Teman Ranjang

Teman Ranjang
Bab 34


__ADS_3

Meyra menatap alat tes kehamilan ditangannya dengan was-was. Tetap saja Ia takut, meski kemarin alat yang sama namun akurasi akuratnya bahkan lebih tinggi telah menunjukkan hasil negatif.


Bel dengan nyaring berbunyi. Hampir saja membuat testpack yang dipegang Meyra terlempar.


" shitt datang ke rumah orang kok nggak liat waktu."


Meyra meninggalkan testpack yang kini telah dicelupkan ke urin miliknya. Segera membuka pintu , karena sepertinya sang tamu dibalik pintu sudah tak sabaran ,sehingga bel terus berbunyi dengan jeda yang pendek. Ketika membuka pintu sosok Kevin lah yang ternyata telah bertamu sepagi ini.


" gimana hasilnya ? sini gue lihat ." Kevin menerobos masuk. sementara Meyra mengikutinya dengan raut kesal.


Ketika Kevin tampak bingung harus melangkah kearah mana, Dia berbalik menatap Meyra dengan menadahkan tangannya


" Apa ? serius. Lo kesini pagi buta cuma buat tahu hasilnya ? Kan Gue udah bilang biar gue telpon Lo kalau hasilnya sudah jelas."


Kevin mendekat kearah wanita yang kini hanya mengunakan tank top dan hotpant itu.


" mana ? Gue mau lihat sendiri gimana hasilnya. "


" Belum . Barusan gue baru aja mau tes. Lo datang. Jadinya belum ketahuan .."


" Ya udah mana testpack nya ? dikamar Lo ? Yang mana ?"


" sabar dong Vin. Iya bentar Gue ambil. Tapi Lo tunggu disini aja , jangan kemana-mana. Ok "


Meyra mengambil testpack tadi. mengibaskan nya sebentar dan menatap lama kearah garis yang memang ada di situ .


Belum sempat melihat jelas hasilnya Kevin malah mengambil alat itu dan menelitinya didepan Meyra .


" Garisnya cuma satu. Artinya .." Kevin menatap Meyra dan di angguki oleh wanita itu.

__ADS_1


" Negatif . Tuan Kevin." Meyra tersenyum senang. Meski ekspresi Kevin penuh kekecewaan ketika menatap kearahnya.


" Huh Gue pikir Lo beneran hamil Mey. " Tanpa kata Kevin kini duduk di ranjang milik Meyra. Kini matanya menelisik ke setiap sudut kamar. Kemudian menampilkan senyum yang menurut Meyra aneh


" Selera Lo masih sama . Bisa seidentik ini susunan kamar Lo. meski di lokasi yang berbeda. "


" Gue nggak butuh kritikan Lo. Mending Lo keluar Vin. Gak enak gue sama Yuli."


Meyra menarik tangan Kevin agar segera berdiri. Namun Kevin malah balik menariknya, membalik posisi sehingga kini Meyra tepat berada dibawah Kevin. Meyra yang jengkel tak menggubris senyuman Kevin didepan wajahnya. " Ayolah Vin. ini apaan sih ? Gue nggak enak . kalau kepergok lagi sama Yuli gimana ? "


" Nggak akan . Orang pintunya Gue kunci ! "


" Vin jangan gila deh. Lo apaan kayak gini . Bikin gue takut tahu "


Kevin memeluk Meyra, membuat Meyra sedikit sesak. " Gue udah lalui masa-masa yang sulit belakangan ini Mey. Gue cuma butuh dukungan dari orang terdekat gue, orang-orang yang gue sayang . Dan orang yang sayang juga sama gue tentunya.."


" Kenapa enggak. Lo pernah kan bilang begitu ke Gue !"


" enak aja ! Kapan Gue .." Meyra seolah teringat sesuatu. wajahnya memerah. Pernyataan cinta itu. kenapa bisa dia lupa !


" Udah ingat ! apa perlu gue yang ingetin ? " Kevin kini menahan tangannya dikedua sisi tubuh Meyra. Agar dapat melihat jelas ekspresi malu wanita itu . " Sekarang. Bisakah bersikap dewasa tentang hubungan kita ini ? Aku juga punya perasaan yang sama Mey. ."


