
Sudah lebih dari seminggu tak ada lagi kabar dari Kevin. Meyra semakin nampak murung dan terkadang menangis dalam diam. Apa sebenarnya mau lelaki itu. mengapa menghilang tanpa kabar seperti ini .Apakah ini cara Tuhan menunjukkan jika dirinya tak pantas untuk seorang Kevin ?
[ Sekalinya murahan tetap akan diperlakukan seperti wanita murahan]
Pesan dari Stella masuk kegawai nya. Menambah sesak di dada Meyra.
Kembali nomor gadis itu tampil dilayar kini dengan sebuah Foto. Foto yang membuat dunia Meyra seakan jatuh seketika. Matanya tiba-tiba panas. Entah kenapa sosok lelaki yang dicintainya malah menunjukkan semua ini . Seolah memintanya untuk mundur secara perlahan.
[Tenang kita masih PDKT , Lo bakal jadi orang pertama yang tahu kalau kita jadian nanti]
Lagi. Pesan kembali masuk. Meski pikiran-pikiran yang kotor merasuki otaknya.
Namun rupanya fokus Meyra masih ke foto mesra Kevin dan Stella. Entah kenapa membaca pesan -pesan Stella membuatnya merasa lucu sekaligus menahan sesak. Apakah di usianya sekarang dia masih harus merasakan galau.
Meyra menekan tombol blokir. baik pada kontak Kevin maupun Stella.
Sudah cukup. Kini dia tahu jika selama ini dia dipermainkan.
' Brengsek...! ' umpatnya keras. Membanting benda pipih tak bersalah itu dengan keras. Namun masih di atas kasur miliknya. Setidaknya dia tidak harus membeli Hp baru karena kekesalannya kan ?
Yuli yang memang mau menemui Meyra mendengar umpatan sahabatnya itu. Dia membuka pintu, kemudian menatap kamar Meyra yang kini nampak berantakan. Namun bukan itu yang membuatnya terkejut sekarang. Melainkan sosok Meyra yang kini nampak fokus didepan Laptop. jemari lentik itu mengetik kalimat-kalimat puitis sekaligus miris. Yuli juga nampak terlarut dan seolah dapat merasakan, apa yang dirasakan Meyra.
" Apaan tuh Mey ? Lo nggak stress karena Kevin kan. Merinding tau nggak pas gue baca.. !"
" Nggak lagi. Gue kapok." Balas Meyra cuek.
Yuli mengerutkan keningnya !
" Kenapa? Lo udah dapat kepastian. Kalian putus. Kok bisa ?"
Meyra tetap melanjutkan ketikan jemarinya. " Au ahh Yul. Gue beneran capek hati dan pikiran jika terus-terusan mikirin tuh cowok. Mungkin dia bakalan jadi anak tiri Lo juga nantinya.."
" maksudnya..."
Ting tong
Suara bel menginstruksikan Yuli untuk membuka pintu. Sehingga ia berbalik dan tak melanjutkan ucapannya pada Meyra.
Meyra yang melihat kepergian Yuli, mendesah berat.
__ADS_1
Ia kembali memfokuskan menuangkan perasaannya lewat tulisan. Sesuatu yang dulu memang menjadi kebiasaannya. Namun kesibukan membuatnya tak punya waktu lagi untuk hoby nya yang satu ini.
" Mey .. Gabung keluar yuk. Ada Stella didepan. Katanya mau kenalan sama Lo "
Ajakan Yuli dan nama tamu yang datang membuat Meyra semakin nelangsa. Apa sih maunya Iblis betina itu ? Gumamnya kesal.
Meyra kini mengekor Yuli yang telah membawa tiga jus mangga ditangannya. Dilihatnya dengan jelas ekspresi Stella yang nampak mengolok ketidakberdayaan dirinya untuk menolak permintaan Yuli.
" Oh ini yang namanya Meyra ya kak " Stella mengulurkan tangan. Meyra sebenarnya enggan namun tatapan Yuli yang tersenyum kembali membuatnya tak berdaya.
" aku harus panggil apa nih ? Kakak atau Tante? "
Stella tersenyum seolah betah dengan jabatan tangan mereka.
" Serah Lo. Kebiasaan anak muda sekarang ya gitu. Suka semaunya. Ini jadi PR buat Lo Yul. Kalau nanti nikah sama papa nya Stella. Lo mesti memaklumi dan mengajarinya pelan-pelan." Meyra menarik tangannya kuat. tak ia pedulikan lagi Yuli yang menatapnya aneh.
Sementara Stella nampak tersenyum senang. Rupanya kehadirannya mampu membuat mood Meyra jadi buruk .
" Gue bakalan jadi anak baik kalau untuk Emak baru gue nanti. Ya kan kak " Stella memeluk Yuli dengan manja. Memaksa Meyra mengalihkan pandangannya.
