
Roby kini telah berdiri tepat didepan Lokalisasi milik mami Ratu. Tempat Meyra disekap tempo hari. Lelaki itu nampak menimbang-nimbang . Apa yang sekiranya akan dia tanyakan ke mami sebagai awal dari penyelidikan. Ucapan dan ancaman Yuli kemarin membuatnya merasa harus membuktikan, jika dirinya tidak seperti yang Yuli tuduhkan.
Saat masuk , Roby telah menemukan Mami Ratu yang sibuk menghitung uang dengan Rokok disela bibirnya.
" Apa kabar Mi ? "
Roby menyapa dengan santai. karena memang sosok Roby sangat diingat oleh wanita itu.
" Hai Roby. Lama nggak mampir kamu ? Ada barang barukah ? "
" No mam !! Mau tanya sesuatu yang penting boleh ? "
" Apa ? " Mami Ratu memperbaiki letak rokok di bibirnya. Memindahkan semua uang yang ada di atas meja kedalam sebuah kotak ." selagi mami bisa bantu , pasti dibantu. Apalagi kalau ada pelicin nya hahahhaha"
Roby paham dan segera melemparkan segepok uang berwarna merah ke depan Mami. " Cuma satu pertanyaan kok Mi. Wanita yang kemarin Mami culik diparkiran mall . apakah dijual seseorang atau Mami kenal dan sekedar mau memberinya pelajaran ?"
Sebenarnya Roby tahu opsi kedua sangat tidak mungkin. Namun semuanya bisa terjadi bukan.
" Perempuan Janda itu ? "
Roby mengangguk sebagai jawaban , meski tak lagi muda tapi ingatan Mami Ratu tak perlu diragukan.
" Ada yang jual Dia ? dengan Harga menggiurkan. .! Ya saya ambil. Maunya untung eh malah buntung "
" Kenapa memangnya Mam ? Kaburkah orangnya ?" Roby yang memang didahului Kevin dalam bertindak , seolah ingin tahu bagaimana ceritanya versi Mami.
" Nggak kabur , tapi digerebek paksa sama seseorang . mana saya harus ganti uang klien lagi. karena belum sempat make tu cewek. bener bener sial dan ini kejadian paling apes terjadi selama Mami membuka usaha ini " Mami Ratu seolah membayangkan kengerian yang terjadi ditempat usahanya malam itu " Kalau kamu mau nanya siapa yang jual. Seperti biasa , saya nggak akan pernah kasih tahu... Prinsip tetaplah prinsip. Kerena semua pebisnis harus punya itu bukan !"
__ADS_1
Roby Berdiri, merasa telah mendapatkan kepastian yang sama sekali tak terpikirkan oleh Roby 'jadi bener . Meyra punya musuh ! Siapa ? '
memikirkan itu membuat Roby berusaha mengingat sesuatu yang mungkin terlewat. Nihil. semua memang seolah telah direncanakan dengan Rapi. Jika ini tentang sakit hati Selin , mungkin benar satu-satunya yang paling berkesempatan untuk membalas hanya Roby . Apakah ada orang lain yang mengetahui skandal ini ? Selin kah yang menceritakannya. .? Tapi pada siapa ?
Roby sepertinya harus menyelidiki semua ini ! Bukan untuk Meyra tapi lebih untuk dirinya sendiri. Agar Yuli yang selama ini menjadi sahabatnya itu tahu jika dia masih Roby yang sama. Roby yang tak bisa jika harus menerima tuduhan tanpa alasan. Apalagi jika memang dirinya tak pernah melakukan seperti apa yang Yuli tuduhkan.
Yang tak disadari Roby adalah, keinginan tahuannya ini akan membawanya kembali ke masa lalu dan membuatnya terjebak dalam masalah yang tak bisa dia atasi.
*******
[ Lo beruntung punya teman yang Baik. Tapi nggak akan selamanya keberuntungan berada di pihak Lo. Saat itu tiba ,Gue harap Lo punya Rasa Malu dan Enyah dari Dunia ini !!]
