
Author POV
Kevin memutuskan untuk menyusul Meyra. Dia pikir tak apa jika Dia mengungkapkan perasaannya pada Wanita itu, toh mereka bakal terpisahkan jarak.
Sesampainya Di bandara, Kevin nampak gelisah karena dia bahkan tak tahu kemana tujuan Meyra ?
Kevin kesini pun karena instingnya . Waktu semakin cepat berjalan namun Sosok Meyra tak juga Kevin temukan ! Kevin kini terduduk putus asa, matanya masih menelisik ke sekitar, mencari kemungkinan sosok Meyra mampu Ia temukan.
Kepanikannya membuatnya Lupa menanyakan ini pada sosok Yuli. Setelah tersadar akan hal itu Kevin bergegas mengambil HP disaku celananya.
Banyak pesan yang masuk, Ada belasan panggilan dari No Roby. Kevin mengabaikan semua itu tanpa ada niat menghubungi balik , dipikirannya sekarang adalah bagaimana caranya mengetahui keberadaan Meyra.
Ketika Dia ingin menelpon Yuli, Pesan dari no yang Dia tuju tak sengaja Terbuka. Ternyata selain Roby, Yuli juga ikut menelponnya.
[vin Lo dimana ? Selin kecelakaan ! Gue kirim lokasinya sekarang ]
Kevin bergegas melaju, ke lokasi yang telah diberikan oleh Yuli. Otaknya sungguh tak mampu lagi memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi.
[Ruangan Melati no 165]
Lagi, Yuli mengirimkan informasi ditengah kondisi Kevin yang Linglung! secepat kilat ia menuju kamar rawat Selin . Untungnya posisi kamar tak terlalu jauh dengan IGD.
Kini Kevin Hampir sampai, Dilihatnya ada Yuli, Roby serta kedua orang Tua Selin . Yang mengundang perhatiannya kali ini bukan karena tangisan Kedua orang Tua Selin . Namun sosok Meyra yang ternyata juga berada disitu. Tubuh mungil Meyra memang mudah dikenali. Apalagi oleh Kevin yang jelas-jelas sangat intim dengan sosok itu.
Semakin dekat, Kevin bahkan tak mampu mengalihkan pandangan kearah lain. Meyra seakan telah menimbulkan magnet kuat yang tak mampu ia tolak.
" Lo darimana ? "
Roby, memeluk Kevin dengan mata yang sembab. " Selin kejang Vin. Sekarang Dokter berusaha menyelamatkan nyawanya!"
Ekspresi Kevin nampak menatap Roby tak percaya. Apa Tuhan kini menghukumnya, Dia memang tak merasakan cinta lagi pada sosok Selin. Tapi Bukan seperti ini jalan yang harusnya Tuhan tunjukkan.
" Lo kemana aja sih ? Selin tadi nanyain Lo "
Suara Yuli, terdengar nyaring.
" Bisa-bisanya Lo abai pada Seseorang yang telah berkorban banyak sama Lo. ."
Kevin Duduk di bangku yang tersedia dibelakangnya. Tatapannya terfokus pada sosok kedua Orang Tua Selin. Kevin bahkan tak mampu memberikan sedikit saja perhatian maupun ucapan belasungkawa kepada kedua orang Tua Selin. Dirinya merasa tak punya Muka. Dan tak tahu harus berekspresi seperti apa .
Pintu kamar itu akhirnya terbuka, Dokter segera menghampiri kedua Orang Tua Selin. Dibelakangnya nampak beberapa perawat mendorong bangsal yang diatasnya terdapat tubuh Selin dengan berbagai Alat yang terpasang. Kondisi itu membuat Kevin semakin terpukul. Terlebih Dokter bilang kalau Selin harus segera dioperasi.
Serpihan kaca menegenai Otak kecil Selin , menyebabkan pendarahan Hebat . keberhasilan operasi sangat kecil, Sehingga Dokter meminta tanda tangan kedua orang tua Selin sebagai persetujuan.
__ADS_1
" Lakukan Yang terbaik untuk putri saya Dok ! Dia adalah harta kami satu - satunya ! "
"keselamatan pasien adalah prioritas kami . Mohon Bapak segera Tanda tangan . Agar tindakan operasi ini ,dapat segera dilakukan.
Meyra yang sedari tadi nampak menyimak, Kini menangis Dalam Diam. Inikah jawaban Atas Do'a ,penuh ketidak berdayaan yang Ia haturkan pada sang Robb.
Sungguh bagaimanapun kecewa dan penyesalannya terhadap apa yang Ia hadapi. Dia tidak mau , jika harus mengorbankan orang Lain , untuk mencapai kata bahagia.
" Kalau sampai sesuatu yang buruk terjadi pada Selin . Gue nggak akan pernah maafin Diri Gue Rob "
Meyra mendengar suara keputusasaan Dari Kevin . Meyra tahu Laki-laki itu sangat Kalut sekarang.
" Semoga Selin gak kenapa-napa Ya Mey!... "
" Ya..! "
jawaban Meyra hanya berupa, bisikan Lirih . Melihat kondisi Selin secara langsung tadi, entah kenapa . Harapan yang mereka lontarkan seolah berharap Sesuatu yang mustahil.
*****
Tuhan seolah menghukum. Selin benar-benar Pergi untuk selamanya. Lima jam , berjuang dimeja operasi. Gadis cantik itu menyerah. Siapa yang bisa memprediksi kematian, Nasib bisa dirubah. Tapi Takdir, Meski Roby menyesalkan kepergian Selin yang menurutnya sangat tidak adil. Tapi Suratan Allah , siapa yang tahu.