Meyra yang sedari tadi menghindari tatapan Kevin seketika membalas tatapan penuh rindu lelaki itu. " Apa boleh jika aku egois lagi Vin." jantungnya yang berdebar tak dapat dia sembunyikan . Wajah rupawan Kevin yang ada didepannya juga tak mampu membuatnya berpaling. Dengan pikiran kosong Meyra menangkup wajah rupawan Kevin, menarik lelaki itu dalam ciuman yang panjang. membiarkan rindu ini bermuara pada sang pemilik hati.


Kevin yang memang menunggu dan rindu momen ini segera membalas kelakuan wanitanya.


Hingga tak sadar melahirkan Sesuatu yang disebut nafsu. Begitu bergejolak, membuat suasana yang dingin malah terasa menghangat. Tangan Kevin mulai menjelajahi setiap inci tubuh Meyra. Membuat perempuan itu bergelinjang pasrah dalam dominasi Kevin.


"Apa boleh ?" Ciuman yang terlepas membuat Kevin meminta izin pada Meyra. Meski ia tahu jika tidak ada penolakan Meyra pada setiap sentuhannya . Namun tetap saja. Hubungan ini adalah hubungan yang berbeda dari sebelumnya, mereka akan melakukannya dengan perasaan cinta dan rindu yang berbaur menjadi satu.

__ADS_1


Meyra yang telah dipenuhi gairah, mengangguk dengan pasti. Membiarkan semua kekhawatirannya hilang walau hanya sesaat. Yang Dirinya butuhkan hanyalah Kevin sekarang.


Sementara itu, di dapur Yuli tengah duduk dengan santai. Sambil menunggu Meyra yang dipikirnya bangun kesiangan. Dia sedikit merasa aneh karena tadi dia mendengar Bel namun tak ada tamu yang datang. Apa ulah orang iseng. Atau Meyra telah mengusir tamu mereka. menyesap kopinya dengan pelan Yuli lagi-lagi menatap kearah jam ditangannya. sudah pukul delapan pagi , namun Meyra belum juga menampakkan batang hidungnya. Dengan Tak sabaran Yuli bergegas kearah kamar milik Meyra.


Tok tok tok


" Mey Lo nggak kenapa-napa kan ?"


Diketuknya pintu dengan gusar. Tak mungkin jika tak terjadi sesuatu saat sahabatnya itu bangun kesiangan seperti ini.


Sementara didalam kamar. Meyra dan Kevin masih bergelung dengan kegiatan mereka, ketukan pintu dan suara Yuli membuat Meyra merasakan panik yang tak terkira. Meyra bahkan lupa jika ia harus bekerja.


" Gimana nih Vin?" Meyra bertanya. Sedang dirinya malah mondar mandir didepan Kevin yang tak terpengaruh dan masih nampak santai. Setelah memakai semua pakaian. Kevin membuka pintu, Dengan wajah tanpa dosa lelaki itu menatap ke arah Yuli.


Yuli hampir saja berteriak karena terkejut. Namun sebisa mungkin dia menahan suaranya . kapan lelaki ini datang ?


" Kapan Lo kesini ? Lo nginap "


rupanya rasa penasarannya tak bisa ditahan lagi. Yuli mencoba melihat kedalam kamar. Namun Kevin menghalanginya " Meyra lagi mandi. Sebentar lagi selesai kok Yul."


Yuli nampak memperhatikan Kevin. sebagai mantan penjajah Nafsu Yuli tahu betul akan aroma khas ketika seseorang selesai bercinta.


" Dasar Lo ! Kita hari ini masuk pagi. nggak inget waktu banget." Yuli mengomel meninggalkan Kevin yang berdiri canggung mendengar ucapannya tadi.


" Kan rindu Yul. " Namun ucapan itu hanya mampu didengar oleh dirinya sendiri.


Meyra yang sedari tadi menguping hanya tersenyum dan malu secara bersamaan mendengar suara pelan Kevin.


Dia akhirnya bernafas lega dan benar-benar melakukan ritual mandi. Mandi junub Hehhe.

__ADS_1


__ADS_2