Meyra kini terjebak akan situasi canggung Dia hanya diam sambil memperhatikan interaksi antara Yuli dan Stella. Terlihat jelas dimatanya jika gadis didepannya ini tak tulus pada sosok sahabatnya. Tapi hanya cari muka.
Meyra beranjak, karena kini Stella dan Yuli nampak semakin akrab dan asyik dengan dunia mereka sendiri.
Ketika membuka pintu. sosok Kevin menyambutnya dengan datar. Kevinlah yang ternyata datang bertamu.
Untuk sesaat mereka sama-sama diam. Sejujurnya Meyra ingin mendengar Kevin meminta maaf padanya tapi nyatanya lelaki itu tampak diam saja seolah tak terjadi apa-apa.
" Kevin ya Kak Mey !!"
Stella berteriak. Membuat Meyra menoleh dan menemukan sosok Stella yang kini berjalan kearah mereka.
" Kok nggak disuruh masuk sih ? Aku sengaja nyuruh kevin kesini buat jemput, soalnya mobilku masuk bengkel tadi.."
Stella menarik Kevin masuk kedalam. Melewati Meyra yang nampak tak percaya hal yang barusan terjadi. Kenapa seperti ini ? tanyanya entah pada siapa.
Matanya berkaca-kaca cairan bening yang disebut air mata sepertinya akan segera melesak keluar. Meyra mengangkat wajahnya. jangan sampai dia menangis sekarang.
Setelah merasa lebih baik Meyra memutuskan kembali bergabung. Namun yang terlihat hanyalah Stella dan Kevin yang nampak mesra. Sedang Yuli. Meyra tak tahu keberadaannya. Meski menahan sesak sebisa mungkin Meyra kembali duduk dengan tenang. Tatapannya langsung tertuju pada Kevin yang seolah tak melihat keberadaannya .
__ADS_1
" Kak Yuli lagi buat jus mangga lagi. Soalnya kan itu juga minuman favorit Kevin iya kan Vin ? " Stella berucap manja. Tak lupa tangannya ia letakkan di bahu Kevin.
" Oh aku pikir kalian sengaja ngusir Yuli. Biar bisa berduaan disini.." Meyra merutuki mulutnya yang tak bisa diajak kompromi. Apakah ia sedang cemburu sekarang.
" Kakak kok kasar ngomongnya. Kita bukan pasangan yang suka gratisan kak. Kalau kepengen ya tinggal check-in ke hotel. ya kan Vin ."
Meyra hendak menyahut. Apakah hubungan mereka sudah sejauh itu. Pikirnya marah. Deheman Yuli malah menahannya " Sorry lama. Soalnya harus dikupas dulu mangganya.."
" Eh Yul. numpang ke kamar kecil dong."
Kevin segera beranjak tanpa menunggu persetujuan Yuli. Sepertinya situasi ini membuat Kevin pun merasa tak nyaman.
" Eh Vin, kamu tahu kamar mandinya dimana ?" Stella bertanya namun matanya menatap penuh senyum kearah Meyra ." Kan kamu baru kali ini kesini. Atau sebenarnya kalian saling kenal sebelumnya ? "
Meyra semakin muak. Stella benar-benar memojokkan dirinya didepan Yuli.
" Nggak kok Mey . Tapi mungkin pacar kamu punya teman yang kebetulan juga punya apartemen disini. kan sketsa ruangan dan bentuknya sama "
Yuli menjelaskan takut Stella tahu jika meyra dan Kevin masih punya hubungan khusus. Sejujurnya Sekarang Yuli dilema dia harus bersikap bagaimana kepada dua orang perempuan yang kedudukannya sama-sama penting di hidupnya.
" Ohh kirain ...!" Stella menunjukkan wajah seolah tengah lega.
Meyra tak tahan lagi, ia segera beranjak. Dia tak bisa jika terus seperti ini.
Meski dia bukan wanita labil lagi tapi dihadapkan dengan situasi seperti ini tetap saja ia merasa sakit hati.
" Apa sih mau Lo sebenarnya ?"
Meyra menghadang Kevin. Dia sengaja menunggu didepan kamar mandi.
" Gue nggak perlu menjelaskan sesuatu yang sudah jelas."
" Maksudnya apa ?" Meyra mendesak. Karena Kevin hendak melarikan diri darinya.
" Gue hanya penasaran. Dan rasa penasaran itu sudah hilang. Jadi minat gue ke Lo otomatis juga hilang. Stella lebih mudah. Cantik dan enerjik." Kevin menatap tepat kedalam mata Meyra yang kini telah mengalirkan air mata.
" Lo seharusnya sadar diri. Jika elo nggak akan sepadan bila dibandingkan dengan sosok Stella.."
Kevin berlalu. Meninggalkan Meyra yang menangis entah untuk yang keberapa kalinya. Sepertinya dia tak akan sanggup jika harus disakiti lebih dari ini.
__ADS_1
Meyra kembali ke kamar. Mengunci pintu dan membenamkan wajahnya kebantal. Memaki dan berteriak keras.