
Malam kini telah berganti, pagi menyapa disertai gerimis yang tak biasanya datang. Meyra kini masih duduk di sofa tamu, semalaman dia tak tidur, meski dia sudah mencobanya.
Ibunya bilang jika beliau ingin bertemu Kevin hari ini, hal inilah yang jadi pikiran Meyra, dia tak tahu bagaimana caranya memberi tahu Kevin jika ibunya sudah tahu akan kehamilannya.
"Jam berapa Kevin kesini Mey ?"
Meyra yang masih melamun kini tersentak kaget. Tak menyangka jika ibunya sudah bangun dan langsung menanyakan soal ini.
" Aku belum hubungin Kevin kok ,bu.."
"Terus !! ngapain kamu mandangin hape sedari tadi ? Cepat kasih tahu sana, atau ibu nggak akan kasih kalian restu. Biar kamu melahirkan tanpa suami sekalian.."
Meyra cemberut, sungguh ucapan ibunya terdengar kejam, " Kok ibu gitu sih ? emang ibu rela anak satu-satunya ibu ini bernasib sial terus soal pernikahan.."
" Makanya hubungin cepat, jangan sampai ibu berubah pikiran, dan ngajak kamu pulang kampung sekalian. Biar Kevin nggak bisa nikahin kamu.."
" Oke Bu, siap.. jangan gitu dong. "
Meyra langsung menekan panggilan pada kontak bernama Kevin. Seketika terhubung dan langsung diangkat oleh sosok diseberang .
' Ya Mey, ada apa ?"
' Assalammualaikum...' Meyra melirik ibunya, bisa-bisanya Kevin malah tak mengucapkan salam terlebih dahulu
' Wa'alaikumsalam..hehehe. Maaf sayang, aku lupa .Habisnya terlalu semangat karena telpon dari kamu. Biasanya kan kamu chatt doank ..'
' Ibu mau bertemu hari ini !!! Bisa ?'
'Ibu, ? kenapa emangnya Mey, kok suara kamu datar gitu ?'
'kalau bisa datang aja ke apartemen, aku tunggu ya. .'
Tut....
Meyra mematikan panggilan, bahkan sebelum mendapat jawaban dari Kevin.
Membuat ibunya mengerutkan kening merasa aneh,
" kamu selalu memperlakukan Kevin seperti itu Mey ? " Ibu bertanya keheranan. " kok bisa kamu hamil, jika kalian malah tak berkomunikasi dengan benar.."
" Iii ..i-tu.." Meyra gelagapan, tak tahu harus menjelaskan seperti apa ke sang Ibu .
" Mereka pakai ilmu telepati Bu ,,hihi ..
Makanya nggak perlu banyak bicara langsung tancap aja.." Yuli ikut menimpali, entah kapan gadis itu berada di sana. Menguping.
Ucapan ngawur Yuli, membuat Meyra melemparkan bantal sofa tepat diwajahnya.
" Jangan jadi kompor deh Yul.."
__ADS_1
Meyra malah dihadiahi jeweran oleh sang Ibu. " Jangan mengalihkan pembicaraan. Sebenarnya hubungan seperti apa yang telah kamu dan Kevin jalani? Kayak orang asing aja .."
"Ya gitulah Bu, kan kami sudah sama sama dewasa, jadi nggak zaman kalau harus cinta-cintaan dengan bualan.."
"ohh karena sama-sama dewasa ,makanya langsung ke adegan dewasa gitu, sampai kebablasan dan hamil begini.."
Meyra melongo, kenapa setiap jawabannya malah jadi Boomerang bagi dirinya sendiri didepan sang ibu, Sejak kapan ibunya pandai berdebat. Dan sejak kapan juga dia dibuat mati kutu terus-terusan seperti ini.?!!
" Ya nggak gitu juga Bu. Maafin Meyra ya Bu..!!" Meyra kini berucap tulus menggenggam tangan ibunya yang tadi menjewer telinganya."Mey, tahu kok Mey salah. Mey janji ini yang terakhir , mengecewakan kepercayaan ibu.."
"Ibu kenapa Nek ?" Rifki dan Bagus ternyata sudah bangun juga, kebiasaan dikampung membuat mereka tak pernah bangun kesiangan.
" Nggak kenapa-napa kok sayang, kalian sudah mandi ?"
Meyra menatap keduanya keheranan, sepagi ini telah selesai mandi, apa nggak kedinginan ?
" Habis gerah Bu, panasnya nggak ketulungan.." Rifki menjawab santai dan ikut duduk di sofa berdampingan dengan ibunya..
" Loh ...Kan ada AC Yul ? Emang rusak ya !!"
" Nggak kok Mey, kata ibu suhunya terlalu dingin jadi minta dimatikan deh. Nggak tahu kalau anak-anak malah kepanasan hehehe" Yuli malah melirik ibunya Meyra dengan senyum tak enak.
" Ya cuaca disini memang beda sama dikampung, cenderung panas ..Tapi ibu senang kok, kalian akhirnya sudah mandi dan wangi.." Meyra mencium kedua anaknya bergantian.
