
Meyra memandang dengan teliti sosok Hendra, Setelah bertarung dengan hati agar tak mengikuti Pria yang nampak asing dimatanya ini. Meyra rupanya masih dikalahkan oleh rasa penasarannya. Baginya dia memang butuh hiburan sekarang. Jika dia terlalu lama menyendiri itu akan berakibat fatal pada kewarasannya.
Kini dia dengan santai duduk di kabin mobil yang nampak asing baginya. Cuaca yang terik tak menyurutkan niatnya untuk mencoba hal baru. Jikapun nantinya pria ini berniat buruk, bukankah itu bukanlah lagi sebuah aib, Dia sudah janda dan bahkan dengan suka rela ditiduri oleh seseorang yang tak terikat pernikahan dengannya. Harga dirinya seolah telah hilang karena kelakuannya sendiri. Diliriknya lelaki disampingnya , Wajah itu lumayan tampan. Juga sepertinya lelaki ini adalah tipe pendiam, terbukti disepanjang perjalanan mereka hanya menatap jalanan aspal yang dilalui.
Mobil Porsche itu kini menepi. Dan memaksa Meyra melepaskan kenyamanan pada mobil yang sangat mencolok mata itu. Meyra memang awam dengan dunia kendaraan, karena memang dia berasal dari kampung dan juga seorang petani. Tapi melihat bentuk dan juga rasa nyaman mobil yang mereka kendarai, Meyra yakin jika mobil ini adalah mobil mahal berharga milyaran.
Meyra kini turun setelah pintu dibukakan oleh Hendra, menyadari penampilannya yang tampak biasa saja membuatnya merasa tak pantas diperlakukan bak puteri oleh Hendra ,pria yang bahkan baru saja dikenalnya. Meskipun pria itu bilang jika mereka pernah satu sekolah. " Ini tempat kerja gue dulu !!" Meyra menatap tempat ini dengan seksama , Hampir dua tahun, namun tak ada yang dirasanya berbeda disini.
Sekarang mereka berada di salah satu rumah karaoke milik artis dangdut ternama. Meyra malah tersenyum mengingat pertama kali dia bekerja disini. keluguan dan kepolosannya membuatnya merasa geli sendiri.
Melihat Meyra yang masih berdiam diri ditempatnya, Hendra mendekati wanita itu
" Kenapa ! kamu nggak suka tempatnya ..?"
Hendra mengeluarkan suara melihat reaksi Meyra. " Kita bisa pindah ke lain kalau kamu kurang suka.."
" Enggak kok . Aku suka. Ini adalah tempat kerja pertamaku ketika datang ke kota ini.." Meyra tersenyum. "Ayo masuk. Aku tahu kamar ternyaman disini.."
Meyra kini malah melangkah mendahului Hendra serta menyapa beberapa orang yang memang tak asing sebagai pegawai di sana yang artinya pernah menjadi rekan kerjanya.
Kaki wanita itu melangkah dengan riang, sementara Hendra mengikutinya dengan senyum kecil disudut bibirnya. Setelah sampai ditempat yang tadi dikatakannya pada Hendra Meyra segera duduk di sofa yang tersedia dan langsung saja dengan segera menghidupkan musik..
Meyra yang telah lama tak bernyanyi malah menyodorkan mic pada sosok Hendra, membuat lelaki itu heran..
__ADS_1
" kenapa nggak nyanyi ? "
Hendra menolak mic pemberian Meyra dengan menggeser tubuh wanita didepannya untuk ikut duduk. " kamu kan seorang vokalis waktu masih disekolah. ayo menyanyilah. Aku rindu suara kamu.."
Hendra menatap kearah Meyra yang juga kini menatapnya.
"Tapi aku sudah lama gantung mic. Semenjak menikah ..!!!"
Meyra kembali diingatkan akan masa lalunya namun dia tak mau terlalu larut dalam kenangan.
" Dendi meninggal kenapa?"
Tapi pertanyaan Hendra mau tak mau membuatnya mengingat kenangan akan almarhum suaminya itu.
" Yahh.. Dia temanku. Aku nggak bisa datang ke pernikahan kalian karena ada urusan bisnis.. Aku tahu kabar kematiannya juga baru-baru ini, kebetulan aku ada proyek yang berlokasi di desa Kalian, Makanya aku berani menegurmu tadi, sebuah kebetulan yang jujur saja membuatku senang karena bisa bertemu dengan perempuan pilihan Dendi...!!"
Meyra menunduk. " Dendi sakit. Karena terlalu lelah dan dia tidak mengatakan apapun tentang itu. TBC, kondisi yang diakibatkan karena seringnya melakukan aktifitas angkat berat. Tapi yah namanya juga petani, petani kopi biasa, yang semuanya masih dihandle sendiri tanpa mempekerjakan orang lain.."
Cerita Meyra kini mengalir begitu saja meski ada rasa aneh dihatinya. Kenapa dia bisa selepas ini menceritakan tentang almarhum suaminya, kepada seseorang yang baru pertama ditemuinya.
" Jadi kita datang kesini untuk karaoke atau untuk curhat-curhatan ?"
Ada tawa di wajah Meyra, dia menatap Hendra dengan ekspresi tak enak .
__ADS_1
" aku tiba-tiba malas nyanyi. Rasanya pita suaraku sudah sakit duluan sebelum mic itu berada didepan bibirku..apakah Kamu sudah menikah ? apakah istrimu tak marah atau malah dia memasang penyadap di hape atau mobilmu. Tidak akan lucu kan jika tiba-tiba aku dilabrak dan dicap pelakor"
" aku belum menikah. Masih proses seleksi hahaha " Tawa itu menggema di ruangan kedap suara ini.
" Yups terlalu cepat mengambil keputusan akan berakhir kurang baik.. Lagian yang aku lihat kamu tampan dan mapan. Nggak akan ada wanita yang menolak pesona mu, jadi wajar jika kamu yang menyeleksi. Zaman sekarang kebanyakan wanita malah silau akan harta, tak penting nyaman atau tidaknya, bahkan mereka bisa bercinta tanpa cinta.."
"Tapi aku yakin jika kamu bukan wanita seperti itu !! "
Hendra memotong ucapan Meyra dan menatap sosok didepannya dengan senyum mengembang.
Sementara Meyra akhirnya harus mengingat lagi tentang Kevin. Rupanya dia adalah wanita bertipe sama dengan yang baru saja dia ucapkan. Namun bibirnya hanya menampilkan senyuman tak mengakui dan juga menolak hal yang diutarakan olehbHendra.
keheningan kembali terjadi diantara mereka. Hendra tiba-tiba menyodorkan Hape nya meminta Meyra menuliskan Nomor WA yang dimilikinya. " Aku harap kita bisa bertemu lagi setelah ini.."
Meyra hanya memandang benda pipih itu dengan datar
" Tapi hape ku mati. dan jujur saja aku bahkan tak hapal dengan nomorku sendiri.." Ada nada tak enak di suara Meyra. Namun rupanya Hendra tak kehilangan akal ketika minuman pesanan mereka datang, Hendra malah meminta pada pegawai untuk membawakan dirinya sebuah pena dan juga selembar kertas..
Nomornya telah tertulis dengan jelas di selembar kertas putih polos. " Jangan sungkan ya ..! Untuk menghubungiku lebih dulu.."
Meyra mengangguk mengerti.
Meski entah alasan apa yang akan dia utarakan jika memang menghubungi pria itu lebih dulu !!
__ADS_1