
Langit sore hari ini benar-benar terlihat indah dengan warna jingganya. Cahaya mentari masih cukup terlihat cerah, secerah hati bagi para orang-orang yang menikmati keindahannya. Namun, tidak bagi sosok gadis rapuh itu.
Tatapan sendu dan kosong, tertuju pada satu titik yang entah apa di luar sana dengan air mata yang menggenang di kedua pelupuk matanya. Terduduk di atas kursi roda, dengan tubuhnya yang menghadap taman. Seakan menikmati keindahan taman luas tersebut—dari balik jendela besar.
Gadis itu tampak hampa, namun ia masih bisa mencerna tentang apa yang sedang dibicarakan oleh dua pramuwisma di belakangnya, yang kemudian membuat air matanya melesat cepat di pipinya ketika salah satu dari mereka menyebutkan nama Starla. Isakan kecilnya mengalihkan perhatian kedua wanita tersebut.
"Nona? Kau baik-baik saja?"
Tidak ada respon darinya. Sama seperti hari-hari sebelumnya. Gadis itu hanya semakin terisak pilu.
"Nona Ang—"
Ucapan pelayan itu terpotong saat perempuan yang dipanggil Angel menggumamkan satu nama.
"S—Skylar."
"Ja—jangan ...." Gadis itu bergumam serak.
"B—bukan ... Skylar ...."
Tampak kedua pramuwisma itu melebarkan mata, terkejut saat mendengar suaranya yang semakin meninggi. Meneriakkan nama Skylar hingga beberapa kali. Namun, bukan karena itu alasan yang membuat mereka seperti itu, tetapi Angel bisa mengucapkan lebih dari satu kata meskipun terbata-bata.
Dengan gerakan cepat, salah satu dari mereka meraih gagang telepon di atas nakas dan beberapa kali menekan tombol.
"Mr. Skylar," ucap wanita yang lebih muda setelah telepon tersambung. "Nona Angel ...."
****
"Bagaimana?"
Suara berat Skylar memecah keheningan. Membuat psikiater itu mengalihkan pandangan ke arahnya. Ia menghela napas dengan pelan seraya mengalungkan stetoskopnya.
"Dia baik-baik saja. Suntikan penenangnya sudah mulai beraksi," jawabnya lalu berjalan mendekati pria yang tengah berdiri di tengah ruangan itu sebelum kembali melanjutkan. "Dia sudah mulai berbicara banyak dari sebelumnya, dan itu berarti sudah ada sedikit kemajuan. Tetapi ...."
Skylar mengernyit heran, tidak sabar menunggu lanjutan kalimat dokter tersebut. "Tetapi apa?"
"Kilasan-kilasan dari masa lalu itu mulai mengganggu pikirannya," kata wanita itu pelan.
__ADS_1
"Aku tidak mengerti." Kernyitan di dahi Skylar semakin dalam. Ia menatap lekat wajah wanita itu dengan tatapan bingungnya dan kembali bertanya, "Bukankah tadi kau mengatakan bahwa dia sudah berangsur membaik?"
Wanita itu mengangguk ringan seraya menjawab, "Saya rasa itu terlalu berbahaya. Memang benar fungsi otaknya sudah mulai berjalan baik. Tetapi, yang saya cemaskan adalah masa-masa kelam itu akan semakin memperburuk pikirannya. Saya tidak meragukan nona Angel akan melampiaskan kebenciannya terhadap siapa pun yang dilihatnya. Kita bisa melihat apa yang baru saja ia lakukan terhadap Anda. Saya rasa Anda juga pasti mengetahuinya, Mr. Skylar."
Skylar mendengkus kasar, setelah mendengar penuturan panjang lebar yang dilontarkan oleh dokter wanita itu. "Tidak! Itu hanya karena dia yang memang tidak menyukai lelaki—"
"Bukan ...." Wanita itu kembali berusaha menyela. "Bukan seperti itu. Ini benar-benar berbeda dari sikap sebelumnya, Mr. Skylar. Saya hanya takut jika masa lalu tersebut akan mempengaruhinya yang kemudian bisa berimbas dengan melakukan sesuatu di luar dari pikiran. Dia bisa saja menyakiti dirinya sendiri, Tuan."
Tidak ada lagi sahutan yang terdengar dari bibir Skylar. Ia membenarkan perkataan wanita itu. Apa yang baru saja terjadi benar-benar berbeda. Angel mengamuk tidak seperti biasanya. Wanita itu hanya menyerang Skylar. Ia bahkan terus-menerus melemparkan dirinya dengan tatapan membunuh setiap kali menerjang. Seakan gadis itu tengah menyimpan dendam dan sebuah amarah yang besar untuknya.
Setelah berdiam cukup lama, psikiater wanita tersebut kembali membuka suara. Memohon diri dengan sopan, lalu berderap meninggalkan ruangan.
Setelah wanita itu berlalu, Skylar kemudian berjalan pelan mendekati sosok bidadari yang tengah tertidur lelap di atas ranjang. Mengusap pelan rambut pirangnya seraya berbisik lembut. "Kenapa kau membenciku? Apa karena wanita itu? Aku tidak akan mengkhianatimu, bersabarlah sebentar lagi."
Skylar menatap lama gadis kesayangannya itu, kemudian kembali melanjutkan kalimatnya. "Lekaslah sembuh, lalu katakan apa yang ingin kau katakan, Sayang," lanjutnya sebelum mengecup dahi gadis itu, lalu berderap meninggalkan kamar.
****
Entah sudah sejak kapan wanita itu berdiri di depan pantry dapur. Memandang sayu sebutir pil yang ada di salah satu telapak tangannya. Pil yang selama ini menjadi satu-satunya pemicu ketidakhadiran sang buah hati ke dalam rahimnya.
