
Skylar meraih kunci mobil di atas meja. Tatapannya lalu tertuju pada Andreas yang baru saja memasuki ruang pribadi miliknya. Pria itu hendak membuka mulut untuk menanyakan alasan sang tuan memanggilnya ketika suara berat dan panjang itu lebih dulu terdengar.
"Aku akan mengunjunginya," kata Skylar setelah mengenakan jaket kulitnya. "Tidak perlu menemaniku. Hari ini kau hanya harus mengawasi Starla. Jangan sampai lepas kendali. Jangan biarkan dia menjauh dari pandanganmu."
Andreas mengangguk mengerti. Skylar memang memberi waktu istirahat untuk para pengawal dan pekerja lainnya jika hari libur tiba. Hanya ada satu orang pramuwisma khusus penyedia makanan yang tetap bekerja. Dan untuk hari ini, ia meminta Andreas agar mengawasi situasi kediamannya. Tentu saja Skylar tidak mungkin membiarkan dirinya meninggalkan istri pelacurnya hanya berdua dengan seorang pramuwisma wanita, terlebih lagi Gavino masih mengincar istrinya itu. Dia tentu tidak ingin kejadian itu kembali terulang kembali, kecolongan di rumahnya sendiri.
Peduli? Oh bukan, itu sama sekali bukan bentuk kepedulian. Ia hanya tidak ingin mainan pribadinya diganggu. Tidak ada yang bisa menghancurkan mainan itu selain tangannya sendiri. Tidak akan. Starla adalah miliknya, alat pemuasnya, mainannya.
Ya. Iya yakin bahwa alasan itulah yang lebih tepat.
Langkah Skylar yang nyaris mencapai pintu tiba-tiba berhenti. Ia berbalik dan kembali menatap Andreas setelah mengingat sesuatu yang hampir terlupakan.
"Dan satu lagi," ucapnya menekankan suara. "Jangan menyentuhnya!"
Andreas sempat tertegun heran akan perintah yang baru saja terlontar dari bibir sang atasan sebelum akhirnya menjawab dengan tenang.
"Baik, Mr. Skylar."
****
Seulas senyum tipis itu terukir. Meskipun nyaris tak terlihat, namun itu sudah memberikan kesan manis di wajah Starla yang anggun namun tak bernyawa. Dan ia bersumpah, bahwa itu sangatlah jarang ia lakukan. Bahkan tidak pernah sejak lima bulan terakhir, tepatnya setelah pertemuannya dengan sang pencabut nyawa.
Wanita itu perlahan menghela dirinya duduk di kursi taman—yang menjadi pemicu kehadiran senyuman tipis tersebut. Entah mengapa Skylar mengizinkan dirinya untuk menapaki taman itu setelah memberanikan diri meminta izin kepadanya. Setidaknya, ia masih sempat menginjakkan kakinya di tempat ini sebelum nyawanya benar-benar melayang di tangan Skylar.
Matanya yang sendu tanpa ekspresi tak henti-hentinya bergerak. Menyapu semua keindahan tempat yang baginya adalah surga. Benar-benar indah setelah dilihat secara langsung daripada menyaksikan dari arah kejauhan. Udara segar yang menerpa kulitnya membuat ia tanpa sadar memejamkan mata dengan wajah yang mengarah pada langit cerah. Dan saat itu juga batinnya seolah berbisik, menyuruh dirinya agar benar-benar menikmati udara tersebut, memanjakan paru-parunya sebelum ia tak akan pernah merasakannya lagi.
Hatinya sesak saat mengingat itu. Oh Tuhan, sebentar lagi dia akan berakhir. Nyawa dan hidupnya berada di genggaman Skylar. Dan ia tinggal menunggu kapan hari itu datang. Hari di mana, Skylar benar-benar berhasil membunuhnya dengan tangannya sendiri.
Lama wanita itu mempertahankan posisinya hingga ia tidak menyadari jika seseorang sejak tadi tengah mengamatinya dengan pandangan nelangsa.
__ADS_1
Andreas melangkah mendekati Starla yang memilih duduk di sebelahnya yang membuat wanita itu segera menoleh dengan cepat.
Andreas melayangkan senyum tulusnya. "Kau menyukainya?"
Setelah terdiam cukup lama dengan pandangan heran, Starla akhirnya mengangguk pelan setelah mengusap air matanya yang tidak sengaja kembali menetes membasahi pipinya.
"Saya Andreas, asisten pribadi tuan Skylar. Kita sudah beberapa kali berpapasan."