Roby tertunduk pilu, menyaksikan Ratapan kehilangan Ibunda Selin. Hati Ibu mana yang tidak Sedih , Ketika putri satu-Satunya meninggal Dalam kecelakaan Tragis seperti ini.
" Kemarin Dia sempat ngerasa bersalah sama Lo Mey ! "
Meyra yang sedari tadi ikut larut dalam kesedihan, nampak terpancing dengan Ucapan Roby.
" Kenapa begitu ? Ini Salahku. Dia berhak Marah kan ! Selin sangat Tidak beruntung karena punya sahabat berhati Batu sepertiku. ."
Roby Menatap ekspresi sedih di wajah itu, Yuli mendekat. Bagaimanapun kejadian ini sama sekali tak pernah mereka bayangkan. Selin sudah tenang sekarang, Sudah sepantasnya mereka mengikhlaskan Selin. Yuli kini justeru sangat takut jika kejadian ini membuat trauma bagi Meyra.
Bagaimanapun kehilangan pernah membuat Meyra patah Arah dan menyalahkan dirinya sendiri.
" ....Ini salahku Yul ! Selin pasti sangat Kesal karena Aku. Hingga Ia kecelakaan "
" Jangan nyalahin diri sendiri Mey, kita tidak tahu takdir Selin akan seperti ini .. oh ya Rob. Kevin kemana ? "
Mendengar nama Kevin ,Roby seolah tersadar. Sejak pemakaman Selin , laki-laki itu tak nampak Dimata Roby. Memikirkan itu membuat Roby berinisiatif untuk mencari Kevin.
Setelah pamit pada kedua orang Tua Selin yang masih nampak enggan meninggalkan pusara.
Roby bergegas menuju ke rumah Kevin. Bagaimanapun perasaan Kevin terhadap Selin sekarang, tetap saja Roby dapat merasakan hancurnya hati sahabatnya itu . Ditinggalkan oleh dua Orang yang sangat Dekat . pasti Akan menimbulkan Trauma yang Dalam.
__ADS_1
Dalam usaha pencariannya, Akhirnya Kevin ditemukan ! Kondisi Kevin sangat berantakan. Ada Luka tampak mengering dikedua tangannya, Wajah putih Kevin bahkan tampak menjadi Coklat karena tanah yang yang telah bercampur air mata miliknya. Terlebih posisinya yang kini tiduran di makam sang Ibu.
" Ma . Kenapa harus seperti ini ? "
Roby yang semakin mendekat ,tak mendengar kalimat lain dari Kevin. Seolah itu adalah mantra yang harus dilafalkan terus menerus.
mencoba mencari jawaban, atas kejadian yang bertubi-tubi menimpanya.
" Kita pulang Vin, Lo nggak bisa terus meratap seperti ini ! Lo masih punya tanggung jawab. Lo gak bisa abai Vin . "
Kevin tertawa, nampak berdiri . memandang Roby nyalang , dengan matanya
" Tanggung jawab apalagi hah ! Gue bahkan telah kehilangan dua orang sekaligus. Dua orang yang seharusnya gue jaga, Lo gak tahu rasanya Gimana ?
Biarin Gue sendiri Rob , Gue mohon !"
Ucapan Kevin nampak melunak, seiring tubuhnya yang Luruh, Dia tak sadarkan diri.
Bram menatap putranya Dengan Pilu. Apa yang dilalui Kevin , membuatnya tak mampu untuk sekedar mentransfer kekuatan pada putra semata wayang nya itu .
Kevin kini dibawanya kerumahnya . Sari dengan telaten mengurus Kevin, sejak hari pemakaman Selin Kevin tak lagi nampak membuka mulutnya. Dia seolah punya dunia sendiri dalam diamnya.
meski sang Ibu tiri kini mengurusnya layaknya Bocah, Kevin bahkan tak bergeming. Dia seolah menikmati, berbagai perhatian Dari Sari.
Keadaan Kantor pusat nampak Kacau. Bram bahkan memberikan kuasa penuh pada Radit selaku orang kepercayaan Kevin. Namun tetap saja , keadaan ini tak mampu dihandle nya. Kevin memang memberikan kepercayaan kepada Radit, selaku Direktur. Namun Kevin tetap waspada kepada apapun yang akan terjadi kedepannya. Sehingga Ia selalu menggunakan Kartu terakhirnya disaat benar-benar kepepet.
Dan Radit tak tahu Apa itu. Sementara Bram tak bisa ,jika harus membicarakan ini ditengah kondisi Kevin yang menurutnya masih sangat Trauma.
" Apa gak sebaiknya , Papa coba ngomong ke Kevin !"
Bram menggeleng, " gak bisa Buk. Kevin tidak boleh dibebankan pikiran yang berat dulu.." memijit pelipisnya yang nampak pegal , Bram menatap Istrinya Itu " Kevin ada ngomong sama ibuk ? "
" Belum pa ! sepertinya masih perlu waktu.. Tapi pa. kalau papa gak coba ngomong Bagaimana nasib perusahaan . Kevin punya kunci yang bisa dia gunakan. Agak jahat sih, Tapi bukankah ini amanah Ibunya.."
Sari mencoba bicara hati-hati. Takut ia mengatakan hal yang salah.
Bram menggeleng. "PApa akn berusaha lagi Buk, Do'akan saja semuanya berjalan sesuai keinginan kita !"
" Aamiin !!!..."
Yang mereka tak sadari adalah Kevin mendengar semuanya. Ia merasa menyesal telah Egois meratapi kesedihannya sendiri. Tanpa memperdulikan apapun bisa terjadi. Jika Dia Diam dan abai seperti ini .
Kevin menghubungi Radit. Menanyakan masalah yang tadi dibahas oleh Ayah dan Ibu tirinya. Setelah itu memutuskan untuk Pergi kekantor.
__ADS_1