Starla menghela napas berat bersamaan dengan jari mungilnya yang mengelus pelan perut yang masih rata itu.
Pertanyaan yang ditujukan untuk dirinya sendiri itu membuatnya tersenyum getir. Tentu saja tidak akan terjadi. Tidak akan pernah. Angan-angan menjadi seorang ibu benar-benar harus Starla telan bulat-bulat.
Tidak bisa dipungkiri bahwa ia selalu mengkhayalkan seorang anak yang akan berlarian di sudut rumah. Membayangkan dia bermain dengannya di satu waktu, atau anak itu yang menggoda dirinya, meminta sesuatu dengan tangisan-tangisan kecilnya yang manja. Sungguh, Starla sangat menginginkan saat-saat indah tersebut.
Tetapi, masih pantaskah ia memikirkan hal itu, sementara Skylar selalu mengingatkan posisinya sebagai pelacur?
Entahlah. Hal itu adalah suatu kemustahilan yang selalu ia semogakan.
Sekali lagi, wanita itu menghela napas panjang lalu dengan tenang meneguk air bersamaan dengan pil itu, membiarkan benda tersebut kembali bekerja dengan baik di dalam rahimnya.
"Sudah selesai?"
Starla nyaris tersedak saat suara berat yang seakan menghunus indra pendengarannya itu terdengar dari belakangnya.
"A—apa?" tanya Starla gugup setelah berbalik dan menemukan Skylar yang menjulang tinggi tepat di depan matanya.
__ADS_1
Lama Skylar tidak menjawab. Ia hanya menatap lekat iris teduh wanita yang berstatus sebagai istrinya itu. Oh, istri pelacurnya lebih tepatnya. Matanya terlihat sembab dengan hidung yang memerah. Pria itu mengerjap pelan dengan pandangan yang sama sekali tidak teralihkan sebelum mendekatkan wajahnya.
"Ganti bajumu," bisiknya serak sebelum meraup lama bibir Starla, menyingkirkan rambut yang menutupi leher wanita itu, lalu menenggelamkan wajahnya ke tempat favoritnya tersebut. Lalu memberikan kecupan-kecupan ringan di sana.
Skylar menyeringai ketika merasakan hembusan napas Starla yang panas dan tidak teratur, menyapu daerah telinganya. Ia kemudian menggamit erat pinggang mungil itu dengan satu tangannya, sementara tangannya yang lain bertumpu pada pantry dapur di belakang Starla.
Wanita murahan itu benar-benar tidak berkutik lagi. Sepertinya Skylar sudah berhasil membuat wanita itu menunduk pasrah di bawah kekuasaannya. Ya, sepertinya. Dan itu lebih baik, Skylar menyukainya.
"Aku menyukaimu seperti ini, kau tahu?" tanyanya sembari tersenyum menyeringai. "Jangan pernah menolakku sekali lagi!"
Wanita itu semakin menegang. Tangannya tanpa sadar menggenggam erat kemeja di kedua sisi pinggang Skylar ketika bibir pria itu bergulir pelan menuju dadanya. Ingin rasanya ia melakukan sesuatu untuk menjauhkan pria yang tampaknya tengah bergairah ini.
Menghantam kepalanya mungkin dengan benda keras? Atau membunuhnya dengan pisau dapur yang tempatnya tidak jauh dari mereka, tangannya hanya terulur dan bergerak mengambil benda itu?
Tidak, tidak. Starla masih waras dan ia masih ingin hidup. Ia tidak ingin kembali mencari masalah setelah apa yang dilakukan Skylar kepadanya kemarin malam. Dan, yang lebih penting Starla tidak punya keberanian sebesar itu.
"S—Skylar."
"Hm ...." Skylar bergumam tanpa menghentikan aksinya. Lututnya bahkan sudah mulai bergerak untuk memisahkan kedua paha Starla.
"Aku ...."
Skylar mengangkat kepalanya sebentar dan bertanya. "Apa?"
Starla tidak tahu alasan apa yang harus ia katakan agar pria itu menjauh dari tubuhnya. Demi Tuhan, ini masih terlalu sore untuk melayani nafsu bejat Skylar. Entah besok akan jadi seperti apa dirinya jika pria sialan itu menggunakan tubuhnya mulai dari sekarang.
Namun sepertinya itu tidak terjadi. Perasaan lega kini menghampiri batinnya ketika suami gilanya itu menjauhkan kepalanya, lalu beralih menatap wajahnya yang tegang.
"Aku merindukanmu!" bisik Skylar tepat di atas bibirnya. "Tetapi belum saatnya. Aku butuh energi untuk kembali mengoyakmu. Ganti bajumu! Malam ini kita akan makan malam di luar."
Skylar sedikit menelengkan kepalanya setelah melihat Starla yang masih termangu. Pandangan gairah itu masih belum teralihkan dari wajah cantik di depannya.
"Atau ... kau ingin merasakannya dulu? Di sini, di tempat ini, saat ini juga?" Alisnya terangkat tinggi saat mengatakan hal itu.
"No!" Dengan sigap Starla menangkap tangan besar Skylar yang mulai bergerak tidak senonoh di bagian dadanya. "A—aku akan ganti baju."
Skylar melepaskan kungkungan tubuhnya yang membuat Starla lantas bergerak menjauhinya. Mimik wajahnya seketika berubah menjadi lebih tenang ketika tatapannya masih terus mengawasi pergerakan wanita itu yang sudah beranjak dengan langkah setengah pincang.
__ADS_1
Sebelum tatapan Skylar beralih pada blister pil kontrasepsi yang masih tersisa di meja pantry tersebut. Lama ia menatap benda itu, sebelum tangannya bergerak mengusap pelan wajahnya.