penampilan yang luar biasa sehat dan tak kelihatan kalau dia baru saja mengalami kecelakaan bersamanya. Sialan! Kenapa pria itu tidak mati saja, tetapi bukankah pria itu memang iblis, jadi susah mati, gumam Starla menyumpah dalam hati.
"Bagaimana kondisinya, Dokter?" Skylar mengalihkan tatapan matanya dan menatap dokter Alex yang masih berdiri di sana, sedang memeriksa infus Starla.
Senyum di wajah dokter Alex tak pernah pudar hingga Starla menyadari dua lelaki di depannya ini begitu kontras, yang satu begitu dingin dengan nuansa suram gelap yang melingkupinya dan yang satunya tampak begitu cerah, penuh senyum seolah-olah dia membawa matahari di atas kepalanya.
"Kondisinya sudah membaik, tetapi dia masih harus beristirahat dan berbaring beberapa hari di sini. Saya belum bisa merekomendasikan dia dibawa pulang seperti permintaan Anda, Tuan Skylar." Ekspresi dokter Alex berubah serius meskipun masih penuh senyum. "Itu akan berbahaya untuknya. Kepalanya terbentur sangat keras dan guncangan sekecil apa pun akan membuatnya mual dan muntah bahkan kesakitan. Anda tentu tidak ingin hal itu terjadi padanya, 'kan?"
"Berapa hari sampai dia bisa normal kembali, Dokter?"
Regan tentu tidak bisa membiarkan Starla terlalu lama di tempat umum seperti sekarang. Oleh sebab itu dia perlu memastikannya dengan baik.
__ADS_1