***
Kevin menatap layar hapenya yang menghitam. Kenapa Meyra malah langsung mematikan telpon seenaknya.
ada perlu apa Ibunya Meyra menyuruhnya datang ?
Kenapa juga Meyra bicara dengan nada seperti itu ?
Berbagai pertanyaan kini memenuhi kepalanya, Membuat sang Papa yang sedari tadi duduk didepannya malah menggeleng melihat kelakuan Kevin yang seolah sibuk dengan dunianya sendiri.
" Jadi. Kapan kalian menikah ?"
suara sang Papa mengalihkan perhatian Kevin.
cepat-cepat dia menyimpan benda pipih yang sedari tadi betah dipandanginya.
" Secepatnya pa, lebih cepat, lebih baik kan ?"
" Ya, tentu saja. Apalagi jika pacarmu itu sudah terlanjur isi.."
Kevin tersentak, "Kok papa bisa tahu ? Papa suka nguping pembicaraanku ya ?"
Sosok pria paru baya itu malah terkekeh " Salah sendiri, bicaramu sangat semangat. Hingga lupa disini ada banyak telinga yang bisa saja mendengar.."
" Ishh.. Papa mah gitu !!"
__ADS_1
Kevin kini malah mengulum senyum, membayangkan seperti apa nanti wajah sang Bayi. Pasti sangat lucu dan mengemaskan seperti ibunya..
" Vin .... Jangan aneh-aneh deh. Tingkah kamu bikin papa takut tahu nggak.."
Kevin tak menanggapi, dan malah melenggang pergi, bersiap -siap karena hendak bertemu calon mertua..
pagi ini terasa lebih sejuk dari biasanya, karena gerimis tetap saja mendera hingga hari menunjukkan pukul 10 pagi. Kevin sebenarnya hendak bertemu dengan WO. ingin membahas detail konsep seperti apa yang diinginkan olehnya . Tapi tak apa, masih bisa diundur, yang terpenting sekarang adalah bertemu Meyra sekaligus melamar langsung pada sang ibu, agar semuanya kini berjalan sesuai rencana awal.
Kevin menekan Bel, dengan perasaan campur aduk. Agak deg-degan juga karena penasaran apa yang akan disampaikan nenek dari calon anaknya itu.
" Assalammualaikum Sayang !!!"
Kevin cengengesan, menatap Meyra yang membuka pintu dengan wajah Datar. " Kamu kenapa sih ? Kok gitu mukanya " Kevin bertanya heran.
Bukannya mendapat jawaban Meyra malah seolah mengiringnya masuk kedalam. Tanpa kata, perempuan itu mempersilahkan Kevin duduk didepan sang Ibu yang tampaknya telah menunggu Kevin sedari tadi.
" Kapan akad akan dilaksanakan?"
Belum juga duduk dengan nyaman, Kevin telah diberondong pertanyaan ini. membuat nyalinya menciut seketika.
" Secepatnya Bu..!!" Meski agak kaku tapi Kevin menjawab mantab.
" Secepatnya itu kapan ? bisa dijelaskan secara detail ?"
Kevin melirik Meyra, entah kenapa Aura disekitarnya kini terasa horor. Tapi wanitanya itu malah menunduk diam, tak menatap balik kearahnya.
" Jangan sampai perutnya terlanjur membesar, dan akad belum juga dilakukan.."
Kevin diam, berarti ibu dari Meyra sudah tahu jika Meyra hamil ?
Kapan ? dan bagaimana bisa.
" aku sudah mengaturnya dua minggu lagi, Bu. itupun jika Ibu memberi restu..."
" Kamu pikir aku tak akan merestui setelah kamu lancang menanam benih di rahim putriku ?"
Kevin tertohok, sungguh dia tak bermaksud. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal ,bingung harus bicara apalagi.
" Maaf soal itu, Bu. Tapi aku benar-benar serius dengan niatku ini. Aku ingin menjadikan Meyra sebagai istriku, dan aku juga siap jadi Ayah dari Bagus dan Rifki.. Aku akan berusaha sekuatku untuk membahagiakan mereka..
Dan juga meminta ibu untuk ikut disini bersama kami...Ibu tak keberatan kan dengan permintaanku ini ?"
Kevin kini berucap mantap, mencoba menyakinkan sang calon mertua.
Meski begitu dia tetap menunduk hormat, dengan tak menatap langsung ke mata ibu dari Meyra tersebut..
" Baiklah. Jika semua telah kamu persiapkan. Maka tak ada alasan apapun yang bisa ibu lakukan. Karena sejatinya, ibu selalu menerima apapun yang menjadi pilihan Meyra, selama hal itu bisa membuatnya bahagia.
Tapi kalau untuk ikut kesini dengan kalian. Nanti ibu pikir-pikir dulu.."
__ADS_1
Meyra dan Kevin saling berpandangan , kini senyum manis menghiasi bibir mereka.