Teman Ranjang

Teman Ranjang
Bab 55


__ADS_3

Ibu dari Meyra kini tengah sibuk di dapur, ditemani anak semata wayangnya dan juga Yuli.


Meski baru pertama bertemu dengan Yuli, namun ternyata mereka bisa akrab seperti ibu dan anak juga.


Sebenarnya Meyra tak mengizinkan Ibunya ikut ke dapur, tapi semangat sang ibu membuatnya tak bisa menghalangi


" Apa makanan kesukaan Kevin Mey ?"


Meyra yang sedari tadi asyik memakan jengkol rendang buatan sang ibu, kini terdiam. Dia malah melirik ke arah Yuli, bingung mau menjawab apa .


Dia memang mengatakan ke sang Ibu jika Kevin akan datang malam ini.


" Sepertinya dia nggak milih deh buk, soal makanan. Jadi terserah ibu sih, mau masak apa ."


" Hummm...gimana kalau rendang jengkolnya ditambah sambal terasi plus lalapan daun ubi rebus. Kalau dikampung kan Masakan kayak gini pasti bikin ngiler ..waktu dikampung juga Kevin apa saja yang ibu hidangkan dia makan, katanya masakan ibu itu pas di lidah.." Ibu menjelaskan dengan mata berbinar penuh percaya diri.


Meyra menampakkan wajah pasrah, apa iya Kevin akan suka semua itu ?. Pikirnya nelangsa, Tapi jika ditanya lagi apa yang jadi makanan Favorit Kevin maka Meyra akan semakin bingung. Jadilah dia tak protes dan hanya bisa menerima ucapan ibunya.


Semua masakan kini telah tersaji dimeja, meski jam masih menunjukkan pukul enam sore, dan meskipun tak tahu Kevin akan mengatakan apa, tapi setidaknya mereka makan malam bersama malam ini.


Rifki dan Bagus juga terlihat sudah tak sabaran, entah sudah se akrab apa Kevin dan Anak-anaknya itu, hingga mereka seolah lebih antusias bertemu Kevin daripada dirinya yang notabene ibu yang telah cukup lama tak bertemu.


" Kok om nya belum juga datang sih bu ?"


Bagus bertanya dengan tak sabaran sembari matanya selalu awas melihat kearah pintu, berharap sosok yang ditunggunya sedari tadi akhirnya muncul.


Tak berapa lama bel berbunyi, seketika itu pula Bagus dan Rifki mengejar kearah pintu, dan langsung membukanya.


Sosok Kevin kini meyambut mereka dengan senyuman, ditangan pemuda itu terdapat banyak kantung belanjaan , tak sungkan Kevin meminta anak-anak untuk membawanya kedalam,,


Sedangkan Kevin mengekor kedua bocah lelaki itu dengan santai.


" Apa lagi itu, Vin. .?" ibu bertanya, dan ketika melihat jika kantung itu berisi banyak mainan malah membuat sang Nenek dari Rifki dan Bagus itu merasa tak enak hati.


" Mainan Lagi, kan kemarin sudah banyak kamu kasih sebagai oleh-oleh Vin,.."

__ADS_1


" Apa iya Bu, kok nggak bilang sama Meyra . Pantas saja mereka antusias. Rupanya ada udang dibalik batu toh hehheh.."


Meyra sebenarnya ingin protes akan cara Kevin memperlakukan putranya, namun tak sopan jika dia bicara langsung didepan anak dan ibunya, sekarang.


" Lain kali nggak usah repot-repot Vin, nanti malah kebiasaan. Sayang juga uangnya malah dibelikan yang tak terlalu penting.."


" Kata siapa nggak penting Mey, semua mainan itu termasuk mainan edukasi loh. Lagian sesekali doang mah nggak apa kan Bu hehhe"


Kevin tersenyum semanis mungkin mencoba memancing calon mertua untuk ikut membelanya.


" Asal jangan keterusan, boleh aja sih..!!" Ibu menjawab cuek ,


" oh iya , Kamu udah makan Vin ? Ayo makan dulu, dari tadi kami nungguin kamu buat makan bareng.."


Ibu kini menghampiri Bagus dan Rifki meminta keduanya menyimpan mainan yang dibawa Kevin dan mencuci tangan sebelum mereka makan.


Setelah sampai dimeja makan, Yuli dan ibu mengernyit heran, karena ada menu tambahan berupa Ayam krispi lengkap dengan sambel bawang.


