
Kevin POV
Aku masih terlalu asing berada disini ! Rumah minimalis dengan halaman super Luas , banyak Tanaman Bunga aneka warna menambah kesan sejuk dan Asri ketika pertama kali memasukinya. Didepan ku sosok yang ku sebut Papa, Nampak tersenyum.
" Suasana ini membuat Papa betah berlama-lama disini Vin ! "
Ku perhatikan lagi sekeliling, Rumah ini seperti duplikat dari rumah tempat biasanya, Mama menenangkan Diri. Mungkin Istri Muda Papa punya selera yang sama seperti Mama. Memikirkan itu aku tersenyum, Tentu saja selera mereka sama. Jika tidak mana mungkin mereka memilih Papa sebagai suami !
" Ada masalah dengan perusahaan Pa ? Apa masalahnya serius ?"
Wajah yang masih nampak segar dan tampan itu, kini menatapku ! Kulihat ekspresi tidak senang yang kentara di air muka Papa.
"Ini Bukan masalah perusahaan Vin ! Lagian bukankah sekarang kamu telah menjadi Direktur utama. jadi sudah pasti tahu jika memang ada masalah kantor. ."
" Terus untuk apa Papa menyuruhku datang ! Apa ini masalah pembagian Warisan ? Wanita yang Papa cintai tak terima Jika Papa mengurangi jatah Belanja "
Aku tak dapat menyembunyikan rasa geram , Jika ini tentang Harta Mama , maka aku akan bertahan. Mama sudah kehilangan Cinta Papa, Hanya ini yang bisa ku pertahankan sebagai bakti terakhirku padanya, sebagai seorang anak.
"ini bukan tentang Papa Vin. Untuk Urusan warisan , kan sudah dijabarkan Ibumu ketika beliau masih hidup. Semua aset itu atas namamu karena memang Papa tak pernah punya Hak soal itu. Papa cukup bahagia dengan gaji yang Papa dapat dari kamu ,vin . Insya Allah cukup Bagi Bunda dan Adikmu !"
Aku terdiam, ketika sosok wanita dengan wajah teduh dan penampilan syar'i, menata tiga buah cangkir Teh di atas meja bulat didepan Kami. wajah yang masih nampak cantik itu tersenyum kearah ku. sungguh Aku tak menyangka Sosok seperti ini yang Papa Cintai, Dibayangkan ku, perempuan kedua Papa lebih muda dan merupakan wanita mengumbar aurat. Mengingat pikiran itu, aku menunduk, membalas senyum itu dengan Sopan.
" Diminum Tehnya nak ?"
Aku hanya mengangguk sebagai jawaban, Kupikir wanita yang berstatus Ibu Tiriku itu akan duduk bersama kami. Tapi nyatanya, Sosok itu kembali masuk kedalam. menyisahkan tanya bagiku, karena yang tersaji ada tiga cangkir teh, maka untuk siapa kah teh terakhir ini ?
__ADS_1
" Assalammualaikum.."
" Waalaikumsalaam.. Selin masuk .! Kita Dari tadi nungguin kamu.."
Aku Hanya menatap Papa yang berdiri menyambut sosok perempuan, yang masih berstatus kekasihku itu.
Aku tetap Diam sampai Selin duduk mengisi kursi kosong. Dan Papa kini telah duduk kembali.
" Kenapa ada Selin Pa ? "
Aku mencecar Papa tanpa menghiraukan Selin , entahlah aku merasa belum siap untuk bertemu dengannya sekarang !
" Aku yang meminta Om Bram, menghubungi kamu. Dan kita bisa bicara bertiga ! "
jawaban dari Selin kini telah menjawab semua yang ingin aku tanyakan
" Untuk hubungan kita !"
" Hubungan Kita ? Hubungan kita baik-baik saja kan ! Kenapa Papa harus jadi pendengar begini ?"
" Papa disini bukan pendengar Vin. Tapi Papa ingin kalian meresmikan hubungan kalian kejenjang yang lebih serius !"