Meyra membaca pesan berisi peringatan itu berulang-ulang. Sungguh ia seolah dihadapkan dengan teka-teki yang sulit terpecahkan. Siapa yang mengirimkan semua pesan ini ? untuk apa ?
melihat ini dia Jadi berpikir yang Yuli katakan padanya adalah sebuah kebohongan !! Apa ada sesuatu yang coba Yuli tutupi ? Tapi apa ? Kenapa !!
Ketukan di pintu menyentak Meyra dari lamunan. setelah membuka pintu,
Sosok yang ada di balik pintu itu membuatnya heran, pasalnya dia sama sekali tak mengenali gadis muda yang ada didepannya. Gadis itu cantik matanya yang belo membuat siapapun akan memandangnya dua kali karena tak bosan. Tubuhnya yang tinggi semampai menambah nilai plus pada penampilannya. Sosok gadis ini entah kenapa mengingatkan Meyra pada Selin.
" Gue Stella . Anaknya David.." Mengulurkan tangannya, Sosok misterius itu nampak menatap Meyra dengan angkuh, sebelum Meyra membalas uluran tangannya . Stella segera menarik tangannya.
Sedikit tersingung, namun
Meyra tetap mempersilahkan Stella untuk masuk dan duduk, diruang tamu.
" Sorry soal yang Tadi.." seraya memperhatikan kuku -kukunya yang nampak mengkilat dengan warna Semerah darah . Stella berucap dengan tenang
__ADS_1
"Gue takut Virus penghianat itu menular !!!"
" maksudnya ?" Meyra kebingungan , jujur ia tersinggung. Lagi !
" Lo cari Yuli ? " ujar Meyra mencoba mengalihkan pembicaraan.
" muka Lo emang polos sih, tapi kelakuan Lo nggak banget..! Bisa-bisanya Kevin kepincut cewek seperti Lo?"
Meyra menyipitkan matanya semakin dalam. Apa -Apaan perempuan ini ? Jadi dari tadi yang Dia bahas masalah Kevin ?
Ditelisik nya setiap inci wajah perempuan itu. Bagaimana bisa Yuli bilang jika gadis ini Baik ?
" maaf. Ini kenapa ? "
"Selin itu sepupu Gue !!! Jangan Lo pikir Lo aman karena Tante Rosa nggak tahu apa yang terjadi diantara Lo dan Selin ! Gimana kalau Gue kasih tahu ke Tante. kalau ELo udah mengkhianati dan nyakitin satu-satunya Anak yang begitu Ia sayang dan banggakan..!"
Stella menatap Meyra penuh kebencian. " Lo harusnya nggak kembali kesini lagi. semakin Lo lama berada disini. Maka semakin banyak orang yang akan tersakiti karena keegoisan Lo.."
" Lo nyuruh Gue pergi dari sini ?"
" 100 juta dari Selin . Apakah masih kurang ? perlu gue tambah.." Mata Stella nampak berkaca-kaca " Selin memang nggak akan pernah kembali. Tapi Lo harus tahu ada hati yang tersakiti akan kepergiannya yang tragis. Lo harus ingat itu , supaya Lo bisa sedikit bijak mengambil keputusan.."
Meyra menatap Stella dengan tatapan meminta maaf. Bagaimanapun ! Sebenarnya dia juga merasakan sakit yang sama. Tapi lagi-lagi. Dia tak punya pilihan.
" Jangan katakan ini pada Yuli, hubungan Yuli dan Papa, Itu bergantung pada apa yang akan kamu pilih kedepannya. Jangan Egois, dengan mengorbankan banyak orang yang peduli padamu. Jangan melempar kunci yang sudah jelas kau genggam..."
Stella berjalan anggun ! meninggalkan Meyra yang nampak terpukul. Dia sangat mengerti maksud gadis itu. Tapi Juga bingung akan kearah mana lagi kaki ini melangkah.
__ADS_1
Stella senang melihat ekspresi bersalah Meyra. Nampaknya ini akan mudah, dan dia tak sabar untuk menantikan waktu itu.