Lelaki berwajah tegas berkulit coklat nyaris gelap itu kembali membuka suara, mencoba memperkenalkan diri pada Starla. Keduanya memang beberapa kali berpapasan dan bertemu pandang, hanya saja mereka tidak pernah melakukan percakapan seperti ini. Dan bisa dibilang, ini adalah kali pertama mereka memulai percakapan.
"Aku tahu," kata Starla dengan suara lembutnya yang serak. "Terima kasih sudah menemaniku di sini, Andreas."
"Sudah tugas saya, Nyonya Wolves."
Hening sesaat. Mereka kembali terpenjara dalam keheningan. Tatapan Starla terus tertuju ke arah depan, tempat taman bunga itu terhampar dengan indahnya, begitu dengan Andreas yang ikut menenggelamkan diri dalam keheningan.
Hingga kemudian Starla kembali menyuarakan sebuah pertanyaan. "Umurmu tiga puluh tahun?"
"Sama seperti kakakku."
Andreas menoleh cepat dan menatap wajah tanpa ekspresi itu. "Benarkah?"
Starla balas mengangguk. "Ya. Namanya Arlando."
Sebenarnya tanpa diberitahu pun, Andreas sudah mengetahui itu sejak lama, sejak pertama kali Skylar mengutusnya untuk mengawasi keberadaan lelaki itu.
"Dia lelaki yang baik. Lelaki yang bertanggung jawab. Lelaki yang mencintai adiknya. Lelaki yang menghargai wanita karena ia pun menghargai adiknya sendiri. Seorang pria yang tidak pernah membuat adiknya kecewa."
Tetapi itu dulu. Dan sekarang, ia meragukan kebenaran itu setelah apa yang terjadi.
__ADS_1
Andreas mengamati wajah sang wanita yang tengah berusaha menahan isakan. Ia benar-benar bisa melihat kepedihan yang terpendam di mata teduh milik Starla. Penuh kesakitan dan penderitaan di dalam sana. Dan Andreas bisa merasakannya.
"Ingin mendengar sesuatu?"
Tampak Starla mengangguk pelan di sebelahnya.
"Tuan Skylar adalah seorang lelaki yang teramat sangat baik dan ramah. Ia tidak pernah berbuat sekejam ini sebelumnya. Kami para pekerja bahkan tak menyangka bahwa ia memperlakukan Anda seperti ini." Lelaki itu menghela napas, memberikan waktu untuk Starla mengajukan protes jika ia salah berbicara, namun tidak ada respon dari wanita itu. Membuat ia kembali melanjutkan kalimatnya.
"Kami juga tidak pernah melihatnya membawa wanita lain ke penthouse ini. Dia begitu sibuk mengurusi segala pekerjaan kantor. Dan apakah Anda tahu? Semua yang ia lakukan demi nona Gabriella, adiknya. Namun, sesaat setelah kejadian itu, semuanya berubah. Dia memilih Anda untuk menjadi pendampingnya. Meskipun dalam artian yang berbeda.
"Aku tahu," ujar Starla singkat.
"Bahkan karena itu juga, tuan Skylar tak pernah memikirkan pasangan hidup untuk dirinya sendiri." Pria itu kembali melanjutkan.
"Ya. Aku tahu."
"Percayalah, dia adalah pria yang benar-benar baik dan bertanggung jawab sebelum kejadian itu terjadi. Apa kau ingat saat penculikan itu? Dia begitu mengkhawatirkan dirimu dan memilih membunuh pria itu hanya untukmu.”
"Aku tahu."
"Tuan Skylar tidak pernah memiliki pasangan. Tidak pernah berkencan. Apa lagi mencari kesenangan dengan dunia malam. Dan saya tidak meragukan, bahwa Anda-lah wanita pertama dan terakhir yang mungkin menjadi pasangan tuan Skylar."
"Aku tahu."
Andreas terdiam. Ia tidak lagi melanjutkan kalimatnya. Matanya menatap lekat wajah rapuh itu. Kedua sudut bibirnya terangkat samar. Well, Starla tidak mengetahui dan tidak menyadari bahwa ia baru saja memancing dan menemukan sesuatu yang tersembunyi di dalam hati wanita itu melalui pernyataan pernyataan tersebut.
Tetapi, Andreas berani bersumpah, semua perkataan yang ia lontarkan adalah kenyataan dari seorang Skylar. Bukan sebuah omong kosong belaka.
"Anda mengetahui semuanya? Bagaimana bisa?"
__ADS_1
Starla mendongak dan menatap Andreas saat pertanyaan itu menyeruak ke telinganya. Wanita itu merasa bimbang. Haruskah ia memberikan anggukan sebagai isyarat bahwa ia membenarkan, dan mengatakan bagaimana bisa ia mengetahui itu semua?
Mungkin tidak ....