" Papa serius ! Usiaku bahkan masih 22 tahun Pa . Masih banyak hal yang harus aku capai. Dan jujur , Pernikahan bagiku no terakhir.."
" kita bisa tunangan Dulu Vin . Kejujuran kamu kemarin jujur buat aku takut, Aku hanya mau sebuah pengakuan dari kamu ,jika hubungan kita bukan hanya sebatas happy-happy. Kamu Milikku , begitupun sebaliknya.."
__ADS_1
Aku menyugar Rambut kasar, Sifat Selin yang seperti ini yang membuatku semakin ilfill dengannya. Selin semakin posesif , dan membuatku semakin gak nyaman didekat gadis itu !
"Selin Benar Vin, Apalagi hubungan kalian sudah melampaui batas. Kamu sudah mengambil sesuatu dari Selin, Dan sesuatu itu tak bisa dikembalikan Lagi , sekuat apapun kamu memikirkan Caranya.." Suara Papa nampak terdengar dingin, aku tahu ada kekecewaan dan amarah di sana. Namun Papa berusaha menyembunyikannya.
" Kamu ngomong apa aja ke Papa Hah ? kamu itu bodoh, atau tolol sih ? Bisa-bisanya Hal seperti itu kami ceritakan ke Papa. Kamu mau maksa aku dengan alasan itu ! iyah ? jawab Sel ..."
aku merasa tertekan ,hingga tanpa sadar membentak dan menarik lengan Selin , Perempuan itu jadi ikut berdiri , sangking kuatnya cengkraman tanganku.
" Lepaskan Selin vin, Kamu menyakitinya ! "
Suara Papa jujur saja membuatku semakin kesal.
" Lagian apa salahnya Selin cerita ke Papa, kenapa yang papa lihat kamu tersiksa dengan ini ! Seolah kamu yang sudah dinodai oleh Selin "
Aku tak menggubris perkataan Papa, mataku kini Fokus pada sosok Selin yang kini sesegukan didalam tangisnya.
" maafkan Aku Vin. Aku nggak mau kamu ninggalin aku untuk wanita lain "
Aku menggeleng tak percaya, bisa-bisanya Selin mengatakan Hal itu didepan Papa. Apa sekarang perempuan ini ingin menekan ku, lewat papa. Sungguh Ternyata Selin punya sejuta Cara untuk mengejutkanku .
" Siapa ? Meyra ! Lagi ! Kamu mau bahas lagi tentang ini ? Apa penjelasan ku kurang memuaskan , Apa kamu bahkan tak percaya lagi sama aku ? Bagaimana mungkin kamu mau mempertahankan hubungan yang bahkan tak ada kepercayaan lagi didalamnya..."
" Pelankan suaramu Kevin, se kesal apapun kamu, jangan sampai amarah menguasai mu. Apalagi kepada perempuan. Selin sudah melakukan langkah yang Benar, dia hanya minta pertanggung jawaban kamu, sebagai lelaki.. "
pandanganku ku alihkan kepada Papa, Aku kembali duduk, mencoba diam dan meredakan Emosi yang telah menguasai diri .
__ADS_1
" Lupakan Meyra, Kamu harus bertanggung jawab Vin. Dengan apa yang sudah kamu perbuat, jangan jadi lelaki brengsek, dengan tidak memikirkan perasaan perempuan yang tidak lagi kamu cintai, sedangkan kamu sudah terlanjur merusaknya, Dan Kamu Selin . Tenangkan diri kamu, Saya berjanji akan meresmikan hubungan kalian Segera.."
Tak terdengar sepatah katapun dari mulut Selin, sedangkan Aku terlalu enggan menatap kearahnya, yang kulakukan hanya menunduk. Mencoba menemukan solusi dari apa yang sebenarnya coba aku ingkari. Entah ini tentang kenyataan bahwa Meyra hanya Melayaniku setelah kematian Suaminya. mungkinkah aku jatuh cinta pada sosok itu ? Atau ini sifat laki-laki Brengsek yang menurun dari papa. Habis manis sepah dibuang .Huhhh ternyata memang buah tak kan jatuh jauh dari pohonnya.