" Loh Mey, kapan lo buat beginian..?" Yuli mencomot ayam dan langsung memakannya, tak lupa gadis itu mencocolnya dengan sambel bawang.


" Tadi !! Kebetulan ayam sama bumbunya masih ada di kulkas jadi langsung eksekusi deh ..hehe"


Mereka akhirnya makan juga. Meyra tidak menyangka jika Kevin ternyata sangat lahap memakan jengkol buatan emak, bahkan Kevin makan menggunakan tangannya karena merasa kurang mantap jika pakai sendok.


Meyra dan Yuli sampai mengeleng keheranan sekaligus tak percaya, akan tingkah bar-bar Kevin yang seolah sudah satu Minggu tak makan..


"Sumpah Bu, ini benar-benar enak. kalau tiap hari ibu masakin aku menu ini, bisa-bisa aku jadi subur dan makmur hehhe"


KeVin bicara dengan mulut penuh, membuat Meyra seolah tak mengenal sosok yang sekarang berada didepannya, entah kemana sosok cool dan pendiam lelaki itu .


Pun Rifki dan Bagus juga ikut tertawa mendengar ucapan Kevin, hingga akhirnya semua nya kini malah ikut tertawa, seiring selesainya makan malam mereka.


Selesai makan mereka kini berkumpul di ruang tamu. Meyra dan Yuli begitu menikmati ini. Yuli bahkan meminta kepada anak-anak Meyra untuk memanggilnya Mama. Agar mereka lebih akrab lagi.


" Bu, Aku boleh minta waktu bicara sama Meyra sebentar ?"

__ADS_1


Ibu diam saja namun dia mengangguk mengerti. Dia segera saja mengajak anak-anak masuk ke kamar, karena waktu juga sudah menunjukkan pukul sembilan malam, yang artinya anak-anak harus segera tidur.


" Bu, malam ini Yuli tidur sama kalian yah ?"


Yuli juga mengikuti jejak Ibu dari Meyra setelah mendapat persetujuan, dia juga memberi privasi pada Kevin dan Meyra.


Tinggallah kini Kevin dan Meyra yang berada di ruangan ini, Meyra menatap Kevin yang masih mengiringi kepergian sahabat, ibu dan juga anak-anaknya yang telah diusir Kevin secara halus.


" Aku pikir kamu bakalan lamar aku secara Gentle malam ini didepan ibu, anak-anak dan juga sahabat baikku ? nyatanya malah zonk. Padahal tadi aku udah PD bilang ke Ibu kalau kita bakalan menikah dalam waktu dekat.."


Ada nada mengeluh yang terlampau kentara di suara Meyra, menyampaikan kekecewaannya pada sosok Kevin.


" Jadi. Jika aku melamar kamu sekarang, kamu bakalan terima ,Mey ?"


Meyra tersentak, sadar jika ucapannya tadi sangat terdengar berharap , dan apakah Kevin kini berpikir jika dia adalah perempuan murahan ?


"eeehh..Kok mendadak sih ?"


Meyra gelagapan sendiri, saat Kevin memegang kedua tangannya dan pemuda itu kini malah berlutut didepan kakinya.


" jujur sih, aku takut ditolak jika melamar kamu didepan Ibu..hehe. Jadi, kamu mau kan menikah denganku, demi anak kita yang sekarang ada di rahimmu !"


" Jadi, kamu nggak bakalan lamar aku jika bukan karena anak ini ?" Meyra menghempaskan tangan Kevin dan menyentuh perutnya yang masih tampak rata meski telah berusia tiga bulan.


"Ckckkckc,. kamu kok jadi sensitif gini sih Mey, Perasaan apa yang aku sampaikan malah bikin kamu selalu salah paham. Bikin keki tahu nggak ?"


Loh , kenapa anak ini jadi ngambek ! pikir Meyra mengerutkan keningnya,


" Terus mau kamu apa Hah?"


Kevin tersenyum lebar, memperbaiki posisinya lagi, dan dengan lembut dia mencium tangan Meyra, saat si empunya tak lagi protes.


" Aku Mau kita menikah !! Segera....."


Ucap Kevin mantap dengan senyum penuh pada bibirnya, kemudian dia menunjukkan semua berkas persiapan pernikahan yang telah dia bawa sedari tadi. Membuat Meyra melongo kehabisan kata-kata.

__ADS_1


__ADS_2